
Jefri, merasa sedikit kecewa dengan fakta jika gadis yang dulu ditemui olehnya tanpa sengaja saat di supermarket, adalah Kalila. Wanita yang sudah memiliki suami, dan saat ini sedang hamil. Dan, yang lebih membuatnya menyesal dengan perasaannya adalah tentang dirinya yang tidak bisa menerima fakta. Jika, sebenarnya, dia dan Kalila adalah saudara kandung. Lebih tepatnya kembar tidak identik ( Fraternal ). Jadi, pada saat itu, Waluyo ingin memiliki anak laki-laki, sebab Arabella sudah besar, dan beranjak dewasa. Tapi, istrinya tidak dapat hamil lagi karena sudah operasi pengangkatan rahim. Maemunah, tidak ingin memiliki anak lagi, dia kapok melahirkan. Baginya, melahirkan adalah ketakutan terbesarnya. Kebetulan sekali, saat itu dia mendengar kabar jika Norma, sedang hamil. Dan, juga melahirkan anak kembar tapi tidak identik. Alhasil Jefri yang saat itu masih bayi, dicuri dan dirawat oleh kedua orang tuanya di kampung. Dengan dalih, jika itu adalah amanat dari sang majikan alias Subroto. Dia, menyuap pihak rumah sakit, yang saat itu begitu membutuhkan biaya alias kepepet. Sehingga, dia dan staf rumah sakit itu, bekerjasama membuat skenario seolah-olah bayi yang satunya, diculik.
Subroto, dan sang istri berusaha mencari anak kandungnya tersebut. Apalagi, Subroto merasa bersalah sebab, saat istrinya melahirkan dia sedang dinas ke luar negeri. Sehingga, meminta bantuan terhadap adik dan juga iparnya. Dengan sekuat tenaga dia mencari keberadaan sang anak. Sampai suatu ketika,
" Kamu anakku Nak, aku sudah menyelidikinya. Jika kau tidak percaya, maka aku bersedia untuk tes DNA!"
" Biarkanlah aku berpikir sejenak, mengapa bisa aku menjadi anak kandung anda Pak ?"
Subroto menceritakan semuanya, tetapi Jefri masih belum bisa percaya sepenuhnya.
" Tuan, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi, Mas Waluyo meminta aku untuk merahasiakan hal ini. Sebab, aku memang tidak pernah ingin melahirkan lagi. Sehingga, setelah Arabella lahir, aku memutuskan untuk operasi pengangkatan rahim!"
" Astaghfirullah, Sungguh? Jadi memang, aku adalah anak dari Bapak Subroto begitu? Tapi, Ibu kau sungguh kejam pada dirimu sendiri? " ujar Jefri lantang.
Pria itu, kecewa dengan apa yang sudah diucapkan oleh ibu angkatnya tersebut. Sementara itu, Maemunah menundukkan wajahnya sungguh dia tidak berani menatap wajah Jefri, yang saat ini sedang marah.
" Nak, maafkan ibu !"
" DIAM, aku kecewa padamu Ibu. Silakan anda pergi, bukankah ini rumah kedua orang tuaku!" ujar Jefri.
Pria itu, menghempaskan tangan Maemunah, yang hendak meraih pergelangan tangannya. Maemunah, jatuh terduduk sebab dia benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat anak angkatnya tersebut marah. Sementara itu, Arabella menatap wajah Liam nanar. Sedangkan Liam, membuang mukanya, dia tidak ingin perasaan cintanya tumbuh lagi. Sebab, yang paling Liam sukai adalah mata indah sang mantan istri.
" I...Ibu, ayo kita pergi! "
" Kita tidak punya tempat lagi Nak!"
" Ibu tenang saja!"
Arabella, membantu ibunya bangun. Dia, juga membawa koper yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga suruhan Subroto.
__ADS_1
" Ya Tuhan, mengapa nasibku seperti ini?" batin Maemunah.
" Satu-satunya harapanku, hanyalah Papa !" batin Arabella.
Siang kini menjadi malam, Hilman baru saja mandi setelah beraktivitas seharian. Tidak disangka, dia melihat sang istri tengah memakai lingerie seksi berwarna merah muda. Membuat pria itu, meneguk salivanya.
" Sayang, apa yang kamu lakukan?"
" Ya ampun, si Abang mah enggak peka. Ya buat anaklah apa lagi coba ?"
Mata pria itu membulat sempurna, dia benar-benar tidak menyangka. Jika pada akhirnya, sang istrilah yang akhirnya menyerahkan dirinya sendiri.
" B...Bikin anak ? "
Karin, mengangguk sembari tersenyum menggoda. Gadis itu, menghampiri sang suami. Membuat perasaan pria itu, semakin tidak karuan.
" Ayolah Abang, jangan banyak melamun?"
" Sayang, kamu begitu menggoda. Aku sudah tidak sabar, mengapa kamu menahan ku!"
" Abang, sudah wudhu belum?"
Hilman mengangguk
" Kan ,kamu bilang jika mau tidur harus suci dari hadas kecil alias berwudhu!"
Karin, tersenyum manis
" Masyaallah, pintarnya suamiku?"
__ADS_1
Karin, tidak lagi menahan Hilman kini dia bergelayut manja pada leher sang suami.
**S**ementara itu, Arabella dan juga ayah mertuanya kini tinggal di rumah mereka. Pria itu bingung, sebab tadi pagi ada surat gugatan cerai dari istrinya. Membuatnya, tidak tenang dan ingin segera meminta maaf. Tapi, di sampingnya ada seorang wanita cantik, yang sayang untuk dilewatkan jika tidak menanam benih pada rahimnya.
" Sayang, Papa pulang dulu ya. Papa mau meminta maaf pada Mama Kurnia!"
" Untuk apa meminta maaf? Biarkan saja, toh dia akan menyesal sudah menggugat cerai Papa !"
" Ara, seandainya kau tahu, sesungguhnya aku bukanlah pemilik perusahaan K.R itu. Sebab, itu adalah warisan dari ayah Kurnia. Aku, hanyalah anak seorang bawahan. Jika kau tahu kebenarannya, apakah kau akan pergi meninggalkanku? " batin Efendy.
" Pa, semoga aku segera hamil ya ?"
Dengan terpaksa, Efendy mengangguk sebagai jawaban. Arabella, berbisik pada telinga sang kekasih, supaya mereka segera mandi bersama sebab. Jika ditunda-tunda, maka akan semakin malas untuk membersihkan diri. Dengan segera keduanya bangkit dari tempat tidur, dan membersihkan diri.
" Terimakasih ya servis yang kau beri begitu memuaskan sayang !"
" Sama-sama Papa, karena aku sangat mencintai Papa !"
" Aku juga, sangat mencintai kamu!"
Efendy mencium kening sang kekasih, tetapi Arabella ingin lebih. Dia, berjinjit dan mencium bibirnya, kemudian keduanya saling balas, tidak ada nafsu hanya ciuman kasih sayang.
" Papa pulang dulu ya, jangan lupa segera tidur supaya lelahmu hilang !"
Arabella, mengangguk sebagai jawaban. Efendy, melambaikan tangannya pada sang kekasih.
" Ya Tuhan, jadi benar apa yang dikatakan Tuan Muda Liam? Dari perkataan Keduanya, sudah dipastikan mereka sudah sering bersetubuh . Astaga dosa apa aku Tuhan, susah melahirkan anak seperti wanita itu?" batin Maemunah, sembari menutup mulutnya.
" Ya Tuhan, maafkanlah anakku yang sudah dipenuhi oleh hawa nafsu!" ujar Maemunah sembari menangis, merenungi nasibnya.
__ADS_1
Dengan segera, dia menghilang dari depan pintu kamar Arabella. Dia, segera mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuhnya. Sedangkan, Efek segera memencet tombol 1 dan segera turun ke bawah. Perasaannya kini, benar-benar tidak karuan, disisi lain dia sangat mencintai Arabella. Bahkan, pria itu membelikan segalanya untuk sang kekasih. Sementara itu, dia tidak pernah memberikan barang berharga pada sang istri yang dinilainya sudah tidak menarik lagi.
Bersambung