Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Aku hamil


__ADS_3

"Dokter..? tolong Dokter?" Ardi menjerit panik menggendong Anjani masuk kedalam ruangan UGD(unit gawat darurat) rumah sakit. Mila dan Siska pun berlari mengikuti langkah Ardi dari belakang. Wajah mereka pun tampak sangat panik.


"Siapkan ruangan!" seorang Dokter langsung datang menghampiri dan membaringkan Anjani lalu memeriksa nadinya. Kondisi Anjani sangat kritis,detak jantungnya melemah. "Silahkan semuanya tunggu di luar." Dokter langsung melakukan pertolongan pada Anjani,sementara Ardi,Mila,dan Siska harus menunggu di luar ruangan.


"Ya Tuhan,tolong lindungi sahabat kami." Mila menggenggam erat tangan Siska dan berdoa agar sahabatnya baik-baik saja. Mereka sangat panik.


Apalagi Ardi,walaupun dia berusaha menjauh dari Anjani yang telah menolaknya. Tapi hatinya tak bisa berbohong,dia sangat kuatir pada sahabat sekaligus wanita yang sangat dicintainya ini. Terlihat Ardi mondar-mandir menunggu Dokter keluar dari ruangan.


Secara kebetulan Pak Handoko muncul di rumah sakit dan langsung bertanya pada Ardi bagaimana kondisi Anjani. "Ardi,kalian juga disini? bagaimana kondisi Anjani?" Handoko bertanya sambil menatap Mila dan Siska bergantian.


"Lho..bapak kok bisa ada disini? Siska pun bertanya dengan perasaan heran.


"Iya,kebetulan tadi saya dari kosannya Anjani. Sudah seminggu Anjani tak masuk kantor,saya hubungi lewat ponsel tapi dia tak menjawabnya,jadi saya berinisiatif untuk melihat kondisi Anjani,dan ternyata ibu kosnya bilang kalau Anjani di rawat di rumah sakit ini." Handoko pun menjelaskan.


Di saat mereka berbincang-bincang,beberapa saat kemudian Dokter pun keluar. "Keluarganya saudari Anjani?" Dokter bertanya pada mereka. Serentak mereka pun menjawab "kami dokter."


Mereka pun langsung berkerumun ke arah Dokter. "Suaminya mana?" Serentak mereka kaget dan saling memandang,tapi tiba-tiba Ardi berkata "Sa..saya Dokter? ada apa dengan istri saya Dokter?"


Mila,Siska dan Pak Handoko pun sampai terbengong melihat Ardi berbohong.


Tapi kenapa Dokter menanyakan suaminya? Semua bingung karena Anjani belum pernah menikah dan mereka tidak pernah tau Anjani menjalin hubungan asmara dengan siapa,kecuali Ardi,karena dia yang tau semua rahasia Anjani.


Lalu Dokter berkata "Oh,iya bapak? Syukurlah istri dan calon bayi bapak bisa diselamatkan. Sedikit saja tadi terlambat mungkin mereka sudah tidak ada lagi,hanya saja sepertinya kondisi psikis istri bapak sedikit terganggu. Sepertinya istri bapak sedang tertekan,apa ada masalah? maaf,mungkin karena di usia kalian yang masih muda sudah menikah jadi tidak ada kesiapan mental si ibu untuk hamil, jadi saya sarankan agar bapak bisa menjaga istrinya dengan baik supaya tidak berdampak buruk pada kandungannya." Dokter menjelaskan kondisi Anjani yang ternyata sedang dalam keadaan hamil.


Sepeninggal Dokter,semua tidak dapat lagi menyembunyikan ke kagetan mereka. "Hah? Anjani hamil? Kok bisa? Dia kan nggak punya pacar. Jangan-jangan? lu ya Di? diam-diam lu?" Mila lalu menatap Ardi tapi tak meneruskan ucapannya karena melihat wajah Ardi yang sudah memerah sedang menatap Pak Handoko.


Ardi yang sudah menahan amarah itu justru berkata "Edward." ucapnya geram. Lalu dia pun menarik tangan Pak Handoko. "Pak, bapak tau kan apa yang terjadi pada Anjani?" Cecar Ardi.


"Aduh,saya nggak tau Di. Bener,saya nggak tau kalau pak Edward punya hubungan dengan Anjani. Sumpah,saya nggak tau apa-apa." ucap Handoko gugup.


Siska pun langsung menangis. "Ya ampun Anjani,belum lama ini gua nelpon lu nanyain lu baik-baik aja kan? malah gua denger suara lu ceria banget. Tapi kenapa sekarang lu begini? hu..hu..hu." Mila lalu memeluk dan menenangkan Siska yang menangis histeris.


"Ya udah,kita harus bantu Anjani! karena kita juga nggak mau nanti Anjani sampai putus asa malah sampai melakukan hal yang mengerikan seperti Cindy." ujar Mila serius.

__ADS_1


Ardi lalu memeluk para sahabatnya itu untuk bersabar, setelah itu Ardi pun menarik tangan Handoko untuk pergi mencari Edward.


******


Di dalam ruangan rawat inap itu, tampak Anjani yang tergolek dengan lemah,tangannya di infus,dan dia pun masih belum tersadar dari pingsannya. Disampingnya sahabat-sahabat setianya Siska dan Mila menunggunya untuk tersadar dari tidurnya. Rasa sedih dan kuatir terpancar dari sorot mata mereka. "Kasian Anjani." Mila berkata sambil memeluk Siska dan kembali menangis karena tak tega melihat kondisi Anjani.


******


Sesampainya dirumah megah dan mewah milik Edward tersebut,Ardi dan Handoko pun langsung mencari empunya rumah. Begitu Edward keluar,Ardi yang sedang emosi,langsung menyerang dan memukul wajah Edward dengan keras. "*******, lu apain Anjani? brengsek lu."


Edward pun sampai terjatuh karena tak menyangka akan terkena pukulan yang tiba-tiba dilakukan oleh Ardi sampai sudut bibirnya pun berdarah.


"Apa-apaan ini? tiba-tiba datang main pukul-pukul aja?" ucap Edward kesal melihat darah yang keluar dari bibirnya.


Pak Handoko yang melihat itupun langsung menarik dan menahan Ardi. "Sudah,kamu tenang dulu! jangan gegabah!Kita bicarakan baik-baik sama Pak Edward." ucapnya menenangkan Ardi.


Lalu Pak Handoko pun berkata "Saya minta maaf tuan? kalau kedatangan kami telah mengagetkan tuan? tapi ada hal yang sangat penting yang harus kami beritahukan pada tuan." ujarnya.


"Masalah penting apa? sampai saya harus kena pukulan begini?" jawab Edward geram.


"Tapi kenapa? kalau dia sakit ya diobati! kalau masih cuti ya sudah beri surat cuti." Ucap pak Edward datar.


"Tapi..tapi tuan?" Handoko terbata-bata.


"Anjani hamil!" Ardi langsung menyambar ucapan Handoko.


Edward pun kaget tapi berusaha tetap cuek untuk menutupi kebusukannya. "Apa? Hamil? Terus kalau hamil kenapa kamu mukul saya?" Ujarnya pada Ardi berpura-pura tak tau apa-apa.


"Udahlah,lu nggak usah pura-pura,lu kan yang udah menghamili Anjani? gua tau semua kebusukan lu." ujar Ardi geram.


"Heeh,kamu punya bukti apa kalau saya yang menghamili dia? Bisa saja dia bermain-main dengan laki-laki lain,atau mungkin dia jual diri untuk biaya keluarganya di kampung mungkin saja kan?" jawab Edward tanpa rasa bersalah.


"******* lu! Anjani bukan perempuan seperti itu!" Ardi marah dan berusaha kembali memukul Edward,tapi tangannya di tahan oleh Handoko.

__ADS_1


"Sudahlah,kamu jangan sok jagoan kalau nggak mau cari mati. Bisa saja dia dihamili orang lain,atau mungkin juga dia hamil sama kamu? bukannya dia teman wanita mu? tapi karena kamu tak mau tanggung jawab kamu pun mencari kambing hitamnya kan?" Edward melirik Ardi dengan licik.


"Kurang ajar!." Ardi makin geram tapi tangannya langsung di tahan oleh security rumah itu. "Usir dia!" Edward menyuruh security untuk menyeret Ardi keluar dari rumahnya.


Ucapan Edward semakin membuat Ardi marah besar karena Edward sudah merendahkan sahabat sekaligus wanita yang sangat dicintainya itu.


"Brengseeeek!! memang ******* lu Edward! iblis lu! gua nggak bakalan tinggal diam. Liat aja kalau nanti Anjani sudah sadar dan ternyata memang lu yang menghamili dia,gua nggak bakalan ngelepasin lu,gua bunuh lu! gua bunuh!" Ardi meluapkan amarahnya dengan kata-kata sambil tangannya di seret oleh dua orang security berbadan tegap untuk keluar dari rumah mewah Edward.


Ardi pun masih terus berteriak mencaci maki Edward walau sambil di seret oleh security untuk keluar dari pekarangan rumah mewah Edward.


"Lepaskan!" Ardi menyibakkan tangannya agar di lepas oleh security. Sesampainya di luar Ardi di lepaskan dan security itupun langsung mengunci pintu gerbang lalu kembali masuk dan membiarkan Ardi yang masih mencaci-maki di luar pagar rumah mewah tersebut.


*******


Anjani terbangun dan pelan-pelan mulai membuka matanya. Kedua sahabatnya langsung mendekat kearahnya dan memegang tangannya. "Anjani? Anjani? lu udah sadar? Syukurlah Anjani." Mereka pun bahagia akhirnya Anjani telah sadar.


"Aku dimana?"ucap Anjani lemah.


"Lu di rumah sakit,lu pingsan. Udah berapa hari lu nggak keluar kamar dan nggak makan-makan? lu mau bunuh diri? Lu udah bikin kita kuatir tau nggak?" Siska bicara sambil menahan tangisnya.


"Gua dirumah sakit? Maafin gua ya? Udah ngerepotin lu pada." Anjani menjawab dengan suara yang masih lemah dan sangat pelan.


" Udah lu jangan mikirin aneh-aneh,kita tu sahabat lu, jadi nggak ada yang di repotkan disini. Lu jangan kuatir ada kita dsini buat lu dan bayi lu." ujar Mila menjawab ucapan Anjani dengan serius.


"Bayi? Bayi siapa? Maksud lu apa?" Anjani terkejut mendengar ucapan Mila.


"Apa maksud lu barusan la? apa la? jelasin la?" Anjani bertanya sambil buliran air matanya jatuh menetes. Dadanya terasa sesak dan sakit sekali,dia tidak menyangka akan seperti itu. Siska dan Mila pun menatapnya dengan sedih, lalu menjawab "Ya udah,lu nggak usah mikir macem-macem dulu. Ntar aja kita ngomong klo lu udah kuat." Ucap mila lagi.


"Nggak la,gua nggak kenapa-kenapa kan? Lu jelasin aja maksud omongan lu barusan? Bayi apa? Bayi siapa? Apa gua beneran hamil?" Anjani bertanya sambil air matanya terus bergulir.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama lu Anjani? Siapa yang udah ngelakuin ini sama lu? Lu cerita sama kita? Lu jangan simpan luka lu sendiri,ada kita disini buat lu." Mila tak menjawab justru balik bertanya pada Anjani.


Anjani pun terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi,hatinya remuk dan ini benar-benar jadi mimpi terburuk baginya. Hanya air mata yang terus bergulir di ujung matanya. Dia pun menutup matanya dan berharap dalam hati bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Dan ketika terbangun semoga semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


******


__ADS_2