Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Apa Rahasia itu


__ADS_3

Siska tampak bingung saat Briptu Aditya menghampirinya. "Apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Briptu Aditya pada Siska. "Ya,, silahkan." Siska mengangguk setuju.


"Bagaimana kalau kita bicara di cafe depan supaya mbak bisa lebih santai mungkin?" Briptu Aditya berkata dengan ramah. "Hmmm,,ya baiklah." Siska berkata setelah berpikir sejenak dan mengikuti langkah Briptu Aditya keluar dari area rumah sakit menuju sebuah cafe yang terletak di ujung jalan di depan rumah sakit tersebut.


Setelah mereka duduk Briptu Aditya pun memesan minuman untuk mereka berdua. "Saya turut bersedih dengan keadaan sahabat-sahabat mbak.!?" Briptu Aditya membuka percakapan karena merasa sedikit canggung, dia pun berkata sambil menatap wajah manis perempuan yang berpenampilan tomboi yang duduk di depan nya. Entah kenapa ada daya tarik yang luar biasa baginya ketika melihat perempuan ini.


"Siska." Siska berkata tanpa mengangkat wajahnya. Siska masih tampak sedih dengan kejadian yang menimpa sahabat-sahabatnya. "ya?" Briptu Aditya tersentak karena tadi dia larut dalam pikirannya menatap wajah manis Siska.


"Panggil saya Siska aja." jawab siska tetap tertunduk. "Ooh,ehem. Maaf,,hehehe. Baiklah Siska." Briptu Aditya pun terbatuk kecil menghilangkan rasa canggungnya. Dan dia pun tersenyum pada Siska.


"Siapa yang telah melakukan ini semua? kenapa orang itu tega melukai sahabat-sahabat saya?" Siska tak sanggup menahan tangisnya,dia pun menangis menyilangkan tangannya di kepalanya dan merunduk diatas meja.


Briptu Aditya pun kaget lalu menepuk-nepuk pundak Siska, berusaha untuk menenangkannya. Dia pun tampak semakin canggung karena orang-orang yang ada di dalam cafe pun melihat kearah mereka. Dia pun mencoba tersenyum untuk menghilangkan prasangka buruk pada orang-orang yang menatapnya.


"Ma..maaf mbak, eh Siska. Tolong jangan menangis,orang-orang sedang memperhatikan kita. Nanti dikirain orang,saya yang buat kamu menangis." Briptu Aditya sedikit berbisik pada Siska yang sedang menangis di depannya.


"Hu..hu..hu..ma..maaf. Saya nggak sanggup menahannya." Siska pun akhirnya mengangkat dan menghapus air mata di wajahnya dengan tisu yang di sodorkan Aditya. Wajahnya tetap manis walaupun saat menangis ujar Aditya di dalam hati. Dia pun sedikit tersenyum melihat wanita yang tampak tomboi tapi ternyata tetap saja cengeng seperti kebanyakan perempuan di dunia ini. Namanya juga perempuan walaupun tampak tomboi tapi hatinya tetap saja rapuh dan gampang menangis.


"Sabar ya? kita pasti akan menangkap siapa pelakunya. Makanya apa yang kamu ketahui, itu sangat membantu saya untuk menyelidiki siapa yang tega pada Anjani dan Mila." Briptu Aditya berkata dengan tatapan semangat pada Siska.


"Benarkah? apa kak Adit akan membantu kami?" ujar Siska yang masih sedikit terisak-isak menahan tangisnya.


Aditya terpana mendengar Siska memanggilnya kak Adit. Waah,,ada rasa nyaman saat mendengar perempuan manis ini memanggilnya dengan sebutan kak Adit. Aditya pun tersenyum tersipu mendengar ucapan Siska.


"Tentu saja,,saya akan membantu kamu karena memang sudah tugas saya untuk mencari tau siapa yang melakukan ini pada Anjani dan Mila." Aditya berkata dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Terima kasih kak,,tolong tangkap orang-orang jahat itu?!" ujar Siska dengan tangannya mengepal dan bola matanya pun membulat membuat wajahnya semakin terlihat cantik. Aditya pun tersenyum melihat tingkah Siska.


"Makanya beritahu saya apa yang kamu tau? atau mungkin ada orang-orang yang kamu curigai?" Briptu Aditya mulai bertanya pada Siska.


Siska pun mulai bercerita tentang kejadian demi kejadian yang menimpa Anjani mulai dari Anjani yang tampak menyimpan suatu masalah lalu mengurung dirinya berhari-hari sampai akhirnya berada dirumah sakit. Hingga kejadian demi kejadian yang terjadi di rumah sakit yang hampir merenggut nyawa Anjani dan terakhir kejadian yang baru saja terjadi dan hampir merenggut nyawa Anjani dan juga Mila yang saat itu sedang menjaganya. Siska pun berkata sepertinya Ardi lebih tau apa yang terjadi,karena Ardi yang selalu berada di sisi Anjani,dan sepertinya Ardi dan Anjani menyimpan sebuah rahasia darinya dan Mila.


"Rahasia? maksud kamu Ardi dan Anjani menyimpan suatu rahasia dari kamu dan Mila?" Briptu Aditya pun mulai mendapatkan petunjuk. "Iya kak,,saya rasa Ardi dan Anjani menyimpan sebuah rahasia. Dan sepertinya rahasia itu berhubungan dengan kehamilan Anjani." Siska pun berkata seakan mengkait-kaitkan rahasia itu dengan kehamilan Anjani.


"Anjani hamil? apa Ardi yang menghamili Anjani? lalu dimana Ardi sekarang?" Briptu Aditya makin bersemangat. "Iya,,Anjani memang hamil. Tapi sepertinya bukan Ardi yang melakukannya. Memang sepertinya Ardi mencintai Anjani tapi entahlah, sepertinya hanya Ardi yang menyimpan rasa itu. Dan sekarang aku juga nggak tau Ardi dimana? hu...hu..hu..aaaa." Siska pun kembali menangis mengingat keadaan sahabat-sahabatnya. Mendengar Siska menangis orang-orang di cafe itupun kembali melihat kearah mereka.


Briptu Aditya hanya bisa menutup wajahnya dengan pinggiran telapak tangannya. "Ssst,,sudah..jangan menangis lagi? aduuh,,please..cup..cup.. jangan nangis ya? aku janji kita akan cari tau apa yang terjadi. Dan sekarang yang paling pertama kita cari tau dulu Ardi kemana, ya?" Briptu Aditya pun kembali menepuk-nepuk pundak Siska yang menangis sesenggukan di depannya. Matanya pun menerawang menerka-nerka dimana Ardi. Dan rahasia apa sebenarnya yang disimpan oleh Ardi dan Anjani?


*********


"Dimana ini? si..siapa kamu?" ujar Ardi dengan lemah dan kembali berbaring meringis saat tubuhnya di baluri dengan minyak dan obat-obatan tradisional seperti dedaunan yang ditempelkan di atas lukanya.


"kamu dirumah saya,di desa Sapuangin Banjar. Tadi malam saya mendengar suara orang yang meminta tolong dan saya melihat kamu tergeletak di jalan tak jauh dari rumah saya." ujar perempuan berwajah ayu tersebut.


"Ban..Banjar?" Ardi tampak sedikit kaget dia di buang ke luar daerah di luar kota Jakarta. Sejenak dia pun menerawang mengingat-ingat kejadian yang sudah menimpanya.


"Sepertinya kamu bukan orang sini,apa kamu dari kota? siapa nama mu? apa kamu ingat apa yang terjadi? kenapa kamu bisa sampai disini?" ujar perempuan itu menyelidiki.


"Sa..saya Ardi. Saya dari Jakarta. Saya juga nggak ingat kenapa bisa sampai disini." ujar Ardi sedikit berbohong. Dia tidak mau kalau nanti perempuan itu jadi takut bila tau dia sedang bermasalah dan di buang di desa tersebut.


"Hmmm,,ya sudah sekarang kamu istirahat saja dulu. Saya mau ke pasar dulu ya?" ujar perempuan itu dan dia pun bangkit hendak berdiri,namun tangannya di tahan oleh Ardi.

__ADS_1


"Tunggu,,ka..kamu siapa?" Ardi menatap perempuan manis tersebut.


"Aku Naya." Naya pun tersenyum kearah Ardi yang masih terbaring.


"Terimakasih Naya..!?" ujar Ardi melepaskan tangannya di lengan Naya.


"Iya,,jangan sungkan. Aku pergi dulu ya?" ujar Naya tersenyum manis lalu keluar dari kamar meninggalkan Ardi yang masih terus menatapnya sampai hilang di balik pintu.


Ardi pun tampak menerawang memandang keatas langit-langit kamar yang berdinding tepas dan beratap seng tanpa asbes tersebut. Paling tidak dia pun merasa bersyukur karena masih bisa hidup saat ini.


Ardi pun mulai berpikir langkah apa yang harus diambil nya saat ini. Saat dia sedang berpikir tiba-tiba terlintas wajah Anjani,wanita yang sangat dicintainya,hatinya pun terasa perih. Tanpa sadar air matanya pun jatuh mengalir,ada rasa kuatir bagaimana keadaan Anjani dan Mila? bagaimana dengan Siska? Dia pun hanya bisa berharap kalau sahabat-sahabatnya itu akan baik-baik saja. Ardi pun menghela nafas panjang dan hanya bisa memejamkan matanya sejenak menghilangkan rasa perih di hatinya dan dia pun tertidur dengan bulir air mata yang masih menetes disudut matanya.


*******


Naya pun menutup pintu kamar dimana Ardi terbaring. Namun seseorang langsung menarik tangannya. "Saha ieu teh?" (Siapa itu dalam bahasa Sunda) seorang perempuan yang lebih tua berkata pada Naya. "Sssst..teh Mia jangan berisik." Naya pun menaruh telunjuk dibibir perempuan itu yang ternyata kakak perempuannya yang bernama Mia.


Mia pun menepuk-nepukkan tangannya pada tangan Naya dan berusaha menggigit jari telunjuk Naya di bibirnya. "Auch..auch...iiis..naon(apa) sih teh?" ujar Naya berusaha mengelak dari gigitan kakak perempuannya itu.


"Ula gegabah maneh teh(jangan sembarangan kamu itu) jangan-jangan dia itu orang jahat nyaho maneh teh(rasakan kamu nanti)" Mia menoyor-noyor kepala adiknya tersebut.


"Iiis,,ya enteu atuh ah teteh mah(ya nggak lah kakak ini) sembarangan wae." ujar Naya memajukan bibirnya sedikit merajuk lalu pergi. "Eeeeh,,maneh teh arek kunaon?(kamu mau kemana) Iis,,di omongin malah minggat(pergi)" Mia pun sedikit sewot melihat tingkah adiknya yang berlalu meninggalkannya.


Mia pun penasaran dan berusaha untuk mengintip kedalam kamar tempat Ardi terbaring. Pelan-pelan dia pun membuka sedikit pintu kamar itu melihat kedalam dari celah-celah pintu yang di bukanya. Tapi dia pun tidak melihat Ardi disitu. Matanya pun mencari-cari dimana Ardi. Tiba-tiba dia pun terkejut karena ada tangan yang menyentuh bahunya. Dia pun menoleh kebelakang lalu menjerit. "Aaaa..."


*******

__ADS_1


__ADS_2