Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Karena terlalu menikmati suasana di ketinggian. Ardian dan Nalda tidak menyadari, kalau Harum ternyata sudah tertidur dengan bahu Ardian yang menjadi sandaran nya.


"Ardian." Ardian menoleh kearah Nalda, saat mendengar panggilan wanita itu yang suaranya terdengar sangat pelan."Lihatlah, putri mu sudah tertidur."


Ardian menurunkan pandangannya menatap kearah Harum, yang sekarang sudah tidur dengan sangat tenang. Sampai-sampai gadis itu tidak merasakan kalau mereka berada di ketinggian sekarang.


"Mungkin dia kelelahan, Nal." Perlahan-lahan Ardian memindahkan posisi Harum yang terlihat tidak nyaman kedalam pelukannya. Saat Ardian memeluk tubuh putri nya, Ardian merasa nyaman.


Ardian menatap lekat-lekat wajah Harum yang terlihat tenang dalam tidurnya. Lihatlah, wajah gadis yang tertutup hijab itu terlihat sangat manis jika di tatap seperti sekarang.


"Maafkan papa, yang belum bisa mengakui mu, sebagai anak nya papa. Tapi setelah semuanya selesai, maka papa akan mengatakan. Kalau papa adalah papa kandung mu." Batin Ardian mengusap lembut kepala putrinya yang terbungkus oleh hijab."Papa sangat menyayangi mu."


.


.


Ardian mencari keberadaan Fadil dan Fina sambil mengendong putri nya yang masih saja tidur dengan nyenyak nya, padahal sekarang tubuhnya sedang melayang karena di gendong.


"Dimana mereka, Nal?" Tanya Ardian menoleh kearah Nalda yang sedang memegang ponselnya, karena wanita itu sedang menelpon Fadil."Cepatlah, kasian putri ku!" Ucap Ardian tidak sabaran. Bukan karena Ardian merasa keberatan saat mengendong Harum. Hanya saja Ardian merasa kasian, saat putrinya tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Apalagi sekarang orang-orang banyak yang menatap kearahnya. Sehingga membuat Ardian semakin tidak suka kalau ada orang yang menatap putri nya dengan tatapan aneh.


Mendengar ucapan tidak sabaran dari Ardian, membuat Nalda memutar matanya malas. Ternyata pria itu selalu menyebalkan disaat seperti ini."Sabarlah!" Ketus Nalda."Mereka berada di parkiran. Ayo kita kesana." Ajak Nalda yang melangkah duluan meninggalkan Ardian karena kesal.


"Nal, tunggu sebentar! Apa kamu ngga kasian sama aku." Ucap Ardian mengikuti langkah Nalda.


Sedangkan Nalda hanya terkekeh, meninggalkan pria itu. Nalda sangat suka mengerjai Ardian seperti sekarang.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah berada didepan parkiran. Dari jarak yang tidak terlalu jauh Ardian dan juga Nalda bisa melihat keberadaan Fadil yang sedang berdiri di samping mobil nya.


Melihat Fadil, Ardian mengehentikan langkahnya. Rasanya ia tidak ikhlas saat melepaskan putri nya ke tangan orang lain. Tapi apa yang akan ia lakukan, karena Harum sudah bagian dari keluarga itu. Jika saja ia membawa Harum pergi tanpa persetujuan mereka, pasti keluarga Fazar akan menuntut nya dengan kasus penculikan, lantaran dalam catatan negara Harum adalah anak angkat Fazar dan Wiyah.


Walaupun ia mengakui Harum putri nya, belum tentu pengadilan akan menyerahkan hak asuh putri nya. Mengingat selama ini ia tidak ikut adil merawat Harum. Bahkan tidak ada saat putrinya sedang dalam keadaan sulit. Ia juga tidak akan bisa mengelak, karena banyak bukti yang menentang nya.


"Ardian, kenapa kamu diam?"


"Nal, aku sepertinya tidak rela melepaskan Harum kembali ke tangan orang lain. Walaupun mereka sekarang menjadi keluarga angkat putriku, dan memiliki hak penuh. Tapi aku tidak rela, Nal." Lirih Ardian menatap kearah Nalda yang sekarang sedang menatapnya."Mungkin kamu menganggap ku egois. Tapi jujur aku tidak rela, Nal. Jika boleh aku ingin membawa Harum ikut dengan ku." Lanjut Ardian memberitahukan apa yang sekarang ia rasakan.

__ADS_1


Nalda yang mendengar ungkapan Ardian, merasa kasian. Tapi untuk saat ini mereka tidak bisa melakukan apapun. Mengingat Ardian belum memberi tahukan hubungan nya dengan Harum, yang ternyata adalah ayah dan anak.


"Bersabarlah untuk sekarang, Ardian. Setelah kamu mendapatkan bukti siapa orang jahat itu, kamu bisa mengakui siapa sebenernya Harum, dan kamu bisa membawa nya pulang sebagai putri mu, nanti." Jelas Nalda mencoba untuk menyemangati pria itu, agar tidak melakukan hal gila yang akan menjauhkan dia dari putri nya."Untuk saat ini bersabar lah." Nalda menepuk pundak Ardian dengan lembut, yang membuat pria itu menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih Nal, karena kamu selalu menyemangati ku."


"Tidak masalah. Sekarang kan kita teman."


"Teman aja nih? bukan sepasang kekasih?" Ucap Ardian menggoda Nalda.


"Apa sih!" Ketus Nalda tersipu malu dan dengan cepat ia melangkah meninggalkan Ardian.


Melihat tingkah malu-malu Nalda, membuat Ardian tersenyum."Setelah semuanya selesai, Nal. Aku akan mencoba untuk melupakanmu. Karena kamu berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari aku." Gumam Ardian menatap punggung Nalda yang semakin menjauh, dan sekarang sudah berada di dekat mobil Fadil.


.


.


Setelah kejadian dimana Ardian menghabiskan waktu bersama dengan putrinya. Sekarang hubungan Nalda dan Ardian semakin dekat saja. Karena Nalda turut serta membantu Ardian untuk mendekati Harum. Bahkan Nalda juga membantu Ardian untuk mencari informasi siapakah orang yang sudah menghancurkan hubungan nya dengan Mayla sebelas tahun yang lalu.


Untuk informasi yang Jidan dapatkan. Jidan sudah memberitahukan Ardian. Kalau sebenarnya Harum adalah putri nya.


Bukan itu saja, Jidan juga menemukan informasi mengenai orang yang sudah mengedit foto, dan menjadikan tetangga Mayla sebagai korban kambing hitam.


Kata orang yang mengedit foto itu, dia disuruh oleh orang yang tidak dia kenal. Bahkan orang yang menyuruh nya membayar sang pengedit foto dengan jumlah yang sangat besar. Sehingga mau memanipulasi foto itu seperti kenyataan.


Untuk masalah informasi palsu yang anak buahnya dapatkan, Jidan sedang menyelidiki nya. Karena Jidan seperti mencurigai seseorang.


.


.


"Jidan, apakah kamu sudah sholat?" Tanya Ardian saat ia keluar dari ruangannya. Melihat Jidan sedang fokus dengan benda didepannya.


Jidan mengangkat kepalanya untuk menatap kearah Ardian."Belum tuan. Karena terlalu sibuk, saya sampai melupakannya."


"Kamu ini bagaimana sih, Jidan! Masa sholat aja kamu lupakan! Ingat pekerjaan bisa di tinggalkan tapi tidak dengan sholat." Ucap Ardian menasehati sekertaris nya itu.

__ADS_1


Sedangkan Jidan bukannya kesal. Tapi ia malah tersenyum, dan bersyukur dalam hatinya, kerena perubahan dari tuannya itu.


Ya, selama hubungan nya dekat dengan Nalda. Ardian mulai belajar tentang sholat, bahkan dia juga menjauhi sesuatu yang seharusnya Ardian jauhi beberapa tahun ini.


Pria itu bahkan tidak sabar menantikan waktu azan. Bahkan pria itu yang selalu mengingat nya untuk sholat. Sungguh perubahan yang sangat pesat untuk Ardian yang selama ini selalu lalai dengan tugasnya sebagai muslim.


Ardian juga selalu mendatangi pengajian untuk melancarkan bacaannya, lantaran masih sedikit salah. Dan Alhamdulillah nya, tidak membutuhkan waktu lama Ardian sudah sangat lancar.


"Maaf tuan, saya akan pergi sholat sekarang." Ardian mematikan komputer nya. Lalu berdiri dari kursinya.


"Bagus, aku tunggu di bawah. Karena kita harus bertemu dengan Nalda hari ini."


"Baik tuan." Jidan melangkah meninggalkan meja kerjanya, untuk pergi mengambil air wudhu.


.


.


Setelah Jidan melakukan kewajiban nya sebagai muslim. Kini kedua pria itu, berhenti untuk membeli makan siang. Tapi keduanya tidak makan disana, karena Ardian sengaja membungkus makanan, dan berencana untuk makan siang bersama dengan Nalda nanti.


"Semuanya sudah?" Tanya Ardian menatap kearah Jidan, yang sedang memasukkan bungkusan makanan yang tidak berjumlah sedikit, melainkan banyak kedalam mobil.


"Sudah tuan, seperti pesanan anda." Jawab Jidan sambil masuk kedalam mobilnya."Tapi kalau tidak cukup, saya akan memberitahukan ke anak buah ku untuk membeli sisa nya." Lanjut Jidan menjelaskan.


"Bagus, aku selalu suka dengan kinerja kerja mu." Puji Ardian, yang membuat Jidan tersenyum.


"Terimakasih tuan."


.


.


Jidan membagikan makanan yang tadi dia bawa ke anak-anak jalanan. Bukan saja anak jalanan, tapi para pengemis, ODGJ dan juga para pekerja yang berada di sekitar situ.


Ardian yang memang berada didalam mobil, hanya menatap senyuman bahagia orang-orang itu. Ia turut bahagia dengan kebahagiaan orang-orang walaupun pemberian nya tidak seberapa.


Ya, Ardian sering melakukan bagi-bagi makanan atau sembako, seperti sekarang. Walaupun sedikit, tapi Ardian senang membantu.

__ADS_1


Mungkin ia terlihat dingin dan kejam di mata orang-orang. Tapi yang mereka tidak tau, kalau sebenarnya Ardian adalah orang baik. Hanya saja, Ardian sengaja tidak menunjukan nya dan melakukan nya secara diam-diam seperti sekarang. Agar orang-orang tetap menatap nya seperti orang jahat, daripada menatap nya seperti orang baik.


...----------------...


__ADS_2