Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Ardian membulatkan matanya terkejut saat mendengar penjelasan nenek itu, yang ternyata mantan pembantu nya, yang pernah Ardian cari beberapa tahun terakhir.


"Bik Susi, benarkah ini anda?" Tanya Ardian masih belum percaya kalau wanita paruh baya di depannya adalah bik Susi. Bagaimana Ardian tidak berpikir seperti itu, jika wanita paruh baya di depannya sangat berbeda dengan sebelas tahun yang lalu. Jika sebelas tahun yang lalu bik Susi masih memiliki penglihatan yang jelas, tapi tidak dengan ini. Wanita itu tidak melihat apapun.


"Iya tuan, Saya benar-benar bik Susi." Jawab bik Susi yang masih terisak."Tolong maafkan saya tuan, maafkan saya."


"Bik Susi tenang dulu. Saya akan memaafkan bik Susi. Tapi saya tidak tau untuk apa bik Susi meminta maaf, sedangkan kita baru saja bertemu setelah sekian lama. Sebaiknya bik Susi tenang dulu, dan jelaskan sebenarnya apa yang membuat bik Susi meminta maaf pada saya." Ucap Ardian berusaha untuk menenangkan bik Susi yang masih saja terisak, bahkan tangannya masih menyatu. Terlihat dari raut wajahnya yang begitu sangat merasa bersalah.


Ardian dan Jidan membantu wanita paruh baya itu mengarah ke mobil."Minum dulu nek." Ucap Jidan sambil memberikan satu botol air mineral.


"Terimakasih, nak."


"Iya nek, sama-sama." Jawab Jidan tersenyum.


"Sekarang bik Susi jelaskan, kenapa bik Susi meminta maaf pada saya? Apakah bik Susi mengetahui sesuatu mengenai sebelas tahun yang lalu?" Tanya Ardian begitu sangat penasaran.


"Sebenarnya sebelas tahun yang lalu."


Flashback sebelas tahun yang lalu.


"Non Mayla! Nona, apakah anda baik-baik saja?!" Tanya bik Susi panik saat melihat istri dari tuan nya muntah-muntah, padahal Mayla belum makan sesuatu.


"Ngga tau juga, bik. Soalnya kepala saya pusing, dan saya merasa mual saat mencium bau makanan." Jawab Mayla sambil menyadarkan punggung nya di tembok kamar mandi.


Mendengar penjelasan Mayla, membuat bik Susi memikirkan sesuatu."Maaf, non. Sudah berapa lama non Mayla sering mengalami muntah-muntah seperti ini?


"Sudah tiga hari bik. Setiap pagi saya merasa pusing dan mual, tapi pas siang ngga lagi."


"Apakah, non Mayla sudah mendapatkan tamu bulanan, bulan ini?" Tanya bik Susi yang mencurigai sesuatu dari penyakit Mayla.


Mayla berpikir saat mendengar pertanyaan bik Susi."Sepertinya belum bik, kalau bulan ini. Kalau ngga salah sudah lewat hampir dua minggu." Jawab Mayla, membuat bik Susi tersenyum."Emangnya ada apa bik? Saya baik-baik saja kan?" Tanya Mayla cemas, takut ada penyakit berbahaya dalam tubuhnya.


"Anda baik-baik saja non Mayla. Mungkin ini akan menjadi kabar baik untuk non Mayla dan juga tuan." Jawab bik Susi, karena pikiran nya sepertinya tidak salah kalau sekarang Mayla sedang mengandung.


"Kabar bahagia?" Maksud bik Susi apa?" Tanya Mayla tidak mengerti.


"Iya non Mayla, ini adalah kabar bahagia. Karena mungkin anda sekarang sedang mengandung." Mayla terdiam saat mendengar jawaban bik Susi.


"Benarkah bik?" Tanya Mayla ingin memastikan.


"Iya non. Perkiraan bik Susi seperti itu. Semoga saja non Mayla benar-benar sedang mengandung, tapi untuk lebih jelasnya, non Mayla bisa mengeceknya."


"Mengeceknya kerumah sakit bik?"


"Non Mayla juga bisa mengeceknya lewat tspk."


"Tapi tspk itu apa bik?" Tanya Mayla polos, karena tidak mengerti dengan benda yang bik Susi sebutkan.

__ADS_1


Bik Susi hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos dari Mayla."Itu alat cek kehamilan non. Non Mayla bisa mengetahui apakah non Mayla sedang mengandung atau tidak dengan benda itu." Jelas bik Susi sambil tersenyum."Non Mayla, tunggu sebentar. Saya akan membelikan benda itu, untuk membuktikan dugaan saya, kalau non Mayla sedang mengandung." Ucap bik Susi.


Setelah mengantarkan Mayla kedalam kamarnya, bik Susi memutuskan untuk keluar mencari tspk. Bik Susi ikut bahagia, karena nona nya akan segera memiliki anak, yang berarti kelurga tuannya akan semakin bahagia dengan kehadiran anak di tengah-tengah mereka.


Saat sedang berjalan kaki di sebuah jalan yang lumayan sepi, tiba-tiba saja bik Susi di hadang oleh wanita dan juga dua orang pria bertubuh besar.


"Siapa kalian?" Tanya bik Susi ketakutan, karena ia dihentikan oleh orang-orang yang tidak ia kenal.


"Jangan banyak tanya! Ikut kami cepat!" Kedua pria itu langsung menarik paksa tangan bik Susi masuk kedalam mobil. Sedangkan wanita tadi melangkah di belakang kedua pria bertubuh besar itu.


"Lepaskan! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan saya!" Bik Susi berusaha untuk lepas dengan cara meronta-ronta. Tapi sepertinya usaha nya gagal karena tenaganya tidak sekuat kedua pria itu, apalagi keduanya memiliki tubuh besar yang tidak bisa bik Susi lawan.


Paakk


Satu tamparan berhasil membuat bik Susi terdiam. Bik Susi menatap wanita di depannya dengan takut, apalagi melihat wajah cantik itu terlihat sangat kejam saat menatapnya dengan tajam.


Paakk


Tamparan kedua kembali wanita itu layangkan, sehingga membuat bibir bik Susi mengeluarkan darah seperti tamparan pertama.


"Diam lah, wanita tua! Saya tidak suka dengan teriakan jelek mu itu!" Ucap wanita itu tanpa rasa bersalah sama sekali, padahal dia baru saja berbicara kasar dengan bik Susi, dan juga menyakiti bik Susi."Kamu ingin tau kenapa saya membawa kamu disini?!"


Bik Susi hanya bisa menelan saliva nya saat mendengar pertanyaan wanita cantik itu. Bahkan suara angkuhnya membuat bik Susi semakin ketakutan. Takut mereka akan menyakiti nya, apalagi tatapan horor itu, seperti ia adalah mangsa mereka.


"Apakah kamu mengenal pria ini?" Tanya wanita itu sambil menunjukkan sebuah foto ditangannya.


Bik Susi terkejut saat melihat foto siapakah yang wanita itu tunjukkan. Ia bingung ingin menjawab apa. Apakah ia harus berkata jujur, kalau foto itu adalah tuannya?


"Saya–saya tidak meng_enal nya nyonya." Jawab bik Susi berbohong, mencoba untuk menutupi yang sebenarnya. Karena bik Susi takut, kalau wanita didepannya akan berbuat jahat nanti jika ia mengatakan yang sebenarnya.


"Kau berbohong! Baiklah jika itu yang kamu inginkan?" Wanita itu tersenyum miring sambil menatap sinis kearah bik Susi."Perlihatkan, agar dia mau berkata jujur."


Bik Susi yang memang sudah ketakutan semakin di buat ketakutan saat mendengar ucapan wanita itu. Apalagi yang wanita jahat itu lakukan?


"Lihatlah didepan." Dengan sedikit paksaan bik Susi menatap layar didepannya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat video yang terpampang jelas di layar berukuran sedang itu.


"Aldi, Ali!" Pekik bik Susi terkejut bercampur khawatir saat melihat kedua anak laki-laki yang mungkin masih berusia sepuluh tahun sedang diikat, sedangkan di setiap wajah nya terdapat memar dan juga darah yang terus menetes. Bik Susi bingung, kenapa kedua putranya bisa berada disana, apakah wanita jahat itu sengaja menculik mereka, dan menjadikan kedua anaknya sebagai ancaman.


"Apa anda lihat? Saya bisa saja membuat mereka kehilangan nyawa mereka. Tapi saya masih memberikan mereka kesempatan, dan itu terdapat pada kamu wanita tua." Bik Susi yang tadi menatap kearah layar beralih menatap kearah wanita itu.


"Apa yang anda inginkan, nyonya. Saya akan mengabulkan nya tapi jangan sakiti kedua anak saya." Lirih bik Susi dengan mata yang memerah, tanda kalau wanita itu sangat khawatir dengan kondisi kedua anaknya.


"Beritahukan saya, apakah kamu mengenal nya?" Bik Susi dengan terpaksa menganggukkan kepalaku.


"Iya nyonya, saya mengenal nya. Karena dia adalah bos saya."


"Ceritakan semua tentang dia."

__ADS_1


Lagi-lagi bik Susi hanya menganggukkan kepalanya, dan dengan terpaksa menceritakan semua tentang bosnya termasuk hal pribadi. Seperti contohnya menikah.


"Brengsek!!"


Paakk


Bik Susi kembali mendapatkan tamparan keras dari wanita itu, saat ia sudah selesai bercerita."Jika kamu ingin kedua anakmu selamat! Maka ikutilah perintah saya, dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tau! Jika sampai ada yang tau, maka nyawa kedua anakmu tidak akan terselamatkan." Dengan rasa takut, bik Susi kembali mengangguk kepalanya tanpa berniat untuk menjawab.


"Maafkan saya tuan, saya terpaksa berkhianat, karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan kedua anak saya." Batin bik Susi.


.


.


"Bik Susi! Bik Susi tidak apa-apa?" Tanya Mayla dengan penuh rasa khawatir, apalagi bik Susi baru saja datang padahal dari satu jam tadi dia pergi.


Bik Susi mengangkat kepalanya, menatap wajah istri tuan nya dengan tersenyum."Saya baik-baik saja non Mayla. Maaf saya terlambat pulang karena ada urusan sebentar."


"Tidak apa-apa bik, saya senang bik Susi baik-baik saja. Soalnya tadi saya khawatir terjadi sesuatu dengan bik Susi, karena belum pulang juga dari tadi." Jawab Mayla dengan penuh perhatian. Bahkan bik Susi bisa merasakan kalau wajah Mayla sudah lebih tenang, dan tidak seperti tadi saat ia baru datang, bik Susi melihat wajah kekhawatiran di sana.


"Ya Allah, hamba akan berbuat jahat pada orang yang begitu sangat baik pada hamba. Padahal hamba bukan siapa-siapanya gadis ini, tapi dengan penuh perhatian dia mengkhawatirkan saya." Batin bik Susi merasa terharu dengan perlakuan lembut Mayla."Maafkan saya tuan, non Mayla. Karena saya berkhianat pada kalian." Batin bik Susi lagi-lagi menyesali apa yang akan dia buat. Tapi ia juga tidak bisa mundur karena kedua anaknya sedang dalam bahaya.


"Bik Susi sudah beli tspk nya. Mari saya antar non Mayla untuk mengecek, apakah non Mayla benar-benar mengandung atau tidak." Ucap bik Susi berusaha untuk mengalihkan suasana canggung nya.


"Tapi bik, saya takut hasilnya tidak sesuai." Ucap Mayla memberitahukan rasa cemasnya.


"Insya allah, non, percaya rencana Allah. Apapun hasil nya, yang terpenting non Mayla sudah mengecek bukan. Ada dan tidak ada, itu kuasa yang di atas." Jelas bik Susi berusaha menenangkan Mayla yang terlihat cemas.


"Terimakasih bik, kata-kata bik Susi membuat aku tenang." Jujur Mayla merasa sangat tenang saat bik Susi menenangkan nya dengan kata-kata yang menenangkan.


.


.


"Bik, kalau hasilnya gini apa ya?" Tanya Mayla tidak mengerti sambil menatap benda di tangan nya.


"Coba sini bik Susi lihat." Bik Susi memperhatikan alat itu, yang ternyata terdapat dua garis merah di sana walaupun satu nya samar-samar. Tapi hasil dari kelima tspk itu benar-benar menunjukkan, kalau Mayla sekarang sedang mengandung sekarang.


"Selamat non Mayla, nona benar-benar sedang mengandung."


"Benarkah bik! Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas titipan yang engkau berikan." Ucap Mayla terharu. Bahkan gadis muda itu sampai menangis sambil memegang perutnya karena mengetahui kalau ia ternyata sedang mengandung.


"Alhamdulillah, non." Jawab bik Susi tersenyum mengusap lembut bahu Mayla yang sedang menangis bahagia. Ada rasa syukur yang bik Susi rasakan, tapi rasa sedih itu tetap ada."Ya Allah, apakah aku sejahat itu. Dimana aku mengetahui kalau ada kabar bahagia, tapi aku malah menghancurkan kabar bahagia itu dengan kabar buruk." Batin bik Susi merasa bersalah. Jujur sebenarnya ia tidak ingin melakukannya kejahatannya, tapi nyawa kedua anaknya membuat bik Susi tetap harus melakukan kejahatan itu.


...----------------...


Mungkin beberapa part akan banyak Flashback, yang akan membuat kalian jengkel membacanya. Tapi tenang saja author akan cepat-cepat menyelesaikan nya🤭

__ADS_1


Harap bijak dalam membaca, karena banyak Tpyo yang bertebaran. Jangan lupa like dan komen biar author semakin bersemangat buat nulisnya.


Salam manis dari author 🥰


__ADS_2