Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


"Ardian, bukankah itu sekretaris mu, Jidan?" Tanya Nalda saat melihat satu orang yang ia kenal baru saja masuk kedalam toko eskrim itu.


"Jidan? Dimana." Tanya Ardian mengerutkan keningnya bingung.


"Itu..." Nalda menunjuk punggung tegap seorang pria yang sedang melangkah beriringan dengan seorang wanita yang berada disampingnya. Sedangkan Ardian mengikuti tangan Nalda yang sedikit menunjuk. Bola mata keabu-abuan itu meneliti kesemua orang-orang yang berada di toko eskrim, yang memang ramai walaupun sudah malam. Sampai pandangannya tertuju pada punggung seorang pria yang sangat ia kenal.


"Kamu sudah melihatnya, Ardian?" Ardian hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengiyakan pertanyaan wanita disebelahnya."Tapi siapa gadis itu? Apakah Jidan sudah memiliki kekasih?" Tanya Nalda menoleh kearah Ardian dan tanpa sadar kalau wajah keduanya terlihat lebih dekat. Apalagi saat ini Ardian sedang diam sambil menatap kearah Jidan, sehingga ia tidak menyadari kalau wajahnya begitu sangat dekat dengan wajah Nalda.


"Mungkin gadis itu, kekasih....." Ucapan Ardian terhenti saat ia menoleh kesamping nya, yang membuat wajahnya dan juga wajah Nalda sangat dekat. Bahkan ujung hidung mancung keduanya hampir bersentuhan.


Deg


Deg


Jantung keduanya berdetak tidak karuan saat mata keduanya saling menatap satu sama lainnya. Bahkan iris cokelat gelap dan juga iris keabu-abuan itu seperti memperlihatkan ketenangan disana.


Lumayan lama mereka saling menatap dengan diam. Sampai pada akhirnya keduanya menyadari kalau apa yang mereka lakukan salah, sehingga keduanya saling buang muka kearah lain untuk memutuskan tatapan mereka.


Nalda merasa sangat malu dan juga gugup, bahkan debaran jantungnya sekarang berdetak tidak karuan."Ada apa dengan jantung ku?" Batin Nalda memegang dadanya dan merasakan debaran yang aneh disana. Bukan karena ia terkena serangan jantung, melainkan debaran lain dan Nalda tentu tau arti dari debaran itu. Apalagi dulu ia pernah berada di posisi ini.


Berbeda dengan Nalda yang terlihat malu dan gugup. Ardian terlihat biasa saja. Tapi berbeda dengan jantung nya yang kini berdetak tidak karuan bagaikan melodi.


"Jantung ku." Batin Ardian terlihat mengusap lembut dadanya, ia berusaha untuk biasa saja agar apa yang terjadi tadi tidak membuat mereka menjadi canggung. Ardian mantap ke sekelilingnya untuk melihat. Apakah orang-orang memperhatikan mereka. Tapi, sepertinya tidak, karena orang-orang disana tidak memperhatikan apa yang barusan terjadi tadi, karena orang-orang disana hanya fokus pada eskrim didepan mereka sambil bercengkrama dengan keluarga serta dengan pasangan mereka.


"Mungkin Jidan, sedang jalan bersama dengan kekasihnya." Ucap Ardian melanjutkan ucapannya tadi, sambil menoleh kearah Nalda. Ardian mencoba untuk bersikap biasa saja, agar tidak canggung saat ia berbicara dengan Nalda.


Mendengar suara Ardian, membuat Nalda ikut menoleh kearah sampingnya."Hmmm, aku tidak tau kalau ternyata Jidan memiliki kekasih." Jawab Nalda berusaha untuk tetap tenang dan biasa-biasa saja.


"Sebenarnya aku juga tidak tau, kalau Jidan memiliki kekasih. Karena selama ini dia hanya betah sendiri." Ucap Ardian yang masih menatap punggung pria itu, sepertinya sedang memesan sesuatu.


"Karena terlalu sendiri, mungkin saja Jidan berniat untuk mencari pasangan hidup. Apalagi sekarang usianya sudah siap untuk menikah."

__ADS_1


Mendengar kata menikah membuat Ardian kembali menatap wanita disampingnya. Seperti yang dikatakan oleh Nalda, kalau usia Jidan sudah sangat siap untuk menikah. Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah berkepala tiga. Apakah bisa dikatakan sangat siap untuk menikah?


"Jika Jidan sudah pantas untuk menikah, bagaimana denganmu. Bukannya kamu juga sudah siap untuk menikah?" Nalda menoleh kearah Ardian saat pria itu menyebut tentang pernikahan. Walaupun tadi ia yang membahasnya, tapi mendengar namanya disebut membuat wanita itu sedikit tersinggung. Karena yang dikatakan oleh Ardian benar. Kalau diusianya sekarang sangat pantas untuk menikah. Hanya saja ia belum siap.


"Bukan maksud ku untuk menyingung mu. Hanya saja aku berpikir, kalau sebenarnya kita yang sudah pantas untuk menikah. Tapi kamu ataupun aku masih nyaman untuk sendiri." Jelas Ardian menatap wanita itu dengan sangat serius.


Nalda tampak berpikir mendengar ucapan Ardian. Apakah ia terlalu nyaman sendiri, sehingga ia tidak pernah membuka hati kembali? Bahkan sahabatnya sendiri ia tolak.


Sebenarnya bukan karena ia terlalu nyaman dengan kesendiriannya, hanya saja ia belum siap untuk menerima orang baru dalam hidupnya, padahal usianya sudah memasuki kepala tiga.


"Kenapa kamu diam, Nalda?" Tanya Ardian menatap wanita yang selama beberapa hari ini selalu bersama nya.


"Tidak, ada." Kini meja itu kembali hening karena keduanya sama-sama diam, tidak ada yang berbicara lagi. Sampai pelayan datang untuk membawakan pesanan keduanya.


"Terimakasih." Ucap Nalda tersenyum rama ke pelayan wanita yang tadi mengantarkan pesanan mereka. Sedangkan Ardian hanya diam sambil menatap Nalda dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Nalda."


"Umm." Jawab Nalda bergumam tapi ia tidak melihat kearah Ardian sama sekali.


Uhuk....


Nalda langsung terbatuk-batuk saat mendengar pertanyaan Ardian.


"Jangan terburu-buru minumnya Nal, karena tidak ada orang yang akan mengambil es yang sekarang sedang kamu minum." Ucap Ardian begitu sangat perhatian mengusap punggung Nalda.


Nalda hanya diam menatap pria didepannya."Apa maksud mu, Ardian?"


"Maksudku. Apakah kamu sudah siap menjadi seorang istri?" Tanya Ardian memperbaiki ucapannya.


Nalda kembali terdiam mendengar penjelasan Ardian. Karena apa yang dikatakan Ardian sangat berbeda dengan apa yang ia dengar barusan.


"Sebenernya aku sudah siap. Hanya saja ada alasan lain yang membuat ku bertahan untuk sendiri." Jawab Nalda tersenyum.

__ADS_1


"Alasan? Alasan apakah itu?"


"Alasan yang tidak boleh orang kepo sampai tau." Ardian berdecak saat mendengar ucapan Nalda.


"Dasar." Nalda hanya terkekeh saat melihat wajah kesal Ardian. Sepertinya pria itu sudah bisa memperlihatkan wajah lucunya sekarang saat berada di muka umum. Walaupun hanya didepannya, tapi itu sangat bagus. Agar pria itu tidak selalu dalam mode serius."Karena kita mengobrol kan hal lain. Kita sampai tidak sadar kalau Jidan sudah tidak ada disini." Ucap Nalda sambil melihat sekitarnya.


"Mungkin habis pesan Jidan langsung pulang." Jawab Ardian sambil meminum eskrim yang sedang viral itu."Sebaiknya kita lanjutkan kencan kita, daripada mengurusi jidan."


"Kencan?! Siapa bilang kita kencan! Orang kamu yang mau kesini!" Kesal Nalda.


"Bercanda. Tapi anggaplah seperti itu." Lanjut Ardian dengan santainya."Nggak usah ngomel, keburu es mu mencair." Ucap Ardian kembali saat melihat wanita itu akan mengoceh kembali.


"Terserah." Dengan kesal Nalda meminum es nya, tapi Ardian hanya tersenyum.


"Sebenarnya apa yang aku katakan tadi memang serius Nalda. Tapi aku ragu apakah kamu mau atau tidak, mengingat siapakah aku. Mungkin aku memiliki harta, tapi aku hanyalah pria brengsek yang memanfaatkan hartaku dengan menjebak setiap wanita untuk aku jadikan mainan. Mungkin kamu juga tidak akan menerima ku, mengingat aku bukan pria baik-baik." Batin Ardian menatap Nalda dengan tatapan sedih.


Ya, dalam hati Ardian. Ia memiliki rasa terhadap Nalda. Apalagi wanita itu selalu menemaninya, bahkan mau membantunya untuk menghilangkan trauma yang selama ini dia derita. Tapi ia harus mengubur rasa sukanya, mengingat ia bukalah pria baik-baik seperti Jerry.


Ardian juga selalu melakukan konsultasi melakukan terapi setelah malam dimana dia mengamuk. Walaupun ia belum menceritakan apa yang selama ini dia rasakan. Tapi bersama dengan Nalda membuat Ardian lebih nyaman. Hanya saja Ardian heran. Setiap berada didekat Nalda, pasti ia akan teringat oleh Mayra. Apalagi wajah Nalda dan juga suara Nalda hampir sama.


.


.


Masih ditempat yang sama, hanya saja berbeda ruangan. Jika Nalda dan juga Ardian berada di lantai bawah. Maka berbeda dengan Jidan dan juga Nada yang berada di lantai atas. Tepatnya Rooftop toko eskrim, sebenarnya itu bukalah toko eskrim seperti yang dikatakan oleh Jidan. Karena tempat itu hanyalah kafe berlantai tiga, dan lantai paling atas itu adalah Rooftop tempat bersantai. Rooftop itu juga tidak di pakai untuk umum, karena hanya orang tertentu yang boleh memakai nya. Tapi tidak tau kenapa, Jidan bisa memakai Rooftop itu.


"Wahhh, tempatnya sangat indah. Apalagi kita masih bisa melihat bulan dan juga bintang secara langsung." Ucap Nada yang terlihat mengagumi tempat itu.


Mendengar Nada senang, membuat Jidan tersenyum. Apalagi gadis itu tidak menutupi wajah kekagumannya, membuat Nada terlihat lucu di mata Jidan. Karena Nada tampil apa adanya, tanpa harus dibuat-buat.


"Kamu menyukainya?" Nada yang tadi sedang memejamkan matanya sambil menghirup udara segar malam ini, membuka matanya, Lalu ia menoleh melihat kearah Jidan dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Aku sangat menyukainya. Karena jarang-jarang tokoh eskrim menyediakan Rooftop sebagus ini."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2