Cinta Kedua Untuk Ardian

Cinta Kedua Untuk Ardian
Cinta kedua untuk Ardian


__ADS_3

Cinta kedua untuk Ardian.


Jidan menatap langit yang kini terlihat terang, karena bulan terlihat lebih terang malam ini.


Disebuah taman yang berada di kota S. Jidan sedang duduk sendirian sambil menatap kearah bulan. Sepertinya pria itu begitu sangat menikmati suasana malam ini, sehingga ia begitu sangat tenang berada disana.


Ia tidak sendirian karena masih ada beberapa orang di sana, yang duduk sambil bercengkrama bersama dengan pasangan mereka.


"Kak Jidan...." Suara lembut seseorang berhasil membuat Jidan tersadar dari lamunannya. Pria yang tadi menatap kearah langit, beralih melihat kearah lain untuk mencari sumber dari suara yang memanggilnya.


"Nada." Ya, orang yang memanggil Jidan, tidak lain adalah Nada. Gadis yang selama sebulan ini Jidan kenal dan menjadi temannya. Gadis yang memiliki sifat ceria, yang membuat Jidan selalu tersenyum jika mendengar gadis itu bercerita.


"Kamu juga ada disini Jidan?" Tanya Nada melangkah mendekati Jidan. Setelah berada di kursi dimana Jidan duduki, gadis itu ikut duduk di sebelah Jidan, tidak terlalu dekat karena mereka duduk dengan jarak yang berjarak.


"Seperti yang kamu lihat." Jawab Jidan tersenyum."Terus kamu ngapain disini?"


"Aku lagi jalan-jalan, bosan di rumah terus." Jawab Nada menatap kearah langit yang kini bertaburan dengan bintang dan juga bulan yang terlihat cantik."Andai aku bisa menjadi bintang, mungkin aku tidak akan sendiri." Gumam Nada, membuat Jidan mengerutkan keningnya. Karena ia bisa mendengar apa yang gadis itu gumamkan.


"Maksud mu?"


"Hahaha, tidak ada. Aku sedang ngarang saja." Jawab Nada sambil terkekeh menatap kearah Jidan yang kini sedang menatapnya. "Sedangkan kamu sedang apa disini, Jidan? Apakah kamu sedang galau? Karena tumben aku melihat mu berada di taman."


"Emangnya hanya orang galau saja yang boleh datang ketaman ini. Seperti yang kamu katakan tadi. Kalau aku juga bosan berada di kantor terus, makanya aku kesini." Jelas Jidan sambil geleng-geleng menatap gadis berkacamata itu."Seharusnya itu aku yang bertanya begitu. Apakah kamu sedang galau sampai kesini? Karena biasanya kamu tuh berada di perpustakaan bukan di taman." Ucap Jidan yang terdengar seperti sindiran di kuping Nada. Tapi apa yang Jidan katakan itu benar, karena mereka pasti akan bertemu di toko buku atau tempat-tempat dimana itu ada bukunya. Entah karena kebetulan atau bagaimana, tapi Jidan masih mengingat bagaimana ia selalu bertemu dengan gadis didepannya. Pasti Nada berada di toko buku.


"Emangnya aku cuman tau tokoh buku atau perpustakaan aja. Aku juga tau tempat-tempat yang ramai bukan kedua tempat itu saja." Jawab Nada terdengar sewot karena kesal dengan ucapan Jidan. Gadis itu memperbaiki kaca matanya, lalu menatap kearah Jidan yang kini hanya tersenyum lucu kearahnya.


"Tapi kan pertemuan kita memang di kedua tempat itu, nggak pernah di tempat lain. Itu sebabnya aku berpikir seperti tadi." Jawab Jidan terkekeh merasa lucu dengan wajah cemberut Nada."Nggak usah ngambek, Nad. Aku minta maaf. Tadi itu hanya bercanda aja." Ucap Jidan berusaha membujuk gadis itu, yang kini sedang marah padanya.

__ADS_1


"Tapi bercanda mu nggak lucu tau. Kan aku jadi kesal."


"Memang bawaannya aja yang ngambekan." Gumam Jidan hampir tidak terdengar sama sekali.


"Kamu ngomong apa tadi?" Tanya Nada yang mendengar samar-samar Jidan mengatakan sesuatu, tapi ia tidak terlalu jelas mendengarnya.


"Ngga ngomong apa-apa, Nad." Jawab Jidan cepat sambil tersenyum lucu."Bagaimana kalau kita cari es krim, sebagai tanda minta maaf ku?" Tanya Jidan mengalihkan pembicaraan mereka agar gadis itu tidak terlalu banyak bertanya.


"Es krim? Malam-malam begini?" Jidan menganggukan kepalanya.


"Pasti kamu belum pernah cobain kan?" Nada menganggukkan kepala dengan polosnya, yang membuat Jidan jadi gemasnya melihat nya."Kalau gitu ayok. Aku yang traktir." Jidan berdiri dari duduknya.


"Tapi kita belinya dimana, Jidan. Bukannya ini sudah malam, Pasti ngga ada yang jualan es krim malam-malam begini." Tanya Nada bingung, tapi ia tetap ikut berdiri dari duduknya.


"Kamu sudah sering membaca buku, tapi masih bodoh saja ya, Nad." Jawab Jidan mendengus kesal. Ya gadis itu bukan saja polos menurut Jidan, tapi terlihat bodoh juga. Karena hal-hal seperti ini masa Nada tidak tau sih.


Sedangkan Jidan berusaha mencerna ucapan Nada, tapi otaknya sepertinya lelah, sehingga ia tidak bisa mengartikan apa yang Nada ucapakan.


"Heeyy, Nad. Jangan tinggalkan aku, bukannya kamu mau eskrim ya?" Jidan melangkah dengan cepat mengejar gadis itu, agar tidak marah.


"Nggak usah! Aku bisa beli sendiri." Jawab Nada ketus."Sebaiknya kamu pulang aja sana."


Jidan yang mendengar jawaban Nada yang terdengar ketus merasa bersalah. Karena perasaan bersalahnya, membuat pria itu mengengam tangan Nada. Sehingga gadis yang tadi jalan, tiba-tiba saja mengehentikan langkahnya.


"Maaf." Jidan melepaskan tangannya saat ia sadar apa yang baru saja ia lakukan. Sedangkan Nada hanya menatap Jidan dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jangan marah, tadi itu aku ngga sengaja ngomong. Aku ngga tau, kalau ternyata kamu nggak pernah beli eskrim malam-malam kayak gini, makanya aku ngomong kayak tadi. Tapi jujur, aku benar-benar ngga sengaja Nad. Aku tidak bermaksud untuk menghinamu." Jelas Jidan tidak ingin Nada salah paham."Jangan marah, ya."

__ADS_1


"Iya Jidan. Aku sudah memaafkan mu, tapi jangan ngomong kayak tadi lagi. Karena aku ngga suka ada orang yang mengatakan ku bodoh, sedangkan mereka tidak tau seperti apa aku." Ucapan Nada yang terdengar tegas di kuping Jidan, membuat pria itu menganggukkan kepalanya.


"Maaf, Nada. Aku janji ngga bakalan ngomong kayak tadi." Jawab Jidan bersungguh-sungguh."Aku janji."


"Sudahlah, bukannya aku sudah memaafkan mu tadi. Sebaiknya kita pergi sekarang, keburu kemalaman nanti."


"Baiklah-baiklah, kita langsung pergi sekarang." Jidan merasa sangat senang, karena gadis itu tidak marah padanya. Padahal tadi Jidan merasa sangat takut, kalau gadis cerewet itu marah padanya.


Karena tadi Nada pergi ketaman itu menaiki taksi. Nada tidak perlu memikirkan, bagaimana motornya nanti saat ia pergi ikut dengan Jidan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Nada menatap tokoh eskrim dari dalam mobil, karena mereka baru saja sampai. Apalagi tempat eskrim itu terlihat sangat ramai.


"Tempat ini sangat ramai, Jidan. Apakah kamu yakin kalau kita akan dapat tempat duduk?" Tanya Nada, sambil melihat kearah sekelilingnya. Membuat gadis berhijab abu-abu itu terlihat kebingungan.


"Kamu tenang saja, Nad. Karena aku sudah memesan tempat untuk kita."


"Benarkah?" Jidan menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


"Kalau gitu ayok kita turun, keburu tempat nya diambil sama orang." Suruh Jidan, sambil membuka stabel pengaman itu."Kenapa masih diam?" Tanya Jidan saat melihat Nada hanya diam tidak menjawab.


"Ahhh, iya." Nada yang tadi diam kini ikut membuka stabel pengaman itu, lalu ikut turun menyusul turun dari mobilnya.


Kini Jidan bersama dengan Nada, melangkah secerah bersama memasuki toko eskrim itu, sehingga orang-orang yang berada disana melihat kearah mereka saat Jidan masuk bersama dengan Nada.


Tanpa keduanya sadari, kalau ada orang yang menatap Jidan maupun Nada dengan tatapan penuh pertanyaan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2