
"Anjani,Anjani,tok.tok.tok." pintu kamar kosan Anjani di ketuk dari luar. Ardi,Mila,dan Siska berdiri di depan pintu kamar Anjani.
"Kenapa belum di buka ya?" Mila bertanya dengan cemas dan kembali mengetuk pintu kamar Anjani. "Ya,sebentar." dari dalam terdengar suara Anjani yang terdengar lemah. Anjani berusaha berdiri untuk membukakan pintu kamar kosnya.
"krek." pintu pun terbuka. Mila dan Siska langsung memeluk Anjani. "Astaga,Anjani lu kenapa? lu sakit apa? sampai berapa hari belum sembuh?" Mila bertanya setelah mereka masuk dan duduk di dalam kamar tiga kali tiga itu. Kosan Anjani yang kecil tapi tetap rapi walaupun penghuninya sedang sakit. "Maaf teman-teman,gua lemes banget. Gua belum bisa masuk kerja." Anjani menyahut dengan nada lemah.
"Kita ke rumah sakit ya? biar lu cepat sembuh. Kita kuatir kalau lu seperti ini." Ardi membujuk karena sangat kuatir melihat tubuh lemah dan wajah pucat gadis pujaannya itu.
"Nggak usah,gua nggak kenapa-napa kok. Cuma lemes aja." Anjani menolak. Tapi tubuhnya tak bisa berbohong dan tiba-tiba dia pun tergolek lemas tak sadarkan diri,Anjani pun jatuh pingsan.
Ardi,Mila,dan Siska pun panik, Ardi pun langsung menggendong sahabat sekaligus orang yang dicintainya secara diam-diam itu untuk di bawa naik ke mobil lalu melaju ke rumah sakit. "Bertahan lah sayang,aku akan menjaga mu." Ardi berbisik di telinga anjani. Tampak sekali raut wajah kuatir nya saat menggendong tubuh lemah Anjani.
Sesampainya di rumah sakit Anjani pun langsung di rawat dan di pasang infus di tangan kirinya. Ardi berdiri di samping tempat tidur tanpa melepas genggaman tangan Anjani yang terbaring lemah. Mila dan Siska pun berdiri disampingnya. "Ya ampun Anjani,apa yang harus kami lakukan? apa kami harus menelepon ibu mu?" Siska tampak panik dan menggigit jarinya karena bingung apa yang harus dilakukannya.
Mila mengusap-usap punggung Siska untuk menenangkan sahabatnya itu. "Sabar ya? kita tunggu dulu penjelasan dari dokter,kalau nanti kondisinya memburuk,baru kita telpon ibunya. Walau nanti pasti Anjani marah pada kita karena dia tak pernah mau membuat keluarganya di kampung kuatir." Mila menghela nafas panjangnya dan menatap Anjani dengan perasaan sedih.
"Kalian pulang aja dulu,biar gua yang nemenin Anjani. Nggak mungkin kan kita semua disini? sebaiknya kita bergantian aja jagain Anjani. Lagian hari udah malem nggak baik kan kalian pulang larut malam?." Ardi pun menyuruh kedua sahabatnya untuk pulang. Sedangkan dia sendiri akan menjaga Anjani. "Beneran nggak apa-apa kalo kita pulang Di?" Siska bertanya dan di jawab dengan anggukan oleh Ardi. Siska dan Mila pun pamitan pada Ardi dan mencium kening Anjani yang masih belum sadar,lalu meninggalkan Ardi dan Anjani untuk pulang ke kosan mereka masing-masing.
Ardi menarik kursi dan duduk di sisi kanan Anjani. Dia begitu sedih melihat Anjani yang belum tersadar dari pingsannya. Ardi terus menggenggam tangan Anjani. "Maafkan aku Anjani, harusnya aku menjaga mu. Andai kamu tau perasaan ku selama ini dan tak hanya menganggap ku sebagai seorang sahabat,andai saja aku berani mengatakan bahwa aku mencintaimu lebih dari sahabat. Anjani,bertahanlah aku disini menunggu mu." Ardi meneteskan air matanya yang tulus karena sedih dan menyesal karena tak berani mengungkapkan perasaannya pada Anjani. Dan dia pun tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Anjani pun terbangun, lalu dia pun mencoba membuka matanya dan ingin memegang kepalanya yang masih terasa berputar,tapi tertahan. Karena tangan kirinya terpasang infus sedangkan tangan kanannya ada yang menggenggam erat. Anjani menoleh dan melihat Ardi yang duduk tertidur dengan kepala di kasur sambil menggenggam tangannya.
"Di? Ardi?" Anjani mencoba membangunkan Ardi. tangannya terguncang karena Anjani menarik-narik tangan Ardi yang masih menggenggamnya. Ardi tersentak dan terbangun karena tangannya terasa seperti ada yang menarik-narik.
"Ah,Anjani, lu udah bangun?" Ardi langsung berdiri dan melepaskan genggamannya. Dia pun tampak kaget dan salah tingkah di depan Anjani yang tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Udah,gua udah bangun dari tadi." ucap Anjani berbohong untuk menggoda Ardi yang semakin salah tingkah itu. "Hah,dari tadi? trus kenapa nggak bangunin gua?" Ardi pun semakin salah tingkah,dan dia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Dari tadi gua bangunin lu,tapi lu nya yang nggak denger malah tangan gua makin lu genggam erat. Kenapa? lu takut gua mati? takut nggak ada lagi yang mau lu godain?" Anjani pun tertawa melihat ardi. Tapi mendengar kata-kata mati Ardi pun langsung duduk di samping Anjani yang masih terbaring. Kedua tangannya langsung menekan pundak Anjani.
"Lu jangan ngomong kayak gitu please? hati gua sakit banget denger lu ngomong gitu, gua nggak siap di tinggal sama lu." Ardi bicara serius menatap Anjani. Wajah Ardi begitu dekat di wajahnya sampai membuat wajah Anjani merona.
"Tok..tok..tok.." pintu kamar pun di ketuk dari luar. Ardi pun mengurungkan niatnya. Anjani pun menarik nafas lega namun masih tetap bingung dengan sikap sahabat nya yang satu ini.
"Permisi mas,kita mau periksa mbak Anjani nya dulu ya?" Dua orang suster berkata dan masuk dengan seorang Dokter untuk memeriksa kondisi Anjani. "Gimana perasaannya mbak Anjani? apa sudah agak mendingan?" Dokter bertanya sambil tetap memeriksa denyut jantung Anjani. "Iya dokter,saya udah agak mendingan,cuma masih agak lemes aja." Jawab Anjani. "Iya itu karena mbak kehilangan banyak cairan,nanti kalau cairannya sudah terganti lagi pasti badannya kuat lagi?" Dokter menimpali.
"Bagaimana dengan sahabat saya dokter? apa ada yang berbahaya?" Ardi bertanya pada dokter. "Ooh,ini sahabatnya? saya kirain tadi pacarnya,ganteng dan cantik jadi cocok gitu. Hehehe,nggak kok,tenang aja,Anjani hanya kurang cairan mungkin karena dia syok atau sesuatu hal yang di pikirkannya,jadi pencernaannya pun terganggu. Tapi nanti juga baikan, asal makan dan istirahatnya lebih di jaga. Dan yang paling penting jangan terlalu banyak berpikir,nanti bisa kelelahan jadi nya ngedrop lagi." Dokterpun bicara panjang lebar tapi membuat Ardi malu karena dianggap sebagai pacar Anjani. Andai saja benar,hatinya bergumam lalu tersenyum sendiri.
"Anjani." Tiba-tiba Mila dan Siska pun muncul. "Hay girls? mmuach,muach." Mereka memeluk dan mencium Anjani. "Kok lu berdua bisa barengan kesini? apa lu pada nggak kerja?" Anjani bertanya pada para sahabatnya itu.
__ADS_1
"Yee, kita kan memang lagi off kerja! Apa lu lupa kalau kita janjian off bareng buat ngerayain ultahnya si kunyuk Ardi? hmmm,,malah lu nya sakit." Mila berkata sambil memainkan kedua jari telunjuknya untuk pura-pura kecewa..
"Haaah? astaga,gua lupa! Maaf ya guys? ya ampun, happy birthday pangeran kita yang paling ganteng diantara kita,heheee." Anjani berkata tertawa sambil merentangkan tangannya menunggu Ardi untuk memeluknya. Ardipun mendekat lalu memeluk Anjani "Iya,makasih sayang kuh" Ardi berkata tulus tapi di anggap bercanda oleh sahabat-sahabatnya.
"Eleeeh,sayang, sayang pala lu peyang?" Mila tertawa dan memukul kepala Ardi yang meringkuk reflek menghindari kepalanya di pukul. Siska dan Anjani pun tertawa melihat mereka lalu Siska dan Mila pun bergantian memeluk Ardi dan mengucapkan selamat ulang tahun ke dua puluh empat pada Ardi.
"Cieee,udah tua lu? dua puluh empat tahun. Nikah lu nikah!" Siska pun menggoda Ardi. "Iya,ntar kalo Anjani udah sembuh." Ardi pun melirik kearah Anjani. Sahabat-sahabatnya pun tertawa karena mereka hanya menganggap ucapan Ardi tadi hanya sebuah candaan,tapi mereka tak tau kalau di hati Ardi yang paling dalam dia memang mengharapkan Anjani untuk menjadi miliknya. Andai saja,sekali lagi Ardi membatin.
*****
Hay teman-teman.
Jangan lupa komentar, kritik dan sarannya ya?
Vote dan like nya juga lho..
Terimakasih semua..
love..love.. untuk kalian..😍😍😘😘😘😘
__ADS_1