
Cinta kedua untuk Ardian.
"Maksudmu?" Ardian terlihat bingung saat mendengar ucapan Nalda, yang sepertinya mengetahui sesuatu.
"Aku tau, kalau Harum adalah putri mu." Begitu sangat terkejut nya Ardian saat mendengar jawaban Nalda. Bagaimana bisa wanita yang baru ia kenal mengetahui hal ini?
"Maksudmu?... Kamu mengetahui, kalau Harum putri ku? Tapi sejak kapan?" Tanya Ardian dengan wajah terkejutnya menatap kearah Nalda. Bahkan kini tubuh tegap nya sudah duduk, dengan punggung berdasar di sandaran tempat tidurnya.
"Sejak tadi malam."
"Tadi malam?"
"Iya sejak tadi malam." Jawab Nalda sambil melangkah kearah nakas untuk mengambil tas yang tadi dia bawah. Lalu mengeluarkan selembar surat yang terlipat rapi."Bacalah."
Ardian mengambil kertas yang terlipat rapi itu dari tangan Nalda. Perlahan-lahan tangan nya membuka surat itu, dan membacanya dengan teliti.
"Positif?" Antara terkejut dan terharu Ardian menatap hasil Tes DNA, yang menyatakan kalau. Nayla Harum Syah, adalah putri nya.
"Maafkan aku Ardian, karena mencari tau soal masalalu mu tanpa seijin mu. Karena waktu itu, aku penasaran dengan masalalu mu. Apalagi kamu sering menyebut nama Mayla saat kamu sedang dalam keadaan tidak sadar. Karena rasa penasaran ku membuat ku mencari tau siapa Mayla sebenarnya, apalagi aku mengingat nama Mayla sama seperti nama mama nya Harum."
"Setelah mendengar cerita Jidan, membuat ku semakin yakin untuk mencari tau siapa sebenarnya Mayla, dan aku juga diam-diam melakukan tes DNA itu, hanya untuk membuktikan kalau Harum benar putrimu." Jelas Nalda menatap Ardian, yang masih diam menatap kearah kertas putih yang berlogo rumah sakit itu.
Mendengar penjelasan Nalda, Ardian semakin menangis. Tadi Ardian tidak berharap kalau Harum putri nya, mengingat istrinya berselingkuh. Karena bisa saja anak itu bukan anaknya tapi anak dari pria lain. Tapi melihat hasil tes DNA itu, berhasil menghilangkan keraguan nya.
"Harum... Harum benar-benar putriku." Air mata Ardian menetes membasahi surat ditangannya.
"Iya. Dia benar putri mu, Ardian." Jawab Nalda ikut bahagia, karena akhirnya Ardian mengetahui siapa Harum sebenarnya."Apakah kamu sudah membaca informasi yang bawahan mu berikan tadi malam?." Ardian menoleh kearah Nalda saat mendengar pertanyaan Nalda, mengenai informasi.
"Informasi?"
"Tadi malam, aku langsung mengirimkan informasi mengenai Mayla mantan istrimu, setelah hasil tes DNA itu keluar."
__ADS_1
"Jadi, informasi mengenai Mayla. Kamu yang mencari tau, dan semua informasi itu kamu yang mendapatkan nya, Nal?" Tanya Ardian tidak percaya. Tapi melihat Nalda sepertinya tidak berbohong, membuat Ardian percaya, kalau informasi tadi malam Nalda yang memberikan nya lewat anak buahnya.
"Iya, Ardian. Sejak malam dimana aku mendengar cerita Jidan. Malam itu juga aku langsung mencari tau informasi mengenai Mayla, dan aku mendapatkan informasi kalau Mayla mantan istrimu sudah menikah dengan pria lain."
"Sebenarnya aku terkejut, saat melihat wajah mantan istrimu sama dengan foto mama nya Harum. Aku berpikir kalau mereka orang yang berbeda, karena aku mengingat cerita Wiyah, kalau mama nya Harum sudah meninggal di kota B beberapa bulan yang lalu. Tapi pikiran ku salah, saat melihat pria yang menjadi suami mantan istri mu ternyata...."
"Bukan suami Mayla, karena dia hanya tetangga Mayla saat berada di kota S. Mungkin ada orang lain yang sengaja memalsukan semua informasi, termasuk foto itu, agar kamu tertipu." Jelas Nalda dengan sangat teliti menceritakan apa yang dia dapat setelah berhari-hari mencari tau, mengenai Harum sebenernya.
Ya, selama berhari-hari mencari tau. Sebenarnya Nalda ingin menyerah, tapi waktu itu. Ia tidak sengaja bertemu dengan tetangga Mayla, yang ternyata memiliki istri lain. Dari situ Nalda mencari tau lebih lanjut lagi, dan berkat bantuan tetangga Mayla. Nalda bisa tau, kalau Mayla sudah dalam keadaan sedang mengandung saat pergi dan menetap di kota S. Setelah mendengarkan cerita tetangga Mayla, Nalda memutuskan untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah Harum adalah anak Ardian atau bukan. Dan ya, hasil tes DNA itu keluar tadi malam, yang membuat Nalda percaya dan ia langsung mengirimkan semua informasi itu ke anak buah Ardian, tanpa sepengetahuan Ardian.
"Jadi, menurutmu. Kalau aku sedang di tipu oleh orang lain, sehingga semua informasi itu sengaja di palsukan?" Tanya Ardian, membuat Nalda menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya begitu Ardian. Aku curiga, kalau selama ini kamu sedang tertipu oleh permainan seseorang." Jelas Nalda menatap kearah Ardian yang kini menatapnya juga.
"Siapapun orangnya, aku harus menemukan nya." Ucap Ardian mengepalkan tangannya. Wajah yang tadi seduh kini berubah manjadi datar.
"Tapi tidak sekarang, karena orang yang selama ini memata-matai mu, akan curiga dan dia akan menghilangkan jejaknya agar kamu tidak curiga." Nalda tidak ingin Ardian mengambil jalan yang gegabah yang akan membuat orang itu bisa kabur.
"Mungkin ada alasan yang kamu tidak tau, Ardian. Tapi untuk ini, biarkan seperti ini. Jangan biarkan orang lain tau, selain Jidan dan juga beberapa orang kepercayaan mu." Ucap Nalda mengingatkan, karena bisa saja dari mereka ada salah satu mata-mata yang mengawasi Ardian selama ini.
Mendengar ucapan Nalda, Ardian hanya diam."Baiklah, untuk ini aku akan diam sampai menemukan orang yang selama ini mengawasi ku secara diam-diam." Ardian terlihat menjeda ucapannya, sebelum kepalanya tertunduk melihat kearah kertas ditangannya."Tapi aku ingin bertemu dengan Harum. Aku ingin memeluk nya, dan meminta maaf karena selama bertahun-tahun tidak mengetahui kehadiran nya. Bahkan tidak berniat mencari nya." Ucap Ardian mengungkapkan apa yang dia rasakan setelah mengetahui kalau Harum ternyata anaknya.
Melihat wajah sedih Ardian, membuat Nalda merasa iba. Karena kasian, Nalda memegang pundak Ardian."Bukan karena aku melarang mu untuk bertemu dengan Harum. Hanya saja untuk saat ini jangan dulu, karena aku takut kalau orang yang selama ini manipulasi semua ini akan menyakiti Harum juga." Jelas Nalda. Mungkin ini akan berat untuk Ardian, karena ia tidak bisa mengungkapkan rasa rindu nya dan bahagianya, saat mengetahui Harum adalah putri nya.
Tapi mau bagaimana lagi, Nalda tidak mau mengambil resiko untuk keselamatan gadis itu.
"Tapi sampai kapan Nalda?"
"Sampai semuanya membaik Ardian, dan kamu juga sudah mengetahui orang yang selama ini menjadi mata-mata disini." Jelas Nalda."Semua ini kamu lakukan untuk putri mu, Ardian. Kamu tidak ingin melihat nya tersakiti kembali kan. Apalagi Harum memiliki gangguan mental." Ardian terlihat kecewa, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Karena Ardian tidak mau sampai Harum terluka.
.
__ADS_1
.
"Aku tidak tau, ternyata putriku selama ini menderita..." Ucap Ardian di sela-sela tangisannya, setelah mendengar cerita Nalda mengenai Harum. Kenapa putrinya yang masih kecil bisa mengalami gangguan mental.
"Karena takdir yang membuat nya kuat Ardian, Apalagi tubuh kecil nya tidak bisa melakukan apapun untuk melawan kehendak Tante nya." Jawab Nalda mengusap punggung Ardian.
Di taman yang berada dibelakang rumah Ardian. Kedua orang itu sedang duduk, bersantai. Nalda juga menceritakan kenapa Harum bisa terkena gangguan mental.
"Seharusnya aku mencari tau dari awal, pasti Mayla bisa berobat hingga sembuh, dan Harum tidak akan tersiksa di usianya yang masih terlalu kecil." Ucap Ardian memberitahukan penyesalannya. Setelah mengetahui trauma Harum yang sangat menyakitkan, membuat dada Ardian terasa sakit seperti tertusuk ribuan pisau.
Baru saja ini Ardian terus saja menangis. Bagaimana nanti, kalau Ardian mendengar kehidupan Harum yang selama ini menyakitkan? Apakah Ardian akan semakin menyalahkan dirinya?
"Aku benar-benar penjahat Mayla." Mayla merasa kasian, saat melihat pria yang begitu sangat dingin dan memiliki tingkah konyol, kini menangis.
"Andaikan kamu tau Ardian, kalau Harum bukan saja trauma karena disiksa oleh wanita yang membeli nya, serta orang yang hampir saja melecehkan nya. Tapi Harum juga trauma karena kehidupannya yang terlalu keras dan menyakitkan. Apakah kamu akan semakin hancur daripada ini?" Batin Nalda menatap wajah Ardian yang kini sudah kusut karena terlalu banyak menangis. Bahkan mata pria itu sudah membengkak karena kebanyakan menangis.
"Mayla, apakah kamu akan membenciku setelah mendengar cerita lainnya dariku?" Tanya Ardian menatap mata Nalda yang kini juga sedang menatapnya.
Menyadari tatapan Ardian. Nalda memalingkan wajahnya kearah lain."Aku tidak tau Ardian. Karena kamu tidak pernah menceritakan masalahmu, jadi bagaimana bisa aku menangapi nya. Aku sendiri tidak tau." Jawab Nalda dengan serius, membuat kepala Ardian terangkat menatap kearah atas.
"Apakah kamu akan membenciku, Nal." Tanya Ardian menatap langit yang dipenuhinya oleh awan, yang sedikit menutupi cahaya matahari.
"Maksudmu?" Tanya Nalda mengerutkan keningnya bingung.
"Apakah kamu akan membenciku, setelah mengetahui cerita lain, mengenai mamanya Harum?"
Nalda terlihat bingung ingin menjawab apa."Semuanya tergantung, bagaimana kedepannya, Ardian. Karena kita tidak bisa menentukan jawaban sekarang, selain nanti." Jawab Nalda yang terdengar serius di kuping Ardian, sehingga membuat pria itu semakin ragu untuk menceritakan kisa lain dari dirinya.
"Kamu benar Nal."
...----------------...
__ADS_1