Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
maaf aku harus pergi


__ADS_3

"(Suara nyanyian)" alarm handphone Anjani berbunyi berkali-kali. Anjani meraih ponselnya dan dia pun tersentak. "Haaah? sudah mau jam tujuh? ****** aku,bisa-bisa aku telat lagi sampai di kantor. Haduuh,mana mau berangkat ke solo sama pak Edward lagi." Anjani bangun terburu-buru,mandi dan siap-siap sambil mengomel pada dirinya sendiri.


Untungnya kosan Anjani tak jauh dari kantornya kalau tidak," bisa-bisa kena maki aku." ujarnya sambil tetap berlari-lari kecil masuk melewati pagar kantor. Dan wajah sahabat-sahabatnya pun menyapa dengan riang


"Ciee,Anjani. Yang mau ke solo hari ini dengan si bapak ganteng?" Kata Siska menggodanya.


"Pantesan lari-lari takut di tinggal sama pak Edward ya?" Sahut Mila lagi.


Hanya Ardi yang tampak murung dan sedih seakan tidak senang melihat Anjani pergi. Dia hanya diam karena ingat kebodohannya kemarin.


Tapi di depan sahabat-sahabatnya yang lain dia berusaha menyembunyikan hal itu dan terpaksa untuk tersenyum.


Anjani pun hanya tersenyum pada Ardi menutupi rasa kecewanya di depan sahabatnya yang lain agar jangan sampai Mila dan Siska tau apa yang terjadi antara Anjani dan Ardi. Lalu mereka pun masuk berbarengan ke dalam kantor.


Anjani merapikan file-file di atas mejanya dan sebagian memasukkannya ke dalam koper agar tak tertinggal Krn itu file-file penting untuk meeting pak Edward nanti di solo.


Tak berapa lama Edward datang. "Pagi Anjani? wah,kamu kelihatan sangat cantik hari ini? Seperti nya sudah siap untuk berangkat ke solo?" ucap Edward


"Pagi juga pak! hehe,makasih pak tapi saya biasa aja kok pak. Dan nih,saya sudah siapkan semua file-file bapak dan siap berangkat!." sahut Anjani sedikit bercanda agar tak terlalu canggung.

__ADS_1


"Ok, kalo gitu. Yuk kita berangkat sekarang?" Edward berjalan keluar dan Anjani pun mengikutinya dari belakang. Entah kenapa ada sesuatu di hati anjani,karena biasanya dia melihat Cindy di belakang Edward dan sekarang dialah yang berada di belakang Edward.


"Apa ini artinya sekretaris cadangan? ketika Cindy entah dimana sekarang aku yang menggantikan posisinya menemani pak Edward? mudah-mudah aku tidak sampai melakukan seperti yang telah Cindy lakukan bersama pak Edward tempo hari." Anjani bergumam kecil pada dirinya sendiri.


Setelah pak Handoko dan rekan kerja yang lain melepas mereka berangkat sekarang hanya ada mereka berdua duduk berdampingan di belakang pak Mamat supir pribadi Edward. Anjani hanya melihat ke depan tak berani menoleh ke samping,dia masih gugup,karena belum percaya kalau dia yang menemani bosnya itu ke solo kali ini bukannya Cindy. Dan juga ada perasaan bersalah pada Ardi, mungkin Ardi benar-benar mencintainya sehingga kuatir atas keselamatannya saat berada bersama Edward. Tapi tetap saja Ardi salah,karena berusaha untuk menyentuhnya. Anjani pun larut dalam pikirannya sendiri.


"Kenapa anjani? Kok saya perhatikan kamu tegang banget dari tadi,apa kamu ada masalah? kok diam aja? Bukannya biasanya kamu cerewet kalo di kantor ya?" Tiba-tiba Edward berkata pada Anjani.


Dan anjani pun kaget tak bisa menutupi rasa gugupnya. "hmm,maaf pak? Hehe,saya cuma canggung karena belum pernah pergi-pergi untuk kerja ke luar kota apa lagi kita cuma berdua." sahut Anjani canggung sambil tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.


Apalagi di sampingnya ada sosok menawan pujaan hatinya dulu, sebelum melihat kejadian tak mengenakan yang sudah menghancurkan hatinya itu. Dan wanginya dulu sangat di rindukannya,tapi sekarang duduk berdampingan dia tak merasakan rasa itu lagi. Malah ingatannya selalu terbayang pada kejadian yang ingin di lupakannya itu. Anjani tak berani lagi untuk mengingat hal itu, karena dirinya jadi takut nantinya,dan takut membuat dirinya jadi tak profesional dalam bekerja.


"Hahaha,kamu lucu banget sih Anjani? udah, santai aja." sahut Edward dan tangannya menepuk-nepuk pundak Anjani.


Akhirnya mereka tiba di bandara dan selama perjalanan ternyata Anjani pun tertidur. Ketika terbangun dia kaget karna jas Edward menyelimuti tubuhnya.


"Hmm,sudah bangun? Pules banget yang tidur? sampe nggak nyadar kita udah mau turun pesawat." Edward berkata sambil tersenyum manis pada Anjani.


Ya Tuhan jangan sampai aku tergoda lagi dengan sosok menawan ini,ujar Anjani dalam hati.

__ADS_1


"Aduuuh,,maaf pak saya ketiduran. Kita sudah sampai ya pak?" Sambil merapikan jas kemeja Edward lalu menyerahkannya tapi di tolak oleh Edward.


"Udah,,ni udah mau turun. Pegang aja dulu,langsung di loundry aja, tadi kayanya kena iler kamu deh." Ucap Edward bercanda.


"iiis,bapak. Saya kan nggak ileran pak? ya udah nanti langsung saya loundry di hotel ya pak?" sahut Anjani sedikit bercanda menimpali candaan bosnyaitu.


Dalam hati Anjani ada rasa aneh menyertai ternyata pak Edward benar-benar ramah seperti yang di bicarakan orang-orang. Tapi entah kenapa hatinya masih ragu untuk lebih ramah pada bosnya ini. Karena dia takut akan terjebak dalam perasaanya sendiri, bisa-bisa dia di perlakukan seperti Cindy.


Sesampainya di hotel Edward dan Anjani masuk ke kamarnya masing-masing yang berada bersebelahan. "Jangan lupa jas saya langsung di loundry." ujar pak Edward sebelum masuk ke kamarnya.


Anjani pun menuruti nya dengan langsung menelpon bagian loundry dari telepon yang ada di kamarnya. Tak berapa lama petugas loundry pun datang mengambil jas Edward dari tangan Anjani.


Anjani bersiap-siap untuk mandi dan istirahat tapi terhenti karena handphonenya berbunyi. Dan nama Ardi tertera disana. Anjani belum mau menjawab panggilan dari Ardi. Karena dia masih marah. Tapi karena panggilan itu berkali-kali masuk akhirnya Anjani menjawab panggilan dari Ardi.


"Halo,halo Anjani? Please jangan matikan teleponnya? Aku hanya ingin tau bahwa kamu baik-baik aja disana." ujar Ardi serius.


"iya,gua baik-baik aja kok Di,lu nggak usah kuatir,gua bisa kok jaga diri." sahut Anjani ketus.


"Ya udah,sayang. Maaf kalo kamu terganggu. Tolong kabarin aku,supaya aku tau kalo kamu baik-baik aja. Dan tolong jangan bukakan pintu bagi siapa pun yang mengetuk pintu kamar kamu." Ardi berkata serius karena dia benar-benar kuatir pada Anjani. Sedikit banyaknya dia tau bagaimana sifat bosnya. Edward memang menawan, justru daya tariknya itulah yang menghancurkan banyak masa depan. Dan Ardi tak ingin itu terjadi pada gadis pujaannya.

__ADS_1


"Iya,,ih. Apaan sih lu? udah kayak Mak gua aja lu? iya gua tau,udah?" Anjani langsung mematikan ponselnya,menutup panggilan dari Ardi. Sebenarnya dia tak bermaksud untuk jutek,tapi dia hanya tak mau Ardi terlalu kuatir padanya. "Maafin aku Ardi." Anjani berkata sambil memeluk handphone di tangan nya.


******


__ADS_2