Cinta Liam Untuk Kalila

Cinta Liam Untuk Kalila
Chapter 21


__ADS_3

Kurnia, begitu terkejut dengan perkataan sang anak. Dia lantas berdiri, dan menampar pipi wanita cantik yang berada di samping putranya.


" Dasar wanita hina, kamu tidak tahu jika dia sudah memiliki istri? Kamu tidak pernah melihatnya di majalah atau televisi kah ? Lihat, dia Liam Cemal Efendy, seorang ningrat di negeri ini. Tidak mungkin kamu tidak tahu, jika dia sudah beristri. Supermodel cantik, dan termahal Arabella Septiani Subroto "


Liam, meradang saat sang ibu memakai dan berhasil menampar wajah istrinya tersebut.


" Ma, dia tidak salah. Mengapa anda menamparnya ? Dia istriku juga, tolong hargai! "


" Dia Perebut Suami Orang, tidak pantas kamu bela. Tidakkah kamu berpikir bagaimana Arabella hancur karena tindakanmu ini Liam? Menjijikan "


Arabella, dan ayah mertuanya saling pandang. Melihat, Ibu mertua dan istri keduanya sedang membela harga diri Arabella, sebagai istri Liam.


" Asal Mama tahu, suka atau tidak, dia sedang mengandung anakku. Ingat jangan sampai anda menyesal, menantu kesayanganmu ini. Tidak sebaik, seperti yang kau kira . Sayang, ayo kita pulang! "


Entah mengapa, Liam lebih memilih bersama Kalila dibandingkan dengan Arabella. Mungkin, dia sedang panik melihat pipi istri sirinya itu berdarah. Sedangkan, Arabella dan Papa mertuanya, begitu ketakutan. Akan tetapi, mereka mencoba untuk menundukkan wajahnya, supaya tidak terlihat begitu jelas. Arabella, menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya secara tiba-tiba tersebut. Melihat hal itu, Kurnia memeluk tubuh menantu kesayangan tersebut. Dia, meminta maaf padanya, atas perbuatan yang Liam lakukan.


" Sabar Nak, mungkin Liam sedang khilaf. Mama akan selalu bersama kamu, terserah kamu mau menggugat cerai atau mau melanjutkan hubungan kalian! "


Arabella, bergeming dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Yang jelas, dia malu dengan Ibu mertuanya, yang sudah membelanya.


" T... Terimakasih Mama!"


" Sudah seharusnya, Mama membela kamu. Karena, kamu adalah anak baik. Mama, sudah menganggap kamu sebagai anak Mama sendiri!"


" Seandainya Mama tahu kelakuanku, mungkin dia akan kecewa. Maaf Ma, aku sudah sangat mencintai Papa ! " batin Arabella.


Apartemen Kalila...


Liam, sedang mengoleskan obat luka untuk sang istri. Kalila, menahan rasa sakit yang ada pada pipinya. Dia, menggigit bibirnya, agar tidak berteriak.


" Sayang, jika kamu mau menangis maka menangis lah jangan di tahan ya ! "


Setelah Liam mengatakan hal tersebut, Kalila meluapkan rasa sedihnya. Wanita itu, menangis sejadi-jadinya. Liam, segera memeluk tubuh sang istri.


" Menangislah, maafkan Mas yang gagal membelamu Sayang ! "

__ADS_1


Kalila, mengeratkan pelukannya, Liam mengusap lembut punggung sang istri.


" Susah ya, Mas ada di sampingmu. Kedepannya mungkin saja, Mama akan luluh. Kamu, do'akan Mama ya. Semoga, Mama bisa menerima kamu sebagai menantunya! "


" Mas, aku mau cerai saja!"


" Susah kubilang berkali-kali, jangan pernah mengatakan tentang perceraian. Sabar sedikit, nanti kita akan menikah secara Hukum. Please Sayang, mengertilah! "


Kalila, menggeleng


" Tetap saja, Mas keluarga kamu hanya menginginkan Nona Arabella sebagai menantunya. Aku, wanita yang hanya ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku. Tapi, suamiku ini, sudah memiliki istri sebelumnya, jadi sebagai wanita aku ingin mengalah saja. Karena, memang tidak ada cinta diantara kita. Aku mohon Mas, lepaskan aku! "


Liam, menatap nanar wajah sang istri.


" Pikirkan baik-baik, masalah anak ini. Biarkanlah aku yang mengurusnya. Aku, akan memberitahu Mas, ketika anak kita lahir ! "


" Sepertinya, kamu terlalu banyak pikiran. Tidurlah, istirahat yang cukup. Supaya, pikiranmu segar kembali! "


Liam, membaringkan tubuh sang istri. Dia, kemudian melepaskan jilbab sang istri dan mengecup keningnya. Setelah itu, dia menyelimuti tubuh istrinya.


Liam, meradang


" Bisa tidak kamu menurut Kal, Mas pusing mendengar perkataan kamu! "


Dengan nada tinggi, Liam membentak sang istri. Dan, Kalila menangis karenanya, jujur saja wanita muda itu tidak suka di bentak. Sehingga, dia hanya bisa menangis saat suaminya tersebut membentaknya.


" Mas kan bilang, sabar . Tapi apa, kamu tuh selalu saja tidak mendengar perkataan Mas! "


" Aku hanya tidak ingin, di sebut penggoda. Kita menikah, karena keterpaksaan bukan. Lantas mengapa Mas, tidak mau melepaskan aku ? "


" DIAM, dan tidurlah! "


Liam, yang kesal melemparkan ponsel a*le miliknya. Tidak hanya itu, Liam juga melemparkan hair dryer yang beberapa waktu lalu, dia beli untuk sang istri . Membuat, Kalila ketakutan karenanya. Air matanya, semakin deras keluar dari pelupuk matanya. Dia, mencoba bangkit, dan memeluk tubuh suaminya.


" Mas, Maaf tolong jangan begini. Iya, Kalila tidak akan meminta cerai. Tolong, maafkan Kalila ! "

__ADS_1


Pria tampan nan brewok itu, membalas pelukan sang istri. Kemudian, Kalila mengambilkan air minum untuk suaminya. Sementara itu, Liam duduk di ranjang sembari memijat pelipisnya.


" Mas, minum dulu! "


Liam, meminum air putih yang barusan dibawakan oleh Kalila untuknya. Kemudian, Liam meminta Kalila duduk di atas pangkuannya. Kalila yang paham segera duduk dipangkuan suaminya. Dia tahu, jika suaminya akan tenang kembali mereka berciuman. Lalu, keduanya menyudahi kegiatan mereka. Liam, sudah sedikit tenang, pria itu kemudian meminta Kalila untuk tidur di ranjang. Karena, hari mulai malam, dan mereka sudah seharusnya untuk istirahat.


" Sayang, kita tidur ya. Sudah sangat larut! "


Kalila, mengiyakan ajakan suaminya. Kemudian, keduanya berganti pakaian dan berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil. Liam, yang tadinya akan lembur mengurungkan niatnya, karena hari ini benar-benar melelahkan. Pria itu, sebelum tidur, dia mengusap lembut perut sang istri yang masih belum membesar tersebut. Dia kemudian meminta maaf pada anaknya, sebab sudah memarahi dan bertengkar dengan ibu dari anaknya tersebut. Kalila, yang melihat tindakan sang suami, dia mengusap lembut puncak kepala suaminya. Tidak lama setelah itu, Liam selesai berbicara dengan calon anaknya, dia kemudian mencium perut Kalila.


" Sudah selesai, mari kita tidur! "


" Baca doa dulu Mas ! "


" Iya, Maaf sayang! "


Mereka segera memejamkan matanya dan mulai tertidur. Pada saat pukul 01.00 Liam terbangun dari tidurnya, dia sungguh gelisah. Dia yang ketakutan setengah mati, membangunkan sang istri. Entah mengapa dia menjadi manja seperti itu. Padahal, Liam bukanlah orang yang selalu mengandalkan orang lain. Selagi dia mampu dan bisa sendiri, dia pasti akan melakukannya.


" Mas, Kamu kenapa? "


Liam, memeluk tubuh istrinya. Dia, menangis ketakutan, entah karena apa.


" Kamu, mimpi buruk ya ? "


Liam, mengangguk kemudian membenamkan wajahnya pada leher istri mudanya tersebut.


" Sudah, semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis, Kalila ada di samping Mas


. Tidak kemana-mana kok! "


Sembari gemetaran, Liam berbisik pada telinga Kalila dia berucap " Terimakasih sayang, kamu adalah obatku! "


" Jangan berlebihan Mas, istighfar. Mendingan, kita wudhu dan shalat dulu ya. Supaya, kita lebih tenang oke ! "


Bagaikan anak kecil, Liam akhirnya menuruti keinginan sang istri. Dia, mengucapkan terimakasih pada istrinya, setelahnya mereka segera menyucikan diri kembali. Dan beribadah shalat malam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2