
Arabella, sedang menghubungi seorang pria yang merupakan kekasih gelapnya. Dia, dengan nada manjanya, mengatakan jika dia sangat merindukan pria tersebut. Dan pria itupun, merasakan perasaan yang sama dengan sang kekasih. Untuk kekasihnya yang satu ini, dia dibelikan gawai baru sehingga, ponsel ini khusus untuk menghubungi kekasihnya tersebut. Sementara itu untuk Liam dan Hilman, sama dengan ponsel khusus bisnis. Entah mengapa Arabella sangat menyukai selingkuhannya tersebut, sehingga dia begitu menurut padanya. Jika pria itu tampan seperti Liam mungkin saja orang-orang akan mempercayainya. Tapi, ini sungguh jauh berbeda, dibandingkan dengan Liam dan juga Hilman. Bagaikan langit dan bumi. Pun usianya, jauh berbeda dengannya, sekitar 30 tahun di atasnya.
" Papa, pokoknya Ara mau ketemuan. Ara, sudah sangat lama tidak disentuh oleh Papa ! "
" Baiklah sayang, Papa pastikan kamu puas jika kita bertemu ! "
" Janji ya ? "
" Iya, tentu saja. Papa berjanji! "
Arabella, memanggilnya dengan sebutan Papa, karena memang pria itu yang memintanya.
Liam, merasa kesal dengan keputusan sang Ayah yang seenaknya sendiri. Dimana, malam ini dia harus menggantikan Ayahnya untuk pergi ke luar negeri, tepatnya negara China. Dia harus menemui klien bisnisnya, di kota Beijing sana. Untuk, membicarakan perihal projects yang sedang ditekuni olehnya dan sang ayah, yaitu di bidang produksi pangan.
" Tidak bisa begitu, seharusnya dia sejak awal tidak menyanggupinya, Joe ! "
Joe, asisten pribadinya hanya bisa pasrah, melihat sang atasan begitu murka pada ayahnya sendiri.
" Sabar Pak Liam, saya rasa ada benarnya juga Tuan meminta anda yang datang ke Beijing. Semata-mata, untuk melatih anda agar bisa menjadi pemimpin perusahaan yang dapat diandalkan. Karena, Tuan juga sudah akan pensiun kan, 2 bulan lagi ! "
" Ya, kamu benar. Baiklah, akan aku buktikan sendiri padanya, jika aku bisa menjadi pemimpin perusahaan ini dengan baik! "
" Mantap, anda luar biasa Pak Liam, semangat! "
" Aih, menjijikkan sekali kau Joe ! "
Joe, hanya bisa tertawa riang saat mendengar celetukan bos mudanya tersebut. Joe, dan Liam memang dekat, sehingga keduanya sudah seperti saudara kandung.
Kalila, memanfaatkan waktunya untuk beristirahat, mengobrol dengan kepala maid, dan juga memasak di dapur, mencoba membuat menu baru. Wanita muda berjilbab tersebut, tidak ingin mengingat Liam terlebih dahulu. Sebab, akan sangat menyakitkan untuknya, jika mengingat sang suami. Liam kini sedang bersama dengan istri pertamanya, dimana Liam begitu mencintai Arabella dengan sepenuh hatinya.
Dia sadar, Liam menikahinya karena keterpaksaan, dan juga alat untuk balas dendam pada istri pertamanya tersebut. Liam, tidak akan pernah bisa melupakan Arabella, meskipun wanita itu sudah begitu menyakitinya. Bahkan, saat bercinta dengannya, Liam pernah menyebutkan nama Arabella, bukan dirinya. Kalila, merasa kecewa sekaligus sedih, tentunya saat mengingat kejadian itu.
__ADS_1
" Nona ! "
Suara Laksmi memanggilnya membuat, Kalila kembali tersadar dari lamunannya.
" Ah iya Bu Laksmi, ada apa ? "
" Kata Pak Liam, beliau menghubungi anda berkali-kali. Akan tetapi, anda tidak menerima panggilan masuk darinya. Beliau bilang, kalau sebentar lagi, beliau akan sampai di sini. Nona, harus segera bersiap-siap, untuk ikut bersama beliau! "
" Apa? Kok mendadak sih Bu ? "
" Saya tidak tahu, ayo Nona cepatlah! "
" Kalila, dimana kamu ? "
Kalila, yang masih memakai apron tersebut, saling memandang wajah satu dengan lainnya bersama Laksmi.
" Benarkah ini kenyataan? Ada apa dengan Mas Liam? Mengapa begitu terburu-buru seperti itu? "
" Jangan banyak melamun, ayo kita segera menaiki pesawat kita . Cepatlah sayang, tidak sempat lagi ini ! "
" Mas tunggu, kenapa sih ? "
Liam menoleh sejenak,
" Nanti aku ceritakan! "
Kalila, mengangguk dan menuruti keinginan sang suami.
Beberapa saat kemudian...
Liam, dan Kalila sedang berada di dalam pesawat. Liam, menjelaskan tentang semua masalahnya hari ini pada Kalila. Seharusnya, yang dia ajak adalah Arabella. Akan tetapi, Arabella berkata dia tidak bisa ikut, karena sedang demam. Sehingga, dia datang ke Bali untuk menjemput Kalila.
__ADS_1
" Aku hanyalah pilihan ke 2 mu saja Mas . Tapi, meskipun demikian aku bahagia. Karena, kita akan menghabiskan waktu bersama, selama 2 bulan kedepan! " batin Kalila
" Tapi Mas, mengapa lama sekali di sana ? "
Liam, menolehkan wajahnya pada sang istri.
" Di sana, kita akan melihat langsung cara pembuatan makanannya. Supaya, kita bisa menghasilkan kualitas yang baik! "
" Oh begitu, baiklah. Mas, aku minta maaf ya. Seharusnya, Mbak Bella, yang saat ini bersamamu. Tapi, justru aku yang harus menemani kamu! "
Kalila, tampak menunduk dia merasa sedih, dan bersalah.
" Ya ampun sayang, itu bukan salah kamu kok. Mengapa kamu menyalahkan diri sendiri? Mas justru bersyukur, karena ada yang menemani Mas selain Joe, dan istrinya. Joe saja membawa istrinya, masa Mas tidak ? "
Kalila, mengangguk paham, sembari tersenyum manis.
" Sekalian, aku ingin Kalila hamil anakku. Supaya, aku bisa memberitahu semua orang. Jika aku, sudah memiliki penerus, tanpa harus menunggu Arabella hamil dan melahirkan anak. Menunggu dia, benar-benar melelahkan, meminta jatah saja susah sekali. Bagaimana bisa, aku mendapatkan anak darinya? " batin Liam.
Sementara itu, Arabella meminta untuk pria selingkuhannya tersebut datang menjemputnya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30, para maid sebelumnya sudah diminta untuk pulang ke kampung halaman mereka masing-masing setelah, Liam pergi ke Bandara. Arabella, berpura-pura kasihan pada mereka, padahal dia tidak ingin perselingkuhannya diketahui oleh para maid. Bisa-bisa, Liam akan menalaknya talak 3 sekaligus lagi. Jika ketahuan, dia sudah bermain api di belakangnya.
" Ayo, Naiklah! "
Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu, membuka pintu mobil tanpa keluar dari mobilnya. Dia, takut jika ada yang mengetahui tentang dirinya. Arabella, segera masuk ke dalam mobil tersebut, dan duduk di samping sang kekasih.
" Kenapa menyetir sendiri Pa? "
" Papa, ingin kita menikmati indahnya malam berdua saja sayang. Sudahlah, pakai sabuk pengamanmu ! "
Arabella, mengangguk dan memakai sabuk pengamannya. Setelah, dirasa aman akhirnya pria itu segera menjalankan mesinnya. Sepanjang perjalanan, keduanya mengobrol dengan asyik, hingga sampailah di sebuah rumah mewah yang nantinya akan menjadi rumah bagi Arabella. Akan tetapi, untuk saat ini rumah itu, masih dicicil. Tinggal 3 kali pembayaran lagi maka akan lunas. Bukan apa-apa, dia taku jika istri dan anaknya tahu tentang pengeluaran dana yang telah dia gunakan. Jika, tidak dicicil sama sekali, maka mereka akan curiga. Makanya, berselingkuh dengan Arabella selama 1,6 tahun ini , aman terkendali. Berkat kepiawaiannya, dalam mengelola keuangan. Akan tetapi, Arabella tidak tahu, jika rumah ini hasil dari kredit, sang kekasih.
" Ayo, masuk aku sudah tidak sabar! "
__ADS_1
Arabella, dengan nakalnya melepaskan seluruh pakaiannya. Hingga menyisakan lingerie seksinya saja, sebab tadi dia memakai pakaian yang begitu rapat. Sehingga tidak ada yang mengenalinya. Pria paruh baya itu, menatapnya dengan tatapan matanya yang lapar.
Bersambung