
waktu berlalu begitu cepat tamu yg datang dari jauh sudah kembali ke rumahnya karna sudah hampir seminggu weni menginap di rumah bosku..
suansana rumah sudah kembali seperti biasa aku pun kembali dengan aktifitas rutinku hari ini sepertinya bosku pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan dapur
"nami ibu pergi dulu ya! kamu di rumah sama edward" sambil memakai sendal menuju luar bosku memberi tugas untukku
"iya bu" sahutku sampai bosku menaiki taxi yg di pesannya
aku kembali ke ruang tv di mana edward sedang asyik main PS memang setiap hari edward dari pagi sampe malam main PS terus sehingga kulit tubuhnya menjadi putih pucat karna jarang kena sinar matahari
aku duduk di samping edward dan mengamati game di mainkannya
"teh mau roti donk" ucap edward tanpa menoleh ke arahku
"iya mau pake selai apa" tanyaku sebelum membuatkan roti untuknya
"pengen selai kacang teh" jawabnya lagi
aku langsung menuju meja makan yg terletak tepat di belakang kami menonton
tv ku buatka roti dan memotong kecil2 agar mudah masuk ke dalam mulut kecil edward
aku kembali duduk di samping edward dan menyuapinya
tak terasa berapa jam aku menemani edward di depan tv waktu begitu cepat
"edward teh nami mau angkat jemuran dulu ya" ijin ku sambil beranjak dari duduk
"iya teh nanti ke sini lagi ya" jawabnya tanpa ekpresi terus menatap layar tv
aku menuju ke belakang mengangkat pakaian dan aku menemukan sesuatu
"eh ada belimbing mateng! ambil ah buay ngerujak" gumamku dalam hati, aku mengambil belimbing yg sudah mateng dari pohonya yg tepat berada di halaman belakang rumah
"nami..." bosku memanggil dengan teriak
"iya bu..." aku berlari menghampiri dan menaruh belimbing di washtapel
"ini bawain belanjaan ke dalem" bosku yg masih berada di luar gerbang
"iya bu" aku membawa keranjang sayuran yg lumayan berat dengan kedua tanganku ke dapur
"rapihin ya semuanya" ucap bosku dan bergegas menghampiri edward yg dari bosku belanja samapai pulang masih di posisi yg sama di depan tv
"iya bu" sahutku sambil terduduk mengeluarkan semua yg ada dalam keranjang dan bos ku membeli pisau baru
"wah ada pisau baru nih mau pake ah buat ngupas belimbing" gumamku
__ADS_1
belum aku merapihkan isi keranjang aku langsung berdiri tepat washtapel sambil memegang pisau baru hendak mengupas belimbing ku ambil dari halaman belakang
aku memegang belimbing di tangan kiriku dan aku meluncurkan pisau baru itu dan tiba2
"aw..." aku sedikit menjerit dan mengipas2kan jari tangan kiriku sehingga darah bercecer aku panik dan langsung mengelap darah yg bercecer di dinding washtapel
"nami kamu kenapa" tanya bosku sedikit terbelalak matanya melihat darah di tangan kiriku
"nami kena pisau bu" sambil menunjukan ke 3 jari tangan ku ke arahnya
"ya ampun sampe gitu kamu tunggu di samping rumah tangan kamu jangan di ke bawahin ya posisi jari kamu di atas" sahutnya dalam kepanikan bosku menuju kotak P3K untuk mengambil alkohol agar darah dari jari tanganku berhenti mengalir
"mana tangan mu sini biar ibu pakein alkohol ini" dengan wajah penuh kawatir bosku menyiram tanpa melihatku yg meringis kesakitan
selesai memakai alkohol aku pun menepel plester di ke 3 jariku tepatnya di jari telunjuk, tengah dan jari manisku
tapi darah masih saja mengalir sehingga membuat wajahku pucat
"aduh nami ini darahnya masih ngalir gimana ini" dengan panik bosku bertanya aku hanya terdiam menahan sakit, dengan cepat bosku memanggil ibuku datang
"kamu lagi ngapain nami samoe kaya gini" tanya ibuku sambil melihat jari tangan ku
"ngulas belimbing bu pake pisau baru" jawabku lirih menahan sakit
"udah teh saya bawa nami ke RS aja ini darahnya ga berenti, liat muka si nami udah pucat" usul bosku ke pada ibuku
"saya titip edward ya" masih dalam penuh kepanikan
bosku membawa ku ke salah satu RS kota itu aku di bawa ke ruang UGD dan di baringkan di tempat tidur di ruangan itu aku hanya meringis menahan sakit tapi tidak menangis
"ini kejepit pintu bukan" dokter bertanya sambil membersihkan luka di tanganku
"bukan" sambil menggelengkan kepalaku
"ini harus di jahit" ucap dokter tersebut
dengan sigap menjahit luka jari tanganku aku ga tau aku di beri obat bius atau engga yg ku rasakan saat di jahit begitu perih menyayat2 jari2ku sampe aku meneteskan air mata di ujung mataku
bosku menunggu di luar hanya aku yg berada di dalam ruang UGD dan pasien lainnya tak lama selesai dan aku masih tersadar untuk duduk dan melihat ke tiga jariku di perban aku turun dari kasur dan menghampiri bosku
"udah kan" tanya bosku sambil melihat ku dengan senyum tak ada lagi kepanikan di wajahnya
"iya udah bu" sambil menunjukan jari ku yg di perban
"ayo pulang ibu udah tebus obatnya, dan luka kamu jangan sampe kena air dulu ya" bosku meberi tahuku sambil kita berjalan menuju taxi
"iya bu" jawabku
__ADS_1
"tapi gimana aku ngerjain kerjaan rumah kalo tanganku ga boleh kena air" gumamku dalam hati
suasana dalam taxi aku masih ga percaya
mengalami kejadian seperti ini dan harus di jahit pula
"nami abis dari RS kamu langsungbpulang istirahat aja ya besok juga jangan masuk dulu aja" bosku memberi tahuku dengan tersenyum
"iya bu" jawabku datar
sepanjang perjalanan aku sedikit melamun dan tak ku sadari taxi yg ku tumpangi sudah sampai depan rumah bosku
"nami ayo rurun" panggil bosku, aku terperanjak kaget
"eh udah sampu" sahutku sambil celingukkan
aku dan bosku turun dari taxi namun kita berjalan ke arah yg berbeda aku ke kanan bosku ke kiri dan aku keluapaan untuk mengucapkan terima kasi
"bu...!" panggilku di pinggir jalan, bosku menoleh me arahku
"ya nami" dengan nada lembut
"makasih ya bu udah ngobati luka nami"
"iya sama2 nami" bosku pun kembali membalikan badan dan berjalan masuk
ke dalam rumahnya
aku menubggu sampai bosku masuk ke dalam rumahnya dan aku pun masuk ke rumah bos ibuku untuk beristirahat ternyata ibuku masih di tempat kerjaku menemani edward tak lama ibuku kembali dan bertanya
"nami gina jari kamu" tanga ibuku sambil mengambil tanganku memerhatikan
"jari nami di jahit bu, untuk sementara ga boleh kena air lukanya" jawabku menjelaskan
"ya sudah sekarang makan gih terus minum obat kamu istirahat di kamar aja" ibu menyiapkan makan untukku akupun duduk di dekat mesin cuci
"naza mana bu?" tanyakau sambil melihat sekeliling rumah
"masih di tempat kerjamu main sam si edward" jawab ibuku sambil menykdorkan makanan ke arah ku
"oh..."
selesai makan aku langsung menuju kamar ibukubyg berada di atas aku menyalakan kipas angin karna siang siang itu sanyat panas aku masih ingat saat kejadia jam 12siang tengari bolong
aku berbaring di atas kasur
"untung bosku baik aku beruntung selalu mendapatkan bos yg baik" gumamku dalam hati sambil memejamkan mata tak terasa aku beitu cepat tidur mungkin epek kipas angin yg begitu sejuk menerpa wajah dan rambutku di cuaca yg panas ini
__ADS_1