
aku seperti sudah sangat lama ga masuk kerja hari ini aku masuk kerja lagi seperti biasanya sepertinya luka jahitku sudah kering aku masuk ke gerbang rumah bosku
"pagi bu" sapaku ramah pada orang di balik etalase warung
"pagi nami... giman kamu udah sembuhkan jari tangannya" tanyanya ramah
"iya bu sudah baikan" jawabku sambil mengambil sapu lidi dan menyapu halaman depan rumah yg banyak berserakan daun kering
selesai menyapu aku melihat banyak piring kotor di washtapel aku pun membungkus tangan kiriku menggunakan plastik hitam agar jari tanganku ga kena air
"nami ibu mau antar edward ke sekolah ya kamu di rumah jagai warung"
"iya bu" jawabku sambil terus mencuci piring
suasana rumah hening hanya ada aku yg sibuk membersihkan seriap ruangan aku bekerja extra dengan tangan kananku karna tangan kiriku belum 100%bisa di pakai bekerja karna terkadang sedikit sakit
selesai dengan urusan dalam rumah aku berlanjut ke halaman belakang cucian baju sudah bosku rendam dalam bak bulat aga besar
"duh gimana nieh nyuci bajunya"aku bingun sendiri gimana caranya nyuci baju tanpa membasahi tangan kiriku
dan akhirnya aku pun mencuci dengan ke dua tanganku karna kalo menggunakan satu tangan hasilnya ga aka maksimal
aku pun merasakan rasa sedikit sakit di jari tangan ku
selesai aku mencuci aku menjemurnya aku duduk meluruskan kaki yg sedikit pegal tiba2 terdengar suara dari arah depan...
"nami..." panggil bosku
"iya bu" aku berdiri dari dudukku dan
menhampiri suara dari luar rumah
aku melihat bosku yg sedang menggendong edward dan membawa belanjaan
"nami tolong ya bawain belanjaan ibu" sruruhnya dan meninggalkan keranjang belanjaanya
"iya bu"sahutku dan melangkah sambil membawa belanjaan ke dalam rumah siang itu sungguh terik mataharinya sehinnga aku yg sebentar berada di luar merasa kepanasan
bosku menidurkan edward dan menyalakan AC lalu ke luar lagi dan duduk di kursi tamu
"nami sini duduk"panggilnya sambil melihat ke arahku yg sedang merapikan belanjaanya
"iya bu"aku langsung menghampiri
dan meninggalkan pekerjaanku
aku duduk di kursi yg lain
__ADS_1
"kamu sudah buka jahitan di jarimu" tanyanya padaku
kaget setengah mati aku ga tau kalau jahitanku harus di buka,aku teringat kembali bagai mana rasanya saat itu dokter menjahit jari ku sakit sekali
"belum bu" jawabku sedikit takut
"inikan sudah lebih dari tiga hari kamu harus buka jahitan di tangan mu ya" ucapnya lagi
"iya bu"
aku bingung harus buka jahitan di mana
"saya kasih kamu uang nanti sore kamu pergi ke dokter 24jam yg di pinggir jalan raya,kamu tau ka?"tanya nya sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya
"iya bu nami tau" aku menjawab dengan sedikit lega karna bosku begitu baik sudah mau membayar dokter untukku
"iya sudah ini ambil uangnya, nanti sore kamu mau sama siapa ke sananya" tanya bosku sedikit kawatir
"paling sama ibu nami bu" jawabku samhil tersenyum sudah memegang uang di tanganku
"ya sudah kamu bilang ma ibumu ya" sambil membaringkan tubuh mungilnya di kursi tamu
"iya bu makasih banyak bu" ucapku sebelum aku beranjak dari duduku dan pergi ke dapur
"hmmm" jawab bosku singkat
"ok habis ini aku nyetrika baru deh pulang ngasih tau ibu buat antar aku ke DR 24jam" gumamku dalam hati senang meski aku bekum tau proses pembukaan jahitan sesaki saat di jahit atau tidak
selesai semua pekrjaan ku aku waktu menunkan warna orangenya menandakan sudah sore
"bu nami pulang ya"pamitku pada bosku
"iya langsung yabke DR 24" jawabnya meningatkanku
"iya bu"dengan senyum sumringah aku meninggalkan tempat kerjaku dan menuju rumah sebelah tempat ibu bekerja
aku melihat ibu sedang duduk di kursi oelastik nonton tv bersama naza
"bu anter nami ke DR 24 jam yu" ajakku yakin
"engga ah nami sendiri aja gih" ibu menolak mengantar ku
wajahku yg tadinya cerah sumringah mendadak menjadi masam dan metus memandang ibuku
mendengar ibu berkata seperti itu membuat hatiku bagaikan di tusuk2 pisau tajam, ibu seperti tidak kawatir sama sekali
"sebenarnya aku ini anaknya aoa bukan sih" ngedumelku dalam hati sambil menaiki tangga besi hendak mengambil handuk dan mandi
__ADS_1
selesai mandi aku pergi sendiri tanpa pamit pada ibuku
aku masih ga percaya dengan ucapan ibu
aku berjalan kaki menuju DR 24jam
sesampainya di DR 24jam suasana sepi mungkin ini keberuntungan ku ga harus mengantri aku di panggil ke dalam
dan duduk di depan DR
"ade mau periksa apa" Dr cantik itu bertanya
"saya mau buka jahitan bu" sambil menjulurkan ke tiga jari tangan kiriku yg masih di perban
"coba ya saya lihat" sambil membuka oerban yg dari rumah sakit aku ga ganti2 perbannya
aku hanya terdiam dan memerhatikan Dr itu membuka perbanku
"ini belum bisa di buka de lukanya masih basah, nanti ya kalo sudah kering baru bisa di buka
aku sedikit sedih karna jahitan belum bisa di buka harus berapa hari lagi aku menunggu lukanya kering
akupun berdiri dari duduku
"iya bu makasih ya, bu bayar ga" tanya ku dengan polosnya
"ga usah kan ga di kasih obat itu cuma nunggu kering aja" jawabnya sambil tersenyum
aku keluar ruangan dengan perasaan hampa dan sedikit takut karna jahitanku belum bisa di buka aku kembalinke rumah dan ibuku masih di posisi yg sama duduk depan tv aku menhampirinya
"bu jahitannya belum bisa di buka karna masih basah" ucapku sedikit lirih menahan tangis
"ya udah cuma segitu doang ko nanti juga sembuh" jawab ibuku dengan santainya dia ama sekali tidak berusaha menenangkanku yg ketakutan apa yg dialaminya dan kata2 itu seperti ibuku tak sedikitpun menhawatirkanku
aku pergi ke tempat setrikaan dan menagis sesegukan bukan karna sakit di jariku tapi sikap ibu seakan tak peduli padaku sakit rasanya ibu sangat berbeda memperlakukanku dengan naza
sikapnya padaku begitu dingin sedangkan terhadap naza begitu hanyat dan selalu memperhatikan segala kebutuhannya
mendengar aku menangis ibu menghampiriku
"udah jangan cengeng cuma luka gitu aja nagis" ucapnya lagi denga nada sedikit meninggi
aku pun meluapkan kemarahanku dengan mengambil gunting kuku dan membuka sendiri jahitan di ke tiga jariku dengan linangan air mata di pipiku ibuku ga mengerti perasaanku aku ingin di perhatikan aku ingin di oerlakukan sama dengan naza
rasa sakit saat aku menggunting satu demi satu benang di jariku sudah tak kurasakan tertutup dengan sakitnya hatiku dengan sikap ibuku sendiri
selesai membuka jahitan aku masih kesal dengan ibuku aku naik ke kamar dan terbersit ingin mengahiri hidup ini
__ADS_1