Cinta Liam Untuk Kalila

Cinta Liam Untuk Kalila
Chapter 28


__ADS_3

Hari ini Hilman, memboyong Bibi dan Paman Karin ke apartemennya yang dulu, sebelum membeli rumah untuk Arabella. Karena, dia merasa prihatin dengan kondisi rumah paman dan bibi istrinya tersebut. Di tambah, kondisi Paman Karin sangat memprihatikan. Dia, terkena stroke, sehingga untuk sementara waktu tidak bisa mencari nafkah. Kemarin Bibinya bercerita, jika selama ini, yang mencari uang, adalah Karin. Bahkan, Karin rela, tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Sehingga, dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Gaji Karin cukup untuk makan sehari-hari, dan membeli beberapa obat untuk suaminya. Mendengar cerita tentang keluarga istrinya, membuat Hilman merasa iba. Sehingga, dia berjanji akan membantu memberikan perawatan sepenuhnya pada paman sang istri.


" Bagaimana tempat ini, apakah masih kurang cukup?"


" Tidak Nak Hilman, ini sudah lebih dari cukup terimakasih atas kebaikan anda!"


" Untuk Karin, dia pastinya akan tinggal bersamaku. Jadi, saya meminta izin untuk membawa istri saya bagaimana?"


Bibi Karin, mengulas senyumnya.


" Masyaallah, tentu saja silakan Nak. Ya ampun, Karin sungguh beruntung memiliki suami seperti kamu!"


" Beruntung apanya? Bibi tidak tahu, kalau dia orang yang sangat mesum !" batin Karin.


" Iya terimakasih Bi, kalau begitu saya dan Karin pamit dulu ya. Oh iya, nanti sore akan ada orang kemari untuk melayani kalian berdua!"


" Baik, terimakasih ya Nak!"


Hilman, mengangguk sebagai jawaban. Lalu, dia menggandeng tangan sang istri.


" Sayang, mari kita pulang!"


Karin, mengangguk mengiyakan, kemudian keduanya bersalaman pada Paman dan Bibi Karin.


" Karin!" panggil Hilman.


Wanita cantik, berjilbab itu menoleh ke arah sang suami.


" Iya, Bang !"


" Abang, ingin mengatakan sesuatu!"


" Apa itu?"


" Nanti, ketika kita sampai di rumah, Abang akan mengatakannya padamu !"


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Kampung Kemang Raya ke Menteng Jakarta Pusat. Akhirnya, Hilman dan sang istri tiba di kediaman mewah milik Hilman. Saat memarkirkan mobilnya, Hilman begitu terkejut melihat ada mobil milik Arabella. Pria itu, meneguk salivanya, dia takut jika sang istri akan membencinya. Walaupun, dia sendiri tidak mencintai Karin. Tapi, bagaimanapun juga wanita itu adalah istrinya .


" Abang, kenapa diam saja. Bukannya, kita sudah sampai ya ?"


Perkataan lembut dari sang istri, membuat Hilman tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


" Ah iya, mari kita turun. Kamu tunggu sebentar, Abang bukain pintu untuk kamu!"


" Tidak usah, aku tidak mau merepotkan Abang!"


" Baiklah!" ujar Hilman pasrah.


" Bagaimana ini? Aku, belum siap mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi, Liam bilang padaku, jika dia mengatakan hal yang sejujurnya pada Arabella tidak akan memberikan dampak apapun bagi wanita itu. Sebab, Arabella tidak akan peduli . Dia kan ,sudah memiliki kekasih idaman, alias Pak Efendy. Meskipun aku mencintai dia, tapi dia sudah memberikan tubuhnya pada pria lain. Selain aku, dan Liam. Sungguh, menjijikkan!" batin Hilman.


" Abang, itu dipanggil Bapak-bapak tuh?"


" Hah, siapa ?"


Hilman, menoleh ternyata Bapak-bapak yang istrinya maksud adalah penjaga keamanan.


" Iya ada apa Udin ?"


" Saya ingin melaporkan pada anda, jika di dalam ada Ibu Arabella!"


" Pak Udin, tolong mulai hari ini jangan memanggil Arabella dengan sebutan Ibu lagi. Sebab, saya sudah memiliki istri. Wanita di samping saya ini, adalah istri saya. Sayang, perkenalkan dirimu!"


Karin, membungkuk hormat pada penjaga keamanan tersebut. Kemudian, dia memperkenalkan dirinya.


" Baik, kalau begitu kami permisi dulu!"


" Abang, Ibu Arabella itu siapa ? Pacar atau istri Abang ya ?"


" Pacar aja sih, kalau istri kan kamu istriku. Sebab, aku belum pernah menikah!"


" Ah baiklah, jadi aku aman ya. Enggak ada drama rebutan suami kan ?"


" Apasih kamu, ya sudah kita masuk ke dalam. Aku, akan memperkenalkan kamu padanya!"


Karin, mengangguk mengiyakan. Kemudian, Hilman, menggandeng tangannya. Dia menggandeng tangan istrinya, bukan tanpa alasan. Sebab, dia takut tidak bisa menghadapi kekasihnya Arabella. Dengan adanya Karin, di sampingnya dia akan merasa sedikit lebih baik.


Arabella, sedang bersantai di ranjang milik kekasihnya. Di kamar ini, biasanya meraka akan bercinta. Sudah beberapa Minggu ini, dia tidak bertemu dengan Hilman. Ini semua, karena Efendy mengurungnya di kediamannya. Sebab, dia sedang menjalankan misinya, agar Liam mau meminta maaf padanya. Tapi, yang ada Liam tidak pernah datang sekalipun. Sungguh, itu membuatnya kesal.


Pada siang hari ini, Arabella mengenakan dress merah, serta lipstik berwarna senada. Dia, ingin menampilkan kesan seksi dan menggoda. Supaya, Hilman mau berhubungan intim dengannya pada siang ini. Dia, bermaksud untuk membuat Liam membantunya dalam permasalahan, rumah tangganya bersama sang suami. Terdengar suara, ketukan pintu dari luar. Arabella melepaskan gaunnya, dan hanya mengenakan dalaman saja. Dia, dengan segera membuka pintunya.


" ASTAGHFIRULLAH'ALADZIM!" teriak Karin, sembari menutup mulutnya.


Hilman, menelan salivanya, dia benar-benar merasa libidonya naik. Tapi, melihat reaksi sang istri dia kemudian memeluk tubuh sang istri.

__ADS_1


" Mas, apa ini? Dia siapa ?" Arabella menatap tajam wajah sang kekasih.


" Segera pakai bajumu kembali, aku akan menjelaskannya secara rinci!"


" Katakan saja, Dia siapa ?" bentak Arabella.


" Dia istriku!"


" Apa?"


" Iya, dia istriku. Kami menikah karena keterpaksaan. Sebab, mereka mengira jika kami berzina, alhasil aku harus menikah dengannya. Tapi Ara, ini lebih baik ketimbang aku menunggu kepastian darimu!"


.


" Mas, tidak bisakah kau sabar, aku ini istri orang. Jadi, kita harus menunggu waktu yang tepat untuk kita menikah. Aku, sangat mencintai kamu!"


Hilman, bergeming


" Maaf saya ikut campur urusan kalian. Mbak, bukannya anda yang kemarin bersama dengan Lelaki tua ya ? " tanya Karin dengan polosnya.


Arabella, meneguk salivanya.


" Itu...!"


" Om Efendy, ayah kandung Liam alias ayah mertuamu. Kalian, berselingkuh di belakang Tante Kurnia, dan juga Liam bukan. Aku kira, hanya aku yang bisa menyentuh tubuhmu. Ternyata aku salah, kau justru membagi tubuhmu pada lelaki lain. Aku kecewa padamu, Ara. Memang benar kata orang, cinta bisa membuat manusia yang pintar, seketika menjadi bodoh. Dan, aku termasuk orang bodoh itu, saking bodohnya aku mau saja kau kelabui!"


Arabella, menatap nanar sang kekasih. Dia, meminta maaf pada Hilman, atas apa yang sudah dilakukannya.


" Mas, aku salah. Aku minta maaf. Tolong, maafkanlah aku !"


" Baiklah, aku maafkan kamu. Pergilah, dan mulai dari sekarang kita sudah tidak ada hubungan lagi. Silakan keluar dari rumahku !"


Arabella, tidak bisa berbuat apapun lagi dia mengaku salah. Dengan segera, dia memakai pakaiannya kembali, dan setelah itu dia pergi meninggalkan rumah sang kekasih.


" Mas, sekali lagi aku minta maaf!" ujarnya sebelum pergi.


Hilman, mengangguk akan tetapi saat kepergian Arabella dari hadapanku dia jatuh terduduk di lantai. Air matanya menetes begitu saja, dia sedih sekaligus menyesal. Mengapa dia dulu, mengkhianati Liam dan persahabatan mereka hancur hanya karena seorang wanita. Karin, merasa iba, dia kemudian memeluk tubuh sang suami. Hilman, memeluk tubuhnya begitu erat, dia sangat rapuh hari ini.


" Menangislah, jika memang itu bisa membuatmu tenang!"


Hilman, mengangguk dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2