
Liam dan Kalila, sedang berada di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding . Mereka, melihat panda yang lucu-lucu dan menggemaskan. Kalila, begitu bahagia bisa melihat langsung hewan favoritnya. Kalila, meminta Liam untuk memotret panda-panda lucu tersebut. Supaya, bisa menjadi kenangan untuk mereka di kemudian hari. Dengan senang hati, Liam memotret panda-panda lucu tersebut. Juga, Liam tidak lupa untuk berphoto bersama sang istri. Keduanya terlihat begitu bahagia, Liam seolah lupa jika dia memiliki istri sah yaitu Arabella. Sungguh, dia tidak memikirkan Arabella lagi, karena dia sedang berlibur bersama istri mudanya. Liam, mengecup kening sang istri mengusapnya sayang. Sementara itu, Kalila tersenyum manis saat merasakan sentuhan lembut tangan suaminya.
" Apakah kamu bahagia? "
" Ya, aku sangat bahagia. Terimakasih ya Mas ! "
Liam mengangguk, kemudian pria itu berbisik pada telinga sang istri: " Sama-sama sayang ! "
Siang berganti malam, kini Liam dan istrinya makan malam bersama di Restoran Chengdu Tinfanglou, yang dekat dengan Hilton Garden Inn Chengdu Kuanzhai Alley. Kira-kira, sekitar 25 menitan dari Hotel mereka menginap. Di restoran ini, menyediakan makanan halal, sehingga Liam mengajak sang istri untuk pergi ke sini. Begitu juga, dengan Joe dan istrinya. Berbeda dengan Joe yang besok akan pulang ke Jakarta, Liam masih mau berlibur dengan Kalila, sekitar 2 Minggu lagi di China ini.
" Masih ada 13 hari lagi, kita harus bersenang-senang di sini Sayang ! "
Kalila, mengangguk.
" Aku bahagia sekali, bisa menjadi istri Mas! "
" Walaupun hanya istri siri! " batin Kalila.
" Kamu kan enggak suka daging sapi nih. Mas kasih daging ayam aja ya ?"
Kalila, mengangguk dia kemudian Liam dengan senang hati menyuapi sang istri.
" Mas, Kalila bisa makan sendiri Kamu makanlah, Mas juga lapar kan ?"
" Baiklah, Mas akan menuruti maumu sayang!"
Hari ini, di kantor perusahaan K.R Group Jakarta Pusat, Efendy, dan bawahannya sedang membicarakan tentang pembunuhan yang dilakukan oleh bawahannya pada Farel, alias kaki tangan Liam.
" Jadi, Liam sedang mencari informasi mengenai siapakah yang membunuh orang suruhannya? "
" Benar Tuan! "
Efendy, menghela napasnya kasar.
" Sialan, anak itu mudah sekali mendapatkan informasi tentang suruhannya!"
" Tuan Besar, anda tidak tahu saja dia lebih hebat daripada anda !"
" Robert, apa yang sedang kau pikirkan?"
Robert, alias orang kepercayaannya, menggeleng.
" Saya masih ada pekerjaan Tuan, saya permisi!"
Efendy, mengangguk mengiyakan.
" Aneh, ada apa dengannya? " ujar Efendy
__ADS_1
Arabella, sedang berada di lobby perusahaan. Dia, dengan percaya dirinya menuju lift. Di sisi lain, seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, memasuki lift khusus Direktur utama. Setelah sampai di tempat tujuan, wanita paruh baya itu segera mengetuk pintu ruang kerja sang suami. Di sambut dengan baik oleh suaminya, dia mencium pipi kanan dan kiri sang istri serta kening dan bibirnya. Sementara itu, Arabella, begitu bahagia dia akan bertemu dengan sang kekasih. Saat hendak membuka pintu ruang kerjanya, dia mendengar suara seorang wanita yang merupakan ibu mertuanya.
" Mama? Bukankah Papa bilang jika Ibu mertua pulang besok ya ? Mengapa dia datang kemari?" batin Arabella.
" Nona Arabella!"
Arabella menoleh, ketika ada yang menepuk pundaknya
" R... Robert?"
" Jangan menguping pembicaraan mereka, tidak sopan. Saya tahu, anda selingkuhannya Ayah mertua Anda kan ? Jadi, tolong jangan menampakkan diri anda di hadapan Nyonya besar!"
Arabella mengangguk, dia benar-benar malu sekaligus sakit hati mendengar perkataan Robert. Bisa-bisanya, ayah mertua alias kekasih gelapnya itu tidak memberitahunya tentang kepulangan ibu mertuanya yang begitu tiba-tiba tersebut. Wanita muda itu memegangi dadanya yang terasa sakit tersebut, dia mencoba menahan rasa sedihnya.
" Tidak akan aku biarkan, wanita tua itu terus memenuhi otak kekasihku. Lihat saja nanti, tidak hanya kau yang akan menderita ibu Kurnia. Tapi, anakmu juga akan aku buat kalian sengsara. Yang pantas menjadi pewaris, adalah anakku kelak !" batin Arabella.
Wanita cantik dan seksi itu, membalikan tubuhnya dan segera meninggalkan tempat tersebut. Tanpa disadari olehnya, seorang pria tampan tersenyum penuh misteri, sembari memotretnya.
Liam dan Kalila, sudah berganti pakaian dengan piyama. Setelah shalat isya, dan witir keduanya memutuskan untuk tidur.
" Mas, elus perutku dong ,!"
Liam mengerutkan keningnya,
" Baiklah, sini ! "
Dengan senang hati, Liam mengusap-usap perut sang istri yang masih rata tersebut.
" Iya, apa mungkin anak kita perempuan ya ? Soalnya, sejak pertama kali dokter bilang kamu hamil kamu jadi sering dandan loh Sayang !"
" Apa Mas keberatan, jika anak kita perempuan?"
Liam, menggeleng
" Apapun jenis kelaminnya, Mas tidak keberatan. Mas, akan menjaga dan merawatnya penuh dengan kasih sayang !"
" Masyaallah, terimakasih Mas ! "
Liam mengangguk, dia kemudian mencium perut datar sang istri. Sehingga, membuat Kalila tersenyum bahagia, tanpa sadar Kalila mengusap lembut puncak kepala sang suami.
" Sudah Mas, terimakasih ya!"
" Sama-sama, kalau begitu tidurlah!"
Kalila, mengangguk mengiyakan, dia memeluk tubuh sang suami, begitupun Liam membalas pelukannya.
Berbeda dengan Kalila dan Liam, Joe dan sang istri sedang repot menyiapkan kepulangan mereka ke Indonesia.
__ADS_1
" Mas, Bos Liam baik banget ya. Aku diperbolehkan ikut bersamamu, ke negeri Cina ini !"
" Tentu sayang, beliau memang sangat royal. Tidak hanya padaku, tapi karyawan lain juga. Hanya saja, pada Mas beliau menganggap aku sebagai adiknya. Usia Mas dan beliau, hanya selisih 2 tahun !"
" Iya, beliau baik sekali. Juga, aku senang istri sirinya begitu baik tidak seperti Nona Arabella! "
" Tentu, mereka sangat jauh berbeda. Nona Arabella begitu angkuh, tidak seperti Nona Kalila yang sangat baik, dan anggun dengan balutan busana muslimnya!"
" Benar ya, masyaallah!"
Keesokan harinya, Liam dan Kalila mengantar kepulangan Joe, dan istrinya.
" Jangan lupa kabari aku, jika sudah sampai di Indonesia!"
" Baik Pak Liam, terimakasih!"
" Sudahlah, kau segera ke bandara takutnya kau ketinggalan pesawat bagaimana?"
" Iya Pak Liam, kalau begitu saya dan istri pamit pulang ya !"
Liam, mengangguk sementara itu Kalila, memeluk tubuh istri Joe.
" Hati-hati di jalan ya Mbak, sampai jumpa !" ujar Kalila
Istri Joe, mengangguk mengiyakan.
" Ayo, mereka sudah akan pergi !"
Liam, menghampiri sang istri dan segera berpamitan pada Joe dan istrinya. Pria tampan brewok itu, melambaikan tangannya. Joe dan istrinya, segera memasuki taksi, dan melambaikan tangannya.
" Mereka sudah pergi. Kita beli kosmetik dan pakaian untuk kamu, kan kamu suka dandan ?"
Kalila, menggeleng.
" Aku, sekarang mau makan aja Mas. Sama, mau beli sepatu olahraga boleh ?"
Liam, mengerjakan matanya
" Loh kok sepatu?"
" Iya, aku mau sepatu futsal boleh kan ?"
" Yang benar saja Sayang, itu untuk lelaki!"
" Iya, nanti Mas pakai ya !"
Liam hanya bisa menghela napasnya kasar, istrinya ini begitu sulit untuk dimengerti.
__ADS_1
" Wanita hamil memang sulit ditebak !" batin Liam.
Bersambung