
Cinta kedua untuk Ardian.
"Apakah kamu tau Nal? Kalau pria tadi itu adalah Casanova yang terkenal. Karena dia suka sekali berganti-ganti wanita setiap malamnya. Entah sudah berapa wanita yang pernah tidur dengannya. Tapi setiap melihat wanita, pasti pikiran liarnya selalu mengincar wanita itu. Makanya kamu harus hati-hati kalau bertemu dengan dia."
Ucapan Annchi masih terngiang-ngiang dipikirannya, membuat Nalda sedikit takut saat ini. Apalagi pria itu sekarang sedang berada didekatnya.
"Kenapa aku nggak menolak saja tadi tawarannya sih." Batin Nalda merasa menyesal karena menerima tawaran pria disampingnya. Padahal sahabatnya, Annchi. Sudah mengingatkan nya siapakah Ardian sebenarnya.
"Tenanglah, Nalda. Dia tidak akan menyakitimu." Batin Nalda mencoba untuk menghibur dirinya agar tidak takut dan berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Jika anda tertarik kepada saya. Sebaiknya anda jangan melirik saya seperti itu dan lebih baik anda mengatakannya saja langsung." Ucap Ardian menoleh kearah Nalda dan tidak lupa ia juga tetap fokus didepan.
"Jangan asal ngomong, saya tidak tertarik dengan anda!" Jawab Nalda tegas sambil memalingkan wajahnya kearah lain karena merasa malu telah ketahuan kalau tadi ia diam-diam melirik kearah pria itu.
"Benarkah? Tapi saya merasa kalau anda tadi melirik saya." Ucap Ardian terus saja menggoda Nalda, yang membuat wanita itu semakin kesal.
"Itu tidak benar! Untuk apa saya melirik anda.... Dasar pria aneh." Ucap Nalda ketus.
Sedangkan Ardian yang mendengar ucapan Nalda hanya terkekeh dibuatnya."Apakah anda tau nyonya Nalda..... Kalau anda adalah wanita pertama yang menolak pesona Ardian Naltan Ronaltan." Ucap Ardian yang terus menyetir mobil sesekali melirik wanita disebelahnya, yang hanya diam tidak menjawab. Tapi Ardian tau kalau wanita itu tetap mendengarkan apa yang dia ucapkan.
"Bahkan, anda adalah wanita pertama yang membuat saya ingin kembali menyukai seorang wanita dengan serius, setelah perpisahan saya dengan mantan istri saya." Ucap Ardian yang terdengar serius. Tapi pandangannya tetap fokus pada jalan didepannya. Sedangkan Nalda yang mendengar ucapan Ardian di buat tertegun, karena ia tidak mengerti apa yang pria itu ucapakan.
"Apa maksud anda, saya tidak mengerti?"
"Hehmm, anda bukan gadis berusia lima belas tahun tidak mengerti ucapan saya nyonya Nalda... Bahkan anda mengerti apa yang saya ucapkan barusan." Jawab Ardian terkekeh sambil menatap Nalda dengan serius, bahkan Nalda bisa merasakan arti tatapan pria itu.
"Sudah lupakan..... Karena sekarang kita sudah sampai di rumah sakit." Ucap Ardian mengalihkan pembicaraan mereka. Karena sekarang ia sudah sampai ditempat parkiran rumah sakit khusus untuk mobil.
Nalda yang tidak sadar kalau mereka telah sampai di rumah sakit, menatap sekelilingnya. Ia tidak percaya kalau sekarang mereka sudah berada di rumah sakit Al.
"Terimakasih tuan Ardian karena sudah membuang waktu anda untuk mengantar saya." Ucap Nalda bersiap untuk keluar dari mobil Ardian. Sedangkan Ardian menjawab ucapan terimakasih Nalda dengan gumaman."Permisi...."
Ardian menatap kepergian Nalda. Wanita yang tidak tertarik akan pesonanya, bahkan dia tidak termakan oleh rayuan nya seperti wanita lain."Wanita yang menarik. Tapi aku ingin lihat, seberapa lama anda tidak tertarik dengan saya nona Nalda." Gumam Ardian sambil tersenyum miring menatap rumah sakit didepannya.
Saat Ardian akan kembali menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit itu, pandangannya tertuju pada tas hitam disampingnya. Ardian mengerutkan keningnya bingung saat melihat tas itu, tapi Ardian mengingat kalau ternyata tas itu adalah milik Nalda, membuat ia memutuskan untuk turun dan mengembalikan tas itu pada orangnya, siapa tau Nalda akan mencari nya nanti.
Sebenarnya Ardian tidak perduli, hanya saja hatinya itu mendorongnya untuk masuk lalu memberikan tas itu pada Nalda."Wanita itu memang ceroboh." Gumam Ardian sambil membuk pintu mobilnya melangkah keluar dari mobilnya.
Ardian melangkah masuk kedalam rumah sakit dan ia tidak perlu bertanya lagi dimana letak ruangan Nalda, karena kemarin ia sudah pernah keruangan wanita itu.
Dan kini ia sudah sampai didepan ruangan yang bertuliskan nama lengkap wanita itu dan dengan ragu ia mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Maaf pak. Bapak cari siapa ya?" Tanya seorang perawat yang kebetulan lewat diarea situ.
"Saya mencari dokter Melisenda. Apakah dokter Melisenda berada didalam?" Tanya Ardian dengan wajah datarnya.
"Dokter Melisenda sedang melakukan pemeriksaan kepada pasiennya, pak." Jawab perawat itu."Apakah ada sesuatu yang penting, yang ingin bapak sampaikan?"
"Tidak." Jawab Ardian singkat."Antarkan saya keruangannya."
"Maaf pak, apa anda sudah membuat janji?"
"Apakah kekasih dari dokter Melisenda harus membuat janji terlebih dahulu barulah dia bisa bertemu dengan kekasihnya!" Tanya Ardian dengan tatapan tajam dan juga nada yang ditekan. Sebenarnya Ardian tidak ingin banyak bicara, hanya saja mendengar pertanyaan perawat didepannya membuat Ardian kesal. Sedangkan perawat wanita itu menelan ludahnya dengan kasar, karena merasa takut dengan tatapan Ardian.
"Maaf tuan, saya akan mengantarkan anda." Jawab perawat itu dengan suara yang pelan karena takut. Kepalanya juga ia tundukkan.
Perawat wanita itu melangkah menunjukkan kearah ruangan pemeriksaan."Ini ruangannya tuan." Ucap perawat itu yang masih menundukkan kepalanya karena takut.
Ardian menatap ruangan itu dan tanpa mengetuk ataupun mengatakan apapun ia langsung masuk begitu saja, yang membuat perawat tadi semakin tercengang dibuatnya.
"Kekasih dokter Melisenda sangat menyeramkan." Gumamnya setelah itu ia cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
Ardian yang berada didalam bisa melihat Nalda bersama dengan dua perawat lain sedang memeriksa pasien wanita.
Sedangkan Nalda begitu sangat terkejut melihat kehadiran pria itu."Bukannya dia sudah pulang? Lalu apa yang dia lakukan disini?" Batin Nalda menatap kearah Ardian.
"Maaf, pak. Jangan menganggu tugas dokter yang sedang bertugas dengan cara masuk begitu saja!" Tekan perawat wanita itu. Tapi Ardian hanya diam tidak menanggapi ucapan perawat itu dan ia tetap melangkah kearah Nalda yang hanya diam menatapnya karena bingung dengan kedatangan Ardian yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangannya tanpa permisi.
"Ambilah." Nalda menatap tas yang Ardian berikan.
"Terima....."
"Jangan ceroboh seperti tadi!" Potong Ardian setelah itu ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun lagi. Nalda juga hanya menatap pria itu dengan tatapan bingung, karena kadang sifatnya cepat sekali berubah-ubah.
"Saya sudah memeriksa nya, kalau ibu tadi baik-baik saja. Tolong sampaikan apa saja yang harus dia lakukan untuk pengobatan selanjutnya dan tolong resep kan makanan apa saja yang boleh dia makan dan tidak boleh." Jelas Nalda menatap perawat disebelahnya."Saya akan keluar sebentar." Ucap Nalda kembali. Untung saja Nalda sudah memeriksa pasien itu sebelum Ardian masuk. Jadi dia bisa keluar sebentar untuk memastikan kenapa pria itu masuk kedalam ruangannya tanpa permisi.
"Baik dokter."
Nalda melangkah sedikit terburu-buru untuk mengejar langkah Ardian. Mungkin langkah pria tinggi tadi sudah jauh, tapi tidak apa. Dia hanya ingin memastikan saja, karena tindakan pria tadi tidak baik. Apalagi mengganggu tugasnya sebagai dokter.
Nalda turus menyusuri koridor rumah sakit dengan terburu-buru. Nalda yakin kalau pria itu pasti belum jauh dan Nalda juga yakin kalau pria itu pasti mengarah satu tujuan yaitu pintu keluar.
Saat Nalda melewati satu sudut ruangan yang memang terlihat sepi, Nalda harus dibuat berhenti. Karena ia melihat pria yang tadi dia kejar. Nalda menatap pria itu dengan diam apalagi melihat apa yang pria itu lakukan.
__ADS_1
"Sangat menjijikkan!" Ucap Nalda dengan wajah masam nya saat melihat pria dan wanita yang sedang bercumbu di lorong yang sepi. Apalagi kedua manusia itu begitu sangat menikmati apa yang mereka lakukan dan mereka tidak takut kalau keluan mereka bisa saja ketahuan orang lain.
Karena tidak ingin menganggu atau tidak suka melihat adegan didepannya, Nalda memutuskan untuk cepat-cepat meninggalkan tepat itu.
"Kau benar Annchi, kalau dia pria yang menyeramkan, untung saja aku tidak termakan oleh rayuannya." Gumam Nalda bergedik ngeri mengingat adegan tadi. Bahkan ucapan sahabatnya Annchi berputar-putar di kepalanya.
Apakah anda tau nyonya Nalda..... Kalau anda adalah wanita pertama yang menolak pesona Ardian Naltan Ronaltan.
Bahkan, anda adalah wanita pertama yang membuat saya ingin kembali menyukai seorang wanita dengan serius, setelah perpisahan saya dengan mantan istri saya.
Ucapan pria itu membuat Nalda menyesal karena ia percaya pada pria itu dan mau menerima bantuannya. Padahal pria itu sedang menjebak dengan pesonanya dan juga rayuannya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Ardian melangkah dengan santai melewati koridor rumah sakit, sampai langkahnya harus terhenti saat ia bertemu dengan wanita cantik dan juga se*si sedang melangkah kearahnya dengan tersenyum menggoda.
"Tuan Ardian, kebetulan sekali kita bertemu." Ucap wanita itu yang masih tersenyum menggoda.
"Ya, saya baru saja bertemu dengan teman." Jawab Ardian dengan wajah datarnya.
"Apakah dia teman ra**ang mu." Bisik wanita itu membuat Ardian menatapnya tajam."Saya tau tuan Ardian, kalau anda tidak bisa berteman dengan seorang wanita. Karena setiap wanita yang berkenalan denganmu, maka mereka akan berada di atas....." Wanita itu mengangkat tangannya lalu menaruhnya diatas dada Ardian. Tidak lupa jari lentik dengan kuku panjang yang terhias cantik itu bergerak-gerak disana, yang membuat Ardian memejamkan matanya karena tergoda.
"Bahkan anda salah satunya nona Amanda Sambora." Bisik Ardian dengan suara yang sangat tenang, bahkan senyuman iblis nya itu sampai terlihat.
"Apakah anda tidak merindukannya. Bagaimana kalau kita mencobanya, bukannya kita sudah lama tidak bermain?" Tawar wanita itu terus mendekatkan tubuhnya.
"Anda ingin mencobanya.... Baiklah, karena saya sudah lama tidak bermain....." Dengan kasar Ardian meraih tubuh wanita cantik dan s*ksi itu, lalu ia mencumbunya. Sedangkan wanita itu dengan tidak tau malu nya mengikuti permainan Ardian. Sepertinya kemauan Ardian yang ingin berhenti menjadi pemain wanita tidak akan bisa, karena pria itu masih saja tergoda dengan wanita diluar sana.
"Kamu masih seperti dulu, sayang.... Sangat kasar." Ucap wanita itu sambil tersenyum miring.
Dan ya kelakuan kedua manusia tidak tahu malu itu telah dilihat oleh Nalda dan karena hal itu membuat Nalda semakin percaya kalau Ardian adalah Casanova. Pemain wanita yang ahli.
"Kita akan melanjutkannya ditempat lain..... Tapi tidak disini...." Bisik Ardian.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Sepertinya ingin melihat tuan Ardian berubah tidak akan bisa." Ucap Jidan mematikan sambungan teleponnya saat tadi ia mendapatkan telfon dari orang suruhan Ardian yang selama ini selalu menemani pria itu. Kalau Ardian kembali melakukan hal bejatnya setelah beberapa bulan berhenti. Sepertinya Ardian akan sulit berubah, karena pria tidak bisa menghilangkan sifat nakalnya sebagai pemain wanita.
"Ya Rabb, semoga tuanku bisa berubah menjadi orang yang beriman dan menjauhi larangan mu tentang berzinah. Kirimkan lah orang yang bisa menyadarkannya, kalau apa yang dia lakukan salah." Batin Jidan menatap langit-langit ruangannya karena sekarang Jidan berada di kantor Ardian yang berada di kota S.
...----------------...
__ADS_1