
"Dokter apa saya sudah bisa melihat Anjani dan Mila?" Siska langsung menuju Dokter yang keluar dari kamar Anjani dan Mila. "Ya,silahkan tapi jangan terlalu diajak banyak bicara ya?" ucap Dokter wanita yang merawat Anjani dan Mila tersebut. Wajah Siska pun tampak sumringah dan langsung masuk kedalam kamar sahabatnya tersebut.
"Anjani..Mila.?!." Siska pun duduk diantara dua kasur yang ditempati Anjani dan Mila. Anjani yang memang masih koma hanya bisa terbaring tanpa respon apa-apa. Namun Mila yang sudah siuman langsung membuka matanya,dia pun tersenyum pada Siska. Siska pun langsung menangis dan memeluknya. "Mila..lu nggak apa-apa kan? hu..hu.."
"Iya Sis,,gua nggak apa-apa. Lu nggak usah kuatir ya?" ujar Mila pada Siska sahabatnya itu.
"Gimana gua nggak kuatir gitu gua masuk langsung liat lu udah bersimbah darah dilantai,dan melihat Anjani yang detak jantungnya sempat berhenti. Coba lu jadi gua? gimana nggak panik? hu..hu.." Siska pun tetap menangis memeluk Mila.
"Iya,,gua tau kok. Gua juga bakal seperti itu kalo jadi lu. Udah,, jangan nangis lagi. Ni leher gua masih sakit lu peluk-peluk." ujar Mila sedikit bercanda berusaha menghibur Siska.
"Hu..hu..hu..maaf? Gua nggak sengaja." Siskap pun melepaskan pelukannya sambil masih terus menangis.
"Btw, Ardi kemana Sis? kok lu cuma sendiri? Ardi diluar ya?" Mila coba menerka-nerka keberadaan Ardi.
"Huaaa,,,hu..hu..lu malah nanya Ardi lagi. Gua makin sedih tau." Siska malah makin nangis mendengar pertanyaan Mila.
"Siskaaaa,,lu kenapa sih? kok malah makin nangis? memangnya Ardi kemana?" Mila makin bingung melihat tingkah sahabatnya ini.
"Saat lu dan Anjani di serang,,Ardi marah dan langsung pergi mencari Edward. Tapi sampe sekarang dia belum balik-balik juga. Huaaa...hu..hu." Siska bercerita sambil terus menangis.
"Apa? Ardi menghilang? trus Ardi sekarang ada dimana Sis?" Mila tampak panik dan kuatir. Siska hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menangis karena dia sendiri pun tak tau dimana keberadaan Ardi saat ini.
"Tok..tok.tok.." Tiba-tiba pintu di ketuk dan seseorang pun masuk kedalam kamar tersebut. "Pagi nona-nona?" ucap Briptu Aditya.
"Kak Adit? silahkan kak!" ujar Siska. Aditya pun langsung mengambil kursi dan duduk di samping Siska. "La,,ini kak Aditya polisi yang bakal bantuin kita buat nyari tau siapa orang yang udah nyerang lu sama Anjani." Siska pun menerangkan siapa Aditya pada Mila. Mila pun mengangguk dan tersenyum pada Aditya.
"Bagaimana kondisi mnya sekarang mbak Mila?" ujar Briptu Aditya. "Panggil Mila aja kak! Jangan mbak. Saya seumuran sama Siska kok. Hehehe." Mila berusaha bercanda sambil menahan rasa nyeri dilehernya bekas luka sabetan pisau orang yang menyerangnya dan Anjani dua malam yang lalu.
"Ooh,,iya Mila. Maaf,,hanya ingin kedengaran lebih sopan aja,,makanya saya panggil mbak. Tapi karena seumuran sama Siska ya udah saya panggil nama aja ya?" ujar Aditya disambut senyuman dan anggukan dari Mila.
"Apa saya boleh tanya tentang kejadian malam itu Mila?" Aditya memastikan pada Mila untuk berkenan ditanyai tentang kejadian yang menimpanya.
"Iya,, silahkan kak." ujar Mila menyanggupi.
"Baiklah Mila. Pada malam kejadian itu kamu ingat tidak berapa orang yang melakukan penyerangan tersebut dan apa saja yang mereka lakukan?" Aditya pun bertanya sambil merekam pembicaraan tersebut dengan Mila untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Mila pun dengan gamblang bercerita tentang kejadian yang menimpanya sampai dia jatuh tak sadarkan diri dengan kondisi leher tersayat pisau. Aditya pun manggut-manggut mendengar cerita Mila.
"Apa kamu sempat melihat wajahnya?" ujar Aditya.
__ADS_1
"Nggak kak,,mereka berdua memakai masker dan topi hitam. Jadi yang kelihatan hanya bagian matanya saja kak." ujar Mila menjelaskan. "Tapi dari tubuh dan suaranya saya yakin mereka berdua laki-laki. Dan tingginya kira-kira 170cm kak. Ujar Mila menerka-nerka.
"Apakah kalau kita ambil sketsa wajah,,kamu bisa menggambarkan wajah mereka?" ujar Aditya lagi.
"Saya hanya bisa menggambarkan bagian mata dari orang yang memaksakan tangan saya untuk mencabut peralatan medis Anjani kak,karena yang satu lagi saya tidak melihat wajahnya,hanya mendengar suaranya saja." ujar Mila pelan.
"Baiklah Mila,,terimakasih atas kerjasamanya. Nanti akan kita coba membuat sketsa wajah,,walaupun kamu hanya ingat bagian mata saja itu juga bisa membantu dan kita juga sudah bisa mencari tau siapa yang telah menyerang kamu.
"Baik kak, terimakasih." ujar Mila.
"Baiklah Mila,, sekarang kamu istirahat dulu ya? Siska bisa ikut saya sebentar?" Aditya mengajak Siska untuk keluar. Mila dan Siska pun mengangguk pada Aditya. "Bentar ya la? gua keluar dulu sama kak Adit." ujar Siska. Dia pun memeluk Mila lalu keluar mengikuti langkah Aditya.
******
"Ada apa kak?" ujar Siska pada Aditya setelah mereka duduk di cafe depan tempat biasa mereka berbincang-bincang.
"Aku udah kerumah Edward,,tapi sepertinya Ardi tidak ada disana Sis. Dan yang lebih mengejutkan Edward merasa kalau Anjani sudah meninggal. Dan sepertinya itu kabar baik untuk Anjani agar tidak disakiti lagi oleh Edward. Kalau memang Edward adalah pelakunya." Aditya berkata dengan gamblang pada Siska.
"Lalu dimana Ardi ya kak?" Siska berpikir sambil menggigit bibirnya. "Semoga Ardi baik-baik saja." ujarnya lagi.
*******
"Kita mau kemana sekarang?" ujar Naya pada Ardi. Mereka tampak tetap bergandengan tangan,seakan Naya takut untuk dilepas oleh Ardi.
"Sebaiknya kita langsung kerumah sakit saja." ujar Ardi yang tak sabaran ingin tau kabar sahabat-sahabatnya.
"Apa tidak terlalu beresiko kalau kita ke rumah sakit sekarang? mungkin saja mereka sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi disana?" ujar Naya mengingatkan.
"Baiklah kalau begitu kita kosan ku saja dulu. Setelah itu baru kita hubungi Siska." ujar Ardi tetap mengandeng tangan Naya.
*******
Dirumah sakit umum Banjar terlihat Pak tua yang terduduk lesu menunggu Mia putrinya yang terkena peluru untuk ditangani oleh tim Dokter.
Sebagian sanak saudaranya pun ikut menemani dan menyemangati Pak tua.
"Sabar nya mang? mugia teh Mia damang.(sabar ya pak? semoga mbak Mia baik-baik saja.) " ujar Nani sepupu Mia.
__ADS_1
Pak tua pun hanya duduk terdiam dan tampak raut kuatir menjurus di wajahnya.
Berselang beberapa lama Dokter yang menangani Mia pun keluar. "Kumaha putri abdi Dokter?(bagaimana anak saya Dokter?)" ujar Pak tua langsung mendekati Dokter tersebut.
"Alhamdulillah Pak,putri bapak teu kunanaon.(Alhamdulillah anak perempuan bapak tidak apa-apa.) pelurunya mengenai bahu dan untungnya tidak mengenai jaringan yang fatal. Sekarang anak bapak sudah keluar dari masa kritisnya." ujar Dokter tersebut pada Pak tua.
"Alhamdulillah ya Allah,,anak abdi teu kunanaon.(Terimakasih ya Tuhan,anak saya tidak apa-apa.)" Pak tua pun sumringah dan keluarganya yang hadirpun ikut bahagia.
******
Ardi tampak rebahan di kasur kecil kamar kosnya. sementara Naya sedang mandi di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat Naya selesai mandi dia pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Ardi yang sedang tertidur. Kasian sekali dia,pikir Naya saat melihat wajah kelelahan pada Ardi. Naya pun mendekati Ardi,,lalu ikut rebahan disampingnya.
Naya memperhatikan wajah Ardi. Kulitnya yang putih bersih,hidungnya yang mancung,serta tubuhnya yang atletis,sempurna sekali laki-laki ini pikirnya,tapi kenapa Anjani menolak Ardi?
Saat sedang berpikir sambil memperhatikan wajah Ardi yang tertidur disampingnya,tiba-tiba Ardi mengganti posisi dan kini diapun seakan memeluk Naya. Naya pun spontan kaget karena Ardi sekarang memeluknya,wajahnya pun sangat dekat dengan wajah Ardi. Wajah Naya pun terasa bersemu merah. Ada rasa malu dihatinya. Tapi dia pun membiarkan Ardi memeluknya sambil tertidur,Naya pun tak mau membuat Ardi terbangun.
Ardi pun tampak semakin erat memeluk tubuh Naya. Naya pun jadi semakin bingung karena tubuhnya terasa sesak dan tak bisa bergerak karena tubuh Ardi yang sedang memeluknya. Wajah Ardi semakin dekat dengan wajahnya. Saat Naya kebingungan tiba-tiba saja Ardi sudah menciumnya. Sampai-sampai Naya hampir saja kehabisan nafas karena sekarang bibirnya sudah di ciumi oleh Ardi. "Iiish,,kamu ngapain sih? bukannya kamu tidur ya?" ujar Naya yang berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Ardi.
"Gimana aku mau tidur kalau ada gadis cantik dan wangi di samping ku seperti ini? salah sendiri kenapa pakai ikut rebahan? kan aku jadi horny?." ujar Ardi lalu semakin memeluk dan menciumi bibir Naya.
"Hhmmm,,lepasin! iish, lepasin tau?." ujar Naya yang megap karena dipeluk dan di ciumi oleh Ardi. Saat tubuhnya sedikit renggang Naya pun langsung bangkit dari rebahannya. Dia pun memukul-mukul tubuh Ardi yang tertawa-tawa melihat Naya yang megap seperti habis lari maraton.
"Kamu..iiihs. Mandi sana! masih bau juga,nyium-nyium?." ujar Naya pura-pura manyun sambil terus memukul-mukul tubuh Ardi.
"Hahaha,,wajah kamu merah banget,nafas sampai ngos-ngosan begitu kayak abis lari maraton." ujar Ardi tertawa sambil memegang perutnya dan membiarkan Naya memukul tubuhnya,karena memang pukulan Naya tidak terasa apa-apa bagi Ardi.
Setelah puas tertawa Ardi pun bangkit dan duduk di samping Naya. Dia pun memegang pipi Naya yang memerah semu karena malu di goda oleh Ardi. "panas ya pipinya?" ujar Ardi tersenyum.
Naya pun mengelakkan pipinya dan mendorong tubuh Ardi untuk bangun. "Iiih,,apaan sih? udah sana mandii?" ujar Naya. Ardi pun kembali tertawa dan akhirnya bangkit lalu masuk kedalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi Ardi dan Naya pun makan malam di kosan yang di beli di warteg depan kosan Ardi. Setelah mereka makan Ardi pun mengajak Naya untuk pergi kerumah sakit. Mereka pun memakai masker agar wajahnya tak terlalu kentara bila ada anak buah Edward yang melihat.
Sesampainya di rumah sakit Naya dan Ardi pun mencari-cari keberadaan Siska. Tapi mereka tidak menemukannya. Sampai akhirnya Naya dan Ardi pun duduk di cafe diseberang rumah sakit tersebut. Saat mereka memasuki cafe tersebut Ardi pun langsung melihat Siska yang sedang berbicara dengan seseorang. Ardi mengurungkan niatnya untuk mendekat. Naya yang memang belum mengenal Siska hanya diam mengikuti langkah Ardi.
Ardi mengambil meja yang posisinya di belakang meja Siska. Sehingga dia bisa mengawasi dan sedikit mendengar pembicaraan mereka.
*******
__ADS_1