
Polisi tampak berjaga-jaga di depan kediaman Edward. Tampak semua komplotannya di tangkap dan digiring ke kantor polisi. Pengacaranya pun tampak mendampingi mereka. Edward tetap tampak santai berjalan masuk kedalam mobilnya dan melaju mengikuti mobil polisi yang lain menuju kantor polisi.
Aditya tampak mengintrogasi Edward. Semua pertanyaan yang diajukan tidak dijawab sepatah kata pun oleh Edward. Sampai bukti rekaman di perdengarkan padanya pun Edward tetap diam tak bersuara. Dia pun menggunakan haknya untuk diam dan menyerahkan semua masalahnya pada pengacaranya.
"Jawab,,apa benar kamu otak dari semua penyerangan terhadap Anjani dan sahabat-sahabatnya? apa kamu juga bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Cindy? jawab?" Aditya pun hilang kesabaran dan Dia pun lalu memukul Edward yang tetap diam tak menjawab. Sampai teman-teman polisinya yang lain pun masuk untuk menahan agar dia tidak memukuli Edward.
Edward pun tetap diam dan hanya tersenyum licik seakan mengejek ketidakmampuan Aditya.
******
(mimpi Anjani)
Anjani berlarian di sebuah taman bunga yang indah. Kupu-kupu berterbangan hinggap di bunga-bunga yang indah. Disana juga ada Ardi,Mila,dan Siska. Serta ada seorang gadis kecil yang cantik. Ardi tampak bahagia menggendong gadis kecil itu, mengangkatnya ke atas seakan menerbangkan gadis kecil tersebut. Semua tampak indah dan bahagia. Anjani pun tertawa bersama sahabat-sahabatnya.
Tapi tiba-tiba diapun melihat Edward datang bersama Handoko dan anak buahnya. Mereka memporak-porandakan taman bunga tersebut. Edward pun merampas gadis kecil itu dari tangan Ardi lalu menembak Ardi yang melawan hingga jatuh tersungkur di tanah.
Tampak Mila dan Siska pun mencoba melawan,mereka pun menjerit-jerit melihat tubuh Ardi bersimbah darah. Edward pun melepaskan tembakan pada Mila dan Siska. Anjani pun menjerit sekuat tenaganya,dia melihat sahabat-sahabatnya terkapar bersimbah darah. Gadis kecil itu pun menjerit memanggil namanya. "Mommy,,mommy,, lepaskan,,aku mau mommy." Anjani pun berlari ingin meraih gadis kecil tersebut tapi Edward menghalanginya dan saat Anjani terjatuh Edward pun melepaskan tembakan tepat di dahinya..Anjani pun jatuh tersungkur dengan darah mengalir dari dahinya.
******
Andini mendengar suara alat pendeteksi detak jantung Anjani berbunyi. Detak jantung Anjani tampak berdetak dengan kencang. Ardi yang melihat Andini panik pun ikut bangun dari tidurnya karena dia memang tidur tak jauh dari pembaringan Anjani, untuk berjaga-jaga kalau ada situasi yang kritis seperti sekarang ini.
"Umar,,tolong bantu saya!." ujar Andini pada asisten pribadinya. Mereka pun tampak sibuk menentralkan kembali detak jantung Anjani.
__ADS_1
"Andini,,ada apa dengan Anjani?" ujar Ardi yang langsung mendekati Andini dan Umar yang sedang panik.
"Gua juga belum tau Di, tiba-tiba alat pendeteksi jantung Anjani berbunyi. Dan detak jantung Anjani tampak tak stabil." ujar Andini yang tetap sibuk bersama Umar menangani Anjani.
Mendengar suara ribut-ribut Mila dan yang lain pun ikut terbangun.
Ardi langsung mendekat dan menggenggam tangan Anjani. "Anjani,,kamu harus kuat sayang. Kembalilah Anjani ku?" ujar Ardi pada Anjani.
Anjani yang terbaring dengan perut yang sudah membuncit karena kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke tujuh,tampak memberikan respon. Tangannya pun bergerak-gerak. Bola matanya yang masih tertutup pun tampak bergerak-gerak seperti orang yang sedang bermimpi buruk.
Andini pun langsung berkata dia harus mengoperasi Anjani sekarang juga. Bayi Anjani harus di keluarkan demi menyelamatkan nyawa mereka berdua.
Siska dan Mila pun di minta membantu mempersiapkan persalinan Anjani. Naya pun tampak sibuk mengangkat air hangat di dalam sebuah baskom.
Mereka semua tampak sibuk. Setelah beberapa waktu akhirnya.. "Oooaaa,,,ooooaaa,," suara tangisan seorang bayi pun terdengar. Semua menangis terharu dan bahagia melihat bayi perempuan yang mungil lahir malam itu.
Umar pun tampak sibuk membantu Andini,dan memperhatikan detak jantung Anjani agar tetap stabil.
"Anjani,,lihat,,anak kamu sudah lahir sayang? bayi perempuan yang cantik seperti kamu sudah lahir." Ardi berkata sambil mencium kening Anjani. Ardi tampak menangis bahagia.
Tampak air mata mengalir dari sudut mata Anjani,seakan dia pun tau dengan apa yang sedang terjadi.
Siska dan Mila berpelukan melihat respon dari Anjani. Naya pun tampak terharu,walaupun hati kecilnya tetap cemburu melihat Ardi yang sangat peduli dan kuatir pada Anjani. Naya pun masih merasakan cinta Ardi yang begitu besar untuk Anjani. Tapi Naya tetap berharap Anjani baik-baik saja.
__ADS_1
******
Di kantor polisi Edward masih tampak santai di dampingi oleh pengacaranya. Dan dengan surat jaminan Edward pun melenggang bebas tanpa harus melalui proses hukum. Karena semua sudah di jamin oleh pengacaranya.
Aditya yang tau Edward di bebaskan berusaha untuk protes pada atasnya. "Pak kenapa monster seperti itu bisa lepas begitu saja? apa bukti-bukti dan saksi-saksi kita kurang untuk dapat menghukumnya? sekarang pun ada seorang perempuan hamil yang berjuang hidup dalam koma gara-gara dia pak? apa ini adil pak? ada apa dengan semua ini?" Aditya benar-benar marah dan tak terima bila Edward bebas begitu saja.
"Saya tau ini semua tak adil,,tapi inilah hukum yang harus kita terima dan jalani. Dia sudah melengkapi semua persyaratan untuk bebas. Bukti-bukti yang ada pun tidak menyatakan bahwa dia yang melakukannya karena seseorang telah menyerahkan diri dan sudah mengakui bahwa dialah yang telah menganiaya Anjani dan Mila tanpa keterlibatan Edward. Dan ucapannya pun di dukung oleh kamera cctv rumah sakit dan tes DNA yang ada. Jadi terpaksa Edward harus kita lepaskan. Murni lepas dari tuntutan. Kalau masalah Anjani dan bayinya kita hanya bisa berharap sebuah keajaiban terjadi,Anjani sendirilah yang bisa menuntut Edward. Kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini." ujar komandan Aditya pasrah.
Aditya pun keluar dari ruangan atasannya dengan perasaan geram. Dia pun mengejar Edward yang dengan santai melenggang keluar dari kantor polisi. Dia pun tampak tersenyum pada Aditya. Melambaikan tangannya sambil tertawa mengejek lalu masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari hadapan Aditya.
Aditya yang berusaha mengejarpun di tahan oleh rekan-rekan kerjanya. Tampak sekali kekesalan diwajah Aditya. Dia pun mengibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman rekan-rekannya tersebut.
******
Mila dan Siska tampak sumringah melihat bayi perempuan yang cantik di dalam gendongan Andini yang memberikan susu formula di dalam botol untuk si bayi mungil tersebut. "Masya Allah,,kamu cantik sekali nak.?" ujar Siska. Mereka pun tampak bersemangat melihat bayi mungil nan cantik tersebut saat menyedot susu dari botolnya.
Sementara Naya tampak membersihkan wajah dan tubuh Anjani dengan tisu basah. Walaupun terkadang dia cemburu pada Anjani,tapi di hati kecilnya Naya juga kasian pada Anjani. Apa lagi sekarang anaknya sudah lahir tapi Anjani belum juga bangun dari tidurnya.
"Teh,,teh Anjani harus bangun ya? kasian sikecil. Dia pasti mencari ibunya. Saya tau ini semua pasti berat bagi teteh,,tapi teteh harus kuat demi sikecil." ujar Naya mengajak Anjani bicara. Saat sedang asik membersihkan wajah Anjani tiba-tiba mata Anjani pun terbuka,tangannya pun menggenggam tangan Naya. "Aaaaaa!" Naya pun menjerit karena terkejut.
Semua orang terkejut mendengar suara jeritan Naya. Begitu juga dengan Ardi. Ardi pun langsung lari mendekat kearah Naya,, "Kamu kenapa nay? kamu nggak apa-apa kan?" ujar Ardi bingung melihat Naya yang tampak terkejut.
"I..itu kak. Teh Anjani, teh Anjani bangun." ujar Naya yang kemudian terlihat bahagia setelah sadar dari rasa kagetnya. Ardi yang mendengar ucapan Naya pun langsung berpaling dan menoleh kearah Anjani yang telah membuka matanya.
__ADS_1
"Anjani? Anjani? kamu sudah bangun sayang?" Ardi tak bisa menutupi rasa bahagianya. Dia pun langsung menciumi wajah Anjani tanpa sadar kalau Naya kekasihnya juga ada disitu.
*****