
Anjani masih enggan untuk beranjak dari kamarnya. hari-harinya masih diisi dengan berbaring di kamar kosannya. Seakan-akan dia ingin terus tertidur dan tak bangun lagi.
"Tok,tok,tok. Anjani? Anjani? ponsel lu tuh? Angkat dong? kalo nggak mending ponselnya lu silent! berisik tau nggak?" ucap Nana teman kos anjani di kamar sebelah. Anjani pun menjawab dari dalam kamarnya,mengiyakan dan minta maaf,karena tak mendengar suara ponselnya berdering.
Anjani melihat layar ponselnya dan tertera nama sahabatnya Siska. "Halo, ya Sis? Maaf gua ketiduran." ucap Anjani pada Siska.
"Ya ampun Anjani,dari tadi tau gua nelpon lu? Lu kemana aja sih? berapa hari balik dari Solo tapi kok belum masuk kantor? lu sakit lagi?" Siska bertanya di balik suara.
"Mana nggak ada kabarnya lagi. Gua tu kuatir tau? kalo lu ntar gimana-gimana." Siska tetap bicara tanpa henti.
"Iya,sorry? gua cuma kecapean aja kok. Gua kan masih dapat libur dari pak Edward? jadi santai ajalah, biar fit dulu." ujar Anjani menjelaskan kondisinya.
"Ooh,kirain lu kenapa-napa? Ya udah,syukur deh kalo lu cuma kecapean, jangan sampe sakit lagi ya? hehehe. Eh,btw lu pasti bakalan kaget deh denger kabar berita yang mau gua sampein ke elu?" Siska berbicara dengan nada serius.
"Kaget gimana maksud lu? memangnya berita apaan?" Anjani masih tak terlalu bersemangat menanggapi ocehan sahabatnya ini.
"Lu tau nggak rumor yang lagi beredar? iih,serem gua mau ngomongnya. Pokoknya lu hati-hati ya sama pak Edward?"
Anjani langsung tersentak karena mendengar rumor dan nama Edward. Jangan-jangan rumor itu tentang dia dan Edward? Anjani membatin.
"Rumor apaan maksud lu? pak.,pak Edward kenapa?" Anjani bertanya dengan gugup karena dia takut kalau orang-orang tau masalahnya dengan Edward.
"Tau nggak lu? tadi banyak polisi yang datang ke kantor nyariin Pak Edward." Siska menjawab dengan antusias.
"Polisi? nyariin Pak Edward? memangnya ada masalah apa polisi sampe nyariin?" ujar Anjani semakin penasaran.
"Iih,serem tau! Polisi datang nyariin gara-gara si Cindy membusuk di kamar apartemennya, katanya Cindy gantung diri! iih,serem gua. Amit- amit,amit-amit." Siska tetap bicara terburu-buru sampai-sampai Anjani terperanjat mendengar kata-kata Cindy yang gantung diri.
"Apa? Cindy gantung diri? Yang bener aja lu? aah,lu bikin gua jantungan aja!" Anjani terdengar panik,dia tak percaya kalau Cindy sampai bunuh diri.
__ADS_1
"Sumpah gua, beneran! buat apa juga gua bohong sama lu?" Siska sampai bersumpah membenarkan ucapannya.
Anjani kaget dan dadanya pun terasa semakin sesak "Ada apa dengan Cindy? kenapa dia sampai gantung diri?" Anjani bergumam sendiri tapi Siska mendengarnya.
"Ya makanya gua nelpon lu buat mastiin kalo lu baik-baik aja. Lu nggak di apa-apain kan sama Pak Edward? Sumpah gua kuatir banget sama lu Anjani." Ucap Siska serius.
Memang para sahabat Anjani termasuk Siska, mereka selalu peduli padanya. Walaupun Ardi adalah orang yang paling peduli karena perasaannya pada Anjani lebih dari sekedar sahabat. Perhatian sahabat-sahabatnya itulah yang membuat Anjani merasa punya keluarga walaupun dia kini jauh dari keluarganya di kampung.
"Iya Sis,makasih banget lu udah kuatir sama gua. Ya udah gua nggak kenapa-kenapa kok, besok kita ketemu di kantor ya?" Ujar anjani berbohong. Dia tak mungkin menceritakan kalau dia sudah di perawani oleh Edward bosnya itu.
"Ya udah kalo gitu lu istirahat deh? see u tomorrow ya Anjani? Jangan lupa oleh-oleh buat gua yang ketinggalan kemarin.hihii." Siska mengingatkan oleh-oleh yang belum jadi di bawanya waktu Anjani baru pulang karena keasikan ngobrol, walaupun sedang panik tetap saja oleh-olehnya tidak boleh lupa.
"Iya,besok gua bawain,bereslah." ucap Anjani menutup pembicaraan.
Setelah Siska menutup ponselnya, Anjani kembali tertegun. Ada apa dengan Cindy? Kenapa dia sampai gantung diri? Anjani seakan tak percaya wanita cantik tapi judes itu meninggal dengan cara yang tragis.
Walau Anjani benci melihat sikap juteknya karena takut Edward berpaling darinya,tapi mendengar dia gantung diri? Edward? "Ya Tuhan jangan-jangan ini gara-gara pak Edward tak mengajaknya tapi mengajak ku,apa mungkin aku penyebabnya?" Anjani menutup wajah dengan tangannya,ada rasa takut muncul. Jangan-jangan dialah penyebabnya.
******
Begitu anjani masuk keruangan kantor,sahabat-sahabatnya langsung menyerbunya.
"Anjani!?" Siska menjerit dan langsung memeluk Anjani.
"Kangen tau? betah banget lu di kamar?" ucapnya lagi.
Mila tersenyum pada Anjani, sementara Ardi masih terlihat sangat sedih. Anjani memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya pada ardi. Ardi pun membuang pandangannya ke samping menahan hatinya yang perih.
"Nih, oleh-oleh lu yang ketinggalan kemarin." ujar Anjani menyodorkan bungkusan pada Mila.
__ADS_1
"Hehehe,makasih,makasih." Mila menerima dengan ceria. Anjani lalu pamit dan meninggalkan para sahabatnya itu, Dia pun kembali ke meja kerjanya di depan ruangan Edward.
Andai Anjani bukan tulang punggung dalam keluarganya, atau pun mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi,pasti dia sudah mengajukan surat pengunduran dirinya. Tapi apa boleh buat,dia masih membutuhkan pekerjaan untuk menjaga keluarganya. Dengan terpaksa dia pun masih bekerja untuk laki-laki yang sudah menodainya tersebut.
*****
Seminggu sudah Anjani kembali bekerja sebagai sekretaris cadangan. Entah masih sebagai cadangan atau sudah menjadi sekretaris yang sah,karena Cindy di ketahui sudah meninggal? entahlah. Dia tak mau ambil pusing,dan berharap untuk tidak bertemu lagi dengan orang itu. Tapi pasti tak mungkin baginya untuk menghindar. Walau bagaimanapun Edward adalah bosnya dan mereka pasti akan bertemu lagi.
*****
Malam ini hujan sangat deras,petir pun terdengar menyambar di langit. Anjani meringkuk di balik selimutnya. Jakarta di guyur hujan dan bisa jadi akan banyak wilayah yang akan terkena banjir. Beruntung kamar Anjani berada di daerah yang agak tinggi jadi tidak akan merasakan kebanjiran kecuali jalan di dalam gangnya yang akan tergenang air.
"Brrrr,dingin banget sih. Biasanya gerah tapi hari ini benar-benar dingin." Anjani menarik selimut sampai ke atas kepalanya. Dia pun ingin memejamkan matanya tiba-tiba pintu kamarnya pun di ketuk dari luar.
"Tok,tok,tok." Anjani pun mengurungkan niatnya untuk tidur, tapi dia pun enggan untuk membukakan pintu. "Siapa sih malam-malam ketuk-ketuk pintu?"
"Tok,tok,tok." Anjani pun masih enggan untuk bergerak, namun karena pintunya di ketuk berkali-kali akhirnya Anjani pun berdiri dan membukakan pintu.
Saat pintu terbuka dia pun terkejut dan langsung berusaha untuk menutup pintunya karena melihat orang yang datang adalah Edward bosnya. Tapi terlambat,Edward sudah mengganjal pintu dengan sepatu yang di pakainya.
"Anjani,please? tolong jangan tutup pintunya?" Edward memohon.
"Mau apa bapak datang kesini?" Anjani bertanya panik sambil tetap berusaha untuk menutup pintunya.
"Tolong Anjani,aku hanya ingin minta maaf!" Edward memohon. Tapi Anjani tak menghiraukan dan tetap mencoba untuk mengusir orang yang telah menodainya itu.
"Nggak ada lagi yang perlu bapak jelaskan, pergilah!" Anjani pun marah dengan linangan air mata karena luapan emosinya.
Namun Edward tetap memaksanya,memohon untuk di izinkan masuk. Terlihat tubuhnya yang sudah basah kuyup terkena air hujan. "Aku mohon Anjani,please? ijinkan aku bicara?" tampak wajahnya sangat memelas dengan mata yang memerah seperti orang yang sedang menahan tangis dengan tubuhnya yang basah dan gemetaran menahan hawa dingin.
__ADS_1
*******