
Handoko tampak uring-uringan setelah mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Anjani sudah sadar dari komanya, bahkan saat ini Anjani juga berada di Singapura. Lalu kenapa Anjani belum melaporkan Edward ke polisi? kenapa Anjani harus dibawa ke Singapura? apa yang terjadi pada Anjani? begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepala Handoko.
Selama ini dia sudah merasa sangat rumit dengan perintah-perintah dari atasannya. Dia merasa masalah itu sudah selesai tapi ternyata pemikirannya salah, karena Anjani berkali-kali selamat dari maut, bahkan sekarang Anjani terbangun dari komanya. Apa yang akan terjadi kedepan? Handoko masih bingung dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
Tanpa disadarinya ternyata Edward sudah memperhatikannya dari tadi. Ada apa dengan Handoko,kenapa dia tampak uring-uringan? Edward bertanya dalam hati.
"Ada apa dengan mu? apa ada masalah di kantor?" ujar Edward pada Handoko yang tak sadar akan kehadirannya.
Handoko pun tampak terkejut ketika melihat Edward sudah berdiri di samping nya. "Maaf tuan,,saya tadi tidak melihat kalau tuan masuk kesini." Ujar Handoko terkejut.
"Ya iyalah,, gimana mau liat saya kalo kamu lagi uring-uringan begitu." ujar Edward. "Memangnya ada masalah apa? kenapa kamu tampak sedang ada masalah begitu?" Ujar Edward lagi.
Handoko tampak bingung untuk memberitahukan atau tidak apa yang telah didengarnya pada atasannya itu.
"Iya tuan,, sekarang sedang ada demo besar-besaran di pabrik kita, para pekerja menuntut kenaikan upah,bila mereka tidak mendapatkannya maka mereka akan mogok kerja tuan!" Ujar Handoko menutupi masalah yang sebenarnya karena kebetulan dikantornya juga sedang ada masalah dari para buruh yang turun kejalan meminta hak mereka.
"Aah,,kenapa terlalu diambil pusing? masalah buruh bukan masalah baru lagi,biarkan saja mereka mogok kerja, umumkan bila besok mereka tidak masuk kerja,pecat saja semuanya tanpa pesangon. Toh masih banyak diluar sana orang yang sedang membutuhkan pekerjaan." ujar Edward enteng tak memperdulikan nasib pekerjanya.
"Baiklah Tuan,,nanti akan saya umumkan." Ujar Handoko berpura-pura.
__ADS_1
*****
Anjani tampak melamun memandang keluar jendela. Diapun mulai menarik nafas panjang,seakan ada beban yang sangat berat didalam dadanya. Ardi yang masuk kedalam kamar itu pun tampak memperhatikan Anjani yang tampak murung. "Hay cantik? lagi ngelamunin apa sih? mukanya murung gitu?" Ardi pun langsung duduk didepan Anjani dan menggenggam tangannya.
"Entahlah Di,, entah sampai kapan aku akan seperti ini. Kenapa kamu nggak mau cerita tentang apa yang terjadi pada ku di?" Ujar Anjani tampak sedikit kecewa. Ardi pun merasa bersalah melihat mata Anjani yang berkaca-kaca seakan memohon padanya. Ardi pun menghela nafasnya. "Anjani,maafin aku ya? bukannya aku nggak mau cerita. Tapi kondisi kamu belum memungkinkan untuk itu,aku takut kalau nanti kepala kamu jadi sakit lagi. Aku harap kamu bersabar ya? nanti kalau kondisi kamu sudah mendingan pasti aku bakal cerita semuanya ke kamu. okey?" Ujar Ardi meyakinkan Anjani. Anjani pun mengangguk dan tersenyum pada Ardi yang kemudian menarik tubuh Anjani kedalam pelukannya. Ardi sangat mencintai Anjani, namun sekarang dia harus memilih antara cinta pertamanya atau Naya, gadis desa yang telah menyelamatkan hidupnya.
******
Aditya dan Siska telah kembali kekediaman Aditya. Mereka disambut oleh Naya yang sedang menggendong sikecil yang tampak sedikit rewel. "Duuuh,,sayang aunty. Kenapa sayang? kok kamu rewel?" Ujar Siska yang tampak ingin mendiamkan sikecil yang tampak merengek didalam gendongan Naya. "Iya teh,Naya juga bingung. Nggak biasa-biasanya sikecil rewel. Ada apa ya teh?" Ujar Naya yang tampak kebingungan.
Aditya pun tampak mendekati Naya dan Siska. Lalu Aditya pun menyentuh dahi sikecil lalu meraba-rabanya. "Kayaknya sikecil demam Nay? coba kamu kasih parasetamol ada dikotak P3K." Ujar Aditya. "Apa iya kak? kok Naya nggak ngerasain ya? apa karena sikecil digendongan terus ya?" Ujar Naya lalu langsung mengambil obat yang dikatakan Aditya tadi lalu meneteskannya kedalam mulut sikecil.
Tak berapa lama,bel rumah pun berbunyi. Tampak Mbak Surti pembantu Aditya pun berlari untuk membukakan pintu. "Hay guys." Ujar orang tersebut yang ternyata Mila yang baru datang dan langsung berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
"Dari mana la? Bukannya tadi lu udah duluan kesini?" Ujar Siska pada Mila. "Iya,tadi gua udah dari sini,tapi keluar bentar beli cemilan. Nih?" Ujar Mila yang langsung menyodorkan kantong plastik yang berisi buah-buahan dan cemilan yang dibelinya di Supermarket yang ada diujung jalan. Mereka pun berkumpul memakan buah-buahan dan cemilan yang dibeli oleh Mila sambil bercerita. "Gimana tadi pengintaian lu pada?" Ujar Mila pada Siska dan Aditya. Siska pun langsung tersenyum dan melirik kearah Aditya yang langsung memberi kode pada Siska untuk tidak menceritakan kekonyolannya saat menyamar menjadi mbok jamu waria. Tapi Siska tidak menghiraukan kode yang diberikan Aditya. Dia pun tetap dengan semangat bercerita tentang penyamaran Aditya.
"Kak Adit nyamar jadi waria penjual jamu?" Ujar Mila terbelalak tak percaya. "Iya,, beneran tau." Ujar Siska yang tertawa-tawa. Mila dan Naya pun ikut tertawa saat Siska menceritakan semuanya. Aditya yang malu pun berusaha untuk menutup mulut Siska agar tak melanjutkan ceritanya,tapi Siska pun menampik tangan Aditya dan tetap dengan semangat menceritakan dan memperagakan saat Aditya menjadi waria penjual jamu. Mereka pun tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Siska. "Sumpah lu pada pasti nggak bakal percaya kalo kak Adit tu cantik banget pake kebaya sama konde." Ujar Siska tertawa-tawa.
"Huaahaa,,parah lu sis,parah." Ujar Mila tertawa terbahak-bahak. Naya pun ikut tertawa mendengar ucapan Mila. Aditya yang tak dapat membendung Siska pun tampak pasrah saat mendengar cerita Siska lalu ikut tertawa mengingat kekonyolan yang telah dia lakukan tadi siang. Dalam hatinya pun dia sendiri tak menyangka akan melakukan kekonyolan tersebut.
__ADS_1
"Terus hasil pengintaiannya gimana?" Ujar Mila yang kembali tampak serius setelah mereka tertawa terbahak-bahak tadi sembari mengupas kulit apel yang tadi dibelinya. Siska pun menatap kearah Aditya yang lalu memberi kode untuk mempersilahkan Siska pun mengatakan pada Mila dan Naya.
"Iya,tadi kak Adit udah dapat info kalo Edward ternyata lagi keluar negeri,dan coba tebak dia ada dimana?" Ujar Siska pada Mila dan Naya yang langsung mengernyitkan dahi mereka tak paham dengan tebak-tebakan Siska. "Memangnya dia ada dimana?" Ujar Mila penasaran. Naya pun tampak serius menunggu ucapan Siska.
"Edward dan Handoko sekarang ada di Singapura juga." Ujar Siska yang disambut belalakan mata Mila dan Naya yang seakan tak percaya dengan pendengaran mereka. "Apa? dia juga di Singapura?" Ujar Mila lagi. "Duuh,kenapa mereka kesana juga sih? mudah-mudahan aja mereka nggak ketemu sama teh Anjani." Ujar Naya yang mulai tampak panik.
"Terus lu udah bilang ke Ardi dan mbak Andini?" Ujar Mila lagi pada Siska. "Belum gua belum bilang. Sebaiknya kak Adit aja yang telpon Ardi." Ujar Siska menatap kearah Aditya.
"Ya udah, kalian tenang aja ya? biar gua yang telpon Ardi." Ujar Aditya lalu berusaha untuk menghubungi Ardi lewat telepon selulernya.
*****
Andini datang dan mulai memeriksa kondisi Anjani. Disampingnya tampak Ardi yang berdiri dan memperhatikan Andini yang sedang serius memeriksa kondisi Anjani. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ardi pun langsung melihat layarnya dan ada nama Aditya disana. Ardi pun langsung menjawab panggilan dari Aditya.
"Halo,,ya Dit?" Ujar Ardi lalu mendengar jawaban dari Aditya. "Di,lu mesti hati-hati disana!. Gua dapat info kalau Edward ada di luar negeri dan yang gua dengar dia lagi ada di Singapura sekarang." Ujar Aditya serius.
"Apa? dia lagi ada disini juga?" Ujar Ardi seakan tak percaya. "Iya,dia lagi disana juga. Makanya gua minta lu harus hati-hati jangan sampai dia tau dan bertemu sama Anjani, kalau ada apa-apa lu langsung telpon gua ya?" Ujar Aditya meyakinkan Ardi. "Ok Dit,thanks ya? gua bakal hati-hati disini." Ujar Ardi lalu menutup panggilan Aditya.
Andini yang memperhatikan Ardi yang tampak serius pun langsung bertanya. "Ada apa di? siapa yang telpon? apa ada masalah di Indonesia?" Ujar Andini pada Ardi. Ardi pun menatap Andini yang telah selesai memeriksa kondisi Anjani. Anjani pun tampak tertidur setelah disuntikan obat oleh Andini. Setelah memastikan bahwa Anjani telah tertidur Ardi pun langsung menarik tangan Andini untuk mengikutinya keluar dari kamar Anjani. Andini pun lalu mengikuti Ardi. Setelah mereka berada diluar kamar Ardi pun langsung berkata pada Andini. "Barusan Aditya nelpon. Dia bilang kalau kita harus hati-hati disini, karena Edward juga ternyata sedang berada disini." Ujar Ardi serius. "Apa? sibrengsek itu juga disini? ngapain tu orang? apa jangan-jangan dia tau lagi kalau Anjani ada disini?" Ujar Andini menduga-duga. "Kamu jangan panik dulu,kita belum tau apa Edward tau atau nggak bahwa Anjani ada disini. Yang penting kita harus hati-hati jangan sampai mereka tau Anjani ada disini." Ujar Ardi pada Andini. Andini pun mengangguk pada Ardi. Mereka pun tampak berpikir bagaimana caranya agar Edward tidak menemukan mereka dan Anjani.
__ADS_1
******