Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
kecewa


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit dan beberapa hari istirahat di kamar kosnya Anjani kembali bekerja dan masih tetap di posisinya sebagai sekretaris cadangan. Dia sudah tak mau ambil pusing lagi penyebabnya sampai dia jatuh sakit. Yang penting sekarang dia sudah sembuh dan bisa bekerja lagi. untuk bisa mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung.


Seminggu sudah dia aktif bekerja kembali,dan ada hal yang mengusik hatinya. "Beberapa hari ini aku tak melihat Cindy, dan pak Edward pun tadi datang sendiri. Ada apa dengan Cindy? kemana dia?" Anjani bergumam sendiri.


"Kring,kring.." telpon di meja kerja Anjani berdering dan itu dari pak Edward "Halo Anjani,bisa kesini sebentar?"


"Baik pak." Sahut anjani. Tumben setahun lebih Anjani bekerja,belum pernah dipanggil dan menghadap Edward. Apalagi dari mulai kejadian tempo hari,dia belum terlalu berani menatap Edward walau Edward sudah pernah datang menjenguknya di rumah sakit.


Dan sekarang pak Edward ada di depan nya,bicara langsung berdua dengannya dan tidak hanya sekedar ucapan selamat pagi lagi. "Ya pak? Ada apa pak?" Tanya Anjani.


"Begini anjani,kamu kan sudah setahun lebih kerja disini,dan saya lihat hasil kerja kamu juga cukup bagus. Jadi saya ada tugas di solo selama seminggu,saya minta kamu bersiap-siap untuk ikut berangkat dengan saya lusa ke solo. Kamu nggak usah bawa pakaian banyak-banyak ya? disana nanti saya belikan keperluan kamu."


Anjani masih bingung dan mulai mencerna ucapan pak Edward. Maksudnya apa? aku ikut kerja keluar kota sama pak Edward gitu? Berdua? Cindy kemana? batin anjani.


Belum hilang rasa bingungnya Edward kembali berkata. " Hey, Anjani. Kamu denger kan omongan saya barusan?"


Sambil menunduk malu Anjani menjawab. " Hehehe,maaf pak. Cuma kaget aja kenapa sama saya ya pak? Kan biasanya bapak sama mbak Cindy? Jadi seperti nggak percaya aja kalo kali ini saya yang ikut,gitu pak." Sahut Anjani sambil menaruh rambut panjangnya ke sela telinga,Karena canggung dan bingung.


"Sudah,nggak usah tanya kenapa kamu yang di ajak bukan Cindy. Terserah saya dong, Kan yang bosnya saya?!" Jawab pak Edward tersenyum sinis.


"Hehehe,baik pak. Kalo begitu, mohon bimbingannya ya pak? karena saya belum pernah kerja keluar kota sebelumnya,jadi maaf kalo saya nanti malah merepotkan bapak." Jawab Anjani apa adanya.

__ADS_1


"Okey,kamu tenang aja. Kalau ikut sama saya keluar kota justru santai kok, kamu nggak usah pusing. Ya sudah persiapkan semua untuk pertemuan kita di solo dengan kolega-kolega saya disana?"


"Baik pak, kalau begitu saya kembali kemeja saya pak?." Anjani berujar dan kembali kemeja kerjanya.


Walaupun anjani senang dapat kepercayaan untuk ikut kerja keluar kota dengan Edward,tapi tetap saja hati kecilnya tak bisa berbohong. Rasa deg-degan dan rasa takut tetap saja mengganggu pikirannya,apa lagi nanti seminggu hanya berdua dengannya. Ya Tuhan, lindungi lah hamba mu ini. batinnya.


Hari ini anjani tak masuk kantor,dia diberi waktu libur sehari untuk persiapan ke solo besok oleh Edward. Anjani mulai membongkar lemari kecil nya,melihat baju apa yang mau di pakai dan di bawa besok. Walaupun Edward berkata untuk tidak usah membawa baju banyak,karena nanti akan di belikan di sana, tapi tetap saja Anjani harus bersiap-siap. Saat sedang packing,pintu kamarnya pun di ketuk.


" Tok..tok..tok." "Ya sebentar?" Anjani membuka pintu dan terkejut karena melihat siapa yang datang.


"Ardi?" tumben lu datang? mana anak-anak?" Anjani pura-pura mencari sahabatnya yang lain. Karena dia sudah tau kalau Ardi memiliki perasaan lebih dari sahabat padanya. Ardi tak menjawab malah langsung masuk ke dalam kamar Anjani.


Ardi lalu menarik tangan Anjani untuk duduk sementara dia langsung mengunci pintu dan duduk di depan Anjani. Anjani diam dan membiarkan Ardi mengunci pintu, karena dia tau Ardi tak mungkin berani macam-macam dengannya.


"Ada apa Di? kok muka lu serius gitu? pake di kunci lagi pintunya?" Anjani bertanya sedikit serius pada Ardi.


Ardi merapatkan duduknya pada Anjani sampai lutut mereka beradu berhadap-hadapan. "Lu beneran besok mau ke solo sama pak Edward?" Ardi bertanya sambil tangannya menarik dan menggenggam tangan Anjani di atas pahanya.


"Iya Di,besok gua kerja ke solo bareng pak Edward seminggu." ujar Anjani.


"Seminggu? gila. Ngapain aja sampe seminggu disana? berdua lagi." Ardi melepas tangan Anjani.

__ADS_1


Lalu mengepalkan tangannya memukul lantai. Dia tak Sudi melepas pujaannya pergi dengan orang lain,walaupun itu bos mereka berdua. Karena Ardi tau bagaimana sifat laki-laki itu yang selalu menggunakan daya tariknya untuk memperdaya perempuan yang diinginkannya.


Dan laki-laki itupun memiliki daya tarik khusus bagi sahabat sekaligus wanita pujaannya. Dan Ardi pun tak ingin Anjani tergoda oleh pesona laki-laki bernama Edward tersebut.


"Kan kita kerja Di? nggak mungkin ngapa-ngapainlah. Aneh aja lu. Nggak mungkin pak Edward macem-macem sama gua?" Anjani berkata tapi di lubuk hatinya dia juga menyimpan rasa kuatir. Karena takut kalau pak Edward melakukan sesuatu padanya seperti yang di lakukannya pada Cindy.


"Nggak mungkin gimana? ya mungkin ajalah. Dia kan laki-laki normal. Nggak mungkin nggak tertarik sama kamu. Aku nggak Sudi kamu di sentuh sama laki-laki lain. daripada kamu di rusak dia, mending aku yang lakuin ke kamu, karena aku sayang dan cinta banget sama kamu Anjani." Ardi berkata sedikit emosi dan langsung menyergap tubuh Anjani di depannya, sampai Anjani terdorong jatuh kebelakang dan tubuh Ardi kini berada di atas tubuhnya.


"Ardi,lepasin gua. Apa-apaan sih Ardi?" Anjani berusaha melepaskan tubuh Ardi. Tapi Ardi dengan bernafsu menahan kedua tangan Anjani. Dan dia pun langsung ******* bibir Anjani,sampai-sampai Anjani terengah-engah kekurangan nafas.


"Ardi please,kalo lu memang sayang gua,tolong hentikan?" Anjani memohon untuk di lepas kan. Tapi Ardi yang sudah terlalu bernafsu tak menghiraukan rengekan Anjani. Dia tetap menciumi wajah dan leher anjani, sementara tangan yang satu menahan tangan Anjani,tangannya yang lain masuk kedalam baju kaos Anjani,mencari pengait dan membuka bra Anjani. Anjani meronta memohon agar Ardi menghentikan perbuatannya. Tapi Ardi masih belum sadar, tangannya tetap bergerilya di dada Anjani,,dan kini mulutnya pun melahap bukit Anjani,lidahnya bermain di sana. Dan tangannya dengan cepat turun masuk kecelah celana dalam Anjani. Anjani merapatkan kakinya,dan saat kekuatannya terkumpul dengan sekuat tenaganya dia pun mendorong tubuh Ardi untuk turun dari tubuhnya.


Ardi terdorong dan dengan kuat "Plak." tangan Anjani mendarat di wajahnya meninggalkan rona merah bekas tamparan Anjani. "Keluar lu,pergi dari sini! gua benci sama lu." Anjani menangis dengan kuat membentak Ardi untuk keluar dari kamarnya.


Ardi yang tersadar langsung berusaha untuk memeluk Anjani dan meminta maaf padanya "Sayang,maafin aku? aku nggak bermaksud nyakitin kamu,aku minta maaf? aku cemburu,aku nggak rela kamu di sentuh Edward. Aku mohon maafin aku? tolong mengertilah kamu belum tau siapa Edward. Dia bisa ngelakuin apa aja ke kamu. Anjani sayang,aku mohon maafin aku? jangan pergi! tolong,jangan pergi!? " Ardi berkata sambil menangis dan berusaha untuk memeluk Anjani, Karena hatinya benar-benar sakit. Karena kebodohannya dan juga rasa cinta yang besar pada Anjani.


Tapi Anjani terlanjur kecewa dan tak menyangka kalau Ardi akan berusaha memperkosanya. "Nggak,gua nggak butuh penjelasan lu. Sekarang juga lu pergi dari sini! keluar sekarang juga!?" Anjani mendorong tubuh Ardi dengan kasar.


Ardi memukulkan tangannya kelantai,hatinya sedih. Karena dia tak bermaksud menyakiti Anjani,tapi dia sadar apa yang di lakukannya adalah salah. Ardi pun pergi meninggalkan Anjani yang menangis sejadi-jadinya.


******

__ADS_1


__ADS_2