Cinta Liam Untuk Kalila

Cinta Liam Untuk Kalila
Chapter 20


__ADS_3

Hari berganti hari, kini Subroto dan sang istri, masih berada di Mansion baru mereka. Yang baru mereka tinggali, beberapa hari ini. Padahal, mereka sudah membeli mansion, sudah sedari dulu sekitar 5 Tahun yang lalu.


" Apa yang harus kita lakukan Tuan ? "


" Untuk saat ini, kita tunggu dulu apa yang ingin mereka lakukan. Karena, ini masih bisa ditolerir, tapi jika sudah tidak bisa lagi. Aku pastikan, mereka akan menyesal ! "


" Baik Tuan ! "


" Ayah, bukannya Ibu ikut campur, kita sudah 15 tahun tidak bekerja di perusahaan. Bagaimana bisa kita masuk ke perusahaan lagi ? "


" Santai saja Sayang, Ayah pasti akan membuat perusahaan kita kembali bangkit. Dan, mengusir manusia-manusia serakah itu! "


" Baiklah, semoga berhasil ya Ayah ! "


" Aamiin! "


" Tuan dan Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu! "


" Baik, terimakasih Dahlan! "


" Sama-sama Tuan ! "


Kalila, dan Liam masih menikmati liburan mereka di Chengdu ini. Mereka mengunjungi pondok Du Fu. Yaitu, pondok yang dulunya menjadi tempat tinggal dari sastrawan terhebat yang pernah dimiliki oleh negara China. Beliau memutuskan untuk tinggal di Chengdu dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Dan, untuk mengenangnya pemerintah mengubah rumahnya, menjadi sebuah objek wisata. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 waktu setempat. Liam, dan juga Kalila segera kembali ke apartemen yang mereka sewa.


" Istirahat dulu, setelah ini kita akan ke alun-alun kota Tianfu Square. Di sana sangat indah sayang, jadi kita istirahat dulu ya ! "


" Oke, siap Mas ! "


Liam, tertawa saat melihat istrinya hormat ala-ala tentara padanya .


" Ya ampun, sungguh menggemaskan! " batin Liam.


Kalila, yang kelelahan segera merebahkan tubuhnya, tentunya setelah melepas jilbabnya. Liam, bergabung dengan sang istri, dia memeluk tubuh wanita cantik itu. Dia jadi teringat perkataan dari asisten pribadinya, saat dia dan Kalila baru saja menyewa sebuah apartemen.


" Pak Liam, tidak tahu saja. Yang menyukai nona Kalila sangat banyak, kemarin saja saat membeli sayuran Nona di kagumi oleh seorang pria tampan. Saya sarankan, anda tidak boleh menceraikan Nona Kalila. Jika anda tidak ingin menyesal! "


Liam, mengecup puncak kepala sang istri. Lalu, dia, membenamkan kepalanya pada ceruk leher istri mudanya, dan tertidur manis.


" Walaupun aku tidak mencintaimu, tapi aku tidak akan rela jika kamu mengkhianati aku, Kal . Aku harap, kau memang berbeda dari Arabella, yang sudah berkhianat padaku ! " batin Liam.


Arabella, saat ini masih berada di kediaman Hilman. Pria itu, saat ini sedang berada di kantornya. Membuat, Arabella kesepian, selain itu dia juga sedang menunggu kabar dari ayah mertuanya yang sangat dicintainya tersebut. Wanita itu, sedari tadi mondar-mandir tidak tentu. Rasanya, dia begitu kesal dengan sikap dan perilaku kedua kekasih gelapnya tersebut. Ditambah, sang suami tidak pernah menghubunginya, selama perjalanan bisnis ke luar negeri.


" Ada apa dengan ketiga pria ini ? Mengapa mereka menyebalkan sekali. Aku disini kesepian, tidak bisakah mereka memperhatikan aku ?" ujarnya kesal.


Bel pintu berbunyi, Arabella memanggil asisten rumah tangga untuk membukakan pintu. Tidak berselang lama, Hilman datang dan dia begitu bahagia dengan kehadiran pria itu. Sehingga, dia berlari dan memeluk tubuh sang kekasih. Hilman, menggendongnya dan memutar tubuhnya, seperti anak kecil.


" Sayang, maafkan Mas ya. Tadi, ada meeting dadakan, sehingga Mas tidak bisa pulang cepat!"

__ADS_1


" Baiklah, tidak apa-apa kok Mas. Bagaimana, meeting nya lancar?"


" Ya, begitulah!"


Hilman, memeluk tubuh sang kekasih kemudian dia membawa Arabella untuk duduk di sofa panjang ruang tersebut.


" Sudah lama sekali, kita tidak mengobrol!"


" Benar sekali, kalau begitu mari kita mengobrol !"


Liam dan Kalila saat ini sedang membeli cemilan sore. Karena, keduanya memang suka sekali makan, sehingga mudah sekali lapar. Kalila, dan Arabella sungguh berbeda, jika Arabella makan hanya sedikit karena takut gemuk. Berbeda dengan Kalila, yang begitu suka makan, tetapi yang mengherankan adalah Kalila, susah gemuk. Keduanya, membeli jajanan khas Cina. Mereka, membeli dua mangkuk La Mien rasa ayam. Untuk mengganjal perut mereka, yang sedang lapar tersebut. Juga, mereka membeli, teh cincau untuk menyegarkan dahaga.


" Kamu jangan terlalu banyak memakan makanan, seperti ini sayang ! "


" Iya Mas, Kalila paham kok ! "


" Untuk saat ini, tidak apa-apa. Selanjutnya, kamu harus jaga pola makan ya ! "


Kalila, mengangguk paham. Liam, yang gemas dengan sang istri, akhirnya mengusap lembut puncak kepala istrinya yang dibalut dengan kerudungnya tersebut. Setelah makan keduanya berjalan-jalan di sekitar masjid Hoang Cheng . Sembari menunggu adzan magrib. Kemudian, keduanya shalat di masjid tersebut. Begitu selesai, keduanya jalan-jalan kembali, dan setelah lelah kembali ke apartemen yang mereka sewa.


" Mas, setelah shalat isya. Kita, tidur ya, capek ! "


" Iya Sayang ! "


Lalu, Keduanya shalat berjamaah, dan setelahnya membersihkan diri kemudian beristirahat.


" Mas, memangnya benar keadaan kita masih belum bisa dipulihkan?"


" Aku tidak tahu, Dik . Mereka bilang, harus ada bukti dan surat-surat kematian Kakak. Kalau tidak, maka aku tidak akan bisa menjadi pemimpin perusahaan! "


" Aih, bukankah Kakakmu sudah mati 15 tahun yang lalu? "


Pasangan suami istri itu, sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa menjadi pemimpin perusahaan seutuhnya. Selama ini, Hadi hanya bisa, memimpin sementara bukan pemimpin sesungguhnya. Dia, tidak berhak atas perusahaan, karena dia tidak bisa membuktikan kebenaran tentang kematian Kakak kandungnya.


" Ini sungguh kelewatan, aku tidak bisa mengambil uang banyak dari perusahaan. Mereka, hanya memberikan gaji pada kita perbulannya, sungguh menyebalkan! "


" Sudahlah, aku pusing. Sebaiknya, kita harus segera pergi ke pihak asuransi. Supaya, uang tunjangan kematian Kakak ipar, bisa segera kita miliki! "


" Kau benar sayang, besok mari kita pergi!"


" Mama dan Papa, sungguh orang yang sangat serakah Astaghfirullah'aladzim! "


Pemuda itu, segera pergi menjauh dari tempat ayah dan ibunya yang sedang berdiskusi tersebut.


Tidak terasa, Liam dan juga Kalila kembali ke Indonesia. Di sepanjang perjalanan, Liam begitu perhatian terhadap istrinya. Dia, menggenggam erat tangan sang istri.


" Joe, kita ke rumah Mama dan Papa ! "

__ADS_1


" Baik Pak Liam! "


Liam, mengangguk


" Mas, aku takut! "


" Sayang, kamu tidak ingin kan pernikahan kita ini disembunyikan? Jadi, tolong jangan membuatku ragu ! "


Kalila, mengangguk paham. Akan tetapi, wanita cantik itu menggigit bibirnya.


" Ayo masuk, Joe sudah lama menunggu kita ! "


Kalila mengangguk, dan menuruti perintah Suaminya. Dalam perjalanan, Kalila terus-terusan berdoa, agar tidak terjadi apa-apa.


" Kita, sudah sampai Pak Liam, Nona Kalila! "


" Baik, terimakasih Joe! "


Liam, dan Kalila turun dari mobil. Keduanya, bergandengan tangan dengan mesra. Pria itu, segera menuntun sang istri untuk masuk, ke mansion megah di bilangan Jakarta Pusat tersebut.


" Selamat Siang Tuan Muda! "


Liam, mengangguk


" Papa, dan Mama kemana ? "


" Keduanya, berada di ruang keluarga. Kebetulan, Nona Arabella sedang berada di sini. Tuan Muda, maaf jika saya lancang. Akan tetapi, siapakah gadis yang sedang anda gandeng tersebut? "


" Nanti kau akan tahu, kalau begitu aku permisi! "


" Ah maafkan kelancangan saya. Baik, kalau begitu saya pamit dulu! "


Liam, segera membawa Kalila, memasuki ruang keluarga. Sementara itu, Kalila begitu ketakutan setengah mati, jika dia akan berhadapan dengan istri, dan kedua orang tua suaminya.


" Sayang, santai saja Mas ada di sampingmu! "


Kalila, hanya bisa mengangguk pasrah .


" Assalamualaikum! " ujar Liam.


" Wa'alaikumusallam! " jawab ketiga orang disana.


" Liam kamu pulang Nak? Tunggu siapa dia ? "


" Dia, Istriku Kalila ! "


" APA? "

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2