
Rini dan Eva berjalan masuk ke dalam kamarnya,dia sudah rindu dengan kamarnya ini,karena sudah jarang dia mengunjungi rumahnya ini.
"Katakan apa yang terjadi di rumah mertua mu,apa semuanya berjalan lancar,bagaimana dengan Caries apa dia sudah bisa menerima kehadiran mu?" Berbagai pertanyaan keluar dari mulut Rini,rasanya dia sudah tidak sabar untuk mendengar laporan dari putri kesayangannya.
"Belum ma,aku juga sangat kesal,lama-lama aku muak dengannya,dia selalu mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau kita menipunya mereka_
"Terus..Apa kata orang tuanya?" Rini memotong ucapan Eva dia begitu tidak sabar mendengar jawaban dari mulut Eva.
"Iya...Untungnya orang tuanya tidak percaya dengan ucapannya,aku sempat ketakutan,kalau sampai orang tuanya tau semua rahasia kita,habislah kita." Ucap Eva.Saat itu mata Rini tertuju pada kalung berlian pemberian ibu mertuanya.
"Bagus kalung mu,kapan kamu beli,pasti mahal ya?"
"Ini dikasih mama Marta ma,dia memang sangat baik kepada ku,aku takut suatu saat nanti dia tau semua rahasia kita dia akan kecewa kepada ku." Ucap Eva,dia berdiri mendekati jendela,terbayang semua rencana jahat yang sudah dia lakukan.
****
Sementara itu dirumah sakit,Caries duduk di pinggiran ranjang,hari ini Leon sudah di ijinkan pulang,karena lukanya sudah semakin membaik tinggal hannya rutin mengonsumsi obat agar bekas luka bakar hilang dari tubuh Leon.
"Kamu yakin Leon kembali ke rumah,seharusnya kamu masih bisa di rawat disini."
"Tidak tuan,aku sudah sangat bosan di ruangan ini,aku sudah lama tidak masuk kekantor,takutnya sudah banyak yang menunggu ku." Ucap Leon,Carles tertawa hambar mendengar ucapan Leon.Dia ingat kejadian tadi pagi di mana papanya yang begitu merendahkan harga dirinya di hadapan Eva.
__ADS_1
Setelah mengurus semua administrasi akhirnya,Carles membawa Leon pulang ke rumah orang tuanya,sebenarnya dia sudah punya apertemen sendiri yang di berikan oleh perusahaan tapi Leon sangat jarang tinggal disana.
"Sepertinya tuan ada masalah ada apa?"
Carles menarik napas berat,dia membawa mobil dengan kecepatan ringan,hari ini dia tidak punya tujuan apa pun,dia seperti kehilangan arah setelah Rebecca pergi meninggalkannya.Apalagi setelah orang tuanya yang begitu memuja keluarga bram,papanya terlalu polos,mengahadapi keluarga Bram.Dia sudah biasa menghadapi penghianat,tapi entah kenapa kali ini papanya terlalu mudah dirayu oleh keluarga Bram.
"Aku hannya ingin sementara ini berhenti mengurus perusahaan,kamu harus lebih hati-hati karena papa sedang tidak baik-baik saja dia dengan polosnya percaya dengan semua tipu muslihat keluarga Bram."
"Apa....kenapa tuan bisa naif seperti itu.Baiklah aku akan lebih memperhatikan keluarga Bram,aku mengalami hal buruk ini karena aku tau rahasia mereka,malam itu aku ke rumah sakit menemui mereka dan menyuruh Eva untuk jujur,saat itu Bram dengan emosi meminta aku untuk tidak ikut campur,tuan tenang saja aku akan menjaga perusahan dengan baik."
Akhirnya mobil mereka sampai di rumah orang tua Leon,saat itu Marni sedang menanam bunga-bunga saat dia melihat mobil Carles dia datang mendekati mobil itu dengan langkah tertatih-tatih.
"Biasa asam urat ku kambuh,kamu datang nak Carles,dimana cucuku Rebecca aku sangat merindukan dia,apa dia baik-baik saja?"
Carles mengabaikan pertanyaan nenek Marni,perasaannya semakin sedih saat nenek Marni menanyakan keberadaan Rebecca,sementara dia saja sangat sedih karena kehilangan istri tercinta nya.
Marni mengikuti Carles dan juga Leon dari belakang dia merasa sedih karena Carles mengabaikan pertanyaan nya,Leon merasa iba melihat nenek Marni,dia tidak bisa membayangkan jika mereka tidak menemukan Rebecca atau Rebecca benar-benar meninggal.
"Nenek,Rebecca baik-baik saja,dia tidak bisa ikut dengan kami karena suaminya ini tidak mengijinkannya ikut karena dia kurang enak badan." Ucap Leon,dia tau Carles selalu merasa sedih jika mengingat tentang istrinya.
"Leon,aku pulang,kamu istirahat hari ini,besok kamu sudah bisa mulai ke kantor,aku titip sementara kantor kepadamu." Ucap Carles,dia segera beranjak dari tempat duduknya lalu segera pergi meninggalkan rumah Leon,dia merasa tidak nyaman di sana karena keberadaan nenek Rebecca.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat,Rebecca sedang jalan-jalan sendirian,dia sangat bosan di rumah sendirian,akhirnya dia memutuskan keluar dari kontrakan,dia ingin menghirup udara luar,berada di kontrakan setiap saat membuatnya mual,dan ingin muntah.
Rebecca berjalan terus semakin jauh meninggalkan kontrakannya, semakin lama dia merasakan semakin rindu kepada suaminya,dia takut menghubungi pemilik nomor yang ada di brosur karena dia takut,pemilik nomor itu keluarga Bram.
" Mas...Aku sangat merindukan kamu,aku tau calon bayi kita juga sangat merindukan kamu." Ucap Rebecca dia mengelus perutnya yang masih rata.Dia sangat bersyukur kehamilannya ini tidak membuatnya menderita seperti yang di katakan oleh orang-orang hamil,dia tidak pernah merasakan mual di pagi hari atau mengidam hal-hal yang sangat aneh.
Rebecca melihat sebuah taman,dia mampir kesana,lalu duduk sendirian kursi panjang yang sedang kosong,dia memandangi orang-orang yang sedang berpacaran mereka terlihat sangat bahagia membuat Rebecca semakin rindu kepada suaminya.
"Mas...Seandainya kamu disini aku ingin kita berpacaran seperti orang itu." Suara hati Rebecca sambil tersenyum kecil.
Rebecca sudah lama duduk dikursi itu,semakin sore orang-orang semakin banyak yang mampir kesana,mungkin karena suasana taman ini sangat romantis dan apalagi tidak jauh dari taman ini ada sebuah danau yang sangat indah.
Rebecca berjalan memasuki taman,dia ingin melihat danau,dari kejauhan dia sudah bisa menikmati pemandangan danau yang membuat suasana hatinya semakin membaik.Rebecca mendekati sebuah pohon besar di pinggir danau,saat matanya menelusuri semua keliling danau dari kejauhan dia melihat seorang pria duduk di kursi,entah kenapa jantungnya langsung berdebar saat melihat punggung pria itu,dia merasa punggung itu sangat mirip dengan punggung suaminya.
"Hahaha..Apa kamu terlalu merindukan suami mu hingga orang lain saja kamu kira suami mu?" Rebecca tidak berani mendekati pria itu,tapi dia terus berdiri di belakang pria itu.
" Jika aku kesana aku takut dia bukan Carles,aku takut aku kecewa lagian tidak mungkin Carles berada di tempat seperti ini,dia pasti bersama istrinya,dia sudah bahagia untuk apa aku merindukan suami orang lain." Semakin Rebecca menyakinkan dirinya kalau itu bukan Carles,rasa penasarannya semakin besar akhirnya dia pergi mendekati pria itu.
"Tuan....Aku bisa minta tolong?" Carles sangat kaget mendengar suara yang sangat familiar di telinganya,ingin sekali dia berdiri lalu memeluk pemilik suara itu tapi dia sangat ketakutan,dia takut kecewa,takut ini hannya mimpinya.
*** Bersambung***
__ADS_1