
Setelah sampai di Singapura mereka pun langsung menuju ke kediaman Andini. tampak apartemen Andini yang mewah. "Waah,, keren banget apartemen lu ya Din?" ujar Ardi terkagum-kagum. "Ah,,biasa aja kok di. Ayo masuk?" ujar Andini tersenyum. Ardi pun masuk sambil mendorong kursi roda Anjani dan berhenti di depan kaca besar transparan yang merupakan jendela yang terbuat dari kaca, dari situ tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang dan tatanan kota yang tampak rapi. seakan semua terlihat dari sana karena Apartemen Andini berada di lantai 20 sehingga cukup tinggi untuk melihat pemandangan kota itu.
Keesokan harinya,Ardi pun mendorong kursi roda Anjani memasuki Rumah sakit besar di Singapura. di dampingi oleh Andini mereka memeriksakan kondisi Anjani yang mengalami amnesia.
Anjani berbaring di atas alat scanning untuk otak dan tubuh. tampak tubuhnya masuk kedalam alat yang berbentuk seperti terowongan berlampu itu dan seakan menelan seluruh tubuh Anjani saat pemeriksaan di mulai.
Dibalik kaca transparan yang membatasi tempat Anjani dan ruang pemeriksaan,tampak Andini,Ardi dan seorang dokter ahli teman Andini sedang memperhatikan hasil scanning Anjani dari layar komputer. tampak Andini dan dokter itu berbincang mengenai Anjani. Ardi yang tak paham dengan bahasa kedokteran hanya bisa diam dan terlihat bingung saat mendengarkan mereka berbicara.
Setelah semua tahap selesai mereka pun keluar dari sana dan memindahkan Anjani keruangan VIP. Ardi pun dengan setia menjaga Anjani yang tampak tersenyum walaupun dia belum mengingat apapun tentang dirinya dan orang-orang di sekitar nya. tapi Anjani merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan dia pun percaya pada mereka.
Ardi duduk di samping Anjani diatas tempat tidur nya. dia pun menggenggam tangan Anjani sambil mengusap rambut Anjani yang halus dan panjang. "Apa kamu merasakan atau mengingat sesuatu saat ini?" ujar Ardi tersenyum pada Anjani. Anjani hanya tersenyum tipis kemudian menggeleng dengan raut wajah sedih. "Aku nggak tahu,aku ingin sekali mengingat semuanya tentang aku,Mila,Siska dan juga bisa mengingat semua tentang kita." ujar Anjani dengan mata berkaca-kaca.
"Pelan-pelan aja ya? aku yakin kamu pasti bisa mengingat semua nya. tentang kita semua dan juga si kecil." ujar Ardi menarik Anjani kedalam pelukannya. tampak Ardi menarik nafas panjang seakan membuang beban di hatinya. dia pun membiarkan Anjani menangis di dalam pelukannya. masih ada rasa cinta yang tersimpan direlung hatinya,, tapi dia pun tak bisa mengabaikan perasaan Naya yang telah memberikan kepercayaan pada nya untuk menjaga Anjani.
Ardi pun larut dalam dilema.
******
__ADS_1
Naya dengan rasa sayang memberikan susu dalam botol dot pada si kecil. dia tampak dengan telaten menggendong sikecil yang tampak tenang di lengannya.
"Duuuuh,,,anteng banget mimiknya dek..?." tiba-tiba Mila sudah berada di samping mereka. lalu mengelus hidung sikecil dengan telunjuk bagian luarnya. "Hehee,,iya donk Aunty,,dedek kan lagi mimik." ujar Naya menirukan suara anak kecil seakan-akan yang berbicara adalah sikecil yang di gendong Naya. "Hehee,,iya deh iya,, cepat gede ya sayang?" ujar Mila lalu mengecup kening sikecil.
"Teteh udah pulang kerja? apa nggak bareng teh Siska?" ujar Naya pada Mila. "Iya Nay,,tadi sih kita bareng tapi Siska lagi pergi sama Adit mencari tahu tentang Edward. "Oooh,,ya udah kalo gitu teteh makan dulu gih?" ujar Naya lagi. "Udah,,gua tadi udah makan di kantor. Oya nay,,udah dapat kabar belum dari Ardi?" ujar Mila pada Naya. "Udah teh,, mereka lagi di rumah sakit tadi sempat video call." ujar Naya lagi. "Oooh,, syukurlah kalau gitu. semoga mereka cepat kembali kesini dan semoga Anjani bisa kembali mengingat semuanya." ujar Mila menarik nafas dalam-dalam..
******
Edward sedang menikmati panasnya mentari pagi diatas lounger disamping kolam renang. tampak seorang perempuan cantik sedang mengoleskan lotion di tubuh nya. Edward tampak menikmati pijatan tangan perempuan itu di punggungnya. Handoko yang duduk tak jauh darinya pun menikmati minuman dingin ditangannya. sambil memperhatikan wanita-wanita cantik yang lalu lalang dan juga yang tampak riang bercanda didalam kolam renang. Sampai terdengar handphone nya berbunyi,Handoko pun menjawab panggilan tersebut yang merupakan panggilan dari anak buahnya di Jakarta. Handoko tampak sedikit menjauh dari Edward yang tampak tertidur telungkup menikmati pijatan.
Dia pun kembali duduk di atas kursi lounger disamping Edward melirik sebentar lalu kembali berbaring dan menikmati minuman yang tadi diminumnya sambil berpikir tentang apa yang disampaikan anak buahnya barusan.
*******
Siska dan Aditya tampak memperhatikan sekitar rumah Edward. mereka duduk diatas mobil dan memperhatikan siapa saja yang keluar dan masuk dari rumah tersebut. "Sayang,, sepertinya Edward tak ada dirumahnya dech.! dari tadi yang nampak cuma penjaga-penjaganya aja." ujar Siska pada Aditya. "Sabar dulu sayang,,kita tunggu sebentar lagi." ujar Aditya tetap fokus memperhatikan kearah rumah Edward. saat mereka sedang serius memperhatikan merekapun dikejutkan oleh seorang yang mengetuk kaca jendela mobilnya. Saat Aditya dan Siska menoleh ternyata seorang penjual jamu yang merupakan seorang waria pun muncul dari balik kaca yang telah diturunkan Aditya.
"Halo mas ganteng dan mbak cantik? lagi ngapain panas-panas di atas mobil? mendingan minum jamunya saya biar seger!." ujar waria penjual jamu dengan genit sambil mencubit-cubit lengan Aditya. Siska tampak tertawa-tawa geli melihat Aditya yang menghindar dari tangan usil penjual jamu tersebut. "Nggak mbak,,kita nggak haus." ujar Aditya tampak sedikit kesal.
__ADS_1
"Eleh..eleh...mas ganteng pake ngambek gitu. jadi makin gemesin dech. coba dulu mas jamunya saya,,dijamin abis minum jamunya mas sama mbaknya pasti nggak bakal cape. bisa main berkali-kali, nggak letoy." ujarnya tertawa sambil memperagakan jari telunjuknya yang menekuk.
Siska yang mendengar ucapan penjual jamu itu pun langsung langsung merona merah pipinya karena malu,,diapun pura-pura tak mendengar ucapan penjual itu. Karena di desak terus menerus akhirnya Aditya mengalah dan mau membeli jamunya. saat penjual jamu ingin menuang jamunya, tiba-tiba Aditya ada ide,dia pun menatap kearah Siska yang kebingungan dengan tingkah nya.
"Kalau saya beli semuanya berapa mbak?" ujar Aditya..
"Lhaaa,,mas ganteng tadi jual mahal sekarang malah mau diborong semua? iihik..ihik.." ujar penjual waria itu tertawa. "Iya,,saya mau beli semuanya,, semuanya sama bakul dan juga pakaian mbaknya." ujar Aditya lagi..
"Lhaaa kok sama baju saya juga to mas? lha saya nanti pake apa donk?" ujar penjual itu. Aditya pun menyuruh Siska untuk mengambilkan pakaian yang berada dibelakangnya untuk diberikan pada penjual jamu tersebut. "Ini,,mbaknya pake baju olahraga saya aja." ujar Aditya lagi.
"Lhaaa,,mas masa saya jadi disuruh pake baju laki-laki sih?" ujarnya tampak bingung. "Udaah,, nggak apa-apa donk. orang kamunya juga laki-laki kok,,hahaha,,mau nggak nich? saya borong semua? saya mau nge prank sahabat saya yang ada di rumah itu." ujar Aditya geli sambil menunjuk kearah rumah Edward.
"Ooooh,,masnya mau nge prank kayak di tv-tv itu to? Yo weslah(ya udah) kalo gitu,, daripada jamunya Ndak laku." ujar si penjual. Aditya pun tersenyum dan mengajaknya kesamping mobil untuk berganti pakaian dengan penjual jamu tersebut. sekarang Aditya sudah berubah seperti waria penjual jamu tadi dari mulai sanggul buatan, dandan wajah sampai kebaya dan bakulnya. sementara waria penjual jamu justru memakai pakaian olahraga yang diberikan Aditya. setelah Aditya memberikan uang yang lumayan banyak,waria tersebut pun lari terbirit-birit karena malu takut ada yang melihatnya berdandan menjadi laki-laki.
Siska yang melihat perubahan Aditya pun tampak tertawa terbahak-bahak. "Haahaa,,Astaga..sayang kamu cantik banget? sumpah kamu bisa lebih cantik dari si mbaknya tadi." ujar Siska tertawa geli melihat Aditya. Aditya pun hanya bisa cengengesan mendengar ucapan Siska. Sebenarnya diapun tak mau seperti itu tapi karena dia ingin mencari informasi langsung dari penjaga rumah Aditya pun tepaksa menyamar menjadi waria penjual jamu.
*****
__ADS_1