Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Tiga hari setelah Ardian mengajak Harum, dan Nalda jalan-jalan seharian. Kini waktu nya ia kembali ke kota B, untuk mengecek perusahaan nya disana. Sebenarnya Ardian tidak ingin meninggalkan kota S, apalagi di kota ini ada putrinya, dan juga orang yang dia sukai.


Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, mengingat kantor cabang sedang ada sedikit masalah.


"Tuan, kita akan segera berangkat." Ucap Jidan sambil melangkah kearah Ardian, yang kini sudah rapi dengan pakaian formal nya.


"Jangan sampai ada kesalahan, Jidan karena kita akan melakukan pertemuan dengan klien yang memiliki Investasi besar di perusahaan kita selain Fazar." Ucap Ardian mengingatkan siapakah klien yang akan mereka temui hari ini. Ardian tidak mau ada kesalahan, mengingat penurunan pada perusahaan nya.


"Saya yakin, kita tidak akan melakukan kesalahan, tuan. Karena saya sudah menyusun beberapa proposal seperti yang tuan suruh kemarin." Jelas Jidan.


"Bagus, aku selalu suka dengan kinerja kerjamu Jidan." Ucap Ardian memuji kinerja Jidan, yang sangat cepat jika melakukan sesuatu. Lihatlah, tanpa diminta Jidan sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Terimakasih, tuan." Ucap Jidan tersenyum senang saat bos nya itu memuji hasil pekerjaannya.


Setelah mengambil beberapa berkas yang mereka butuhkan, Jidan, dan Ardian melangkah keluar dari ruangan kerjanya menuju kelantai bawah.


"Ardian!" Ardian membalikkan tubuhnya saat ada yang memanggil nya, padahal pria itu baru saja sampai di lantai bawah, tapi sudah di cari oleh orang.


Sedangkan Jidan yang melihat siapakah orang yang memanggil Ardian, memutuskan untuk duluan ke depan agar dirinya tidak menganggu Ardian dan juga orang itu.


"Nalda?" Ardian merasa bingung saat melihat wanita itu. Bukannya hari ini dia pergi ke rumah sakit, untuk mengecek sebagian pasien nya. Lalu kenapa, Nalda sekarang berada di rumah nya.


Nalda melangkah mendekati Ardian sambil tersenyum."Aku membawakan mu ini." Ardian menatap paper bag, yang Nalda berikan.


"Apa ini?" Tanya Ardian saat menerima paper bag itu.


"Itu ayam rica-rica, kebetulan aku masak banyak tadi."


"Masak banyak, atau sengaja nih. Soalnya aku mau pergi ke kota B." Goda Ardian sambil tersenyum jahil.


"Siapa juga yang sengaja masak buat kamu! Orang aku benaran masak banyak, makanya aku kasihkan sebagian buat kamu, dan juga Jidan." Jelas Nalda sedikit kesal."Tapi kalau kamu ngga mau, ya ngga apa-apa. Sini kembalikan!" Nalda ingin kembali meraih paper bag itu itu, tapi Ardian langsung menjauhkan paper bag ditangannya.


"Karena kamu sudah memberikan nya untukku, maka aku tidak akan memberikan nya lagi." Ucap Ardian sambil menatap Nalda, yang kini sedang menatapnya dengan kesal."Terimakasih. Aku suka ayam rica-rica. Lain kali kamu masak banyak lagi ya."


"Kamu kira aku pembantu mu?!" Gerutu Nalda, membuat Ardian tersenyum.


"Kamu bukan pembantu ku, tapi calon istri ku." Goda Ardian, membuat wajah Nalda memerah.


"Ardian!"


Ardian tertawa saat suara lembut itu meneriaki namanya dengan nada yang kesal. Tapi bagaimana, jika nanti suara lembut itu berteriak dengan suara...


Membayangkan itu, membuat Ardian merinding."Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Ardian. Kamu benar-benar mesum." Batin Ardian cepat-cepat istighfar, sebelum pikiran nya berkelana kearah lain. Apalagi ia adalah pria normal dan juga pria yang pernah merasakan itu, tentu akan cepat menghayal kan hal-hal lain.


Padahal Nalda tidak bersuara seperti. Contohnya, mendesah. Dan juga tidak memakai pakaian yang terbuka, yang bisa memancing syahwat nya. Tapi Ardian masih bisa membayangkan yang tidak-tidak. Lalu bagaimana dengan orang-orang diluar sana yang sengaja membuat suara nya seperti ******* serta memakai pakaian yang terlihat kurang, pasti banyak pria yang terpancing, sama seperti Ardian tadi.


"Sepertinya suara mu, jangan seperti tadi."


"Apa maksudmu?" Tanya Nalda tidak mengerti.


"Kamu bisa saja memancing singa yang sedang tertidur nanti." Nalda membulatkan matanya, saat mendengar jawaban Ardian. Tentu Nalda mengerti apa yang Ardian maksud tadi. Apalagi dia sudah terlalu dewasa untuk mengerti itu.


"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Nalda merasa malu dengan dirinya sendiri. Lihatlah, Ardian yang baru saja berubah sudah mengerti hal-hal seperti ini. Masa dirinya tidak sih.


Jika dulu, Ardian akan semakin menggoda nya. Berbeda dengan ini, pria itu malah menegurnya.

__ADS_1


"Sudahlah lupakan." Ucap Ardian mengalihkannya pembahasan mereka."Nal, aku akan pergi. Tapi bisakah kamu menungguku sebentar?"


"Apa maksudmu, Ardian?"


"Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang. Makanya aku menyuruhmu untuk menunggu." Jelas Ardian tidak memberitahukan, kenapa ia menyuruhku Nalda untuk menunggu."Jangan banyak bertanya, berjanjilah."


"Aku sebenarnya bingung. Tapi aku berjanji Ardian." Jawab Nalda, membuat Ardian tersenyum senang. Ada rasa lega saat mendengar jawaban wanita itu.


"Terimakasih, Nalda. Setelah aku kembali. Maka aku akan menjelaskan sesuatu padamu." Ucap Ardian.


.


.


Nalda menatap mobil yang membawa Ardian pergi."Hati-hati dijalan, Ardian. Semoga kamu tiba dengan selamat." Ucap Nalda sambil menatap mobil yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya."Sekarang, giliran aku menyelesaikan sesuatu." Nalda meraih ponselnya yang berada didalam tasnya, lalu menelfon seseorang.


"Temui aku di restoran kove."


"...." Setelah mendapatkan jawaban, Nalda langsung melangkah kearah mobilnya yang tidak jauh dari ia berdiri sekarang.


.


.


Tidak berselang lama, Nalda sudah sampai di restoran dimana ia membuat janji dengan seseorang. Nalda melangkah kearah Resepsionis untuk menanyakan apakah orang yang dia cari sudah datang atau belum. Karena tadi ia sengaja memesan ruangan VIP untuk berbicara penting. Nalda tidak mau, apa yang mereka bahas sampai didengar oleh orang lain.


"Sudah nyonya. Tuan, berada di ruangan VIP nomor 091."


"Baik terimakasih." Setelah mengetahui kalau orang yang membuat janji dengan sudah datang, Nalda melangkah kearah tangga untuk naik kelantai atas.


Setibanya di depan ruangan 091, Nalda langsung membukanya."Maaf, aku datang terlambat." Ucap Nalda dengan suara dingin serta tatapan datar kearah orang itu.


"Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang penting dengan mu, dan kamu harus menjawab nya dengan jujur."


"Apakah itu, Nal?"


"Apakah kamu memiliki hubungan dengan suci?"


.


.


Ardian tersenyum menatap kearah paper bag yang Nalda berikan. Ternyata wanita itu terlihat sangat lucu, dan Ardian menyukainya. Sebenarnya Ardian yakin, kalau masakan ini sengaja Nalda masak untuknya. Hanya saja Nalda gengsi untuk mengakui nya.


"Tuan, saya mendapatkan kabar dari klien kita. Kalau pertemuan nya sengaja di undur, karena ada keterlambatan." Ucap Jidan, yang duduk disebelah supir."Kata sekretaris nya. Kalau tuan nya sedang masuk rumah sakit, karena tiba-tiba saja tekanan darahnya naik. Makanya pertemuan nya sengaja di undur." Lanjut Jidan kembali.


"Baiklah. Kita bisa menunggu mereka, dan aku juga bisa singgah di kantor cabang untuk mengecek perusahaan." Jawab Ardian tidak mempermasalahkan hal itu, karena Ardian sangat tau. Kalau klien nya yang satu itu sering sakit-sakitan seperti sekarang. Hanya saja klien itu tidak mau beristirahat, dan mempercayakan perusahaan pada anaknya. Karena menurut nya, anaknya belum bisa menerima beban tanggung jawab yang besar.


Saat keduanya sedang mengobrol, tiba-tiba saja mobil yang mereka naiki mengerem dadakan, sehingga membuat Ardian serta Jidan harus terguncang, dan hampir saja terbentur, jika mereka tidak reflek berpegangan.


"Maa–Maafkan saya, tuan Ardian, tuan Jidan. Tiba-tiba saja di depan tadi ada orang yang menyebrang." Jelas supir itu ketakutan menoleh kearah Ardian dan juga Jidan.


"Lain, kali hati-hati pak." Ucap Ardian, walaupun kesal. Tapi Ardian memakluminya."Sekarang kalian turun, untuk memeriksa apakah orang itu baik-baik saja atau tidak."


"Ba–baik tuan." Jidan dan supir itu turun dari mobil, melangkah kearah orang yang hampir saja supir itu tabrak. Sedangkan Ardian memilih untuk melihat dari dalam mobil.


"Apakah nenek, mencari ini?" Ucap Jidan sambil mengambil sebuah tongkat, lalu memberikan nya langsung ke tangan nenek itu. Terlihat kalau nenek itu seperti nya buta.

__ADS_1


"Terimakasih, nak." Ucap nenek itu tersenyum tulus.


"Maaf, nek. Saya hampir saja menabrak nenek tadi. Karena berkendara tidak hati-hati." Ucap pak supir itu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, nak. Saya juga salah, karena menyebrang begitu saja." Jawab nenek itu.


Mendengar jawaban nenek itu, membuat Jidan merasa kasian. Lihatlah di usianya yang sudah tidak muda lagi, dan seharusnya nenek itu di rawat oleh keluarganya, tapi malah dibiarkan begitu saja.


"Mari, nek. Saya antar ke pinggir." Ucap Jidan sambil menuntun nenek yang di bantu oleh supir tadi, kearah pinggir jalan."Nenek mau kemana?"


Nenek itu terlihat terdiam saat mendengar pertanyaan Jidan."Saya tidak tau mau kemana, nak. Karena tidak ada tempat untuk saya pulang." Jawab Nenek itu dengan raut sedih.


"Maaf, nek. Keluarga nenek dimana?" Tanya Jidan merasa kasian.


"Sudah meninggal, nak." Jawab Nenek itu dengan suara serak, seperti ingin menangis.


Mendengar jawaban nenek itu, membuat Jidan merasa bersalah. Karena menanyakan keluarga nya."Maaf, nek. Saya membuat nenek sedih."


"Tidak apa-apa, nak." Jawab nenek itu tersenyum.


"Nenek tunggu disini." Jidan melangkah kearah mobil untuk mengambil air putih dan juga beberapa uang untuk nenek itu.


"Apakah nenek itu, meminta ganti rugi?" Tanya Ardian saat melihat Jidan mengambil dompetnya.


"Tidak tuan, saya hanya ingin memberikan nya sejumlah uang. Karena merasa kasian sama nenek itu, sebab tidak ada keluarga nya lagi dan nenek itu sendirian." Jawab Jidan, membuat Ardian terdiam. Karena hati nya ikut tersentuh setelah mendengar jawaban Jidan tadi.


Karena penasaran, Ardian memutuskan turun dari mobilnya untuk melihat nenek itu. Kaki nya melangkah mendekat kearah Jidan yang sedang duduk menemani nenek itu.


"Pak, tolong belikan makanan untuk Nenek ini."


"Baik tuan." Supir itu langsung mengikuti suruhan Ardian untuk mencari apa yang Ardian suruh.


"Tu–tuan Ardian, apakah itu anda." Ucap nenek itu dengan terbata-bata. Bahkan wanita paruh baya itu terlihat seperti mengenalnya.


Jidan, maupun Ardian sama-sama mengerutkan keningnya bingung saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu, yang sepertinya mengenal nya.


"Nenek, mengenal saya?" Tanya Ardian bingung ikut berjongkok menatap wanita paruh baya yang terlihat lusuh itu."Apakah aku mengenalnya?" Batin Ardian berusaha untuk mengingat.


"Apakah benar, anda tuan Ardian Natan Ronaltan?"


"Iya, benar nek."


Nenek itu langsung menjauhkan botol minuman yang dia pegangannya, dengan tangan yang dipenuhi oleh keriput, tangan itu menyatu.


"Tolong maafkan saya tuan. Tolong maafkan saya." Ucap nya sambil terisak-isak dan kini sudah bersujud di depan Ardian.


Ardian yang melihat perilaku nenek itu yang meminta maaf, dan bersujud didepannya semakin kebingungan. Bukan saja Ardian, tapi Jidan juga.


"Apa yang nenek lakukan! Nenek tidak melakukan kesalahan apapun, jadi jangan meminta maaf pada saya." Ucap Ardian berusaha untuk mengehentikan apa yang nenek itu lakukan."Bangunlah, nek."


"Tidak tuan, kesalahan saya sangat banyak, dan mungkin anda tidak akan memaafkan saya jika saya memberitahukan anda."


"Apa maksud nenek, tolong jelaskan."


"Tuan, apakah anda masih mengingat art yang berkerja pada anda sebelas tahun yang lalu." Ardian terlihat berpikir."Saya, saya bi Susi, tuan. Mantan pembantu anda."


...----------------...

__ADS_1


Like dan komen, biar author makin semangat buat update.


Salam manis dari author 🥰


__ADS_2