
Ardi terduduk lesu di kursi yang berada di samping kasur Anjani,dengan mata berkaca-kaca diapun menatap Anjani yang sedang tertidur dengan infus yang masih melekat ditangannya.
"Kenapa kamu bisa sebodoh ini Anjani? kenapa kamu bisa terbuai dan melakukan kesalahan yang sama dengan orang itu, kenapa Anjani? kenapa kamu justru mencintai orang seperti itu?" Ardi berkata lirih dengan perasaan yang terasa sangat sakit,rasa sakit yang dulu ingin di buang jauh olehnya,kini rasa sakit itu datang lagi bahkan terasa lebih sakit dari sebelumnya.
Ardi berdiri sambil mengusap tetesan air matanya dan ingin berjalan keluar tapi tangannya ditahan dan langkah nya pun terhenti.
Ardi menoleh dan ternyata Anjani sudah terbangun dan menggenggam tangan Ardi,menahannya untuk tidak pergi.
"Di.?" Anjani berkata pelan sambil menatap Ardi dengan matanya yang sayu. Ardi pun mendekat dan duduk di samping tubuh Anjani yang masih terbaring lemah. "Ya sayang,kamu sudah bangun?" Ardi berkata lembut sambil mengusap-usap kepala Anjani dengan perasaan sayang.
Anjani menahan tangan Ardi untuk tidak meneruskan usapannya. Anjani menangis karena dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan sayang dari seorang Ardi yang telah disakitinya berkali-kali.
"Jangan Di! aku nggak pantas untuk di sayang. Aku udah nyakitin kamu,aku udah jahat sama kamu." Anjani berkata sambil terus menangis terisak-isak.
"Sssst,, jangan ngomong gitu. Walau bagaimanapun kamu tetap sahabatku dan kamu pun akan tetap menjadi seorang wanita yang spesial di hati ku." Ardi berkata dan terus melanjutkan untuk mengusap kepala Anjani.
"Maafin aku Ardi,maafin aku?" Anjani hanya bisa berkata lirih dan menarik lalu mencium tangan Ardi dengan perasaan menyesal karena telah menyakiti Ardi.
Ardi lalu merangkul dan mengangkat tubuh Anjani untuk duduk lalu dia menarik Anjani kedalam pelukannya. Dia begitu mencintai Anjani,dan perasaannya masih sama walaupun dia sudah di kecewakan oleh Anjani. Cinta dan sayang nya begitu tulus untuk Anjani.
"Sudahlah sayang,kamu jangan pikirkan apapun, karena yang terpenting sekarang kamu harus sehat dan kuat demi anak yang berada dalam kandungan mu saat ini. oke?" Ardi berkata untuk mengingatkan Anjani pada kandungannya.
"Nggak Di,aku harus membuang anak ini. Aku nggak mau Di,aku nggak mau." Anjani melepaskan pelukan Ardi dan menunduk menangisi kehamilan yang tidak diinginkannya itu.
"Hey,jangan bicara seperti itu sayang! walau bagaimanapun anak ini tidak bersalah,dia tidak berdosa Anjani. Tenanglah,kita akan menjaga dan merawatnya bersama-sama." Ardi berkata dan kembali memeluk Anjani yang masih terus menangis.
__ADS_1
Ardi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan,seakan dia ingin membuang beban berat yang menggantung di dadanya.
*****
Edward duduk dengan santai dan menatap keluar jendela di dalam ruangan kerjanya. Lalu dia pun mengangkat telepon yang ada diatas mejanya dan mulai menelpon seseorang. "Halo Bunga? tolong panggilkan Pak Handoko untuk datang keruangan saya segera." terdengar jawaban "Baik Pak." dari seberang suara.
Tak berapa lama pintu ruangannya pun di ketuk. "Tok...tok..tok.."
"Masuk." Edward menjawab.
"Permisi tuan? tuan mencari saya?" Handoko masuk dan sedikit membungkuk pada bosnya itu.
"Iya, Handoko. Tapi sebenarnya ini di luar tugas kantor." ucap Edward.
"Hmm,ada apa tuan? maksudnya di luar tugas kantor apa ini bersifat pribadi tuan?" Handoko tampak sedikit bingung.
"Ma..maksud tuan? saya juga harus menyingkirkan Anjani seperti Cindy waktu itu tuan?" Handoko berkata sedikit gugup dengan permintaan bosnya itu.
"Ya,tentu saja." Edward berkata dengan lantang.
"Ta..tapi tuan, Anjani juga sedang mengandung? dan bukankah itu anak tuan juga?" Handoko berkata sedikit takut dan membungkuk pada bosnya.
"Heeey,justru itu aku ingin kamu menyingkirkannya. Karena aku tidak mau kalau sampai anak itu nanti lahir dan di gunakan untuk melawan ku. Paham kamu?" Edward pun berkata dengan marah dan melotot pada Handoko. Membuat bawahnya itupun semakin ciut dan takut.
"Memangnya kenapa kalau aku menyuruh mu? apa kamu keberatan? apa aku harus mencari orang lain untuk menggantikan mu?" ujar Edward kembali berkata sambil menatap Handoko dengan sinis.
__ADS_1
"Ti..ti.tidak tuan. bu..bukan begitu maksud saya. Ba..baiklah tuan, perintah tuan akan sa..saya lakukan." Handoko menjawab terbata-bata dengan wajah yang semakin terlihat ketakutan..
"Bagus,itu baru anak buah ku. Hahaha." Edward tertawa dengan jahat sambil menepuk-nepuk pundak Handoko yang masih membungkuk dihadapannya
*******
Malam itu hujan deras kembali mengguyur ibu kota Jakarta. Hawa dingin terasa sangat menusuk. Ardi memandang Anjani yang sudah terlelap dalam tidur. Sekilas Ardi mengusap-usap kening Anjani lalu beranjak keluar untuk mencari sesuatu yang bisa sedikit menghangatkan tubuhnya.
Ardi melangkah memasuki toko kecil yang masih berada di lingkungan rumah sakit. Dia pun memesan secangkir kopi panas,dan mie cup untuk menghangatkan tubuhnya. setelah membayarnya Ardi pun segera melangkah kembali kedalam kamar Anjani.
Ketika membuka pintu dengan sikunya,Ardi melihat seorang perawat laki-laki yang menggunakan masker sedang menyuntikkan sesuatu pada obat infus Anjani. Dia pun hanya berpikir kalau itu perawat jaga yang sedang mengganti infus Anjani dan memberikan obat di infusnya.
"Tumben malam sekali mas?" ujar Ardi sekedar menyapa. Perawat itu hanya mengangguk dan langsung keluar dengan sedikit tergesa-gesa.
Ardi dengan santai menaruh mie dan kopinya di atas meja di samping kasur Anjani. Namun tiba-tiba Anjani meronta-ronta seperti menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Ardi pun panik lalu mendekatinya. "Anjani? Anjani? ada apa dengan mu? Anjani?" Ardi lalu berlari keluar mencari perawat laki-laki tadi,tapi oleh itu sudah menghilang tanpa jejak."Dokter? Dokter?!" Ardi lalu menjerit memanggil-manggil dan berharap siapa saja untuk datang membantunya.
Mendengar teriakan Ardi,Dokter dan seorang perawat jaga malam itupun langsung berlari dan masuk kedalam ruangan Anjani.
"Tolong Dokter,tolong selamatkan Anjani." Ardi berkata lirih karena panik sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya,dia tak sanggup melihat kondisi Anjani yang kejang-kejang seperti itu.
Dokter pun terlihat panik lalu berkata pada suster "Siapkan ruangan operasi!" lalu Mereka pun mengangkat tubuh Anjani yang di bantu Ardi ke atas kasur dorong dan langsung membawa Anjani ke dalam ruangan operasi.
Ardi terduduk lesu hatinya penuh tanda tanya siapa perawat laki-laki itu dan diapun menyesal telah meninggalkan Anjani sendirian walaupun hanya sebentar.
Setelah Anjani di bawa ke ruang operasi,Ardi pun langsung bertanya di pusat informasi rumah sakit itu tentang perawat laki-laki yang masuk ke dalam ruangan Anjani dan menyuntikkan sesuatu pada obat infusnya. Tapi menurut petugas informasi tidak ada perawat jaga laki-laki yang bertugas malam ini.
__ADS_1
Ardi pun sempat marah karena kelalaian pihak rumah sakit nyawa Anjani kini dalam bahaya. Petugas itupun meminta maaf pada Ardi dan Pihak rumah sakit pun berjanji akan bertanggung jawab dan mencari tau siapa orang yang di katakan Ardi tersebut. Dan mereka pun akan memeriksa kamera pengawas untuk mencari tau siapa orang tersebut.
******