Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Menuju tempat eksekusi


__ADS_3

Aditya tiba di Bandara Changi Singapura. Ardi dan Andini tampak menunggunya di pintu kedatangan. Andini pun melambaikan tangannya pada saudara kembarnya itu saat Aditya tampak berjalan keluar dari pintu Bandara. Aditya pun sumringah dan langsung berlari ke arah Andini dan Ardi.


Andini pun langsung memeluk Aditya. "Wellcome brother.(Selamat datang saudara ku.)" ujar Andini tersenyum pada Aditya. "Makasih udah jemput gua ke Bandara,walau sebenarnya nggak perlu juga sih. Kan gua bisa sendiri?!" ujar Aditya sedikit pamer.


"Gua sih sebenarnya males buat jemput lu,tapi karena Ardi yang minta ya udah, terpaksa lah." ujar Andini menggoda saudaranya itu.


"Alaah,yakin?" Aditya pun mencubit hidung kakak kembarnya itu. Mereka pun tertawa dan berjalan menuju tempat parkiran mobil. Setelah masuk kedalam mobil, mereka pun menuju ke kediaman Andini.


"Gimana perkembangan kabar Anjani?" ujar Aditya saat mobil mereka melaju yang dikendarai oleh Ardi.


"Mereka sudah menyebar foto-foto Anjani. Dan sebenarnya banyak yang sudah menghubungi pihak polisi,tapi setelah di cek ternyata mereka hanya mirip. Bukan Anjani yang asli." ujar Andini menjelaskan.


"Trus rencana lu gimana Di?" ujar Aditya pada Ardi.


"Kalo menurut gua sih, kita coba sisir aja ni Singapura. Selagi Anjani masih disini gua yakin pasti bakal ketemu. Yang penting kita usaha dulu buat nyari Anjani." jawab Ardi meyakinkan Aditya.


Aditya tampak manggut-manggut. "Ya udah,kalo menurut lu itu yang terbaik,gua ngikut aja. Besok kita jumpai teman lama gua dulu ya? siapa tau mereka bisa bantu kita." ujar Aditya memberi saran.


"Oke bos." ujar Ardi tersenyum.


******


Handoko tampak pucat ketika mendengar suara Anjani di ponselnya. Dia tak menyangka kalau Anjani telah sadar dari komanya. Dan bahkan Anjani kini telah menahan Edward disebuah tempat.


"Tolong Anjani,kamu jangan salah paham dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik. Sekarang beritahu saya,kamu ada dimana?" ujar Handoko membujuk Anjani.


"Tenang saja pak Handoko,saya belum akan membunuh sibajingan ini. Saya masih ingin bersenang-senang, seperti yang pernah dia lakukan dulu pada saya. Setelah itu kita bisa bicara. Tak perlu mencari saya, karena saya yang akan datang pada anda. Tunggu saja giliran anda." Anjani berkata santai namun terasa sangat mengancam. Dia pun menutup panggilan tersebut dan beralih ke arah Edward yang masih terjatuh dengan posisi masih terikat dikursinya.


"Hmm..hmm." Edward tampak berusaha berontak namun dia tak berdaya. Keringat dan air matanya menyatu di wajahnya. Anjani mendekati Edward. Lalu dia pun membuka lakban yang menutup mulut Edward.


"Uhuk..uhuk.." Edward pun terbatuk-batuk. "Anjani,maafkan saya? Saya tidak bermaksud menyakiti kamu,saya masih sangat mencintai kamu Anjani. Tolong keluarkan saya dari sini? Saya akan melakukan apapun yang kamu minta. Ingat anak kita, Kita akan bahagia bersama anak kita Anjani. Tolong lepaskan saya sayang?" Edward berusaha meluluhkan hati Anjani dengan kata-katanya, namun Anjani sudah tidak percaya lagi pada laki-laki yang pernah dicintainya itu.


"Apa kamu bilang? Bahagia? Anak kita? Ha..ha..ha. Apa kamu masih ingat kalau kamu punya anak? Sejak kapan? Selama ini kamu dimana? Bahkan kamu ingin menyingkirkan aku dan anak ku. Anak ku..bukan anak mu ********." "Buak." Anjani kembali menendang tubuh Edward. Edward pun meringis kesakitan. Dia pun tampak tak berdaya karena tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya yang terikat kuat pada kursi.

__ADS_1


******


Handoko mengumpulkan orang-orang kepercayaannya. Dia punya firasat buruk pada Anjani. Pasti Anjani telah melakukan suatu hal terhadap bosnya.


"Ayo lacak dimana lokasi perempuan ****** itu membawa tuan Edward. Kita harus menemukan mereka sebelum terjadi sesuatu pada tuan Edward." Handoko memerintahkan orang suruhannya untuk melacak GPS handphone Edward melalui komputer. Tampak orang-orang suruhannya itu tengah sibuk sementara Handoko menunggu dengan wajah yang tampak semakin cemas.


"Ayo cepat cari! Dimana mereka?" Handoko tampak tak sabar dengan kerja anak buahnya itu.


******


Andini,Ardi dan Aditya pun sampai di apartemen Andini. Sejenak mereka pun beristirahat. Setelah itu Andini pun bersiap untuk menyiapkan makan siang di meja makan untuk mereka bertiga.


"Kita makan dulu yuk? Tadi gua udah masak buat lu." ujar Anjani pada saudara kembarnya itu.


"Waah,tumben banget Bu dokter sempat masak? he..he..he. Makasih ya kakak ku sayang?" ujar Aditya memeluk Andini dari belakang.


Andini pun tersenyum mendengar ucapan aditya. Namun tiba-tiba hatinya terasa sedih mengingat Cindy adiknya yang telah meninggal. Andai Cindy masih ada pasti mereka kini sangat bahagia bisa berkumpul dan makan bersama. Sejenak Andini pun teringat pada memorinya bersama Cindy adik perempuannya itu.


"Eeh,,di puji kok lu nya malah ngelamun sih?" ujar Aditya. Andini pun terkaget lalu menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir dipipinya. "Ah, nggak,nggak apa-apa kok." ujar Andini mengelak lalu kembali menyiapkan peralatan makan didapur.


Karena walau kepergian Cindy sudah hampir dua tahun lamanya namun Andini seakan belum mengikhlaskan kepergian adiknya tersebut. Apalagi setelah kepergian orang tua mereka yang meninggal akibat kecelakaan pesawat. Mereka hanya hidup bertiga,namun setelah Cindy pun pergi secara tragis,kini hanya tinggal Aditya dan Andini saja. Dan itu membuat Andini merasa sangat terpukul dan berharap agar Edward bisa mendapatkan hukuman atas perbuatannya terhadap Cindy adiknya.


Mereka pun menyantap makanan dengan sedikit haru biru. Karena teringat akan kenangan mereka bersama orang tua dan adiknya Cindy.


Setelah mereka selesai makan tiba-tiba handphone Andini pun berbunyi. Ternyata itu panggilan dari kantor polisi yang menyatakan ada seorang perempuan yang terekam cctv dan sangat mirip dengan ciri-ciri Anjani. Tampak perempuan itu pergi bersama seorang pria mabuk dari sebuah club malam. Andini seakan tak percaya kalau itu adalah Anjani. Karena Anjani tak mungkin pergi ke club malam apalagi dengan seorang pria mabuk. Namun Andini pun mengatakan pada polisi itu bahwa mereka akan datang kesana untuk melihat rekaman cctv tersebut.


"Ada apa din?" ujar Ardi penasaran.


"Itu tadi dari kantor polisi. Katanya ada seorang perempuan yang mirip Anjani keluar dari club malam. Dan perempuan itu bersama pria mabuk. Ada-ada aja kan? masa iya itu Anjani sih? mana mungkin Anjani ke club terus pergi sama pria mabuk? Ah,males gua. Tapi tetep aja kita harus kesana buat mastiin." ujar Andini tak bersemangat.


"Pria mabuk? club malam?" Ardi pun langsung menatap Aditya. Seakan mereka satu pikiran,Ardi dan Aditya pun langsung menarik tangan Andini untuk segera pergi ke kantor polisi.


"Eeh,, apa-apaan sih lu berdua? main seret-seret aja woy,woy." Andini pun diseret dan diangkat keluar oleh Ardi dan Aditya.

__ADS_1


"Udah, ntar lu juga tau." Ujar Aditya. Walaupun hatinya masih bingung tapi akhirnya Andini pun mengikuti Ardi dan Aditya. Mereka pun langsung menuju ke kantor polisi.


******


"Pak, sepertinya kita dapat lokasi mereka." ujar seorang laki-laki suruhan Handoko.


"Bagus. Dimana mereka?" ujar Handoko bersemangat dan langsung melihat ke arah komputer anak buahnya tersebut.


"Sepertinya mereka di area dermaga yang tak terpakai pak?" ujar anak buahnya lagi.


"Bagus, kalau begitu ayo kita berangkat kesana!" Handoko pun tak membuang-buang waktu lagi. Dia dan beberapa anak buahnya pun melaju seperti iring-iringan mobil menuju dermaga.


******


Sesampainya di kantor polisi mereka pun langsung disambut oleh seorang petugas kepolisian. "Hay Aditya?" ujar polisi tersebut. "Hay Steve. Wah, kebetulan sekali padahal gua rencananya besok mau kerumah lu." ujar Aditya bahagia dan langsung memeluk sahabat lamanya itu.


"Di,ini Steve temen lama gua yang gua bilang tadi. Padahal besok gua mau ajak lu ketempat dia,eh malah ketemu disini. Hehehe." Aditya pun tertawa. Ardi dan Steve pun bersalaman.


"Dan ini kakak kembar gua kalo lu masih ingat Steve?" ujar Aditya memperkenalkan Andini. Steve pun tampak malu karena tak menyadari bahwa ternyata Andini adalah kakak kembarnya aditya. Andai dia tau dia pasti langsung membantu Andini, karena Steve dan Aditya dulunya teman satu sekolah di Singapura sebelum Aditya akhirnya pindah ke Indonesia. Mereka pun berjabat tangan. Andini pun memaklumi Steve yang tak mengenalinya. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, mereka pun memutar rekaman cctv tersebut.


Ardi,Andini dan Aditya pun memperhatikan rekaman cctv yang diperlihatkan polisi itu dengan teliti. Ada beberapa titik dimana terlihat jelas wajah Anjani yang sedang merangkul seorang laki-laki.


Dan setelah memperhatikan wajah laki-laki tersebut,Ardi dan Aditya pun langsung terlonjak kaget.


"Bukannya itu Edward?" ujar Ardi pada Aditya.


"Iya,gua rasa juga laki-laki itu mirip banget sama Edward." Aditya pun membenarkan ucapan Ardi.


Andini yang mendengar ucapan Ardi dan Aditya pun langsung berkata pada polisi bahwa benar itu adalah teman mereka yang sedang mereka cari. "That is my friend Sir. Please tell us where that location Sir?(Itu teman saya pak, tolong beritahu dimana tempatnya pak?)"


Polisi itu pun tampak mencari-cari di dalam rekaman cctv yang memperlihatkan Anjani yang sedang mengendarai mobil menuju kesuatu tempat.


Setelah beberapa saat polisi itupun mengatakan bahwa mobil tersebut mengarah kesebuah dermaga yang sudah tak terpakai. Aditya pun langsung meminta bantuan pada Steve agar meminta polisi bergerak menuju tempat itu.

__ADS_1


Setelah itu Ardi, Aditya,Steve dan Andini pun menaiki mobil Steve,mereka pun melaju menuju dermaga tersebut bersama personil polisi lainnya.


******


__ADS_2