Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian.


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Saat ketiganya sedang berbincang-bincang, tanpa mereka sadari. Kalau dari tadi, seseorang sedang memperhatikan mereka dari jarak yang lumayan dekat dari meja ketiganya. Tapi orang itu lebih tertarik pada satu wanita. Yaitu Nalda.


"Cantik." Pujianya saat melihat senyuman wanita itu, yang saat itu sedang tersenyum itu.


"Tuan, ruangan VIP nya sudah siap." Ucap sekertaris pria itu, yang sekarang sudah berdiri disebelahnya"Tuan." Panggilannya saat dia tidak mendengar respon dari tuannya itu.


"Batalkan pemasaran ruangan VIP, Jidan. Aku ingin makan di luar sini."


Ya, pria itu adalah Ardian dan juga sekertarisnya Jidan. Kebetulan hotel tempat mereka menginap tidak terlalu jauh dengan restoran itu, makanya Jidan dan Ardian memutuskan untuk singgah. Karena keduanya belum sarapan pagi, padahal sekarang sudah hampir siang.


"Baik tuan." Jawab Jidan mengiyakan tanpa bertanya lagi. Walaupun bingung, tapi Jidan tetap melangkahkan kakinya pergi kemeja resepsionis, untuk membatalkan ruangan yang tadi dia pesan. Saat Jidan sudah pergi kemeja resepsionis, Ardian melangkah mendekati salah satu meja yang berdekatan dengan meja Nalda dan juga kedua sahabatnya. Kebetulan meja itu kosong.


Ardian duduk dimeja itu, sedangkan ketiganya tidak menyadarinya atau memperhatikan nya, karena mereka sedang asik memakan makanan mereka dan berbincang sedikit.


Ardian terus menatap Nalda tanpa berkedip sama sekali."Kenapa aku merasa, kalau wanita ini sangat mirip denganmu Mayla?" Batin Ardian yang mulai menyadari kalau wajah wanita didepannya hampir menyerupai mantan istrinya, apalagi wanita itu memiliki bentuk wajah yang sama. Bukan saja bentuk wajah melainkan rambut, suara dan senyuman itu. Membuat Ardian mengira kalau wanita didepannya adalah mantan istrinya saat pertama kali mereka bertemu. Makanya saat bertemu dengan Nalda untuk pertama kalinya, Ardian terdiam. Karena Ardian berpikir kalau mantan istrinya baru saja melakukan operasi, dan menganti sedikit wajahnya agar dirinya tidak mengenalinya.


"Apa yang kamu pikirkan Ardian. Mereka berbeda, dia bukan Mayla. Bisa saja wajah mereka hanya kebetulan mirip!" Gumam Ardian menepis pikirannya itu, yang berpikir kalau wanita di meja itu adalah mantan istrinya.


Saat Ardian sedang berada didalam lamunannya, tanpa dia sadari kalau sekarang dia mendapatkan tatapan dari meja disebelahnya. Apalagi wanita yang Ardian tatap tanpa berkedip sama sekali.


"Nal, bukannya dia pria itu?"


"Pria yang mana?" Jawab Nalda seakan cuek dengan ucapan sahabatnya, dan masih memilih mengunyah makanannya. Sama halnya seperti Jerry, yang tidak terlalu mementingkan ucapan Annchi. Karena kadang sahabatnya itu sedikit genit kalau dengan pria tampan.


"Kenapa sih kamu Annchi?"


"Itu pengusaha dari kota B. Ardian Nantan Ronaltan." Keduanya yang tadi tidak perduli, langsung melihat kearah Annchi." Pengusaha dari Naltan grup." Ucap Annchi kembali, sambil menunjuk kearah Ardian yang hanya diam menatap kemeja mereka. Sedangkan Nalda dan Jerry langsung menoleh dengan penasaran, sambil mengikuti telunjuk Annchi yang sedang menuju kearah belakang mereka. Dan Nalda dan Jerry bisa melihat wajah tampan Ardian yang sedang menatap kearah mereka.


"Bukannya dia pria yang semalam?" Batin Nalda terkejut, saat mengingat kalau pria itu adalah pria semalam yang ingin melecehkannya."Tapi kenapa dia berada disini? Apa dia mengikuti ku? Tidak-tidak, itu tidak mungkin. Pasti kami tidak sengaja bertemu saja." Batin Nalda menepis pikirannya.


"Ardian? Kenapa dia bisa berada disini?" Batin Jerry."Apakah dia mengenal Nalda? Tapi itu tidak mungkin." Batin Jerry bertanya-tanya dalam pikirannya, apalagi Jerry bisa merasakan kalau Ardian menatap Nalda dengan tatapan kagum.


"Tuan, maaf membuat anda lama menunggu. Karena saya baru saja dari toilet tadi." Ucap Jidan yang baru saja datang ke meja itu. Kedatangan Jidan langsung menyadarkan Ardian dari lamunannya. Bukan saja Ardian melainkan Jerry dan juga Nalda.


"Hmm." Jawab Ardian bergumam."Jidan, aku tidak jadi makanan. Sebaiknya kita kembali."


"Kenapa tuan? Bukannya anda belum sarapan pagi ini?" Tanya Jidan bingung."Apakah tuan ingin mengganti ruangan yang lain."

__ADS_1


"Tidak." Jawab Ardian singkat sambil berdiri dari duduknya. Sedangkan Jidan. Dia hanya menghembuskan nafasnya sabar untuk menghadapi tuannya itu, yang kadang suasana hatinya cepat berubah-ubah.


Saat Jidan ingin melangkah mengikuti Ardian. Pandangannya tertuju, pada satu wanita. Yaitu Nalda, yang sedang menatap kearahnya."Apa mungkin karena wanita itu? Tapi tuan tidak mengingat apa-apa semalam." Gumam Jidan yang tetap melanjutkan langkahnya.


.


.


Nalda menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Walaupun Nalda sedang fokus menyetir. Tapi pikirannya tertuju pada perkataan Annchi tadi.


"Apakah kamu tau Nal? Kalau pria tadi itu adalah Casanova yang terkenal. Karena dia suka sekali berganti-ganti wanita setiap malamnya. Entah sudah berapa wanita yang pernah tidur dengannya. Tapi setiap melihat wanita, pasti pikiran liarnya selalu mengincar wanita itu. Makanya kamu harus hati-hati kalau bertemu dengan dia."


"Huuff. Pantas saja tadi malam dia ingin melecehkan ku, ternyata dia adalah Casanova." Batin Nalda.


"Yang pernah aku dengar dari orang-orang yang pernah mengenal pria itu. Kalau dia sebenarnya adalah pria baik, dan tidak suka bermain-main dengan wanita. Hanya saja beberapa tahun yang lalu dia dikhianati oleh kekasihnya, karena selingkuh dengan pria lain. Makanya dia seperti itu. Katanya orang sih, pria itu sudah tidak percaya lagi kepada setiap wanita dan menganggap mereka sama."


Ingatan Nalda kembali tertuju pada perkataan Annchi, yang mengatakan kenapa bisa Ardian berubah."Tapi aku tidak yakin, kalau pria itu berubah karena perselingkuhan kekasihnya. Aku yakin, kalau dia berubah karena hal yang lain." Gumam Nalda. Entah kenapa, Nalda tidak percaya dengan cerita yang orang-orang katakan. Karena menurut Nalda, kalau Ardian berubah karena hal lain. Tapi bukan karena itu.


Tidak terasa Nalda sudah sampai didepan rumahnya. Para sekuriti yang melihat mobil Nalda, dengan sigap membuka gerbang itu untuk menyambut kedatangan nyonya mereka. Saat memasuki pekarangan rumahnya, Nalda bingung saat melihat mobil didepannya.


"Itu mobil siapa? Apakah ada yang datang bertamu?" Ucap Nalda, saat melihat mobil terparkir didepan pekarangan rumahnya, dan mobil itu cukup asing untuk Nalda. Karena penasaran Nalda turun dari mobilnya dan dia sudah disambut oleh salah satu security-nya. Yaitu pak Dodo.


"Bukan nyonya, yang datang bukan tuan besar, Melainkan orang lain."


"Siapa pak, kalau bukan ayah?" Tanya Nalda bingung.


"Saya kurang tau nyonya. Tapi tadi katanya, kalau tuan itu adalah pasien nyonya." Jawab pak Dodo, membuat Nalda mengerutkan keningnya bingung.


"Pasien?" Bisik Nalda pada dirinya sendiri saat mendengar jawaban dari sekuriti nya itu."Baiklah pak, terimakasih. Saya masuk dulu."


"Iya sama-sama nyonya, silahkan." Jawab pak Dodo sambil tersenyum. Nalda melangkah masuk kedalam rumahnya, untuk melihat siapakah yang datang bertamu. Apakah benar pasiennya atau bukan?


.


.


"Terimakasih bi." Ucap Nalda tersenyum saat Bu Titi, asisten rumahnya membuka pintu.


"Iya sama-sama nyonya." Nalda dan Bu Titi mendekati sofa, dan dari jarak yang sedikit jauh, Nalda bisa melihat dua punggung tegak seorang pria. Karena kebetulan dua orang yang bertamu itu membelakanginya.

__ADS_1


"Maaf, sudah membuat kalian lama menunggu." Ucap Nalda dengan sopan sambil mendekati sofa itu untuk duduk, dan melihat siapakah dua orang itu.


"Tidak apa-apa nona." Nalda yang belum terfokus ke kedua orang itu, langsung menatap sang pemilik suara saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya selama dua hari ini.


"Kalian."


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Seorang gadis baru saja keluar dari kelasnya. Dengan bersenandung merdu dia melewati koridor kampusnya. Sampai langkahnya harus terhenti saat ada yang memanggilnya.


"Yana Yakira!" Suara seorang pria, berhasil membuat gadis itu berbalik menghadap ke belakangnya.


"Pak Enzo?" Gumam gadis, yang tidak lain adalah Yaya, yang begitu sangat terkejut saat melihat pria itu.


"Yana, apakah kamu mau pulang?" Tanya pria itu sambil menatap Yaya dengan tulus.


Enzo Omero Baldovino. Pria berusia dua puluh empat tahun. Pria yang berasal dari negara Italia, dia juga seorang pengusaha dan juga sebagai dosen yang mengajar bahasa disana. Jadi jangan heran kenapa pria itu bisa berbahasa Indonesia.


"Apakah kamu mau pulang Yana?" Tanya pria itu mengulang pertanyaan, saat melihat Yaya hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.


"Ehh, iya pak. Saya mau pulang." Jawab Yaya yang merasa canggung saat berbicara dengan pria itu.


"Kenapa kamu memangil saya bapak, Yana. Panggil saja dengan sebutan nama jika kita sedang berada diluar kelas." Ucap Enzo sambil terkekeh kecil melihat gadis didepannya yang terlihat gugup saat berhadapan dengannya.


"Tapi pak_"


"Bagaimana kalau kita pulang bersama sekalian makan siang?" Tawar Enzo memotong ucapan Yaya, yang ingin menjawab ucapannya barusan.


"Tidak usah pak, saya bawah mobil sendiri." Tolak Yaya lembut.


"Ngga apa-apa Yana, kamu bisa pulang bersama dengan saya. Sedangkan mobil mu, saya bisa meminta anak buah saya untuk mengantarnya ke rumahmu." Jelas Enzo, yang sepertinya tidak suka dengan penolakan gadis didepannya itu." Anggap saja, makan siang bersama ini, kita sedang berusaha berdekatan. Bukannya kita mau_"


"Baiklah pak. Kita akan makan siang bersama." Potong Yaya, yang tidak ingin mendengarkan lanjutan ucapan dari pria didepannya.


"Baiklah, ayo." Enzo mengulurkan tangannya, untuk menggenggam tangan Yaya. Tapi gadis itu malah menarik tangannya untuk menghindari tangan Enzo dengan lembut." Kenapa Yana?" Tanya Enzo bingung.


"Maaf pak, bukan Marham." Setelah mengatakan itu, Yaya melangkah meninggalkan Enzo yang hanya diam ditempatnya.


"Marham?" Beo Enzo kebingungan menatap punggung Yaya yang sudah melangkah meninggalkannya."Bukannya dia memiliki keyakinan yang sama denganku? Tapi kenapa dia mengatakan itu?" Gumam Enzo bertanya-tanya, karena setahu nya perkataan Yaya barusan hanya dia dengar setiap wanita muslim. Tapi entah kenapa Yaya mala mengatakannya."Apakah dia sedang mengerjaiku?" Batin Enzo yang baru sadar kalau Yaya ternyata mengerjainya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2