Cinta Liam Untuk Kalila

Cinta Liam Untuk Kalila
Chapter 27


__ADS_3

Liam, dan sang ibu sedang berdiskusi mengenai bagaimana harus menghadapi perselingkuhan Efendy,dan Arabella. Keduanya, memilih untuk berakting seolah tidak terjadi apapun. Jadi, malam ini Kurnia akan mencoba bersandiwara untuk pertama kalinya .


" Kalau begitu, Mama pulang dulu. Do'akan Mama, supaya bisa menghadapi mereka !"


" Doaku , akan selalu ada untuk Mama !"


" Terimakasih Nak, ah dimana menantuku?"


" Kalila, dia sedang tidur Ma. Kelelahan, mungkin bawaan anak!"


" Sepertinya, calon anak kalian berdua adalah laki-laki!"


" Do'akan saja ya Ma, aku masih ..."


" Jangan berbicara sembarangan, kau sendiri yang mengatakannya untuk mendoakan kalian!"


Liam, mengangguk


" Ya sudah, sekarang Mama pamit dulu ya. Assalamualaikum!"


" Wa'alaikumusallam, hati-hati ya Ma !"


Kurnia, mengangguk sebagai jawaban, kemudian dia melambaikan tangannya dan segera berlalu. Begitu ibunya sudah tidak terlihat lagi, Liam segera menutup pintu apartemen dan menghampiri sang istri yang saat ini sudah tertidur pulas. Sebab, saat ini sudah pukul 21.30 jadi, Kalila otomatis sudah tertidur. Semenjak hamil, Kalila tidur lebih awal. Biasanya, dia tidak begitu, perubahan pada tubuhnya pun sudah mulai terlihat. Pipinya yang tirus, kini sedikit berisi, melihat hal itu. Liam, kemudian menyelimuti tubuh istri mudanya. Tidak lupa, pria itu mencium keningnya. Setelahnya, Liam segera mengganti pakaiannya, dan memasukkan pakaiannya pada keranjang pakaian. Dia juga menggosok gigi, dan berwudhu setelahnya bergabung dengan sang istri di ranjang.


Azan subuh berkumandang, Kalila terbangun dari tidurnya. Wanita cantik itu, mengerjapkan matanya dan segera membangunkan sang suami yang saat ini sedang memeluk tubuhnya. Karena, tidak ada reaksi, akhirnya Kalila menciumi wajah sang suami. Tidak lama kemudian, reaksinya membuat sang suami akhirnya terbangun. Memang dasarnya, trik ini sangat disukai oleh Liam. Pria itu tersenyum manis, dia berusaha untuk membuka matanya.


" Assalamualaikum Mas, bangun yuk . Udah, azan subuh tuh!"


" Wa'alaikumusallam, terimakasih ya. Sebentar lagi, Mas akan bangun !"


Liam, menenggelamkan wajahnya pada leher sang istri. Dia, juga mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping istrinya tersebut.


" Mas, aku tidak bisa bernapas!"


" Astaghfirullah, Mas lupa kalau kamu sedang hamil. Maaf sayang, Mak maafkan Papa ya !"


Liam, mengusap lembut wajah sang istri tidak lupa dia juga mengusap perut sang istri dan mengecupnya.


" Yuk kita shalat!"


Kalila, mengangguk, keduanya kini bangkit dari tempat tidur. Sebelumnya, mereka mandi terlebih dahulu dan segera melaksanakan ibadah wajibnya.


" Mas, beli sarapan yuk. Aku lapar!"


Liam, mengangguk kemudian mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


" Ih Mas, kebiasaan deh. Kalau aku enggak pakai jilbab, pasti diacak-acak rambutku !"


" Soalnya, Mas gemas sama kamu! "


" Ih, nyebelin deh !"


Liam, mencium kening sang istri.


" Sudah, jangan marah lagi ya !"


Kalila, mengangguk kemudian tersenyum manis.


" Baiklah!"


" Bereskan peralatan shalat dulu, setelah itu kita beli sarapan ya !"


Kalila, mengangguk paham, sementara itu Liam semakin gemas dengan sang istri.


Menjelang Siang, Liam mendapatkan pesan, dari Hilman. Sahabatnya itu, mengirim sebuah foto Arabella, dan Efendy yang sedang jalan bersama. Walaupun hatinya sakit, akan tetapi Liam berusaha untuk tegar. Sebab, disampingnya ada Kalila yang saat ini sedang memperhatikannya. Liam, meminum air putih, sembari melonggarkan dasinya. Kalila, heran melihat sang suami, yang terlihat begitu gelisah.


" Ada apa dengan Mas Liam ?" batin Kalila.


Pada akhirnya, wanita muda itu mendekati sang suami dan menggenggam tangannya.


" Mas, kamu kenapa? Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakanlah. Sebab, akan jadi penyakit jika Mas seperti itu. Aku tahu dengan jelas, Mas seperti apa !"


Kalila mengernyit


" Apanya yang malu? Kita ini suami istri, susah seharusnya untuk saling terbuka. Ya , walaupun aku hanyalah istri sirimu !"


Liam, menatap nanar wajah sang istri, pria itu meminta maaf sembari memeluk tubuh istrinya. Kemudian, dia menceritakan semuanya pada Kalila.


" Wajar saja jika Mas masih cemburu melihat kebersamaan, Nona Arabella dan kekasih gelapnya. Sebab, Mas dan Nona Arabella masih suami istri!"


" Terimakasih, Sayang!"


Kalila, mengangguk sebagai jawaban.


" Sama-sama!"


Liam, mengeratkan pelukannya, sementara itu Kalila mengusap lembut punggung sang suami.


" Sudah, jangan bersedih lagi ya Mas. Sekarang, Kalila mau membuatkan teh untuk Mas, supaya Mas lebih tenang"


" Terimakasih Sayang, Mas kebetulan belum minum kopi ataupun teh sejak pagi !"

__ADS_1


" Makanya, aku akan membuatkan teh untuk Mas. Sepertinya, Teh madu cocok untuk suasana hati Mas yang sedang bersedih ini !"


Liam mengangguk, kemudian Kalila bangkit dari duduknya dan segera membuatkan teh untuk sang suami .


" Jika seperti ini terus, bisa-bisa aku jatuh cinta pada Kalila!" batin Liam.


" Mas, ini tehnya !"


" Terimakasih Sayang!"


" Mas, Kalila mau belajar komputer kayak gitu, boleh tidak ? Soalnya, Kalila mau bisa nonton video tentang masakan atau pembuatan kue!"


" Baiklah, nanti Mas ajarin !"


Kalila, melompat kegirangan kemudian dia memeluk tubuh sang suami. Liam, yang melihat tingkah laku sang istri, tersenyum bahagia.


" Sayang, hati-hati ya. Kamu kan, sedang hamil!"


" Iya Mas, Kalila sudah ceroboh maaf ya !"


Pria itu mengangguk, menanggapi ucapan sang istri.


Malam harinya, Liam dan sang istri sedang santai di sofa panjang, sembari menonton televisi. Liam, begitu manja pada istrinya dia menggunakan paha sang istri sebagai bantalan. Sementara itu, Kalila mengusap lembut puncak kepala suaminya. Dia, sedari tadi asyik memainkan rambut pria tampan yang 15 tahun lebih tua darinya .


" Kalila, meskipun dia masih sangat muda. Tapi, dia begitu dewasa, dan menikmati perannya sebagai istri. Berbeda sekali, dengan Arabella. Lagi, dan lagi aku membandingkan keduanya. Sudah jelas, keduanya berbeda. Mengapa aku ini, selalu membandingkan keduanya?" batin Liam.


" Mas berterimakasih padamu Sayang, sebab kamu selalu saja bisa menenangkan aku!"


" Sama-sama Mas, berkat Mas juga Kalila bisa bersikap dewasa seperti ini. Kalau kita tidak menikah, mungkin saja Kalila tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ditampar oleh Mama !"


Liam, merasa bersalah, karena Ibunya sudah menampar pipi istri mudanya tersebut.


" Baiklah, Mas Kalila lapar. Makan yuk!"


" Ah iya, kita belum makan malam ya sayang . Kalau begitu, ayo kita makan!"


Kalila, mengangguk kemudian Liam bangkit terlebih dahulu dan membantu istrinya tersebut bangun. Keduanya, kini menghangatkan makanan, dengan microwave bersama di meja makan. Pulang dari kantor, Kalila dibantu Liam memasak makanan. Sehingga, begitu azan ashar mereka susah merampungkan kegiatan memasaknya. Setelah itu, barulah keduanya melanjutkan kegiatan lain, seperti mandi dan beribadah. Hingga setelah shalat magrib Liam dan Kalila bersantai di sofa sembari menonton televisi.


" Sayang, kalau sudah makan kita mencuci piring dan segera shalat ya. Kalau shalat isya, jika ditunda-tunda semakin malas. Makanya, Mas enggak mau menunda shalat isya!"


Kalila, mengulas senyumnya


" Alhamdulillah , kalau begitu mari kita makan. Jangan ditunda lagi, sebab 15 menit lagi shalat isya!"


Liam mengangguk, kemudian dia segera menata makanan yang sudah dihangatkan di atas meja makan. Pasangan suami-istri itu, begitu kompak dalam menyajikan makanan untuk mereka makan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2