
Hilman, dan wanita muda berjilbab tersebut kini sedang dimintai keterangan oleh ketua RT setempat.
" Siapa namamu Nak?"
" Karin Pak!"
" Berapa usiamu?"
" Saya 25 tahun Pak !"
" Lalu, kamu siapa Nak ?"
" Hilman Pak, usia saya 36 tahun !"
" Ah pantas saja, kamu melakukan hubungan intim dengannya. Ah dia istrimu bukan, coba lihat KTP kalian ?"
Pak RT, memperhatikan KTP keduanya.
" Ya ampun, jadi kalian belum menikah? "
Hilman, dan Karin menggeleng cepat.
" Baiklah, saya akan nikahkan kalian secara siri. Nanti, jangan lupa kalian harus mendaftarkan pernikahan kalian secara hukum. Ton, Anton panggil penghulu kemari, anak muda jaman sekarang ya maunya enak-enak doang. Giliran disuruh kawin, kagak mau, maunya gimana sih, heran gue!"
Pak RT, menggelengkan kepalanya. Dia, merasa kesal dengan tingkah anak muda jaman sekarang. Walaupun, di RT ini dekat dengan kota tapi tetap saja, dia merasa kesal dengan banyaknya kasus hamil diluar nikah. Jadi, semenjak dia terpilih menjadi RT, dia akan menikahkan anak-anak muda yang kepergok melakukan hubungan intim, sebelum menikah.
" Penghulu sudah tiba !"
" Mama, dan Papa kamu ada dimana ?"
" Sebenarnya, saya tinggal bersama Om dan Tante. Orang tua saya, sudah tiada !"
" Baik, nanti kita bicarakan dengan mereka mengenai pernikahan dadakan ini !"
Karin, mengangguk sebagai jawaban.
" Mas kawinnya apa Nak Hilman?"
" Di dompet saya, ada kartu ATM, dan saldo didalamnya ada sekitar 1 milyar. Saya, akan menjadikannya sebagai mahar !"
" Baik!"
Karin, membelalakkan matanya, sembari berkata " Apa ? 1 Milyar?"
Hilman, mengangguk.
" Tentu saja, mahar kan tidak boleh sembarangan. Aku hanya membawa itu, tidak mungkin kan aku menjadikan ponselku, sebagai mas kawin? "
" I...iya sih !"
Singkat cerita, Hilman dan Karin sudah melakukan ijab qobul dan keduanya kini sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Hilman, memegangi ubun-ubun sang istri, kemudian menciumnya.
" Nah, kalian sudah sah sekarang boleh melakukan hubungan intim. Kalau tadi kan, belum sah kenapa sih nekat banget!"
" Tapi Pak, sumpah itu bukan kami
Yang melakukan maksiat itu, orang lain bukan kami l!" kata Karin membantah.
" Percuma Karin kita membantahnya, tidak akan ada yang percaya"
__ADS_1
" Tapi..."
Hilman, meminta Karin untuk berhenti berbicara. Dia, menempelkan jari telunjuknya pada bibir sang istri yang baru saja dinikahinya tersebut.
" Baik, maafkan aku ya Pak ? "
Hilman, membelalakkan matanya
" Kok Pak sih? Apakah aku setua itu? Panggil aku, Mas atau Abang saja!"
" Dalam mimpimu!"
" Wanita ini benar-benar ya, sungguh aku menyesal sudah menolongnya!" batin Hilman.
" Kalian sudah resmi menjadi suami istri, semoga hubungan kalian berkah !"
" Aamiin, Ya Robbal'alamiin!" ujar Hilman, dan Karin.
Keduanya berpamitan, Hilman menyalami tangan Pak RT dan penghulu. Sementara itu, Karin, menangkupkan tangannya di depan dada.
" Kita, ke rumahmu dulu. Malam ini, kita menginap di rumahmu !"
" Tapi, rumah saya sempit !"
" Sudahlah, tidak apa-apa. Oh iya, aku akan membeli pakaian untukku dan beberapa hadiah untuk Paman dan Bibimu !"
" Baiklah, terserah anda saja Pak !"
" Bapak lagi, setua itukah aku ?"
Karin hanya diam saja, tetapi itu justru membuat Hilman semakin tertarik dengan sikap sang istri.
Hilman, mengajak Karin untuk masuk ke dalam mobil. Kebetulan mereka sudah berada di tempat parkir, yang berada di dekat cafe Shining Star.
" Mengapa anda menolong saya ?"
" Karena aku mau!"
" Sesimpel itu?"
Hilman, mengangguk
" Tentu saja, tidak karena aku tertarik padamu. Saat kamu menabrakku, tanpa sengaja!"
" Aku tak percaya! "
" Sudahlah, percuma berbicara denganmu !"
Hilman, akhirnya terdiam dia menutup pintu mobil dengan kasar. Membuat, Karin merinding, wanita cantik itu tidak tahu harus bagaimana. Sebab, dia bingung apa yang harus di lakukan oleh seorang istri, pada suaminya. Akhirnya, dia mencari informasi seputar suami istri.
" Ya Allah, di sini tertulis jika istri yang shalihah adalah dia yang meminta maaf terhadap suaminya terlebih dahulu. Lalu, apa ini jika seorang istri meminta jatah duluan pada seorang suami. Pahalanya sama dengan membebaskan 100 budak . Benarkah? Ah, sudahlah nanti aku akan meminta maaf pada Pak Hilman!" batin Karin.
" Kita sampai di Butik, kalau kamu mau membeli pakaian kamu boleh memilih. Aku akan membayarnya!"
" Baik, terimakasih Pak !"
Setelah mampir sebentar di butik, kini dan sang istri sudah sampai di supermarket untuk membeli buah-buahan. Hilman, masih tetap dengan wajah datarnya. Dia, sungguh tidak ada niatan untuk mengajak istrinya berbicara, menurutnya itu percuma. Dia juga, sudah terlanjur kesal dengan sang istri.
" Paman dan bibi kamu, suka buah-buahan apa ?"
__ADS_1
" Jeruk sama Pisang !"
" Oke, kamu tunggu disini, aku akan masuk !"
" A...Abang, saya ikut!"
" Kamu berubah pikiran, karena kamu memanggilku Abang. Jadi, ayo kita masuk !"
Hilman, menggandeng tangan Karin memasuki supermarket. Tidak disangka, saat memasuki supermarket, Hilman melihat Arabella dengan manjanya bergelayut pada pinggang seorang pria paruh baya, yang diduga ayah mertuanya sendiri. Alias, Efendy ayah sahabatnya. Mereka berdua, sedang membeli makanan dan minuman begitu banyak. Mungkin, sedang berbelanja bulanan. Hilman, dengan segera memotret kebersamaan mereka. Hal itu tidak luput dari pandangan, sang istri.
" Siapa yang sedang Abang potret ?"
" Istri sahabatku, dia selingkuh!" jawab Hilman asal.
Karin, mengangguk
" Oh begitu!"
Saat Arabella, dan Efendy memilih buah-buahan. Dan akan berhadapan dengannya, Hilman berbisik pada telinga sang istri untuk memeluknya.
" Tidak, ini masih belum bisa. Aku, bisa ketahuan Karin !"
Karin, dengan segera meraih leher sang suami dan mencium bibirnya. Hilman, membelalakkan matanya, dia begitu terkejut dengan tindakan istrinya tersebut.
" Sebaiknya aku memejamkan mata, supaya aku bisa membantu suamiku. Toh, aku juga pernah berciuman sebelum dengan!" batin Karin.
" Apa ini? Diluar ekspektasiku ternyata dia begitu liar !" batin Hilman.
Hilman, tersenyum miring. Tapi, dia kemudian meraih pinggang ramping istrinya tersebut. Dan, menikmati sentuhan lembut bibir sang istri. Sampai penjaga keamanan menegur Keduanya, barulah mereka berhenti.
" Kalian berdua, mengapa mesum disini? Dasar tidak punya adab, anda juga wanita berjilbab seharusnya punya rasa malu!"
" Maaf Pak, maklum kami pengantin baru!"
" Alah, pantas saja. Ikut saya ke kantor, saya ingin mengintrogasi kalian !"
Hilman, mengeluarkan jurus andalannya.
" Lihatlah, saya adalah CEO Shining Star Agency Supermodel , Arabella Septiani! "
" Jadi, benar beritanya tentang anda memiliki istri tersembunyi? Aih Maaf Pak, Silakan kalau begitu lanjutkan!"
" Tunggu, ini untuk anda anggap saja uang tip !"
" Wah, terimakasih Pak !"
Hilman, mengangguk.
" Sama-sama!"
Setelah penjaga keamanan tersebut pergi, Karin menatap tajam wajah sang suami.
" Abang, mengapa memberikan dia uang? Nanti kebiasaan loh !"
" Karin sayang, dia tidak menahan kita saja sudah sangat bersyukur. Jadi, jangan pernah mempermasalahkannya lagi oke ?"
" Aih, baiklah !"
Hilman, mengusap lembut puncak kepala sang istri yang dibalut dengan jilbabnya.
__ADS_1
Bersambung