Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
merayakan kemenangan


__ADS_3

Dokter dan perawat masih berusaha menyelamatkan nyawa Anjani dan Mila yang diserang oleh orang yang tak dikenal. Ketika Ardi dan Siska masuk dan ingin tetap bersama sahabat-sahabatnya tersebut,mereka terpaksa harus keluar dari ruangan karena perawat meminta dengan sedikit memaksa dan meminta agar mereka keluar.


Siska menangis sesenggukan tak percaya melihat keadaan Anjani dan Mila yang mereka tinggalkan sebentar saja. Dan ini bukan lah kali pertama tapi sudah menjadi kejadian yang kedua kalinya bagi Anjani. Ada orang yang berusaha mencelakainya,dan kini Mila pun turut terkena imbasnya karena berada di sana saat menjaganya.


Ardi dan Siska tampak terpukul dengan keadaan ini,Siska pun terduduk lesu dengan sisa tangisnya yang masih terdengar lirih. Ardi tampak mondar-mandir seakan sedang berpikir siapa yang telah melakukan semua ini? dan tiba-tiba langkahnya pun terhenti.


"Ini nggak bisa di biarkan. Seseorang memang sedang berusaha untuk mencelakai Anjani,dan sekarang Mila pun ikut menjadi korbannya. Dan gua tau siapa orang itu." Ardi pun tampak benar-benar marah. Dia pun mengepalkan tangannya dan langsung berbalik dan berlari pergi meninggalkan Siska yang berusaha untuk menahannya untuk pergi.


"Di... Ardi..lu mau kemana? jangan gegabah,,Ardiii?" Siska terkejut melihat Ardi berlari meninggalkannya Siska pun sontak berdiri menjerit memanggil nama Ardi,namun Ardi tetap berlari menjauh pergi keluar dari rumah sakit itu.


******


Di tempat lain Edward sedang merayakan keberhasilannya. Mereka berkumpul di meja makan dengan hidangan yang lezat dan disajikan dengan mewah. Mereka duduk bersama dan terlihat sangat bangga dengan keberhasilan mereka untuk menyingkirkan Anjani.


"Hahahaha,,bagus..bagus...kerja kalian sangat memuaskan. Tak salah saya membayar kalian dengan mahal." Edward tertawa puas saat mendengar penjelasan kedua orang suruhan handoko tersebut.


Handoko pun ikut tertawa akhirnya tugas yang sulit itu dapat terselesaikan juga. "Benar tuan,mereka ini memang ahli dalam kejahatan. Seperti singa lapar mereka menyamar dan mengintai mangsanya,begitu ada kesempatan langsung hap..selesai sudah di tangan mereka." "Hahaaahaa." mereka pun tertawa bersama-sama.


Edward pun memukul-mukul pundak Handoko menyatakan rasa setujunya. Handoko pun tertawa lalu dia berdiri dan mengangkat gelas di atas meja hidangan di depannya. Semua orang di meja itu pun ikut berdiri dan mengangkat gelas mereka.


"Bersulang untuk keberhasilan kita? cheease..?" Handoko mengarahkan gelasnya dan disambut dengan dentingan gelas-gelas yang beradu. "Cheeease!" semua serempak dan tersenyum. Mereka pun lalu meneguk minuman tersebut.


Mereka terlihat sangat percaya diri dan bangga atas keberhasilan mereka menyingkirkan Anjani. Namun saat mereka sedang bersuka ria,tertawa penuh kemenangan tiba-tiba terdengar ada keributan di luar rumah.


"Plak..bruk.." Ardi memukul penjaga gerbang yang berusaha untuk menghalanginya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tampak penjaga itu pun berdiri berusaha untuk membalas pukulan Ardi. Tapi Ardi dengan cekatan menangkap tangan penjaga itu dan langsung menendang perutnya hingga penjaga itu pun kembali jatuh tersungkur.


Ardi pun berusaha untuk berlari masuk kedalam rumah mewah tersebut. Namun saat pintu terbuka Ardi pun langsung di sergap oleh dua orang berbadan besar yang satu botak dan satu lagi berjenggot,perkelahian pun kembali terjadi.


Mereka saling memukul,Ardi melawan memukul dan menendang si botak yang berada di depannya sementara dari belakang si jenggot pun menyergap Ardi dan berusaha untuk membantingnya ke lantai. Ardi pun mengelak dengan bergelayut di badan si jenggot sehingga mereka berdua pun terjatuh. Si botak pun datang berusaha untuk menendang Ardi,Ardi pun mengelak tapi di belakangnya masih ada si jenggot yang mengarahkan pukulan kewajahnya. Ardi kewalahan menghadapi kedua orang bertubuh besar itu. Dan akhirnya dia pun tersungkur mendapat serangan bertubi-tubi dari kedua penjaga Edward tersebut.


Mendengar suara ribut-ribut Edward dan anggotanya pun bangkit dan berlari menghampiri tempat dari asal suara ribut-ribut tersebut. Dan ternyata arah suara tersebut berasal dari ruang depan atau ruang tamu rumah mewah tersebut.


Ketika mereka sampai di ruang tamu tersebut tampak barang-barang disana telah pecah berantakan karena telah terjadi perkelahian disana.


"Ada apa ini? kenapa bisa berantakan sekali disini?" Edward bertanya dengan geram. "Ini bos biang keladinya." si botak pun menunjuk tubuh Ardi yang sudah berdarah-darah terkena pukulan yang bertubi-tubi dari mereka berdua tadi.


Edward pun mendekati tubuh Ardi yang telentang di lantai.


Dia pun mengangkat dagu Ardi. "Kamu lagi..kamu lagi.. belum puas juga kamu cari keributan sama saya? kamu nggak takut mati ya?" Edward melepas dagu Ardi dengan kasar dan berkata seolah mencemooh Ardi yang tak berdaya.


Edward sedikit terlonjak terkena percikan ludah Ardi di wajahnya. "Haaah,,bocah tengik berani sekali kamu.!" Edward pun melayangkan pukulan telak ke wajah Ardi, sehingga Ardi pun kembali terkapar di lantai. Lalu Edward pun menyuruh penjaganya untuk membuang tubuh Ardi di jalanan. "Lempar orang ini kejalan,kalau dia masih melawan habisi saja dia." Edward berkata dengan geram lalu bangkit dan kembali berjalan masuk meninggalkan ruang tamu yang diikuti Handoko dan anggotanya yang lain.


Saat mereka berjalan tatapan Ardi tertuju pada seorang pesuruh Handoko,dia seperti mengenali tatapan mata itu. Mereka pun saling bertatapan. Ardi berusaha bangkit untuk meraih orang itu, namun dia langsung di seret oleh kedua penjaga yang telah memukulnya habis-habisan tersebut.


Ardi di seret keluar rumah lalu dimasukkan kedalam sebuah mobil Jeep. Kemudian si botak pun masuk ke mobil dan memegang kemudi, sedangkan si jenggot duduk disampingnya, mobil pun melaju dengan kencang meninggalkan rumah mewah Edward tersebut.


******


Hari sudah larut malam,hujan deras pun mengguyur jalanan sepi yang beraspal. Terdengar suara mencuit dari ban mobil yang di rem mendadak. Mobil itupun berhenti di tengah jalan yang memang sudah sepi karena hari sudah sangat gelap. "Bruuk.!" tubuh Ardi di lempar begitu saja di tengah jalanan yang basah di guyur air hujan.

__ADS_1


"Jangan coba-coba lagi untuk datang kalau masih sayang pada nyawa mu!." si jenggot berkata sambil menendang perut Ardi yang meringkuk di aspal. Ardi pun terbatuk dan memeluk tubuhnya sendiri berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Si botak pun memberi kode pada si jenggot untuk segera masuk kembali kedalam mobil Jeepnya dan mereka pun berlalu dengan cepat meninggalkan Ardi yang terkapar kesakitan serta basah kuyup diguyur air hujan.


******


Seorang Dokter tampak berjalan keluar dari kamar Anjani. Melihat itu Siska pun langsung berlari menghampiri Dokter tersebut. "Dokter bagaimana sahabat-sahabat saya Dokter? bagaimana keadaan Anjani dan Mila? apakah mereka baik-baik saja Dokter?" Siska langsung menarik tangan Dokter wanita yang berada di depannya itu.


"Alhamdulillah,,kita harus bersyukur pada Tuhan. Nyawa mereka masih bisa diselamatkan. Dan sepertinya Anjani dan calon bayinya benar-benar sedang dilindungi Tuhan, karena sudah beberapa kali diambang Kematian tapi masih bisa diselamatkan. Sepertinya keinginannya untuk hidup sangat besar." Dokter itu pun berkata dengan takjub tentang Anjani.


"Lalu bagaimana dengan Mila Dokter?"


"Saudari Mila juga baik-baik saja walaupun tadi sempat kehilangan banyak darah." ujar Dokter lagi.


"Alhamdulillah,syukurlah kalau begitu. Terimakasih banyak Dokter? apakah sekarang saya sudah boleh melihat mereka berdua Dokter?" Siska pun sedikit lega karena nyawa sahabat-sahabatnya masih selamat.


"Sebaiknya nanti saja,kita biarkan saja dulu mereka beristirahat didalam ya? mbak jangan kuatir,kami akan membantu untuk menjaga mereka." ucap Dokter untuk menenangkan Siska. Dokter pun pamit dan beranjak meninggalkan Siska.


Siska pun mengangguk pada Dokter tersebut dan kembali duduk di bangku panjang diluar kamar Anjani.


Ada rasa lega dihatinya karena sahabat-sahabatnya masih bisa selamat. Namun Siska masih kepikiran tentang Ardi yang tiba-tiba pergi meninggalkannya tadi.


Saat Siska sedang duduk termenung dan hanyut dalam pikirannya, tiba-tiba ada yang menghampirinya.


"Selamat malam mbak?" Seorang pria tiba-tiba datang memberi hormat dan menghampiri Siska. "Ma..malam Pak.!" Siska menoleh berkata terbata dengan sedikit terkejut karena dihampiri pria tersebut. Matanya pun menatap liar dan terlihat bingung.


Melihat raut bingung diwajah Siska,pria tersebut pun langsung memperkenalkan diri. "Maaf kalau saya membuat mbak bingung. Perkenalkan,saya Briptu Aditya, saya petugas yang bertugas menyelidiki kasus saudari Anjani." ujar pria yang ternyata seorang polisi tersebut pada Siska yang masih terbengong dan terlihat bingung.

__ADS_1


*****


__ADS_2