
Anjani melihat sekeliling,, semua orang berkumpul disana menatapnya dengan penuh haru. Mila dan Siska pun langsung memeluknya. "Anjani,, akhirnya kamu bangun." Mila menangis memeluk Anjani yang masih tampak bingung. satu persatu mereka dipandangi oleh Anjani. ada Ardi dan Naya juga,,dan Andini yang sedang menggendong seorang bayi mungil. mereka semua menatapnya dengan senyuman. Ardi dan Andini pun mendekati Anjani,,Ardi langsung menggenggam tangan Anjani. "Selamat datang Anjani,, akhirnya kamu bangun juga."
Anjani masih terlihat bingung. siapa mereka,, kenapa mereka semua tampak bahagia. kenapa mereka tersenyum pada ku. Anjani berpikir dan dalam hatinya bertanya-tanya siapa mereka.
"Siapa kalian?" Anjani pun bertanya pada mereka semua.
Ardi dan sahabat-sahabatnya pun tampak bingung dengan pertanyaan Anjani.
"Sayang,,apa kamu tidak ingat dengan kami semua?" ujar Ardi menatap Anjani dengan tatapan bingung.
Anjani pun menatap mereka satu persatu,,tapi dia merasa asing dengan wajah-wajah itu. Anjani pun menggeleng.
Siska pun tampak bingung. "Mbak dini,,Anjani kenapa? kenapa dia tak mengenali kita?" ujarnya pada Andini.
Andini pun menyerahkan sikecil yang belum diberi nama itu pada Naya. lalu Andini pun memeriksa kondisi Anjani. Andini pun menarik nafas panjang. "Sepertinya Anjani mengalami amnesia. mungkin karena selama ini Anjani dalam keadaan koma,jadi organnya belum stabil dan syarat di otak nya belum bekerja dengan normal. sehingga dia belum bisa mengingat kita." ujar Andini.
"Maksudnya Anjani hilang ingatan mbak?" ujar Mila pada Andini. dan di jawab dengan anggukan oleh Andini.
"Berapa lama Anjani akan seperti ini Din?" ujar Ardi penasaran.
"Kita belum tau sampai kapan Anjani seperti ini. sebaiknya Anjani kita bawa ke Singapura untuk memeriksa kondisi Anjani, karena disini peralatan ku tidak memadai." ujar Andini lagi.
Semuanya tampak bingung dan bungkam melihat Anjani yang hilang ingatan.
*******
Aditya yang merasa semua usahanya sia-sia untuk memenjarakan Edward pun tampak kesal. dia pun lalu mendatangi orang yang sudah mengakui kesalahannya yang menyerang Anjani dan Mila.
Aditya pun menarik baju orang itu. "Siapa orang yang udah nyuruh lu ha? siapa? jawab?." ujar Aditya. orang itupun hanya tersenyum mengejek Aditya. "Semua sudah ku akui, tidak ada yang menyuruh ku,apa lagi mau mu? apa kau mau membunuh ku? seperti aku menggantung Cindy adik mu?" ujar laki-laki itu sinis.
"*******," "Buuk." Aditya pun langsung memukuli wajah laki-laki itu. "Apa lu bilang? Cindy? lu yang bunuh Cindy?" Aditya memukul orang itu bertubi-tubi. laki-laki itu pun hanya tertawa saat di pukul oleh Aditya. Aditya pun langsung di tarik oleh rekan-rekannya. dan langsung dibawa menghadap ke komandannya.
"Kamu harus bisa mengendalikan diri mu Briptu Aditya." ujar komandannya.
__ADS_1
"Tapi dia yang sudah membunuh Cindy atas suruhan Edward komandan!?, Bagaimana saya bisa diam saja membiarkan Edward lepas dari jeratan hukum?" ujar Aditya protes.
"Kamu tidak bisa mengaitkan masalah pribadi dengan tugas mu. sebaiknya kamu istirahat saja dulu, tenangkan diri mu. biarkan hukum berjalan. sekarang silahkan taruh lencana dan senjata mu, ambil cuti beberapa Minggu untuk menenangkan diri mu." ujar komandan nya lagi.
Aditya yang semakin kesal karena tidak mendapat dukungan dari komandan nya langsung melepaskan ikat pinggangnya yang menggantung pistol serta mengeluarkan lencana polisi nya dan langsung meletakkannya di atas meja komandannya tanpa berkata apapun,dia pun langsung keluar dan membanting pintu ruangan komandannya yang tampak bersalah saat Aditya pergi meninggalkannya.
******
Dirumah mewahnya Edward tampak bangga bisa menjatuhkan Aditya dan menangkis semua tuduhan terhadapnya dan bebas dari semua jeratan hukum. semua itu karena anak buah Handoko yang di perintahkan mau mengakui perbuatannya tanpa membawa nama Edward di dalam masalah tersebut.
Edward tampak lega duduk bersandar di sofa kebesarannya. dia pun memejamkan matanya untuk beristirahat. Handoko pun tersenyum melihat bosnya yang tampak lega.
"Sepertinya aku ingin refreshing otak setelah kejadian dari semua masalah ini. Siapkan pesawat,besok kita terbang ke Singapura." ujar Edward pada Handoko.
"Baik tuan,akan saya siapkan semuanya." ujar Handoko tersenyum pada bosnya itu.
********
Aditya sampai dirumahnya dengan masih menyimpan kekesalan,membating tubuhnya di atas sofa dan menutup wajahnya dengan sebelah tangannya. tampak rasa kesal dan lelah di wajahnya. Andini pun menghampiri kembarannya tersebut. "Ada apa dit? apa yang terjadi? kenapa lu tampak kesal begitu?"
Ardi yang mendengar suara Aditya pun langsung duduk menghampirinya. "Apa dit? Edward bebas?" ujar Ardi tak percaya. Ardi pun tampak kesal dan menatap Aditya seperti sehati apa yang ingin mereka lakukan.
"Sudah,,kalian berdua jangan berpikir untuk melakukan sesuatu yang gegabah lagi. sekarang kita fokus pada Anjani saja dulu karena Anjani satu-satunya harapan kita untuk menghancurkan Edward." ujar Andini seakan tau niat dari Aditya dan Ardi.
Ardi pun tampak membuang mukanya dan berpikir kalau memang sebaiknya Anjani lebih diutamakan saat ini.
"Oh ya,, bagaimana kondisi Anjani?" ujar Aditya.
Andini pun menarik tangannya di ikuti ardi dari belakang untuk masuk ke kamar Anjani. Disana tampak Anjani duduk di atas kasur bersama Siska dan Mila yang sedang mengajaknya bicara untuk mengingatkannya pada mereka. dan Naya yang sedang menggendong sikecil dan memberinya susu dari botol dotnya.
Aditya pun tampak takjub melihat Anjani yang sedang berbincang dengan para sahabatnya. lalu dia pun mendekat pada Naya dan melihat makhluk kecil yang cantik dalam pelukan Naya. "Apa ini nyata?" ujar Aditya terkagum-kagum. "Ya, tentu saja nyata." ujar Andini tersenyum.
"Kalau begitu sekarang kita bisa membalas Edward dan menggiringnya ke penjara." ujar adiya bersemangat pada Andini dan Ardi. tapi mereka tampak tak bersemangat.
__ADS_1
"Kita belum bisa melakukannya karena Anjani mengalami amnesia. dan sebaiknya kita bawa Anjani ke Singapura untuk mengecek keadaan Anjani dengan peralatan yang lebih lengkap." ujar Andini lagi.
"Baiklah kalau begitu kita berangkat besok,gua akan mempersiapkan semuanya." ujar Aditya bersemangat.
"Sebaiknya kita bicarakan dulu siapa saja yang akan pergi dan yang tinggal menjaga si kecil." ujar Andini lagi. Aditya pun manggut-manggut menyetujui ucapan Andini.
Dan malam itu pun mereka berkumpul di ruang tengah membicarakan persiapan untuk berangkat ke Singapura.
"Malam ini kita berkumpul untuk membagi tugas siapa yang akan pergi menemani Anjani dan yang tinggal mengurus si kecil." ujar Andini.
"Kalau menurut gua karena laki-laki hanya kita berdua gua dan lu di,, salah satu harus berangkat dan yang satu harus disini menjaga sikecil." ujar Aditya.
"Baiklah kalau begitu gua dan Naya yang akan pergi." ujar Ardi. namun Naya menolaknya.
"Sebaiknya Naya disini saja menjaga sikecil a, karena Naya nggak berani naik pesawat. lagian kan Naya belum punya pasport kalau pergi keluar negeri?!." ujar Naya bijaksana.
"Tapi kan..?"
"Ssst,,udah nggak usah berdebat. teh Anjani lebih membutuhkan aa sekarang." ujar Naya menaruh telunjuk di bibir Ardi menahan ucapan Ardi. Naya tersenyum menggenggam tangan Ardi yang tampak tak senang dengan ucapan naya.
"Gua dan Siska juga nggak bisa ikut di,,kalo kita semua pergi yang jalanin perusahaan kita siapa donk?" ujar Mila.
Akhirnya mereka semua sepakat kalau Ardi dan Andini yang berangkat bersama Anjani. Naya menjaga si kecil. Siska dan Mila kembali menjaga perusahaan yang mereka rintis bersama. sementara Aditya menjaga mereka semua sambil mengawasi gerak-gerik Edward.
******
Edward tampak santai duduk di pesawat pribadinya. wajahnya tampak ceria meneguk segelas anggur merah sambil menatap keluar jendela. Handoko yang duduk di depan nya pun tampak tersenyum melihat wajah bosnya yang tanpa beban.
Sementara itu Anjani yang duduk di kursi roda di dorong oleh Ardi yang di dampingi Andini memasuki pesawat berlambang singa tersebut.
Tak berapa lama pesawat pun terbang membelah awan.
******
__ADS_1
Edward berjalan bersama Handoko dan beberapa orang bodyguardnya menuruni pesawat pribadinya dan keluar dari bandara yang sama dengan rombongan anjani.
Tanpa mereka sadari Anjani dan Ardi pun tampak turun bersama Andini keluar dari Changi airport tersebut.