
"Aaaaa." Ardi pun terkejut dan menjerit. Mia dan Ardi sama-sama terkejut dan menjerit bersama-sama. Lalu datang seseorang memukulkan tongkat di kepala mereka berdua. "Naon sia teh jejeritan wae?(apa-apaan ini kalian berdua menjerit-jerit?)" seorang laki-laki tua yang merupakan orang tua Naya dan Mia pun berdiri di depan mereka.
"Kunaon maneh teh jejeritan?(kenapa kalian menjerit-jerit?)" Pak tua itupun duduk sambil menghisap rokok pipanya dan dengan tongkat menyangga ditangannya.
"Maaf Pak? abdi teh kaget(saya terkejut)." ujar Mia memandang Ardi. Mereka sama-sama mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit terkena tongkat Pak tua itu.
"Sa..saya juga Pak." ujar Ardi yang sok mengerti maksud Mia tersebut.
Tiba-tiba pintu rumah pun terbuka dan tampak Naya pun masuk membawakan belanjaannya dari pasar.
"Kenapa ini?" ujarnya tertawa melihat Mia dan Ardi duduk sambil mengusap-usap kepala seperti terdakwa yang sedang di interogasi.
"Iissh..sia ih(kamu ih)." ujar Mia dengan mulutnya sedikit manyun.
Naya pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Mia. Ardi pun melihat kearahnya memperhatikan wajah ayu perempuan yang telah menyelamatkannya tersebut. Tampak cantik tanpa polesan tertawa tanpa beban. Naya yang tertawa tiba-tiba tersipu saat tau kalau Ardi sedang menatapnya. "Hmmm,,maaf? Ehem." ujarnya berdehem menahan tawa dan malu karena Ardi sedang menatapnya.
"Apa kamu sudah merasa baikan anak muda?" ujar Pak tua sambil masih meniupkan asap rokok dari pipanya.
"Alhamdulillah Pak,,sa..saya sudah agak mendingan." ujar Ardi sedikit membungkuk hormat pada Pak tua sambil mengusap-usap kepalanya. Tingkah kikuknya pun terlihat lucu. Naya dan Mia pun tersenyum melihat tingkah Ardi yang canggung di depan ayah mereka.
"Pak,,ini Ardi dari Jakarta. Kasian pak dia nggak ingat kenapa bisa sampai disini." ujar Naya langsung duduk dan bergelayut di badan ayahnya. Pak tua pun manggut-manggut mendengar kata-kata Naya.
"Kalau begitu kita lapor Pak RT saja biar bisa di laporkan ke kantor polisi." ujar Mia lagi.
"Tolong,, jangan dulu ke kantor polisi." ujar Ardi yang tersentak teringat ancaman Edward waktu itu. Kalau dia lapor polisi bisa-bisa Anjani akan disakiti lagi.
"Lhooo,,kenapa tidak? apa kamu sudah ingat apa yang terjadi?" ujar Naya bingung dengan jawaban Ardi.
Ardi pun bercerita dan menjelaskan masalah Anjani dan Edward yang telah membuangnya. Naya dan Mia pun tampak menutup mulutnya karena kaget mendengar cerita Ardi.
"Maaf,,saya tidak memberi tahu kamu sebelumnya." ujar Ardi pada Naya sambil tertunduk.
Pak tua pun manggut-manggut mendengar cerita Ardi. Pak tua yang memiliki ilmu Kanuragan itu pun bisa menerawang kebenaran ucapan Ardi tersebut. Dia pun merasa kasian terhadap Anjani. "Kasian perempuan itu,malang sekali nasibnya. Beruntung sekali dia memiliki seorang laki-laki yang baik seperti kamu disisinya. Cinta mu yang begitu besar telah menyelamatkan hidupnya." ujar Pak tua tersebut.
Ardi pun sedikit kaget mendengar ucapan Pak tua itu,dari mana dia tau kalau Ardi sangat mencintai Anjani? Ardi hanya bisa diam mendengarnya. Tampak Naya sedikit terganggu saat ayahnya mengatakan cinta Ardi yang besar pada Anjani. Diam-diam Naya pun merasa cemburu pada Anjani. Dia pun berharap agar Ardi tetap disini bersamanya.
*******
"Ini minum dulu?" ujar Briptu Aditya menyodorkan cup kopi pada Siska yang duduk di bangku panjang diluar kamar Anjani. "Terimakasih kak." ujar Siska tersenyum. Aditya pun duduk di samping Siska.
"Bagaimana keadaan Anjani dan Mila?" ujar Aditya.
"Belum bisa di jenguk kak." ujar Siska tertunduk dan tampak ingin menangis.
__ADS_1
"Uuupst..Jangan nangis lagi pleasee..?" ujar Aditya sedikit bercanda.
Siska pun jadi batal menangis,dia pun berusaha untuk tertawa dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Sudah dapat kabar dari Ardi?" ujar Aditya lagi.
Siska pun menggeleng "Belum kak. Entah dimana Ardi saat ini." ujar Siska yang bertanya-tanya dalam hatinya seakan-akan Ardi menghilang di telan bumi.
"Coba ingat-ingat malam saat Ardi pergi apa dia mengucapkan sesuatu?" Aditya bertanya sambil menyeruput kopi di tangannya. Siska pun tampak mulai berpikir dan mengingat-ingat saat Ardi pergi meninggalkannya.
"Ardi malam itu tampak marah sekali,,lalu berkata pasti dia? hmmm,, Edward..ya..dia menyebutkan nama Edward,benar kak,,Ardi malam itu sepertinya pergi mencari Edward." ujar Siska bersemangat.
"Edward? maksud kamu eksekutif muda Edward Collin? Direktur di perusahaan besar tempat Anjani bekerja?" tanya Aditya lagi.
"Benar kak,,iya benar. Edward Collin." ujar Siska bersemangat menimpali ucapan Aditya.
"Kenapa Ardi mencari Edward? apa hubungan Anjani dengan Edward?" tanya Aditya pada dirinya sendiri.
"Entahlah kak,, sepertinya rahasia yang di simpan Ardi dan Anjani berhubungan dengan Edward." ujar Siska yang tiba-tiba teringat sesuatu.
Siska dan Aditya pun saling pandang. "Jangan-jangan ayah dari bayi yang di kandung Anjani adalah Edward?" ujar Siska lagi.
"Tapi apa mungkin Edward yang menghamili Anjani?" Siska kembali berkata-kata sambil menerka-nerka ucapannya sendiri.
"Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Sebaiknya kamu juga berhati-hati apabila benar ini ada hubungannya dengan Edward. Orang berduit itu bisa melakukan apapun yang dia mau." ujar Aditya pada Siska.
Siska pun mengangguk menuruti kata-kata Aditya. Dia hanya bisa berharap Aditya bisa membantunya,hanya Adityalah orang satu-satunya yang bisa dipercaya oleh Siska saat ini.
*******
"Hey,,jangan melamun nanti kesambet setan lho?." Naya membuyarkan lamunan Ardi yang duduk di beranda menatap kolam ikan di depannya.
Ardi pun hanya tersenyum pada Naya yang mengambil posisi untuk duduk di sampingnya.
Sore yang sangat indah menatap pemandangan hamparan sawah yang tersusun seperti petakan-petakan permadani. Tampak beberapa orang mulai pulang dari sawah. Aroma pedesaan yang begitu damai,tenang dan asri membuat Ardi betah berlama-lama duduk didepan kolam ikan yang menghadap ke area persawahan tersebut.
"Indah sekali disini ya? terasa damai dan tenang." ucap Ardi pada Naya.
"Hmmm,,bagi orang-orang kota pasti disini di bilang indah. Tapi bagi kami orang desa justru ingin melihat kota. Melihat gedung-gedung tinggi,jalan-jalan ke emol." ucap Naya. Ardi pun tertawa mendengar ucapan Naya.
"iish..kenapa kamu malah ketawa?" ujar Naya mengangkat alisnya.
"Nggak..nggak apa-apa. Aku cuma merasa lucu aja mendengar ucapan kamu jalan-jalan ke emol... emol ya? hahaha." Ardi pun tak tahan lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Naya pun manyun lalu memukul-mukul badan Ardi yang mengaduh pura-pura kesakitan.
"Aduh..aduh.." ujar Ardi menerima pukulan Naya. Naya pun langsung menghentikan pukulannya di badan Ardi. "Sakit ya? aduh maaf,badannya masih sakit ya?" ujar Naya yang berusaha melihat tubuh Ardi. Ardi yang kaget reflek mengelak tapi malah membuat Naya hilang keseimbangan. Naya pun jatuh dan mendorong tubuh Ardi. Mereka pun terjatuh bersama-sama. Kini Naya pun berada di atas tubuh Ardi,Ardi pun memeluk Naya yang terjatuh bersamanya.
"Aduuh,,ma..maaf." ucap Naya yang berusaha bangkit tapi tertahan karena tangan Ardi yang mendekapnya dengan erat. Matanya langsung bertatapan dengan mata Ardi. Wajah mereka sangat dekat hingga nafasnya pun terasa di wajah Ardi. Ardi sejenak mematung menikmati wajah ayu di hadapannya. Tubuh mereka pun berhimpitan. Naya masih berada di dalam dekapan Ardi. Ardi sangat terpesona dengan wajah tanpa polesan ini,begitu asli dan cantik. Bibir Ardi pun mendekat ingin mengecup bibir Naya.
"Ehem..uhuk..uhuk.." terdengar suara batuk Pak tua yang mendekat ke arah mereka. Ardi dan Naya pun tampak kaget dan tergesa-gesa memperbaiki posisi mereka.
"Kalian sedang apa disitu?" ujar Pak tua yang melihat Ardi dan Naya di bawah bangku panjang dekat kandang ayam tersebut.
"Kuur..kukuk..kuuur.?" Naya dan Ardi pura-pura mencari-cari ayam di bawah bangku.
"Anak ayamnya kok nggak keliatan ya Pak?" ujar Naya pura-pura. Ardi pun tersenyum kikuk dan pura-pura mencari-cari anak ayam yang disebutkan Naya.
"Anak ayam? apa hilang lagi? jangan-jangan di makan musang lagi." ujar Pak tua.
"Ooh..iya mungkin pak. Memang banyak musang tadi Pak." ujar Ardi bersemangat.
Mendengar ucapan Ardi, Naya pun langsung menginjak kakinya. Ardi mengaduh dan menatap heran dengan sikap Naya.
"Maksud kamu tadi malam?" ucap Naya memberi kode pada Ardi. Ardi yang paham dengan kode dari Naya pun mengiyakan ucapan Naya. "I..iya,,tadi malam maksud saya." Ardi pun tertawa canggung menyadari kesalahannya.
"Hmmmm,,barudak edan(anak-anak gila) hahaha." Pak tua pun tertawa lalu berlalu masuk kembali kedalam rumah. Naya pun tampak berjalan ingin mengikuti langkah ayahnya namun langsung di tarik oleh Ardi kerah bajunya dari belakang.
"Eeeh,,mau kemana kamu? jelaskan dulu kenapa tadi kamu injak kaki ku?" Ardi berkata sambil menahan langkah Naya.
"Iiish,,apaan sih kamu? mikir sendiri lah. Masa iya kamu tadi liat musang? musang keluarnya cuma malam-malam tau? dasar orang kota sok tau." ujar Naya sedikit sewot.
Ardi justru tersenyum melihat tingkah Naya,makin manyun makin terlihat manis. "Hehee,,ya maaf? namanya juga nggak tau." ujar Ardi yang langsung mencubit pipi chubby Naya. Lalu dengan santainya dia pun melenggang masuk kedalam rumah meninggalkan Naya yang menatapnya dari belakang sambil mengusap pipinya bekas cubitan Ardi. Dalam hatinya Naya menyukai laki-laki tampan itu. Tapi dia tak berani karena merasa dia hanya gadis desa dan Ardi hanya kebetulan dan sementara dirumahnya. Apa mungkin Ardi akan tetap disini bersamanya?
*******
Briptu Aditya pun berharap mendapatkan surat perintah untuk bisa menggeledah rumah Edward agar tau dimana keberadaan Ardi. "Tolonglah komandan?kita harus mencari tau dimana Ardi. Karena hanya dia saksi kunci untuk mendapatkan pelaku yang menyerang Anjani dan Mila?" Aditya memohon pada komandannya tersebut,dia pun terus saja mengikuti langkah komandannya masuk ke dalam ruangan kantornya. Sampai didepan pintu,komandannya pun berhenti. "Apa kamu punya dasar untuk menggeledah Edward? apa kamu punya bukti?" ujar komandannya.
"Saya hanya bisa membawa bukti kehamilan Anjani dan menyelidiki Edward sebagai atasannya. Dan ada rumor yang beredar bahwa Anjani dan Edward mempunyai hubungan khusus. Ada kemungkinan Anjani diserang karena kehamilannya itu komandan." Aditya menerangkan pada komandannya.
Komandannya pun merasa itu bisa menjadi sebuah dasar untuk penyelidikan. "Ya sudah,,lakukan penyelidikan,tapi berhati-hatilah." ucap Komandannya.
"Siap laksanakan komandan." Aditya sangat bersemangat dan langsung meluncur kerumah mewah Edward.
******
"Ting tong" bel di bunyikan. Seseorang pun bertanya dari balik gerbang hanya membuka sedikit celah berbentuk persegi untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Briptu Aditya,saya mencari saudara Edward Collin." Aditya langsung menunjukkan lencana dan surat perintah pada penjaga tersebut.
******