Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Hati yang cemburu


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu,setelah kejadian suara-suara aneh yang di dengar Anjani saat itu. Dan selama itu pula Anjani tak melihat Edward dan Cindy. Sepertinya mereka bertugas diluar kota seperti biasanya. Tapi walau Anjani mencoba untuk melupakan pendengarannya waktu itu tapi hatinya masih bertanya-tanya apa yang telah mereka lakukan di dalam ruangan itu? Diapun hanya bisa bertanya dalam hati.


Tak terasa setahun sudah Anjani bekerja di kantor ini dengan rutinitas yang itu-itu saja. Kadang timbul rasa jemu namun dia tetap bersyukur,karena dengan bekerja disini Anjani bisa mengirimkan uang untuk biaya hidup dan sekolah untuk ibu dan adik-adiknya di kampung.


Dan disini pun dia masih bisa tertawa bahagia karena ada mereka sahabat-sahabat yang selalu bisa mengobati rasa rindunya pada keluarganya. Bahkan mereka juga bisa membuatnya rindu bahkan saat dia libur kerja walau hanya sehari saja. Ya,mereka adalah Ardi,Mila dan Siska. Mereka para sahabat Anjani yang selalu setia dan sangat menyenangkan.


Dan seperti biasanya mereka pun akan bercanda di sela-sela istirahat makan siang. "Hallo sayang ku? kangen nggak ketemu lu sehari aja." Ujar Ardi lalu mencubit pipi Anjani sambil mengambil posisi untuk duduk di sampingnya.


Mila dan Siska pun duduk di depan mereka. "Iih,apaan sih lu? baru juga sehari gua gak masuk,ya cape keles,kalo nggak libur-libur mah?" ujar Anjani sambil mengunyah gorengan yang tadi dipesannya.


"Eeh,kita karaoke yuk? kali-kali kita off-nya nya bareng gitu?biar bisa hang-out kayak olang-olang?" Siska nyeletuk lucu dengan nada cadel yang dibuat-buat dengan matanya yang membulat seperti mata kucing. Hehehe,lucu banget sih ni cewek yang sedikit tomboi dengan rambut ala mouhak di pinggirnya tapi panjang dibelakangnya. Namun tetap tak menghilangkan paras cantik dan lesung pipi di kulit hitam manisnya itu. Kalau aku cowok juga bisa naksir sama dia. Cool banget gayanya. ujar Anjani dalam hati.


"Iya doong? ayo doong? kapan kita hangout? kan Minggu depan Ardi ulang tahun tu, yuk traktir Di? traktir ya? ya? Ardi ya?" Mila juga merengek seperti bocah,menarik-narik lengan kemeja Ardi yang duduk di depan nya. Mila yang berparas ayu medok jawanya itu memang lebih feminim dibanding Anjani dan Siska. Rambutnya panjang sama seperti rambut Anjani, tapi rambutnya lebih ikal bergelombang dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi,berkulit kuning Langsat,berdada montok dan bertubuh sedikit semok,benar-benar ayu seperti gadis-gadis keraton jaman dahulu kala,hehehe.


"Iya deh iya,tapi patungan ya? kan Minggu depan udah pada gajian? Hehehe." Ardi pun mengiyakan ajakan Mila dan Siska. Ardi yang berdarah Palembang,berkulit putih dan bermata sipit ala-ala opa Korea, dengan tubuh yang tinggi berisi serta humoris itupun terkadang terlihat pelit padahal ngirit, karena dia juga anak perantauan yang sedang mencari peruntungan di Jakarta.


"Ya udah,janji ya? Minggu depan kita atur schedule off-nya bareng, untungnya kita beda divisi jadi bisa deh atur off nya bareng." Ujar Anjani menimpali mereka. Dan mereka pun melanjutkan makan siang dengan tetap diiringi canda tawa.


******

__ADS_1


Setelah lama tak melihat sosok menawan itu Anjani pun kini dikagetkan dengan kemunculan mereka lagi.


Dan anehnya,Anjani sekarang seakan tak menikmati lagi aroma parfum dari tubuh Edward,karena dalam pikirannya aroma itu seakan cuma milik Cindy.


"Pagi Anjani." Edward menyapa Anjani. Yang membuat Anjani menjadi kaget. lho,kok tumben dia menyapa dengan nama ku? tak seperti biasanya yang hanya pagi doang? Batin Anjani.


"Pa,,pagi juga Pak." Sahut Anjani terbata. Hmm,sudah setahun Anjani disini dan dia baru menyebut nama nya,kan aneh?.


Tapi entahlah bagaimana perasaan Anjani sekarang antara senang atau pun tidak,entahlah Anjani tak terlalu ambil pusing lagi karena di belakang sosok menawan itu selalu ada mahkluk menyebalkan yang selalu berada dibelakangnya. Sesosok makhluk cantik,siapa lagi kalau bukan Cindy? Udah kayak anak ayam ngekor mulu di pantatnya Edward.


"Pagi Anjani? jangan ngiri ya?" Katanya sok manis seakan mencemooh Anjani. "Ih..amit-amit deh,iri sama nenek sihir kayak lu? ngeselin banget." Anjani hanya bisa mengumpat saat Cindy sudah menghilang dari pandangannya.


Lagi serius-seriusnya bekerja, tiba-tiba telpon di mejanya pun berdering. "kring,kring." "Mengagetkan saja." Anjani lalu mengangkat dan menjawab panggilan itu, panggilan yang datang dari Edward dibalik ruangannya. Karena Anjani juga seorang sekretarisnya,walaupun hanya jadi sekretaris cadangannya Cindy. Entah apalah artinya cadangan,karena seingatnya, semua pekerjaan sekretaris selalu Anjani yang menyelesaikannya, kecuali untuk tugas luar kota memang Cindy yang menyelesaikannya.


"Hallo,Anjani? tolong kamu atur ulang schedule rapat saya hari ini. Saya lagi nggak mau di ganggu,jangan ada yang masuk ke ruangan saya ya? kalau pun ada yang mendesak suruh nanti saja. Oke?" Kata Edward terdengar sedikit aneh. Karena biasanya Cindy lah yang mengatur schedule rapat nya. Tapi hari ini Edward justru menyuruh Anjani.


"Baik Pak." Sahut Anjani menutup telepon. Diapun terpaksa menuruti permintaan bosnya tersebut walau terdengar sedikit aneh bagi Anjani.


"Tapi aneh, jangan ada yang masuk dan nggak mau di ganggu. Lah, itu dia sama Cindy berduaan di dalam ruangan mau ngapain? apaan lagi ni orang berdua? jangan lagi deh,jangan lagi ku dengar suara -suara aneh itu lagi. Brrr." Anjani pun bergidik dan kembali berkutat dengan komputernya.

__ADS_1


Setengah jam berlalu dan benar saja,Anjani kembali mendengar suara-suara itu lagi. "Haduh,ampun Gusti, ampun deh ni manusia berdua ngapain sih?" Ujar Anjani kesal. Suara mereka terdengar jelas di telinga Anjani.


Anjani berusaha untuk tetap konsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Banyak berkas-berkas diatas mejanya yang harus selesai dikerjakan hari ini juga.


Semakin Anjani serius menyelesaikan tugasnya,dia pun semakin terganggu dengan suara-suara yang berasal dari ruangan Edward.


Suara canda tawa mereka benar-benar telah mengusik Anjani. Terdengar suara Cindy yang tertawa lepas tanpa beban seakan tak memperdulikan orang lain yang akan mendengar suara tertawanya.


Entah kenapa Anjani pun merasakan ada rasa perih dihatinya. Tiba-tiba dia pun merasakan kekesalan yang sangat pada kedua makhluk yang sedang bercanda ria didalam sana.


Anjani pun berusaha menutupi telinganya untuk tidak mendengar suara mereka,tapi semua sia-sia. Ingin rasanya Anjani menutup telinganya dengan headset namun dia akan terlihat tidak profesional dalam bekerja.


Akhirnya Anjani hanya bisa pasrah menahan rasa cemburu yang tiba-tiba menyeruak didalam rongga hatinya.


******


Maaf nich teman-teman


Disini ceritanya sedikit direvisi. Karena ada unsur yang menurut editor tidak pantas jadinya di hilangkan dan harus di ganti,tapi tidak menghilangkan alur cerita kok.

__ADS_1


wokeh? dilanjut kakak...😅😂🤩


__ADS_2