
Arabella, menunggu ayah mertuanya alias kekasih gelapnya. Sempat Arabella, dinasehati oleh Ibunya, Maemunah. Tentang, hubungan cintanya bersama sang ayah mertua, Maemunah mengatakan jika dia dan Efendy tidak boleh meneruskan hubungan mereka lagi. Sebab, Efendy, adalah mahram baginya. Tapi, yang namanya cinta memang bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli seketika. Arabella tidak peduli, jika itu adalah perbuatan yang salah. Sebab, dia tidak ingin berpisah dengan Efendy, meskipun dia dan Liam belum resmi bercerai. Hatinya sudah tertahan oleh Efendy, tidak ada lelaki lain di dalam hatinya. Hanya Efendy, dan selalu Efendy. Saat dengan Hilman, dia hanya mencari kesenangan saja. Yang sebenarnya dia cintai adalah ayah mertuanya tersebut.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya Efendy.
Arabella, menggeleng dia tersenyum manis.
" Tidak apa-apa Pa, Ara hanya sedang kelelahan saja !"
" Bagaimana, kalau kamu tidur di sampingku!"
" Memangnya boleh?"
Efendy, mengangguk, kemudian dia menggeser tubuhnya. Dan pada akhirnya, Arabella berbaring sembari memeluk tubuh sang kekasih.
**S**ementara itu, Kurnia masih menangisi dirinya sendiri. Setelah Liam pulang bersama sang istri, dia mengurung diri di kamar. Dia, masih belum bisa menerima kenyataan, jika suami yang sangat dicintainya itu berselingkuh. Lebih parahnya lagi, Efendy berselingkuh dengan menantu yang sudah sangat dicintainya. Ya, dia sangat menyayangi Arabella, bahkan menganggap anak itu seperti anaknya sendiri. Sebab, dia tidak memiliki anak perempuan, dan Liam adalah anak satu-satunya.
Dulu, setelah Liam lahir dia tidak ingin melahirkan lagi. Sebab, dia terlalu sibuk jadi tidak akan ada waktu untuk mengurus anak-anak. Dan, Efendy menyetujuinya, sebab Efendy sangat mencintainya. Sehingga, pria itu tidak ingin menentang apapun keinginan sang istri. Tapi kini semuanya berubah, Efendy tidak lagi mencintainya. Sekarang, hanya tinggal kenangan. Dia sungguh menyesal telah menganggap Arabella seperti layaknya seorang anak. Ternyata, dia adalah penghancur rumah tangganya bersama Efendy, orang yang sangat dicintainya.
" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah ridho. Ya Allah, ampunilah hambaMu yang egois ini !" batin Kurnia.
Wanita paruh baya yang masih cantik itu, merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia, mencoba mengikuti saran dari sang menantu. Bertasbih kepada Allah Ta'ala, menyebut nama-namaNya . Dan, mulai memejamkan matanya.
Liam dan sang istri, sedang memasak bersama. Keduanya memasak makanan untuk hidangan makan malam. Sembari memasak, keduanya bercerita tentang permasalahan yang menimpa keluarga mereka.
" Jadi, setelah kita berkunjung ke Pak ustadz, Mas jadi tahu. Kalau Papa dan Arabella tidak boleh melakukan pernikahan. Sebab , keduanya mahram kan sayang ?"
Kalila, mengangguk sebagai respon.
" Dan, makanya Mas dan Mama harus memberitahu keduanya!"
" Biarkan saja, toh dosa-dosa mereka !"
" Ya enggak gitu Mas, di kasih tahu dulu. Kalau mereka ngeyel, ya udah biarin aja!"
" Baiklah Sayang, terimakasih ya !"
__ADS_1
Kalila, mengangguk sebagai jawaban.
" Sudah matang Mas, ayo kita hidangkan!"
Liam, mengangguk dan segera membantu sang istri menghidangkan makanan untu mereka.
Hilman, dan juga sang istri sudah 2 hari berada diThe Ritz-Carlton Bali . Karena, Karin belum pernah ke Bali, sehingga Hilman mengajaknya berbulan madu di Bali. Mungkin, setelah ini , dia dan Karin akan ke tempat lainnya. Yang paling penting, ke Bali dulu guna untuk menghilangkan rasa penasaran istrinya.
" Setelah ini, kamu mau pergi ke mana ?"
" Aku tidak mau kemana-mana. Yang penting, punya banyak waktu berduaan sama Abang!"
Hilman, menjadi salah tingkah ketika mendengarkan perkataan sang istri. Dia, dengan gemas memeluk tubuh istrinya tersebut.
" Terimakasih Sayang, aku bahagia sekali mendengarnya!"
" Oh iya, Abang kita sudah cukup beristirahat kan. Jadi, ayo kita bikin anak!"
Hilman, membelalakkan matanya.
" Hah? Yang benar Sayang? Bukankah, kita belum puas melihat-lihat tempat wisata di sini ?"
" Ya ampun sayang, kan kita belum saling kenal. Dan, belum puas pacarannya, mengapa harus terburu-buru?"
" Ya sudah kalau enggak mau mah, Aku mau berenang aja lah !"
Hilman, menarik pergelangan tangan sang istri.
" Baiklah, kita lakukan. Ya ampun, kamu tuh benar-benar pemarah ya ?"
Hilman, menggendong tubuh sang istri seperti koala. Karin, dengan segera melilitkan kakinya pada pinggang suaminya tersebut. Kemudian dengan gaya genitnya, dia menggoda pria tampan tersebut. Membuat Hilman merasa panas dingin dengan sikap istrinya itu.
Dalam keheningan malam, Kurnia berdoa pada Sang Pencipta. Dia, meminta agar dilapangkan dadanya, supaya bisa mengikhlaskan kepergian suaminya yang sudah mengkhianatinya. Dia memohon, supaya Arabella dan Efendy sadar jika perbuatan mereka itu tidak baik.
" Ya Allah Ya Tuhanku, meskipun dia memang sudah tidak mencintaiku. Maka aku mohon, buatlah dia sadar, jika perlu dia memilih wanita lain selain Arabella. Aku tidak ingin, mereka berbuat dosa lebih banyak dari ini. Ya Allah, aku mohon ampunilah dosaku, dosanya dan dosa kami semua. Aamiin !"
__ADS_1
Wanita paruh baya itu, melepaskan mukenanya. Kemudian, dia mencoba untuk memberitahu Efendy melalui pesan singkat. Supaya, pria itu sadar, wanita cantik yang sangat dicintainya tersebut. Tidak boleh dinikahi, haram hukumnya jika Efendy menikah dengan Arabella.
" Yang penting, aku memberitahu dia dulu. Jika dia tidak bisa melepaskan Arabella, ya sudah terserah dia saja. Aku, hanya mengingatkan saja! "
Di sebrang sana, kondisi Efendy sudah agak baikan. Hari ini, adalah hari ke-dua dia dirawat di Rumah Sakit. Ponselnya bergetar, dan menandakan jika ada pesan masuk dari seseorang. Sehingga, dengan perlahan dia melepaskan diri dari pelukan sang kekasih. Saat dia membukanya, itu adalah pesan singkat dari Kurnia. Seseorang, yang saat ini masih menjadi istrinya. Sebab, mereka belum bercerai secara Hukum.
Semoga kau sadar Mas, Arabella itu mahram kita. Dia, tidak bisa menikah denganmu. Ingat Mas, itu haram. Maaf, aku menghubungi kamu, sebab aku ingin mengingatkanmu saja. Tidak ada maksud lain.
Efendy, segera menghapus pesan singkat dari sang istri dari aplikasi hijau tersebut. Dia, tidak peduli jika dia tidak boleh menikah dengan Arabella. Lalu, dia menikah dengan siapa. Sebab, dia sangat mencintai Arabella dan hampir gila tanpanya .
" Sayang, besok kita pulang ya?" bisik Efendy ditelinga sang kekasih.
Arabella, menggeliat dia menatap wajah pria paruh baya yang masih sangat tampan itu. Dia, tersenyum manis sembari memegang pipi sang kekasih.
" Papa, bukankah ini masih malam ya ? Mengapa terbangun?"
Efendy, menggeleng
" Papa hanya merindukan hubungan intim bersamamu sayang. Rasanya, hambar aku tidak melakukan kegiatan mengasyikkan tersebut!"
" Ih Papa, membuatku malu saja !"
Arabella, akhirnya bangkit dan memeluk tubuh sang kekasih.
" Kita pindah saja Pa, aku tidak ingin tinggal di sini lagi !"
" Baiklah, jika semua masalah kita sudah beres maka kita akan bersiap-siap untuk pindah. Apakah kau sudah memiliki tempat tujuan?"
" Aku, ingin kita pergi ke pedesaan dimana tidak ada yang mengenali kita sama sekali. Bolehkah?"
Efendy, mengangguk kemudian dia memejamkan matanya mencoba untuk menyentuh bibir sang kekasih. Dengan senang hati, wanita cantik itu menyambut bibir kekasihnya, dan menikmati sentuhan lembut kekasihnya tersebut. Hingga Efendy menghentikan ciumannya, Arabella barulah sadar dan mengelap bibirnya yang basah akibat kegiatan mereka.
" Papa masih belum bisa menanam benih di rahimmu. Mungkin, Minggu depan !"
" Baiklah, santai saja Pa. Ya sudah, kita tidur lagi Pa !"
__ADS_1
Efendy mengangguk, dan kini dia berbaring bersama sang kekasih, dia mencium keningnya sebelum pada akhirnya memejamkan matanya kembali.
Bersambung...