
seperti biasa rutinitas sehari2 ku tidaklah berbeda selalu sama setiap harinya namun sudah beberapa bulan aku ingin bertemu ibuku dan aku pun punya ide
bu bos sedang ada di dalam kamar aku pun mengetuk pintu
tok.. tok..
"masuk" dari arah dalam kamar menyahut,
akupun membuka pintu dengan perlahan dan di dalam kamar tak hanya ada bu bos tapi ada pula ke dua putrinya yg terbaring di atas kasur yg berselimutkan tebal
"ada apa nami" tanya bu bos sambil melihatku
"bu minggu depan nami ga ikut ya ke acara jalan2 ibu ya" dengan nada datar aku meminta
"loh kenapa" tanya bu bos heran, berbeda dengan kiki yg senang sambil mengepalkan tangan mendengar perkataanku,
"yes nami ga ikut"senyum sinis di bibir kiki
"nami mau ketemu ibu nami,kalo boleh mau izin nginep juga di sana"sambil ragu dan terbata aku meminta izin
"oh gitu kamu mau nginep di rumah kakak saya" jawab bu bos dengan santai
"iya bu" sahut ku lagi, karna memang ibuku kerja di rumah kakak bu bos yg masih anaknya mbah
"ya sudah kamu saya izinin tapi semalem aja ya" sambil mengaca di meja riasnya bu bos menatapku dari cermin
dari atas kasur ada dua mimik wajah yg berbeda yg satu dengan wajah kecewa, dan yang satunya sumringah
"ya teh nami kenapa ga ikut sih ga seru nanti" ngedumel devi protes
"biarin aja teh nami ga ikut malah lebih bagus" sahut kiki keceplosan dia pun langsung menutup mulut dengan tangan ya
"kiki" dengan nada sedikit meninggi bu bos melihat ke arah kiki
"maaf ya teh nami" dengan mimik menysal kiki berinisiatif meminta maaf
"iya ga apa2" sahutku sambil senyum terpaksa
akhirnya aku ga ikut jalan2 dan akan menginap di tempat kerja ibuku, meski kita bekerja di satu daerah dan bos kita masih satu keluarga aku dan ibuku jarang sekali bertemu sibuk dengan pekerjaan masing karna kita sama2 ART yg dari pagi sampe sore berjibaku dengan kerjaan rumah
hari yg di tunggu pun tiba sedari pagi penghuni rumah sudah siap2 untuk bepergian jauh hanya aku yg tak ikut serta kiki begitu girang dengan acara kali ini akupun meledeknya
"seneng banget ya aku ga ikut" tanyaku sambil senyum tipis
"haduh jangan di tanya deh seneng pake banget" dengan nada judesnya
"apa lagi aku super seneng" dengan nada ga kalah jutek
"kenapa" penasaran kiki
"karna ga harus bawa2 yg berat, kamu deh yg gantiin aku" dengan senyum penuh kemenangan aku meledeknya
"hmmm" kiki terdiam
mereka emua sudah menaiki mobil dan bu bos berpesan ke padaku
"nami nanti jangan lupa kunci pintu sebelum berangkat ya" dari dalam mobil bu bos mengingatkan
"iya bu, hati di jalan" sahutku sambil hendak menutup gerbang
mereka pergi diva melambaikan tangan dan aku pun membalasnya
ok semua pekerjaan rumah sudah selesai di kerjakan waktunya giliranku untuk pergi mengunjungi ibu di tempatnya bekerja tidak lupa memeriksa semua keadaan rumah dan menyalakan lampu taman dan yg terpenting mengunci pintu akupun keluar rumah dan mencari ojeg
tak jauh aku berjalan dari rumah ada ojeg lewat dan aku berhentikan
__ADS_1
"mang oje mang" teriak ku sambil melambaikan tangan
"mau ke mana neng" tanya tukang ojeg
"ke gerbang depan perumahan mang" jawabku sambil menaiki motor
beberapa menit sampe di gerbang depan perumahan dan aku pun turun dari motor dan membayar ongkos
"ini mang, makasih ya mang" aku mngulurkan ongkos
"iya neng sama2" sahut mamang ojeg sambi memutar balik menuju dalam perumahan meninggalkanku
aku masih ingat pada saat ibuku mengantarkanku ke tempat kerjaku aku pun terdiam menunggu akngkot karna untuk menghemat jadinya aku melanjutkan menggunakan transportasi angkutan umum, karna kalau aku menggunakan jasa ojeg sampe ke tujuan harga lunayan mahal bagi seorang ART sepertiku
angkot yg di tunggu akhirnya datang aku menjulurkan tangan memberi tanda agar angkot tersebut berhenti
aku pun naik dan duduk mataku tak henti melihat ke arah setiap gang di jalanan karna ini pertama kalinya aku keluar sedniri dari tempat kerjaku selama aku bekerja di rumah ini
dan akhirnya gang yg aku maksud terlihat dari kejauhan dan aku berancang ancang untuk turun
"kiri mang" dengan bada datar aku menatap supir
angkot pun berhenti dan akupun turun dan memberikan ongkos
aku sedikit lupa jalan menuju tempat kerja ibuku tapi aku terus menyusuri jalan besar dan akhirnya sampai di tempat ibuku bekerja
"selamat siang" aku mengucapkan salam dari luar gerbang, dan terdengar jawaban dari dalam
"iya siapa" tanya dari dalam gerbang
"ibu, ini nami" sahutku dengan nada sedikit tertahan
"nami.." ibuku terkejut dan langsung membukakan gerbang tinggi itu aku pun langsung memeluk ibuku dan menahan air mata ku
"emang ibu ga tau nami mau ke sini" tanya ku heran
"kok sepi bu di sini" tanya ku heran
"kan semua kerja jadi hanya ada nyonya aja" jawabnya sambil duduk
melihat sekitar rumah yg begitu besar di bandingkan dengan rumah tempatku bekerja sepertinya pekerjaan ibuku lebih melelahkan aku merasa sedih dengan keadaan seperti ini tapi apalah daya keadaan yg memaksa kita harus bekerja keras dengan kehidupan ini
"nami ayo kita jemptu naza" ajak ibuku untuk menjemput adik ku
"emang naza sekolah" tanya ku heran
"iya ga jauh kok sekolahnya" ibuku menjawab sambil menuju ruang utama dan meminta izin kepada nyonya rumah ini
selesai dapat izin aku dan ibuku ke luar dari rumah besar ini
"bu setiap hari jemput naza sekolah" sambil berjalan aku mengajukan pertanyaan
"iya gimana lagi nami, naza masih kecil" sahut ibuku lagi saat itu naza usianya baru 6 tahun dan aku 12 kami selisih 6 tahun
sepanjang perjalanan aku menceritakan kisah drama di tempat ku bekerja dan ibuku selalu mengajarkan selalu rendah hati dengan apa pun perkataan orang lain terhadap kita
sampailah di sekolah naza adik kecilku sudah keluar dari kelasnya dan menunggu ibu saat melihat kami naza langsung berlari ke arah ibu dan mencium tangannya,
"ada teh nami juga" naza merikikku heran
"iya teh mani mau nginep" sambil mengelus kepala naza
"ayo kita pulang lagi" ajak ibuku dan aku dan naza pun mengiyakan
beruntungnya naza bisa merasakan di antar jemput oleh ibu berbeda dengan ku dari pertama masuk sekolah ga pernah merasakan rasanya di antar jemput oleh ibu karna pada saat itu aku tinggal berbeda kota dengan ibuku dan terpaksa aku melakukan segala hal sendiri dan pada akhirnya aku hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 3 sekolah dasar
__ADS_1
setelah beberapa saat kami pun sampai lagi di rumah naza langsung menyimpan seragamnya sedangkan ibuku kembali mengerjakan rutinitasnya dan aku oun membantu pekrejaan ibu
"nami mau makan" tanya ibu
"iya bu" jawabku
"naza juga mau bu" celetuk naza
"iya kalian bikin mie instan gih" sambil menyodorkan dua bungkus mie
"ayo naza" ajak ku
"iya teh" sahut naza mengikutiku ke dapur
aku pun membuat mie goreng sendiri naza duduk manis menunggu ku memasakan mie nya
sedangkan ibuku sibuk dengan perkerjaannya saat itu ibu sedang menyetrika selesai makan kami kembali ke tempat ibu menyetrika
"sini bu biar nami aja" aku menawarkan diri untuk menggantikan ibu
"udah ga usah, sedikit lagi kok ini" sahut ibu sambil fokus ke baju yg di setrikanya
kasian ibu jam segini masih kerja aja, kalau aku sudah santai2 aja "gumamku di dalam hati
di tempat kerjaku penghuninya sedikit,sedangkan penghuni rumah ibuku bekerja banyak jadi pekerjaannya double
malam pun tiba naza sudah tertidur pulas dia belum begitu mengerti dengan semua keadaan
"ibu betah di sini" dengan nada pelan bertanya
"hmmm sebenarnya ibu pengen dapet kerja di dekat rumah" jawabnya ragu
"iya ya enak kalo kerja deket rumah kapan aja bisa pulang" aku menipali
aku mengerti dengan jawaban ibuku sepertinya ibu tidak kerasan kerja di rumah ini aku ga bisa berbuat apa2 karna yg membawaku kerja di sini ya ibuku, kalau ibuku akan pulang kampung aku pun pasti juga pulang dan aku tak memberatkan pekerjaanku yg pentibg ibuku senang
"o iya bu besok pagi nami balik lagi ke tempat kerja nami" sambil memeluk dan memejamkan mata di samping ibu,
"iya" ibu mengelus kepalaku dengan lembut tak terasa kami pun terlelap tidur di kamar yg lumayan besar di banding kamar di tempat kerjaku,
saat ibuku terlelap aku terbangun dan menatap dalamke arah wajah ibuku nampak lelah sekali raut wajahnya
aku berasa sesuatu mengganjal di dadaku rasanya sesak dan aku ga bisa menahan air mata ku lagi aku pun pergi ke kamar mandi agar tak membangunkan ibuku karna suara tangisku
" begini sulit keadaan keluarga ku aku ga tega melihat ibuku seperti ini, tapi keadaan aku pun sama apa yg harus aku lakukan?" gumamku dalam hati dan masih dengan linangan air mata di pipiku
sejak ibuku berpisah dari ayah dia memutuskan untuk sendiri dan tak ingin menikah lagi, mungkin ayah baginya cinta petamanya sehingga ibu tak membuka hati untuk pria lain
pagi pun tiba spertinya ibu bangun awal sekali rumah terlihat sudah rapih dan membangunkan naza hendak mengantarkan ke sekolahnya selesai sarapan kami bergegas ke luar rumah tak lupa aku pun pamitan ke nyonya rumah
"ibu nami pulang ya" sambil tersenyum berpamita kepada nyonya
"iya hati2 ya" singkatnya sambil terus menyuapi anaknya yg masih balita
"nyonya saya juga izin mau anter naza sekolah" timpal ibuku
kami pun keluar rumah bebarengan namun berbeda tujuan ibuku pergi mengantar sekolah naza dan aku kembali ke habitatku sepertinya perkerjaan rumah sudah menunggu dan pasti double karna yg pulang jalan2 selain bawa oleh2 pasti bawa pakaian kotor juga aku hanya bisa menghela nafas membayangkannya
"ibu nami pulang ya" sambil mencium tangan ibuku
"iya hati2 ibu ga bisa anter" jawabnya lirih
"ga apa2 kok nami bisa sendiri, ibu anter naza aja udah siang takut kesiangan" sahutku sambil berlari kecil dan melambaikan tangan menatap naza dan ibu
sepanjang perjalanan aku masih mengingat kata2 ibuku yg ingin dapat pekerjaan yg dekat dengan rumah nenek
__ADS_1
aku menunggu angkot lagi dan tak lama pun muncul naik lah aku dan duduk di bangku paling dekat dengan pintu agar tak terlewat tujuanku
sampai di gerbang perumahan aku langsung naik ojeg