
Edward duduk menunduk di depan Anjani. Tubuhnya yang basah kuyup menggigil karena menahan dingin. Hujan di luar semakin deras. Suara petir dan hujan pun menambah suasana semakin dingin membeku.
Tapi Anjani hanya diam membiarkan sosok menawan yang telah menodainya itu menggigil. Anjani menatap Edward dengan tatapan tajam. Dia tak menyangka laki-laki ini berani datang ketempatnya. Mau apa orang ini? pikirnya.
"Haaciim,haaciim." Edward pun bersin-bersin. Mungkin karena terkena air hujan dia pun terserang flu. Edward tampak benar-benar kedinginan,tubuhnya pun menggigil dan membiru. Dia pun meringkuk menahan dingin, namun tiba-tiba dia pun terjatuh ke samping.
Melihat itu Anjani pun panik. Kenapa dengan orang ini? apa dia pingsan? kenapa dia sampai pingsan? kalo dia sampai mati disini,nanti malah aku yang dikirain udah membunuhnya. Aduh,,gimana ini? Anjani pun panik dan bertanya-tanya dalam hati.
Setelah beberapa saat,Anjani pun memberanikan diri untuk mendekat. Dia pun mencoba untuk menyentuh dahi Edward,saat tangannya menyentuh,dahinya terasa sangat dingin. Dan sepertinya Edward terserang hypotermia ataupun penurunan suhu tubuh karena rasa dingin yang sangat, yang bisa mengakibatkan kematian.
Tubuhnya pun menggigil dan terasa sangat dingin,Edward pun kemudian pingsan dan tak sadarkan diri.
Anjani pun bingung mau minta tolong pada siapa,karena malam itu hujan sangat deras, sementara penghuni kos yang lain belum ada yang pulang. Hanya ada mereka berdua.
"Ya Tuhan,apa yang harus aku lakukan? jangan sampai orang ini mati disini." Anjani tampak semakin panik.
"Aku harus menelpon seseorang tapi siapa? Ardi? ah Ardi pasti akan makin membunuh orang ini. Siapa yang harus ku hubungi? berpikir,berpikir." Anjani mondar-mandir memegang jidatnya untuk mendapatkan ide siapa yang harus di hubunginya. Karena dia juga tidak mau membuat keributan di area kos-kosannya.
" Ah,iya Pak Handoko,ya pak Handoko!" lalu Anjani pun berusaha menghubungi Pak Handoko dengan ponselnya.
" Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."
Berkali-kali Anjani mencoba menghubungi nomor pak Handoko tapi tetap saja nomor itu tak bisa dihubungi. Dia pun semakin panik,dan terduduk lemas menatap Edward yang terbaring menyamping dan meringkuk karena kedinginan itu.
Tiba-tiba tangan Edward menyentuh tangannya. Membuat Anjani terperanjat. "pak..pak Edward? bapak tidak apa-apa? apa yang harus saya lakukan? tolong jangan mati disini?" Anjani berkata dengan rasa panik sambil mengguncang tubuh Edward.
Edward hanya tersenyum dengan lemah mendengar ucapan Anjani. "Aku tidak akan mati, kalau kamu bisa membantu ku untuk menghangatkan tubuh ku."
Anjani bingung,apa maksudnya? apa yang harus dilakukannya? apakah dia biarkan saja orang jahat ini mati?
__ADS_1
Tapi Anjani bukanlah manusia yang tak punya perasaan. Walaupun orang ini telah menodainya,tapi orang ini juga sosok menawan yang sangat di pujanya, orang yang di kagumi sekaligus dibenci olehnya saat ini.
Dan yang ada di pikirannya hanyalah menyelamatkan nyawa orang ini. Lalu yang terpikirkan oleh Anjani adalah melepaskan pakaian Edward yang basah kuyup,dan menggantinya dengan baju yang kering.
Anjani pun mencoba untuk membuka seluruh pakaian pak Edward dan membimbingnya ke atas kasur agar Edward merasa hangat.
Dengan susah payah dia pun membimbing Edward dan akhirnya bisa naik ke atas kasur. Anjani pun menyelimuti Edward dengan selimut yang tipis,karena memang hanya itu yang dia punya. Tapi tak berpengaruh apa-apa pada Edward,malah dia pun semakin menggigil kedinginan.
Anjani pun mencari-cari kain atau apapun untuk bisa membuat Edward merasa hangat,namun seakan sia-sia karena Edward tetap menggigil dan tubuhnya pun pucat membiru.
Akhirnya Anjani pun memberanikan diri untuk mendekatkan tubuhnya ke tubuh Edward agar Edward merasa hangat,rasa takut itu dibuangnya jauh-jauh yang ada hanya pikiran bagaimana caranya agar bisa menyelamatkan orang ini.
Hanya dengan cara inilah yang terpikirkan olehnya saat ini,mendekat lalu memeluk tubuh dingin Edward yang sudah tanpa pakaian. Dia pun melihat wajah Edward yang pucat kedinginan. Wajah tampan dan menawan itu sekarang berada di sisinya,didalam pelukannya.
Hatinya bergejolak,ada rasa bimbang. Apakah dia akan mencintai atau tetap membenci orang ini? hatinya pun masih ragu.
Anjani hanya berpikir saat ini dia ingin menyelamatkan hidup Edward,itu saja.
Anjani membiarkan dirinya larut di buai dalam sentuhan-sentuhan lembut dari Edward. Anjani yang malam itu berpakaian minim karena hendak tidur,membuat Edward tak terlalu sukar untuk melepaskannya, dan malam yang dingin itu pun berubah menjadi malam yang hangat dan penuh gairah.
Tubuh yang tadinya beku,kini berubah menjadi hangat bahkan kini dipenuhi dengan tetesan peluh ditubuh mereka berdua.
Membuat mereka tenggelam dalam kenikmatan yang syahdu. Mengikuti gerak irama tubuhnya,sampai akhirnya mereka pun tertidur dibuai mimpi yang indah.
*****
Anjani terbangun,tapi ada tubuh yang menahannya untuk bangkit. di sampingnya ada Edward yang tertidur sambil memeluknya dengan erat. Laki-laki tampan pujaan semua wanita termasuk dirinya.
Aaah,apa yang telah terjadi? kenapa dia begitu terbuai dan hanyut dalam dekapan lelaki ini? kenapa rasa bencinya yang sangat besar bisa berubah hanya karena terbawa suasana untuk menyelamatkan nyawanya? Apa dia pun tak rela bila sosok menawan ini mati? ah,perasaan apa ini? Apa kini dia benar-benar jatuh cinta pada sosok yang telah menodainya ini? Anjani tak habis pikir atas apa yang telah terjadi, dan bagaimana perasaannya kini .
__ADS_1
Anjani berusaha bangkit dari kasur tanpa membuat suara supaya pujaannya tak terbangun. Tapi terlambat,karena kasurnya berdecit menimbulkan suara, Edward pun membuka matanya yang indah.
"Morning honey?" ucapnya mesra dan lembut.
Anjani hanya menunduk kaku walaupun bibirnya tersungging sedikit senyuman. Karena dia masih canggung atas semua yang terjadi tadi malam. Dia lalu berdiri dan meraih pakaiannya yang berserakan dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Sehabis mandi Anjani pun langsung membuatkan dua cangkir teh hangat,lalu dia pun duduk di pinggir kasur memberikan secangkir teh yang lain pada Edward yang kini posisinya setengah bersandar.
Setelah mereguk teh hangat dan meletakkannya di meja yang berada disamping kasur,Edward lalu menggenggam dan menciumi kedua tangan Anjani.
"Terimakasih sayang? kamu sudah menyelamatkan nyawa ku tadi malam. Kamu sekarang sudah tidak marah lagi kan?" tanya Edward pada anjani.
Bukannya menjawab pertanyaan itu,Anjani justru bertanya balik. "Kenapa bapak datang kesini? apa yang membawa seorang Edward harus kesini walaupun menempuh hujan yang sangat deras tadi malam? ada apa?" ujar Anjani penasaran.
Edward menarik nafas panjang. "Aku sedang dalam masalah besar. Tadi malam aku begitu kacau,kamu tau kabar Cindy bukan? hmm,aku tak menyangka dia akan melakukan hal sebodoh itu. Dan entah kenapa tiba-tiba aku jadi merasa takut kalau kamu juga akan melakukan hal yang sama. Meninggalkan ku dengan cara seperti yang Cindy lakukan,karena aku juga telah melakukan hal yang salah pada mu. Aku tak mau hal itu terjadi lagi,aku tak mau kehilangan kamu,makanya aku datang dan ingin minta maaf pada mu." ujar Edward seperti meyakinkan niatnya pada Anjani.
Edward lalu memegang sebelah pipi Anjani "Sayang,maafkan aku yang melakukan hal tak pantas pada mu,merenggut kesucian mu tanpa perlawanan. Tapi itu ku lakukan karena aku ingin kamu selalu berada disisi ku. Aku tak mau sendirian. Aku sangat kesepian." Edward melancarkan rayuannya.
Anjani seakan tak percaya orang ini masih mengkuatirkan dirinya,setelah apa yang telah dia lakukan tempo hari. Dan sekarang dia pun memohon maaf? apa dia bersungguh-sungguh? atau hanya alasan saja. Anjani terdiam tak tau harus berkata apa.
"Kamu mau memaafkan ku bukan? jangan pernah takut lagi ya? aku akan selalu ada untuk mu. Aku sangat membutuhkan mu." setelah berkata itu Edward langsung menarik Anjani dengan lembut kedalam pelukannya.
"Maafkan aku yang melakukan hal itu tanpa persetujuan kamu sebelumnya. Mulai saat ini kita akan melakukannya bila kita sama-sama menginginkannya." Edward lalu menarik dagu Anjani dengan tangannya,dan mengecup lembut bibirnya.
Sentuhan lembut Edward mampu membuat Anjani kembali merasakan hangat dan terbuai oleh kelembutan dari laki-laki yang pernah dicintai sekaligus dibencinya itu.
Namun dia juga tak bisa membohongi hatinya,kalau dia pun memang sangat memuja sosok menawan ini. Laki-laki tampan yang telah mencuri hatinya saat pertama kali dia melihatnya. Cara berjalannya,suara lembut yang menyapanya,senyum tipis saat dia berlalu bahkan aroma tubuhnya yang tinggal saat dia melangkah masuk kedalam ruangannya.
Semua itu tak bisa di lupakan oleh Anjani,dan saat ini sosok itu pun kembali membuainya dengan hangat dalam kecupan-kecupan lembut yang membangkitkan hasrat dan gairah sehingga mereka kembali terbuai dan tenggelam dalam permainan asmara yang membara...
__ADS_1
*****