Cinta Liam Untuk Kalila

Cinta Liam Untuk Kalila
Chapter 33


__ADS_3

Efendy, pulang ke rumah saat tengah malam. Sementara itu, Kurnia sedang menunggunya di ruang tamu. Sembari melipat kedua tangannya di dada, dia terlihat begitu tidak ramah .


" Mengapa kau menungguku, bukankah kita sudah tidak ada hubungan lagi?"


" Memang sudah tidak ada hubungan diantara kita. Tapi, aku ingin mengingatkanmu, jika ini rumah almarhum ayahku. Jadi, silakan pergi dan carilah kebahagiaan iyang kau inginkan!"


Kurnia, menyerahkan dua koper besar yang dipastikan milik Efendy.


" K...Kau mengusirku? "


" Tidak ingat ya ? Ayah bilang jika kau berani mengkhianati aku, maka sudah selayaknya semua aset keluargaku kembali padaku!"


" Bagaimana bisa kau melakukan hal ini padaku? Bukankah aku yang sudah membuat perusahaan bangkit dari keterpurukan?"


Kurnia, menggeleng wanita paruh baya yang masih cantik tersebut tersenyum miring.


" Kau tenang saja, kredit rumah mewah yang kau belikan untuk Arabella sudah aku lunasi. Jangan kau pikir aku bodoh, asisten keluarga ini selalu melaporkan keuangan keluarga. Jadi, sekaranglah saat kau tandatangani surat perceraian kita!"


Efendy, menelan salivanya. Dia bergeming, sebab memang itulah kenyataannya.


" Aku...!"


" Cukup, tidak usah berdalih lagi. Atas usahamu membantu membangkitkan perusahaan yang terpuruk. Maka, aku akan memberikan balasannya tapi dalam bentuk uang. Jika saham perusahaan, aku tidak akan memberikan itu padamu. Sebab, aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu !"


" Kurnia aku mohon , kau jangan seperti ini. Sungguh ini, membuatku tersiksa!"


Efendy, menggenggam erat kedua tangan wanita yang dulu sangat dicintainya tersebut. Tapi, Kurnia dengan tegas menepis tangan Efendy. Lalu, dia berteriak memanggil penjaga keamanan. Sebab, Efendy masih tidak ingin menandatangani surat perceraian tersebut.


" Penjaga!"


" Tidak memangnya aku bodoh, kau tidak ingin bercerai dariku kan Kurnia? Sehingga, kau berbuat sejauh ini!"


Kurnia, berdecak kesal


" Tidak mungkin, lelaki yang sudah bersetubuh dengan wanita lain. Itu, membuatku jijik, jangan kau pikir aku sangat mencintaimu sehingga aku menjadi bodoh!"


Dua penjaga, dan bodyguard Kurnia datang menghampiri Tuannya.


" Iya Nyonya!"


" Tolong paksa pria itu untuk segera menandatangani surat perceraian tersebut!" ujar Kurnia sembari menunjuk dokumen perceraian.


" Nia, aku mohon!"


Kurnia, memalingkan wajahnya saat Efendy, memanggil sebutan kesayangannya.


" Kau jangan bodoh Kurnia, ayolah jangan sampai kau luluh lagi oleh pengkhianat itu!" batin Kurnia.


"Segera tandatangani surat perceraian kita, jika tidak bodyguard ku akan memukulmu!"

__ADS_1


Mendengar perkataan Kurnia, Efendy menghela napasnya. Dia, kemudian mengangguk dan menandatangani surat perceraian mereka.


" Terimakasih!" ujar Kurnia sembari membawa dokumen perceraiannya.


Tiba-tiba, wanita paruh baya cantik itu menoleh ke belakang.


" Ah iya, kalian tolong usir dia dari rumah ini!"


" Nia, ini sudah malam. Kau tega sekali padaku, berikan aku ijin untuk tinggal sehari saja di sini !"


" Maaf, tidak ada kesempatan lagi untukmu. Jhony, Jody, Asep tolong bawa dia keluar! "


" Nia, aku mohon jangan begini!"


" Enyahlah dari hadapanku, bajingan!"


Dengan langkah cepat, Kurnia segera meninggalkan mantan suaminya. Begitu sampai kamar, dia segera mengunci pintu kamarnya. Dia menyenderkan punggungnya pada pintu kamarnya tersebut, sembari menangis merenungi nasibnya.


" Benar kata orang tua, seharusnya dulu aku tidak memilihnya. Bajingan itu, dia seperti hewan saja. Nafsunya begitu besar, sampai-sampai menantunya sendiri pun di gagahinya. Astaghfirullah'aladzim ! "


Dia menangis tersedu, sembari memeluk lututnya.


Sementara itu, Efendy mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Dia, lebih memilih pergi untuk ke hotel dibandingkan dengan menemui Arabella. Dia takut, jika kekasihnya tersebut sudah tidur, dan dia mengganggu tidurnya.


Keesokan harinya, di kediaman Kurnia. Menantu, dan anaknya tersebut pagi-pagi sekali datang berkunjung. Guna memastikan, keadaan dirinya baik-baik saja.


Mendengar suara anaknya, Kurnia begitu bahagia. Meskipun matanya sembab, dia tetap menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja.


" Anak-anak, kalian tidak perlu khawatir. Mama, baik-baik saja kok !"


" Alhamdulillah kalau begitu, Ma Kalila membawakan sup ayam buatan Kalila dan Mas Liam. Di makan ya, supaya tubuh Mama segar. Oh iya, Kalila juga membuatkan teh madu, supaya Mama bisa relaks !"


" Baiklah, terima kasih ya sayang. Kamu, memang menantu idaman ya. Liam sungguh beruntung bisa memiliki kamu !"


Sementara itu, Liam tersenyum bahagia melihat penerimaan Ibunya pada istri mudanya tersebut.


" Aku memang beruntung Ma. Mungkin dibalik keberuntunganku, terselip doa, di setiap sujud Mama !" batin Liam.


" Mama kira, Arabella adalah yang terbaik. Ternyata, Allah Ta'ala lebih tahu yang terbaik, untuk kamu Liam !"


Liam mengangguk setuju, " Itu sudah pasti, meskipun awalnya harus ada penolakan, dari Mama!"


" Baiklah, Mama minta maaf. Ah iya , mumpung kalian disini. Maukah kalian, mengunjungi nenek kalian ?"


" Boleh Ma, kebetulan pekerjaan hari ini bisa dikerjakan di mana saja . Jadi, aku tidak usah ke kantor, biar Joe saja !"


Kurnia, mengangguk kemudian dia diminta duduk di meja makan. Dia menuruti keinginan, anak dan menantunya tersebut.


" Mau makan nasi atau roti untuk sarapan?"

__ADS_1


" Nasi saja, Mama dari kemarin belum makan Nak !"


" Baiklah, Kalila ambilkan ya Ma !"


Kalila, hendak pergi ke dapur, tapi Liam mencegahnya.


" Jangan, biar Mas saja !"


" Loh enggak apa-apa kok Mas, soalnya biar gerak juga !"


" Sayang..." Liam menatap wajah Kalila tajam.


Kalila paham, Suaminya itu tidak suka di bantah. Alhasil, wanita cantik berjilbab tersebut, diminta untuk duduk di samping ibunya.


" Nak, Maaf ya. Liam memang seperti itu, dia tegas dan tidak suka di bantah!"


" Iya Ma, Kalila akan berusaha untuk memahami sifat Mas Liam!"


" Nak, apakah kamu mencintai Liam?"


Kalila, mengangguk


" Sangat-sangat mencintai dia, bagi Kalila Mas Liam itu sangat baik. Wanita manapun, akan luluh padanya. Dia begitu tampan dan berkarisma, kalau saja dia seumuran Kalila. Mungkin saja, Kalila akan mengejarnya dan membuatnya luluh, dan mencintai Kalila!" cerocos Kalila.


Sementara itu, Liam yang baru saja membawakan nasi untuk ibunya tersenyum mendengar perkataan sang istri dari kejauhan. Dia, merasa tersanjung dengan pujian yang di lontarkan istrinya tersebut.


" Cie... Yang tergila-gila sama Mas . Terima kasih sayang, Mas menjadi sangat bahagia mendengar ucapanmu itu!"


" Aduh, malu aku !" kata Kalila sembari menutup wajahnya dengan jilbab panjangnya.


Sementara itu, Kurnia, tersenyum melihat kelakuan jahil anaknya tersebut.


" Liam, jangan kau menggodanya. Kasihan, wajahnya sudah seperti kepiting rebus Nak !"


Liam, menghampiri sang istri dan mencium keningnya. Dia, kemudian berbisik di telinganya" Terima kasih sayang, Mas akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk kamu !"


Kalila, semakin tersipu mendengar perkataan sang suami.


" Cieee pengantin baru, kalian ini tidak lihat orang tua baru saja patah hati. Kalian malah asyik bercandaan!"


" Maaf Ma, ini loh Mas Liam!"


" Dih ngadu, dasar kamu ya!"


Liam, mengacak-acak jilbab yang dipakai istrinya. Membuat Kalila kesal karena perbuatannya. Sementara itu, Kurnia menggelengkan kepalanya.


" Semoga dialah jodohmu Liam, Mama harap kau bisa bahagia dengan Kalila. Meskipun, dari sorotan matamu masih belum, ada cinta padanya. Tapi, Mama yakin, seiring berjalannya waktu. Kamu akan mencintainya. Aku harap , dia menjadi menantuku selamanya!" batin Kurnia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2