
Cinta kedua untuk Ardian.
"Ini bukan toko eskrim, Nada. Tapi kafe yang menyediakan aneka eskrim." Nada melihat kearah Jidan saat mendengar ucapan pria itu.
"Bukannya tadi kamu mengatakan, kalau ini toko eskrim?"
"Aku tadi memang mengatakan itu, tapi yang jelas ini bukan toko eskrim, melainkan kafe."
"Dasar menyebalkan, ternyata kamu membohongiku!" Jidan hanya terkekeh saat melihat wajah cemberut Nada.
"Walaupun bukan toko eskrim, tapi disini tetap tersedia eskrim. Lebih baik sekarang kamu ngga usah ngambek. Bukannya tadi kamu mengatakan kalau kamu ingin mencoba eskrim disini." Ucap Jidan mengingatkan rencananya kenapa mereka kesini tadi.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan!" Ucap Nada dengan ketus membuat Jidan tersenyum.
"Tapi kalau kamu ngga mau juga ngga apa-apa, nanti aku kensel pesanannya."
"Jangan!" Cegat Nada dengan cepat membuat Jidan mengukir senyuman kecilnya."Jangan di kensel eskrim nya, soalnya sayang kalau mau dibuang. Mending kita makan saja." Ucap Nada sambil melangkah kearah tempat duduk yang berada disana.
Jidan yang melihat tingkah Nada hanya terkekeh secara diam-diam. Walaupun sedang ngambek tapi Nada tidak mau rugi ya.
Tidak berselang lama, eskrim berserta makanan ringan yang tadi mereka pesan sudah di antarkan oleh pelayan disana. Nada yang melihat makanan didepannya tersenyum dengan mata yang berbinar. Sepertinya gadis itu merasa bahagia malam ini.
"Waahhh, ada cake! Aku sangat suka cake rasa vanilla dan juga coklat!" Ucap Nada dengan sangat antusias saat melihat cake tersusun rapi di atas piring.
"Kamu menyukai cake?"
"Aku sangat, sangat suka. Soalnya setiap aku nonton televisi, pasti aku menginginkan nya, hanya saja....." Tiba-tiba saja Nada menghentikan ucapannya, padahal Jidan penasaran dengan apa yang Nada ingin ucapakan sampai seantusias itu.
"Hanya saja?" Nada hanya diam tidak menjawab, yang membuat Jidan penasaran. Apalagi melihat sikap Nada yang terlihat seperti orang gugup."Kenapa diam? Hanya saja, apa?"
"Hanya saja aku tidak bisa memakannya setiap hari karena harus diet." Jawab Nada sambil tersenyum lebar. Jidan yang mendengar ucapan gadis itu membuatnya semakin menatap kearah Nada.
"Kamu tidak sadar, Nada. Kalau kamu sebenarnya sudah kurus menurutku, lalu kenapa kamu ingin diet lagi." Celetuk Jidan.
"Kamu ngomong apa tadi, Jidan!"
"Tidak ada, Nad. Sebaiknya kita cicipi sekarang keburu es krim nya meleleh." Jawab Jidan cepat, karena tidak ingin melihat gadis itu mengamuk akibat perkataan nya.
"Kamu sangat menyebalkan." Walaupun kesal tapi Nada tetap mengambil eskrim yang sudah sedikit meleleh itu, lalu memakan nya.
"Ini sangat enak. Aku tidak tau kalau ternyata rasa eskrim seenak ini, apalagi ada rasa dinginnya." Batin Nada yang begitu sangat menikmati eskrim itu."Kalau saja aku tau dari dulu, mungkin dari dulu juga aku akan memakannya."
"Bagaimana enak bukan?" Nada mengalihkan tatapannya yang tadi menatap es krim nya kearah Jidan.
"Ini sangat enak Jidan. Terimakasih."
"Iya sama-sama, Nada. Baguslah kalau kamu menyukainya."
.
.
__ADS_1
Setelah membayar, Ardian bersama dengan Nalda keluar dari kafe itu.
"Makanan disini sangat enak. Apakah kamu menyukainya Nal?"
"Aku menyukai nya. Terimakasih Ardian untuk makanan malamnya, nanti kapan-kapan aku yang traktir kamu lagi."
"Tidak perlu seperti itu, Nal. Aku senang bisa makan bersama dengan kamu."
"Seperti yang kamu katakan tadi. Anggaplah sebagai pertemanan kita."
Walaupun tidak setuju, tapi Ardian tetap menganggukkan kepalanya. "Baiklah, terasa kamu. Aku senang kalau kamu menerima pertemanan ku." Nalda hanya tersenyum mendengar jawaban dari Ardian.
Karena terlalu asyik mengobrol, kedua nya tidak menyadari, kalau mereka sudah sampai ditempat parkiran mobil.
"Mau langsung pulang, atau singgah dulu ketempat lain?"
"Kita langsung pulang saja, kebetulan ada pekerjaan yang harus aku selesaikan besok." Jawab Nalda sambil melangkah kearah mobil Ardian. Karena tadi ia kesini bersama dengan Ardian, jadi ia tidak membawa mobilnya.
Saat Nalda akan membuka pintu mobil seperti yang Ardian lakukan. Namanya tiba-tiba saja di panggil, yang membuat wanita itu menghentikan tangan nya.
"Nal." Nalda berbalik untuk mencari siapakah yang memanggilnya. Sedangkan Ardian kembali keluar untuk melihat, kenapa Nalda tidak jadi masuk.
"Annchi, Jerry?" Sangat terkejutnya Nalda saat melihat kalau keduanya sahabatnya berada di ujung sana dan sedang melangkah kearahnya."Kalian juga berada disini?"
Ardian yang melihat kedatangan Jerry, menatap pria itu dengan tatapan tidak suka. Sama halnya seperti Jerry, yang menatap Ardian dengan tatapan yang sama. Sepertinya kedua pria itu sama-sama berada didalam perasaan yang tidak saling suka sama sekali. Bahkan mereka memiliki tatapan yang sama, yaitu kebencian.
"Seharusnya kamu yang bertanya seperti itu, Nal. Kamu juga berada disini, lalu dengan siapa?" Nalda tidak menjawab, ia hanya menoleh kearah Ardian yang sedang menatap kearah Jerry."Kamu bersama dengan dia?" Bisik Annchi terkejut saat melihat Ardian disana.
"Kali_ Kalian saling dekat." Tanya Annchi gagap sangking syok nya.
"Bisa dibilang begitu. Tapi kamu tenang saja, karena kami tidak memiliki hubungan apapun. Aku hanya berteman dengan nya." Jelas Nalda semakin membuat Annchi terkejut, karena bisanya sahabatnya itu berteman dengan pria yang terkenal sebagai Casanova.
"Oh my God. Aku ngga percaya, Nal!" Pekik Annchi. Karena pekikan Annchi, membuat kedua pria yang tadi sama-sama diam, dan berada pada pikiran mereka masing-masing, melihat kearah Nalda dan juga Annchi.
"Ayo, Nal, kita pulang. Bukannya tadi kamu mengatakan kalau kamu ingin pulang cepat, karena besok ada ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan." Ajak Ardian mengingatkan Nalda. Ardian tidak mau lama-lama berada disini, Apalagi bersama dengan kedua sahabat Nalda. Takut kalau kedua sahabat wanita itu akan melarang Nalda untuk pulang bersama.
"Nalda akan pulang bersama dengan kami." Jawab Jerry dengan wajah datarnya.
"Tidak bisa begitu. Tadi Nalda jalan bersama dengan saya, maka dia akan tetap pulang bersama dengan saya juga." Tolak Ardian tidak terima dengan jawaban Jerry. Karena bagaimanapun, Nalda harus bersama nya.
"Saya tidak akan membiarkan Nalda pulang bersama dengan pria brengsek seperti anda! Maka dari itu, Nalda harus pulang bersama dengan kami!" Tekan Jerry membuat Ardian mengepalkan tangannya penuh dengan amarah saat Jerry mengatainya seperti itu.
"Berani kamu menghina saya!!" Ardian mendekati Jerry dengan wajah yang sudah memerah karena marah. Bahkan urat-urat leher serta tangannya sampai terlihat.
Sedangkan Nalda yang menyadari, kalau Ardian sedang emosi, cepat-cepat mendekati pria itu, lalu mengehentikan nya. Sebelum Ardian benar-benar menghajar Jerry.
"Stop, Ardian. Jangan pukul Jerry." Ardian mengehentikan langkahnya saat merasakan tangan yang melingkar di tangannya. Ardian menoleh kearah samping, dan melihat kalau Nalda sedang mencegahnya dengan cara mengengam pergelangan tangannya.
Sedangkan Annchi yang melihat perlakuan Nalda, hanya bisa bengong dengan mulut yang terbuka, sambil menatap sahabatnya itu. Ia tidak tau, kalau sahabatnya begitu sangat dekat dengan pria itu.
"Aku masih ngga percaya kalau, Nalda dan juga Ardian sedekat itu. Tapi mungkin kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, aku ngga percaya." Batin Annchi terus menatap sahabatnya itu tanpa berkedip sama sekali. Berbeda dengan Annchi. Jerry menatap kearah keduanya dengan tatapan tidak suka. Apalagi kearah Ardian, ia menatapnya dengan tatapan kebencian penuh dengan amarah.
__ADS_1
"Berani sekali dia merebut perhatian Nalda, Padahal mereka belum lama saling mengenal. Dasar pria brengsek, pria licik!" Geram Jerry dalam hatinya. Bahkan tangannya ikut mengepal, karena ia tidak bisa menghajar pria itu, mengingat kalau ada Nalda disana.
"Pulanglah bersama dengan sahabat mu, aku akan pulang sendiri." Dengan wajah datarnya, Ardian melepaskan tangan Nalda.
Nalda yang melihat tingkah Ardian yang tiba-tiba saja berubah menjadi dingin, terlihat kebingungan. Tapi ia juga tidak bisa menolak, karena ia tidak mau membuat keadaan ini semakin runyam karena perkelahian keduanya.
Tanpa berpamitan sama sekali, Ardian meninggalkan ketiganya. Bukan karena Ardian takut. Hanya saja Ardian tidak mau berkelahi, apalagi dihadapan Nalda.
Bakkkk
Suara pintu mobil yang begitu nyaring membuat Nalda maupun Annchi terkejut, tapi tidak dengan Jerry. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil itu meninggalkan parkiran.
"Ayo kita pulang!"
"Tapi kita belum makan malam, Jerry. Aku lapar!" Rengek Annchi, karena ia kesini hanya untuk makan malam, tapi Jerry malah mengajaknya untuk pulang lagi.
"Kalau kamu mau disini, silahkan. Tapi aku bersama dengan Nalda akan pulang!"
"Baiklah, baiklah. Aku ikut pulang." Dengan perasaan kesal bercampur lapar membuat wanita itu cemberut, dan tetap mengikuti apa yang Jerry ucapakan.
"Ngga usah cemberut. Nanti sampai di rumah aku masakin kamu makan."
"Benarkah?"
"Hmmm." Jawabannya dengan bergumam, yang membuat Annchi tersenyum senang. Kalau Annchi boleh jujur, ia sebenarnya sangat kelaparan sekarang.
Annchi dan Nalda mengikuti langkah Jerry yang lebih dulu dari mereka. Mobil Jerry tidak terlalu jauh, hanya saja Nalda jalan secara perlahan-lahan karena Annchi dari tadi merengek.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ardian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, membuat pengendara lain mengumpat bahkan mencaci Ardian, karena membahayakan pengendara lain. Tapi pria itu masa bodoh dengan umpatan mereka, yang terpenting sekarang ia menenangkan emosi nya, yang ingin meledak bagaikan balon meletus.
"Jerry, bajingan, bangsat!!" Maki Ardian yang terus mengumpati Jerry didalam mobilnya. Tangan kekarnya itu begitu sangat kuat memegang setir, bahkan giginya terus berbunyi karena ia sangat marah.
"Look at our meeting, Jerry. I'll make you feel my punch, come back!" Ucap Ardian sambil tersenyum miring menatap kedepannya. Karena tidak puas, Ardian kembali menaikkan kecepatan mobilnya lebih tinggi lagi dari tadi, saat menemukan jalan yang sedikit sepi.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Apa!!" Pekik Annchi saat mendengar cerita Nalda.
"Suaramu Annchi, kamu ingin aku turunkan disini!" Gerutu Jerry kesal karena pekikan Annchi barusan.
"I'm sorry." Ucap Annchi memasang wajah bersalah nya menatap kearah Jerry yang sedang menyetir."Aku ngga nyangka, kalau pria itu ternyata memiliki kelainan mental." Ucap Annchi sambil menatap kearah Nalda tidak percaya.
Ya, Nalda sudah menceritakan kenapa ia bisa dekat dengan Ardian, karena memiliki maksud lain. Yaitu mengobati pria itu. Apalagi selama beberapa hari ini Ardian mau mengikuti terapi yang ia berikan. Bahkan pria itu mau mengikuti saran nya, bagaimana cara mengolah emosi nya saat sedang stres.
"Tapi kalian tidak memiliki hubungan apapun kan?"
"Jika memang itu terjadi, maka aku tidak akan membiarkan Nalda berhubungan dengan pria brengsek itu apapun yang terjadi." Sambung Jerry, yang membantu Annchi maupun Nalda melihat kearahnya."Because Nalda can only be mine."
...----------------...
__ADS_1