
Kurnia, Liam, dan juga Kalila kini berada di rumah Titin, ibu Kurnia. Wanita yang sudah sepuh itu, merasa prihatin dengan keadaan rumah tangga anak kandungnya tersebut. Dia, merasa sakit hati karena, Efendy mengkhianati cinta Kurnia. Dan, lebih parahnya lagi, pria itu berselingkuh dengan cucu menantu kesayangannya. Tidak hanya itu, Titin juga dikejutkan dengan pernikahan siri cucunya dengan wanita muda.
" Begitu banyak kejutan hari ini, untungnya ibu masih kuat Nak!"
" Maafkan aku Ibu, aku sungguh malu bertemu denganmu lagi!"
" Untuk apa kau malu, kau ini anakku. Jangan pernah berkata demikian, aku bisa marah!"
" Maaf Bu!"
Titin, mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Kurnia, menjelaskan pada ibunya jikalau Waluyo bukanlah paman dari Arabella, melainkan ayah kandung Arabella. Dan sesungguhnya, Arabella bukanlah anak kandung dari Subroto, dan juga Norma. Justru wanita muda yang berada di samping Liam lah merupakan anak kandung dari Subroto dan juga Norma. Mendengar perkataan tersebut, tentu saja Tintin benar-benar kesal dan ingin menghajar cucu menantunya tersebut.
" Mengapa kalian berdua tidak ada yang berani bertindak? Ini sudah keterlaluan, pertama dia berbohong pada kita mengenai identitasnya. Dan yang Ke-dua, dia sudah menggoda orang yang paling kalian cintai!"
" Apa gunanya Bu? Aku malas ribut. Jadi, aku menggugatnya untuk bercerai. Bulan depan, itulah sidang perceraian kami !"
" Baiklah, itu keputusan yang tepat. Maafkan ibu, sudah tidak ada kuasa lagi untuk memberinya pelajaran !"
" Tidak apa-apa Nek, Saya sudah memberi mereka sedikit pelajaran!"
" Apa itu ?" tanya Ibu dan Nenek Liam bersamaan.
" Video tentang keduanya sudah berada di tanganku. Jika keduanya macam-macam, maka saya tidak akan tinggal diam. Dan lagi, Minggu depan adalah pergantian pemimpin perusahaan K. R Group!"
" Bagus Cucuku, nenek akan menghadiri acara pergantian pemimpin perusahaan. Kau memang hebat, dan bisa diandalkan. Benar-benar anak yang berbakti pada Ibunya!"
" Tentu, saja saya begini karena sangat menyayangi Mama !"
" Anak ini, bisa saja ya menghiburku?"
" Kau beruntung Kurnia, Liam sangat amat mencintai kamu. Berbeda sekali denganmu dulu, kau sangat mencintai pria itu. Hingga, kau rela hidup sengsara karena saking bodohnya. Sekarang, lihatlah kau justru merengek dan bersimpuh di kakiku. Tapi, yang namanya orang tua, dia akan selalu memaafkan anaknya apapun yang terjadi!"
" Maaf Bu, sungguh aku malu !"
Saat Kurnia, hendak bersimpuh di kaki ibunya, Titin melarangnya.
" Bangunlah Nak, Ibu sudah memaafkan kamu. Tolong jangan dibahas lagi, saat ini yang lebih penting adalah mengembalikan suasana hatimu yang sudah terluka karena pria itu. Ibu ingin ,kamu bahagia dalam menjalani kehidupan ini, meskipun tanpa adanya seorang suami !"
Kurnia, mengangguk dia memeluk tubuh ibunya. Sementara itu, Liam dan Kalila saling beradu pandang. Mereka, tersenyum bahagia melihat momen kebahagiaan itu.
__ADS_1
Efendy, Siang ini akan menemui kekasihnya, Arabella. Dia, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa diduga olehnya, dari arah depan sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang tinggi. Alhasil, dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, dengan terpaksa Efendy membanting setir mobilnya ke sebelah kiri. Suara benturan mobilnya, begitu terdengar membuat para pengguna jalan histeris mendapati kejadian tersebut. Mereka hanya diam saja tiada yang mau menolong. Padahal, dia selamat dari maut. Dia keluar dari mobil, tetapi pandangannya menjadi kabur, dan akhirnya beberapa menit kemudian, pria paruh baya itu jatuh pingsan.
Kurnia, dihubungi oleh pihak rumah sakit, jika suaminya saat ini sedang berada di IGD RS Fatmawati. Kurnia, meminta bantuan Liam untuk mengantarnya ke rumah sakit tersebut. Setelah perjalanan selama kurang lebih 31 menitan dari Danar Residence ke rumah sakit Fatmawati.
" Ma, kita sudah sampai!"
Kurnia, mengangguk dia dengan tergesa berlari menuju resepsionis rumah sakit .
" Di instalasi gawat darurat? "
" Iya atas nama Efendy!"
" Ah iya, sudah dipindahkan ke VIP room!"
" Loh, kok bisa ? "
" Itu, saya tidak tahu sebab dokter lebih mengerti dibandingkan saya !"
" Baik, terima kasih!"
" Sama-sama Bu !"
Kurnia, menggenggam erat tangan putra semata wayangnya tersebut. Sementara itu, Liam masih mengkhawatirkan Kalila, yang saat ini masih tidur siang .
" Nak, jangan khawatir tentang Kalila. Nenekmu, akan memberitahunya!"
" Baik Ma!"
Di ruang VIP tersebut, ternyata dokternya adalah sahabat Kurnia dulu. Dan, dia mengenal dengan jelas Efendy, suami dari wanita itu.
" Lukman, bagaimana keadaan Efendy?"
Lukman, mengerutkan keningnya. Dia, heran mengapa Kurnia memanggil suaminya dengan sebutan yang berbeda daripada sebelumnya.
" Iya, Nia. Jadi, Efendy baik-baik saja kok. Dia, hanya syok saja, dan sedikit terluka di bagian lutut dan wajahnya!"
" Ah syukurlah, kalau begitu terima kasih ya. Nak, kita pulang dia baik-baik saja. Hubungi Arabella, biarkan dia merawat pria tua itu!"
Mendengar perkataan Kurnia, Lukman semakin dibuat kesulitan. Sungguh, dia ingin menanyakannya pada Kurnia. Tapi, apalah daya, itu adalah sebuah urusan pribadi.
__ADS_1
" Sebenarnya, ada apa dengan Nia dan Efendy? Bukankah dia sangat mencintai pria itu, sampai-sampai dulu menolak permintaan kedua orang tuaku untuk menikah, aih sudahlah. Itu sudah sangat lama, akupun kini sudah bahagia dengan kehidupanku!" batin Lukman.
" Nak, sudah memberitahu Arabella?"
" Sudah, mungkin dia sedang dalam perjalanan kemari !"
" Kita pulang saja, Mama tidak sanggup harus melihat wajah wanita sundal itu !"
" Baik Ma, yang sabar ya. Ini merupakan ujian dari Allah Ta'ala untuk Mama dan aku. Papa memang jahat, dulu aku sangat menghormatinya tapi kini, aku benar-benar kecewa padanya !"
" Sudahlah, kita pulang dan tenangkan pikiran kita!"
Kurnia, menggenggam erat tangan putranya tersebut. Dia, berusaha menguatkan putra semata wayangnya itu.
Sementara itu, Arabella begitu panik mendengar kabar tentang kekasihnya yang saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit. Dia, segera berlari menuju resepsionis, dan menanyakan tentang keberadaan Efendy. Setelah mendapatkan informasi mengenai kamar rawat Prianya . Wanita cantik itu, segera masuk ke dalam kamar rawat inap tersebut. Efendy, menatap nanar wajah kekasihnya itu. Dia, masih belum bisa bergerak, hanya bisa menyapa Arabella dengan suara khasnya.
" Papa, bagaimana bisa seperti ini?"
" Ceritanya panjang, sayang!" ujar Efendy sembari menggenggam erat tangan Arabella.
" Padahal aku sudah menunggumu, dan memakai pakaian yang seksi. Kau tahu, aku sampai tidak memakai pakaian dalam loh kemari!"
Efendy, mencium punggung tangan sang kekasih.
" Tidak apa-apa sayang, aku senang kau mendengarnya. Terima kasih, sudah mau menjengukku!"
" Sama-sama Pa, kau itu kan kekasihku. Sebagai kekasih yang baik, aku akan selalu menemanimu !"
Lagi, dan lagi Efendy mencium punggung tangan kekasihnya.
" Aku merasa tersanjung, dan aku sangat bahagia!"
" Aku juga, sepertinya akan memerlukan waktu yang lama untuk kita bisa melakukan hubungan intim lagi?"
" Iya, Sayang. Sabar ya, setelah Papa sembuh, kita akan segera berusaha untuk membuat anak!"
" Pria tua ini, tetaplah nakal meskipun dia sudah seperti ini. Tapi tidak apa-apa, aku sangat mencintai dia!" batin Arabella.
Bersambung
__ADS_1