Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Ardian terlihat terkejut saat mendengar penjelasan Jidan, yang sangat berbeda dengan informasi yang ia dapatkan.


"Tapi informasi yang aku dapatkan. Menyatakan kalau ibunya Harum adalah wanita malam." Ucap Ardian terlihat kebingungan. Karena terlalu bingung, Ardian mengambil laptop nya untuk memeriksa email yang dikirim oleh anak buahnya, mengenai siapakah Harum sebenarnya.


"Coba kamu baca." Jidan membuka email itu lalu membacanya dengan teliti, yang ternyata sangat berbeda dengan cerita adiknya.


"Sebenarnya, siapa yang benar?" Batin Jidan ikut kebingungan saat melihat informasi itu."Informasi yang anda berikan sangat berbeda dengan apa yang saya dengar dari adik saya, tuan."


"Jika seperti itu, maka ceritakan. Sebenarnya seperti apa ibunya Harum."


"Ibunya Harum adalah wanita yang kuat tuan, dia tidak pernah melakukan hal seperti yang ada di informasi itu. Karena yang menjadi wanita malam itu, bibi nya Harum. Walaupun dalam keadaan sulit, ibunya Harum tidak pernah menginjakkan kakinya di dunia malam, dan dia lebih memilih jadi Art dan juga buru cuci daripada menjadi wanita malam. Padahal keadaannya saat itu sedang sakit karena kangker paru-paru yang dia derita, tapi wanita itu tetap kuat untuk anaknya. Dia mengabaikan semua fitnah dan omongan orang hanya untuk membesarkan putrinya tanpa ayah."


"Harum, kuat seperti ibunya. Dia mengalami gangguan mental karena ulah bibi nya yang menjual Harum ke wanita jahat, yang memiliki usaha gelap, saat ibu nya baru saja meninggal. Tapi untungnya, tuan Fadil bersama dengan kedua adiknya berhasil membebaskan Harum dari tangan wanita jahat itu, dan mereka juga berhasil membuka sendikat penjualan anak yang wanita itu jalani selama ini."


"Walaupun Harum berhasil di selamatkan dari wanita itu. Tapi mental Harum sudah terlanjur rusak, karena sebelum mereka menemukan Harum. Harum hampir saja di perkosa oleh pria dewasa yang sudah membeli Harum waktu itu, hanya saja mereka berhasil menyelamatkan nya." Cerita Jidan dengan sangat teliti, walaupun hanya sedikit informasi yang ia dapatkan dari Wiyah. Tapi itu sangat berguna untuk Ardian.


Ardian yang mendengar cerita Jidan hanya diam. Karena apa yang dia dengar dan dia baca dari informasi yang dia dapatkan sangat jauh berbeda.

__ADS_1


Jika di cerita Jidan, ibunya Harum adalah wanita yang pekerja keras, tapi berbeda dengan informasi yang ia dapatkan. Menyatakan kalau ibunya Harum adalah wanita malam. Bahkan informasi mengenai Harum, sangat berbeda dengan cerita Jidan. Karena gadis itu gangguan mental bukan karena hampir di perkosa, melainkan karena ibu nya meninggal.


Mengingat-ingat soal usaha gelap penjual anak. Ardian teringat akan mantan nya yang terjerat kasus yang sama seperti Jidan ceritakan, karena wanita itu adalah dalang dari penjualan anak selama ini. Apakah cerita Jidan dan juga wanita itu, adalah orang yang sama atau berbeda?


"Apakah wanita itu sudah ditangkap, Jidan?"


"Sudah tuan. Bahkan sekarang wanita itu gila, karena usahanya bangkrut."


"Siapa nama wanita itu?" Tanya Jidan penasaran dengan wanita yang Jidan ceritakan.


Jidan terlihat berpikir, karena ia sudah melupakan nama wanita itu."Kalau nggak salah... Namanya itu. Nadila Ernesta Berend Lian." Jawab Jidan mengingat siapa wanita yang ia ceritakan tadi.


Ardian sempat mendengar kabar dari berita, mengenai Nadila yang masuk penjara, bahkan perusahaan nya ikut bangkrut, karena terbukti melakukan usaha gelap penjualan anak. Tapi Ardian tidak tau kalau wanita itu gila, karena sekarang dia jatuh miskin.


"Sebenarnya itu hukuman yang tepat untuk wanita ular seperti dia, Jidan." Ucap Ardian."Kita lupakan soal wanita ular itu. Karena aku akan memberikan kamu tugas baru, untuk mencari tau dimana sekarang bibi nya Harum dan aku juga ingin tau, apakah wanita ini dan juga ibu nya Harum sama atau tidak." Jidan yang mendengar perintah tuan nya hanya mengangguk mengerti.


"Baik tuan, Saya akan mendapatkan informasi yang jelas mengenai siapa ibu nya Harum dan juga mantan istri anda, tuan. Apakah mereka orang yang sama atau berbeda." Jawab Jidan.


"Aku ingin kamu yang mencarinya Jidan, dan pecat semua orang suruhan ku karena tidak becus berkerja. Jangan lupa, potong tangan kanannya, sebagai tanda. Kalau ancaman ku tidak main-main." Ucap Ardian yang terlihat dingin dan juga dengan nada yang terdengar tegas.

__ADS_1


"Baik tuan." Setelah mendengar jawaban dari Jidan, Ardian berdiri dari duduknya melangkah kearah meja kerjanya kembali.


.


.


Ribuan tetesan air hujan, turun membasahi permukaan bumi yang tadinya kering kini basah. Hujan disertai oleh angin dan petir itu, menandakan kalau malam ini telah terjadi padai, membuat orang-orang takut untuk keluar dari rumah mereka.


Sama halnya seperti yang Nalda lakukan sekarang. Wanita itu hanya diam sambil duduk didalam kamarnya, menatap luar yang sedang turun hujan. Rasanya Nalda ingin keluar dari kamarnya, karena merasa bosan. Tapi itu tidak akan mungkin, mengingat sekarang sedang hujan deras. Bahkan setiap stasiun TV, menghimbau para masyarakat untuk keluar, karena sedang terjadi nya padai di luar sana.


Karena merasa bosan, Nalda berpikir untuk tidur saja. Dengan kaki yang masih terasa sakit, membuat Nalda sedikit kesulitan untuk berjalan. Tapi untungnya ia masih bisa berjalan kearah kasurnya.


"Padahal aku tidak melakukan apapun, tapi aku tetap merasa lelah." Gumam Nalda, yang merasakan pegal-pegal pada tubuhnya. Padahal satu hari ini ia tidak melakukan apapun."Jika aku seperti ini terus, bisa-bisa aku akan menjadi orang yang paling pemalas." Ucap Nalda pada dirinya sendiri. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya untuk segera tidur, karena besok dia akan mencoba untuk pergi ke rumah sakit.


Baru saja matanya terpejam. Suara ponselnya, berhasil membuat wanita itu kembali membuka matanya. Dengan perasaan yang sedikit kesal, tangannya meraih ponselnya.


"....."


"Baik saya akan kesana." Dengan wajah yang khawatir, wanita itu kembali bangun dan menurunkan kakinya ketanah."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2