Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Berlari dari kejaran maut


__ADS_3

Briptu Aditya masih berdiri menunggu didepan pintu gerbang untuk dibukakan. Penjaga itu pun langsung berlari dan mengabarkan kedatangan polisi tersebut pada majikannya. "Tuan,,tuan?" penjaga itu berlari dan memanggil-manggil majikannya.


"Ada apa kamu teriak-teriak?" Handoko menahan langkah penjaga tersebut. "Maaf pak,,di luar ada polisi mencari Tuan Edward." ujar penjaga tersebut.


"Polisi? ngapain polisi kesini mencari saya?" tiba-tiba Edward sudah berada di tempat penjaga dan Handoko tersebut berdiri.


Edward langsung menatap Handoko yang langsung tertunduk sedikit takut melihat wajah bosnya yang tampak memerah menahan marah.


"Ya sudah,,suruh dia masuk!." ujar Edward pada penjaganya itu.


Briptu Aditya pun melangkah masuk kedalam rumah mewah dan megah tersebut. Diapun memandang sekeliling rumah yang di Pagari dengan tembok yang tinggi, taman bunga dan pepohonan rindangpun menghiasi halaman rumah tersebut.


Seorang penjaga tampak membukakan pintu rumah mempersilahkan Briptu Aditya untuk masuk kedalam rumah tersebut.


"Selamat datang,silahkan duduk!." ujar Edward berpura-pura menyambut kedatangan Aditya dirumahnya.


Aditya pun duduk diruang tamu yang sangat luas tersebut. Air mancur tampak menghiasi taman kecil didalam ruangan tersebut.


"Selamat siang Tuan Edward Collin?." ujar Aditya langsung duduk berhadap-hadapan dengan Edward dan Handoko serta beberapa penjaganya. Tampak si botak dan si jenggot pun berdiri di belakang bosnya tersebut.


"Silahkan Pak polisi? sepertinya ada hal penting sehingga anda repot-repot datang kekediaman saya yang sederhana ini." ucap Edward menyindir Aditya.


"Hahaha,,tak perlu merendah tuan Edward. Memang sudah tugas saya untuk datang kesini. Dan kedatangan saya kemari mau menanyakan apakah anda mengenal Anjani? aah,, Betapa bodohnya saya mana mungkin Tuan Edward tak mengenal sekretaris pribadinya. hahaha." ujar Aditya pun tertawa menyindir.


"Pasti anda juga tau kondisinya saat ini bukan?" ucap Aditya tanpa basa-basi pada Edward.


"Oooh,,ya Anjani memang sekretaris pribadi saya. Dan saya baru mendapat kabar dari anak buah saya kalau Anjani sudah meninggal. Saya turut berduka! tapi apa hubungannya dengan kedatangan anda kemari?" ujar Edward.


Aditya tampak sedikit kaget mendengar Edward menyebutkan kalau Anjani sudah meninggal,dia pun mulai memandangi wajah-wajah di depannya satu persatu. Siapa diantara mereka yang telah melakukan penganiayaan terhadap Anjani dan Mila tersebut.


"Oooh,,sepertinya anda sudah tau bagaimana keadaan Anjani. Baiklah kalau begitu,apakah Anda juga tau siapa yang telah melakukan pembunuhan terhadap Anjani?" ujar Aditya lagi menatap tajam pada Edward.


"Pembunuhan? hahaha,pembunuhan bagaimana maksud anda? bukankah Anjani meninggal karena dia berusaha bunuh diri?" ujar Edward tertawa menutupi kebohongannya.


"Bunuh diri? kenapa Anjani ingin bunuh diri? apa anda tau sesuatu?" ujar Aditya.


"Bukankah polisi lebih tau? kenapa Anjani bunuh diri?" ujar Edward balik bertanya pada aditya,sambil mengangkat bahunya seakan dia tak tau apa-apa.


"Ooh,,maksud anda Anjani bunuh diri karena kehamilan nya?" ujar Aditya menyelidik.


"Hamil? apakah Anjani hamil? waah,bisa jadi. Mungkin saja dia malu karena hamil diluar nikah." ucap Edward pura-pura terkejut mendengar kehamilan Anjani.


"Mungkin saja,tapi apakah betul Anjani bunuh diri karena kehamilannya? atau mungkin Anjani memang dibunuh karena janin yang tumbuh dirahimnya membahayakan posisi seseorang?" ucap Aditya kembali menyindir Edward.


"Apa maksud anda?" Edward mulai terpancing emosinya.


"Sejauh yang saya ketahui, Anjani sudah dua kali diserang oleh orang tak dikenal. Yang pertama mengakibatkan Anjani koma,dan penyerangan terakhir mengakibatkan Anjani meninggal dan Mila sahabatnya pun ikut terluka. Dan Ardi saksi kunci yang mengetahui semua kejadian tentang Anjani pun mendadak hilang setelah datang kesini mencari anda. Bukan begitu tuan Edward?" Aditya semakin menyudutkan Edward.


"Apa maksud anda? apa anda menuduh saya yang telah membunuh Anjani? apa anda punya bukti?" ujar Edward lagi.


"Ooh,, tidak. Saya tidak menuduh anda. Justru semua akan terbongkar ketika saya menemukan Ardi. Apakah Ardi pelakunya atau Ardi tau siapa pelaku sebenarnya." ujar Aditya kembali menatap tajam pada Edward.


"Hahaha,,,jika anda berfikir saya menyembunyikan Ardi,anda hanya membuang-buang waktu saya saja. Kenapa anda mencari Ardi dirumah saya? apa anda tidak salah alamat?" ujar Edward sinis.


"Tidak..tidak..tuan Edward Collin. Saya tidak salah alamat. Saya justru mencari keberadaan Ardi dengan alamat yang tepat. Karena menurut saksi dan informan terpercaya saya. Ardi menghilang setelah datang menemui anda disini. Apakah anda menyangkalnya tuan Edward?" ujar Aditya dengan lantang.

__ADS_1


"Saya tidak tau apa yang anda bicarakan. Kalau anda datang untuk menuduh saya tanpa bukti,anda hanya membuang-buang waktu saja. Silahkan anda cari Ardi di seluruh sudut rumah saya. Setelah itu anda boleh pergi." Edward pun langsung berdiri dan mempersilahkan Aditya untuk pergi.


"Wah,, wah,,wah,,santai saja tuan Edward. Saya tidak mungkin menuduh tanpa bukti,bila Ardi memang tidak ada disini baiklah. Saya akan pergi untuk saat ini. Tapi bila bukti-bukti kembali mengarah kepada anda,mungkin kita akan kembali berjumpa lagi." ujar Aditya berdiri menatap Edward.


"Silahkan datang bila anda sudah menemukan bukti yang anda cari." Ujar Edward sinis.


"Tentu tuan Edward. Saya pastikan kasus Anjani tidak akan seperti kasus Cindy waktu itu. Saya akan menangkap pelakunya. Karena saya yakin Anjani tidak mungkin bunuh diri. Sama seperti Cindy." ujar Aditya yang langsung berlalu keluar dari rumah mewah Edward.


Edward pun murka setelah Aditya pergi. "Brengsek,,siapa polisi itu? berani-beraninya dia mengancam ku? Cindy? kenapa dia menyebutkan nama Cindy? cari tau siapa dia! dan juga pastikan kalau dia tidak akan menemukan Ardi. Cari Ardi dan habisi mereka semua." Edward murka lalu membanting dan menghancurkan barang-barang yang ada disekitarnya.


Handoko pun langsung bergerak dan membagikan tugas pada seluruh anak buahnya untuk mencari informasi tentang polisi tersebut dan juga mencari keberadaan Ardi yang telah mereka buang diluar kota waktu itu.


Si botak dan si jenggot pun kembali menaiki mobil Jeep bersama komplotannya,mereka pun melaju untuk mencari Ardi di tempat terakhir mereka meninggalkannya.


******


Naya duduk di pinggir kolam ikan tempat dia biasa menghabiskan waktu bersama Ardi. Sekarang Ardi tampak benar-benar sudah sembuh dan mungkin segera pergi meninggalkannya. Wajahnya tampak murung menatap bentangan sawah di depannya. Pikirannya melayang membayangkan jika Ardi pergi bagaimana dengannya. Entah kenapa hatinya seakan tak merelakan kepergian Ardi.


"Heey,, jangan melamun. Nanti kesambet setan lho.." ujar Ardi yang tiba-tiba datang mengagetkan Naya.


"Iiih,,apaan sih? siapa yang melamun? aku nggak melamun kok." ujar Naya berbohong tanpa mau menatap wajah Ardi.


Ardi pun langsung duduk merapat disamping tubuh Naya. "Lalu kamu ngapain bengong disini? apa karena aku mau pergi ya? kamu nggak ikhlas ya kalau aku pergi?" ucap Ardi bercanda menggoda Naya dengan menyentuhkan bahunya kebahu Naya.


"Iiish,,apaan sih? geer kamu mah." ujar Naya memukul pundak Ardi yang pura-pura mengelak dari pukulan Naya.


Mereka pun tertawa-tawa lalu kembali diam sambil menatap hamparan sawah yang begitu menentramkan jiwa. Ardi tampak menarik nafas panjang dan duduk bersandar dengan tangan menyilang di kepalanya. Ardi sangat menikmati pemandangan di depannya.


"Aku boleh nanya nggak?" Naya menatap Ardi yang duduk samping nya.


"Iiih,,kamu mah. Serius tau!." ujar Naya pura-pura merajuk.


"Hehehe,, iya iya,, tanya aja, apaan?" jawab Ardi tertawa lucu melihat Naya yang manyun.


"Hmmm,,Kamu benar-benar cinta ya sama Anjani?" Naya bertanya sambil menunduk menutupi rasa penasarannya.


Ardi lalu melepas tangan yang menopang kepalanya. Lalu duduk agak miring menghadap kearah Naya. "Kenapa kamu menanyakan itu?" ujar Ardi.


"Nggak,,nggak apa-apa. Cuma penasaran aja." ujar Naya tetap tertunduk.


"Anjani itu sahabat ku,,ya..dulu aku memang sangat mencintainya. Tapi itu hanya perasaan sepihak saja karena dia lebih memilih Edward laki-laki brengsek yang telah menghamilinya dan sekarang berusaha untuk menghabisinya itu." ujar Ardi menatap lurus kearah sawah.


"Dulu? apa sekarang kamu masih mencintainya?" ujar Naya penasaran lalu menatap Ardi di sampingnya.


"Ya,, itu dulu. Sekarangpun aku tetap menyayanginya sebagai seorang sahabat. Dan akupun merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan hidupnya." ujar Ardi.


"Hanya menyayangi sebagai seorang sahabat? yakin hanya sebagai sahabat?" ujar Naya tersenyum menutupi rasa cemburu dihatinya.


"Tentu saja,, kenapa tidak? karena sekarang aku sudah menemukan cinta lain. Dan semoga cinta ku kali ini tidak hanya cinta sepihak seperti dulu lagi." ujar Ardi tersenyum pada Naya.


"Cinta lain? siapa itu?" ucap Naya berdebar seakan dia berharap kalau Ardi mencintainya.


"Cup." Ardi langsung mencium bibir Naya yang langsung terdiam bengong karena Ardi tiba-tiba menciumnya tanpa permisi.


Ardi memegang dagu Naya, wajah mereka sangat dekat. Mata Ardi dan Naya pun saling menatap. "Kamu,, orang itu adalah kamu. Dan aku berharap kalau perasaan ini tidak hanya milik ku sendiri,tapi kamu juga." ujar Ardi lalu kembali mencium bibir Naya dengan lembut. Naya pun membalas ciuman Ardi dan memejamkan matanya menikmati sentuhan dari bibir Ardi.

__ADS_1


Hati Naya sangat bahagia, jantungnya pun berdebar sangat keras. Karena dia pun juga merasakan hal yang sama pada Ardi,tapi tak berani mengungkapkannya karena merasa dia hanyalah seorang gadis desa. Tapi kini perasaan ragunya hilang saat Ardi mengungkapkan perasaannya dan mencium bibirnya saat ini. Saat mereka larut dalam ciuman yang indah itu,, sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang memanggil-manggil nama Naya.


"Naya,,,Naya.. cepat pergi!." Ardi dan Naya pun sontak terkejut mendengar seseorang berteriak menyebut namanya dari kejauhan. Ardi dan Naya pun menoleh kearah suara tersebut dan mereka pun melihat Mia sedang berlari kearah mereka.


"Aya naon teteh?(ada apa kak?)" ujar Naya pada kakak perempuannya itu. Mia terlihat panik dan ngos-ngosan karena berlari.


"Kalian cepat pergi dari sini! Bapak menyuruh teteh untuk memberikan bekal pada kalian. Cepat tinggalkan tempat ini. Bawa Ardi keluar dari kampung kita!." ujar Mia lalu menyerahkan seikat uang ketangan Naya.


"Kenapa teh? kenapa kami disuruh bapak pergi?" Naya belum mengerti dengan maksud kakaknya. Naya pun menangis melihat kakaknya menangis.


"Sudah sana pergi! ini demi kebaikan kalian. Sekarang Bapak sedang menghalangi orang-orang yang sedang mencari Ardi" ujar Mila.


Ardi dan Naya pun saling menatap. "Maksud teteh ada orang yang mencari saya?" ujar Ardi.


"Iya,,orang-orang itu terlihat sangat jahat. Mereka tak segan-segan memukul siapa saja yang menghalanginya. Bapak melihat mereka menuju kesini,makanya bapak langsung menyuruh teteh untuk memberikan bekal dan menyuruh kalian untuk pergi." ujar Mia sambil menangis.


Mendengar pak tua sedang berhadapan dengan orang-orang yang mencari nya,Ardi pun berusaha untuk pergi kearah depan rumah tapi ditahan oleh Mia. "Ardi jangan kesana! dengarkan kata-kata bapak dan teteh?! Serahkan semua ini pada kami. Sekarang kamu harus pergi dan selamatkan Anjani. Buat mereka semua membayar perbuatannya pada kalian. Pergilah bersama Naya, Naya akan menunjukkan jalan untuk keluar dari sini. Teteh dan bapak titip Naya sama kamu. Kalau semua sudah selesai baru kembalilah kesini." ujar Mia mendorong Naya ketubuh Ardi.


"Tapi teh,,Naya mau disini sama teteh dan bapak? Naya nggak mau ninggalin teteh dan bapak." Naya menangis memeluk kakaknya.


"Naya,,cepatlah,sudah nggak ada waktu lagi. Pergilah,kamu harus selamatkan Ardi. Kalian harus pergi sekarang. Teteh akan menjaga Bapak disini. Kamu jangan kuatir. Teteh sayang sama kamu." Mia pun menangis lalu berusaha melepaskan pelukannya pada Naya.


"Ardi,,pergilah dengan Naya. Ingat,,teteh dan bapak titip Naya sama kamu. Kami percaya kamu akan menjaga Naya. Pergilah sekarang!." Mia lalu memberikan tangan Naya pada Ardi. Dengan wajah sedih,Ardi pun mengangguk lalu menarik tangan Naya untuk pergi. Merekapun berlari bergandengan tangan melewati pematang sawah dibelakang rumah tersebut.


Setelah mereka tampak menjauh Mia pun kembali berlari menuju depan rumah,tampak segerombolan preman itu sudah berada di pekarangan rumahnya. "Mia,,asup ka Imah(masuk kedalam rumah)." Pak tua menyuruh Mia masuk kedalam rumah. Mia pun lalu berlari masuk kedalam rumahnya, dia hanya berani mengintip ayahnya dari balik tirai jendela.


"Sudahlah pak tua,dimana kalian sembunyikan laki-laki itu? jangan membuat kami melakukan sesuatu hal yang akan kau sesali." sijenggot tampak menantang pak tua.


"Tidak ada siapapun yang kalian cari disini. Kalian salah alamat. Pergilah sebelum kalian menyesal." Pak tua pun menimpali dengan memasang kuda-kuda menghadapi sijenggot.


"Hahahaha,,bernyali juga kau orang tua?." ujar sijenggot. Hajar dia dan porak-porandakan rumah ini! cari Ardi di semua sudut kampung ini!. ujarnya lagi memberi perintah pada gerombolan preman yang telah di bawanya.


Perkelahian pun terjadi. Pak tua tampak bersemangat melawan preman-preman itu. Walaupun umurnya sudah tua tapi keahlian bela dirinya tak bisa dianggap remeh. Berkali-kali preman-preman yang berusaha meringkusnya malah terpental jatuh di hantam pukulan telak tangan tuanya.


Seperti adegan saur sepuh Pak tua tampak terbang kesana-kemari menghajar preman-preman tersebut. Sijenggot yang melihat hal itu pun tampak geram. Melihat anggotanya yang berjatuhan dihajar oleh Pak tua tersebut,dia pun lalu mengeluarkan senjata api dari pinggangnya. Dia pun bersiap-siap menembakkan pistolnya kearah Pak tua. Mia yang memperhatikan ayahnya dari balik jendela pun terkejut melihat sijenggot mengeluarkan pistolnya. Dia pun langsung berlari keluar dari persembunyiannya.


"Bapaaak,,awaaas!." Mia langsung melompat kedepan menghadang peluru yang mengarah ke tubuh ayahnya. "Dor." pistol itupun melepaskan timah panas kearah Pak tua,tapi malah menembus tubuh Mia. Pelurunya menghantam bahu kiri Mia. Mia pun roboh ketanah. "Mia!" Pak tua langsung berlari memeluk anaknya yang tergeletak ditanah dengan bersimbah darah.


Melihat itu kelompok preman pun langsung merangsek kedalam rumah Pak tua, mereka pun mengobrak-abrik isi rumah tersebut. Tapi mereka tak menemukan Ardi disitu. "Nggak ada bos. Semuanya kosong." Anggota preman itu pun berkumpul dengan tangan hampa.


Sibotak pun menghampiri Pak tua. "Sampaikan pada Ardi, kalau ingin selamat jangan pernah kembali ke Jakarta. Dan jangan coba-coba lapor polisi atau kalian semua akan kami habisi." ancamnya.


Pak tua hanya menatap tajam penuh kebencian pada mereka,namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena melihat kondisi putrinya yang terkapar terkena peluru yang di tembakan sijenggot tadi.


Komplotan preman itu pun lalu pergi menaiki mobil Jeep yang dikemudikan sibotak.


Setelah mereka pergi barulah orang-orang desa berkerumun dan berusaha menolong Mia untuk langsung dibawa kerumah sakit.


*******


Ardi dan Naya masih tetap berlari melewati sawah dan kini mereka berada di kampung sebelah. Mereka pun berlari kearah jalan raya. Tak berapa lama sebuah bus jurusan Jakarta pun tampak mendekat kearah mereka. Ardi pun melambai-lambaikan tangannya untuk menghentikan bus tersebut. Bus pun berhenti dan mereka pun langsung menaiki bus tersebut.


Naya langsung memeluk tubuh Ardi yang duduk disampingnya. Naya menangis di dalam dekapan Ardi. Ardi pun menatapnya dengan rasa iba. Tak terbayangkan apa yang sedang terjadi pada Pak tua dan Mia. Ardi pun memeluk Naya yang menangis di pelukannya,tangannya pun mengusap-usap kepala Naya. Tak lama setelah itu mereka pun tertidur karena kelelahan berlari dari orang-orang yang mencarinya.


******

__ADS_1


__ADS_2