
Cinta kedua untuk Ardian.
Jerry berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Nalda yang masih berdiri sambil menatap kearahnya."Apakah aku salah menghawatirkan mu Nal? Apakah aku salah?" Tanya Jerry bertubi-tubi.
"Kamu tidak salah, Jerry. Karena aku tau, kalau kamu pasti mengawatirkan ku. Hanya saja aku tidak bisa mengikuti permintaan mu, Jer. Bagaimanapun Ardian juga pasien ku. Dia perlu aku tolong agar dia bisa sembuh." Jelas Nalda menatap Jerry dengan tatapan serius."Aku mohon Jerry, jangan sangkut pautkan perasaan mu dengan pekerjaan ku. Karena perasaan kita tidak ada sangkut pautnya. Kita sama-sama menjalani ini. Aku juga sudah pernah mengatakannya bukan, jangan menunggu ku, karena aku tidak tau akan memberikan mu jawaban nanti."
Nalda tidak bermaksud untuk menyalakan Jerry. Tapi melihat pria itu terlalu membatasinya saat bertemu dengan Ardian yang jelas-jelas hanya pasien nya, membuat Nalda merasa tidak nyaman. Karena ia tidak mau pekerjaannya kacau hanya karena perasaan mereka. Apalagi Nalda bisa merasakan kalau Jerry cemburu saat ia bertemu dengan Ardian.
"Tapi Nal, aku menghawatirkan mu. Apalagi pria itu adalah pria brengsek. Bisa saja kan kalau dia akan menyakitimu, Nal. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Jujur Jerry merasa sangat tidak tenang saat sahabatnya dekat dengan Ardian. Jerry takut kalau Ardian akan memanfaatkan kebaikan Nalda seperti wanita yang pernah Ardian jebak selama ini. Jerry takut, Nalda akan sama seperti wanita lainnya, apalagi Jerry mengenal seberapa brengseknya pria itu yang bisa menjebak para wanita dengan sangat mudah.
"Aku tau Jer. Ardian adalah pria yang brengsek, tapi aku tidak bisa meninggalkan nya untuk sekarang. Karena dia perlu berobat, mengingat mentalnya sangat rusak. Aku mendekati nya karena ingin membantunya, apalagi Ardian tidak mau di pergi ke psikolog untuk terapi. Sebeb itu aku akan membantunya." Jelas Nalda menatap Jerry yang kini diam sambil menatap kearahnya."Aku mohon Jer, biarkan aku membantunya. Aku janji aku akan menjaga diri dan tidak akan termakan rayuannya seperti wanita lain."
Jerry mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar permintaan Nalda. Tapi, jujur ia tidak ingin melihat sahabatnya itu kenapa-kenapa. Apalagi wanita yang dia cintai sampai terluka.
"Terserah kamu Nal. Aku akan tetap mendukungmu." Jawab Jerry berusaha untuk tersenyum."Tapi dengan satu syarat. Kalau kamu tidak akan menyukai Ardian."
Nalda mengerutkan keningnya bingung saat mendengar ucapan Ardian."Emangnya kenapa, kalau aku sampai menyukai Ardian?"
"Karena kamu hanya boleh sama aku, tidak dengan dia." Jawab Jerry serius.
"Kamu terlalu banyak berharap Jerry. Padahal kamu belum tau apa jawaban ku nanti."
__ADS_1
"Apapun jawaban mu, aku akan tetap menunggu." Jawab Jerry tersenyum penuh dengan arti."Baiklah, karena kamu sudah pulang. Aku juga mau pergi kekantor."
"Apakah kamu marah, Jer?" Tanya Nalda merasa bersalah karena berpikir kalau sahabatnya itu marah padanya. Karena Nalda sangat hafal sifat Jerry jika datang kerumahnya, maka pria itu akan menyempatkan waktunya untuk sarapan pagi sebentar. Tapi berbeda dengan pagi ini.
"Aku tidak marah, Nal. Hanya saja hari ini aku sedang ada pertemuan, makanya aku harus pergi." Jelas Jerry."Tapi jujur, sebenarnya aku kecewa Nal. Karena kamu lebih memilih pria itu daripada menuruti permintaan ku untuk tidak mendekati pria brengsek itu." Batin Jerry berusaha menutupi kekecewaannya. Walaupun jujur sebentar ia sangat kecewa hari ini.
"Aku kesini ingin memberikan buah-buahan itu untukmu. Kebetulan tadi malam, aku belinya terlalu banyak." Nalda mengikuti mata Jerry yang melirik kearah paper bag di atas meja.
"Terimakasih, Jerry. Tapi kamu nggak marah kan?" Walaupun Jerry tidak memperlihatkan kekecewaannya, tapi Nalda bisa melihat kalau sebenarnya sahabatnya itu sedang kecewa pada nya.
"Sudah berapa kali aku mengatakannya Nal. Kalau aku tidak marah. Jadi jangan tanyakan itu lagi." Jelas Jerry."Daripada kamu memikirkan ini, sebaiknya kamu istirahat. Bukannya kakimu belum sembuh ya. Aku juga mau pergi."
"Baiklah. Kamu hati-hati dijalan Jerry. Aku minta maaf soal perkataan ku tadi."
🍁🍁🍁🍁🍁
Jidan melangkah masuk kedalam kamar tamu yang sekarang Ardian tempati. Karena kamar pria itu sedang dibersihkan dan di perbaiki. Mungkin nanti malam Ardian sudah bisa kembali ke kamarnya lagi.
"Selamat pagi tuan." Sapa Jidan sambil tersenyum. Jidan bisa melihat kalau tuannya itu sedang bersandar di sandaran ranjang dengan kepala yang menoleh kearah jendela.
Ardian yang mendengar sapaan Jidan, menoleh melihat kearah sampingnya dan Ardian bisa melihat, kalau Jidan sedang melangkah kearahnya sambil membawa nampan berisi makanan.
"Bagaimana kondisi tuan, Apakah sudah baikan?" Tanya Jidan menyimpan nampan itu di atas nakas.
__ADS_1
"Sudah lebih baik, Jidan. Tapi aku masih merasa pusing, mungkin karena efek minuman semalam."
"Apalagi kadar alkohol yang tuan minum semalam sangat tinggi, itu sebabnya tuan merasa pusing, karena efek alkohol nya belum sepenuhnya hilang." Jelas Jidan mengambil air jahe yang tadi ia bawa, lalu memberikan nya ke pada Ardian.
"Apa yang aku lakukan semalam Jidan, Sehingga Nalda harus kemari?"
"Semalam anda mengamuk tuan, sebeb itu saya mengabari nyonya Nalda untuk menenangkan anda. Karena semalam saya tidak bisa datang dengan cepat karena terjebak macet."
"Tapi kenapa harus Nalda, Jidan? Kenapa kamu tidak menanggil orang lain. Kamu tahukan, kalau aku bisa saja menyakiti Nalda semalam tanpa sadar. Apalagi saat itu aku sedang tidak normal." Ardian tidak bermaksud untuk menyalakan Jidan. Hanya saja Ardian merasa takut, kalau ia akan menyakiti Nalda tanpa sadar. Apalagi saat itu emosinya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin Nalda akan menjadi korban keganasannya setelah semalam.
"Karena tidak ada cara lain tuan, selain nyonya Nalda. Tapi tuan tenang saja. Karena semalam tuan tidak menyakiti nyonya Nalda. Kata para bodyguard disini, anda jauh lebih tenang saat di ajak ngobrol oleh nyonya Nalda." Jelas Jidan. Walaupun tau seperti apa Nalda menenangkan tuannya itu. Tapi Jidan sangat salut. Karena Nalda bisa menenangkan Ardian tanpa harus menyuntikkan obat penenang seperti biasa saat Ardian sedang ngamuk seperti semalam.
"Bahkan saat nyonya Nalda mengobati anda. Anda tidak menginjakkan nya untuk pulang, padahal keadaan saat itu tuan tidak sadar. Tapi anda tetap menggenggam tangan nyonya Nalda, sampai pada akhirnya nyonya Nalda kecapean, hingga tidur disamping anda."
Mendengar penjelasan Jidan, membuat Ardian terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa setelahnya."Jidan. Apakan perasaan ini, bisa mengontrolnya diriku walaupun aku sedang tidak dalam keadaan tidak sadar?"
"Bisa saja begitu tuan. Anda merespon kehadiran nyonya Nalda, walaupun anda sedang tidak sadar. Artinya anda sudah menyukainya tuan."
"Benarkah seperti itu." Tanya Ardian yang terdengar sangat polos di indra pendengarannya, sehingga membuat pria itu tersenyum lucu.
"Iya tuan, anda sudah mulai mencintai nya."
...----------------...
__ADS_1