
Anjani mengangkat tubuh Edward. Sesekali dia pun menuangkan air mineral dari sebuah botol kewajah Edward. Edward pun menjilat-jilat berharap air itu masuk ke dalam kerongkongannya yang terasa sangat kering.
Anjani sebenarnya tak tega melihat kondisi Edward, namun setelah mengingat semua perlakuan Edward padanya dia pun merasa benci dan amarah pun menguasai pikirannya.
Apalagi ketika dia teringat akan Anjani kecil. Makhluk mungil tak berdosa itu harus menanggung penderitaan atas perbuatan kedua orang tuanya.
"Berikan saya air Anjani? saya mohon?" ujar Edward memohon. Karena dia merasa sangat kehausan.
"Aku akan memberikan air ini pada mu,tapi kamu harus menceritakan apa yang telah kamu lakukan pada ku dan Cindy!" ujar Anjani memberi syarat.
"Baiklah,saya akan katakan semuanya. Katakan apa yang ingin kamu ketahui?" ujar Edward bersemangat berharap Anjani akan memberikan air padanya.
"Apakah Cindy juga hamil dan mengandung benih mu?" ujar Anjani bertanya.
Edward tampak tertunduk lalu berkata. "Iya,Cindy juga telah hamil sama seperti kamu,Cindy juga mengandung anak ku." ujar Edward terdengar lemah.
"Lalu apakah Cindy benar-benar bunuh diri atau memang kamu yang telah membunuhnya?" ujar Anjani bersemangat.
Edward hanya terdiam. "Ayo jawab?" ujar Anjani.
"Berikan dulu saya air!" ujar Edward.
Anjani pun mendekatkan botol air kemulut Edward. Setelah memberinya seteguk air Anjani pun langsung mengangkat kembali botol itu. Edward masih sangat menginginkan air itu namun Anjani menatapnya sambil memberi isyarat agar Edward menjawab pertanyaannya.
"Saya minta maaf Anjani. Saya tahu saya salah. Tolong lepaskan saya?" ujar Edward memohon.
"Plak." Bukannya mengabulkan permintaan Edward,Anjani justru menampar wajah Edward dengan keras.
"Sekarang bukan waktunya kamu meminta maaf,tapi jelaskan pada ku apa yang telah kamu lakukan pada Cindy? Apa yang telah kamu lakukan? jawab?" ujar Anjani sedikit kehilangan kesabaran. Lalu dia pun kembali menampar wajah Edward.
Edward pun terpancing emosinya. Dia pun langsung tertawa terbahak-bahak. "Ha..ha..ha..Dasar perempuan bodoh! Untuk apa kamu bertanya tentang Cindy? apakah kamu cemburu padanya? Ha..ha..ha. Kalian berdua banyak sekali kesamaannya. Sama-sama cantik,namun juga sama-sama bodoh dan naif. Kalian pikir dengan kehamilan kalian itu,kalian bisa menjerat ku hah? Perempuan bodoh!" Edward pun mengumpat Anjani.
"Aku tak perlu membunuhnya secara langsung,sama seperti apa yang aku lakukan pada mu. Aku tinggal meminta orang suruhan ku untuk menghabisi kalian. Dan mereka pun siap menanggung kesalahan itu,jadi aku tak perlu mengotori tangan ku sendiri untuk mengurus perempuan-perempuan sundal seperti kalian. Ha..ha..ha." Edward pun tertawa terbahak-bahak dia pun mencemooh Anjani dan Cindy.
"*******,berarti benar,kalau Cindy telah kau bunuh? Dan kau pun berusaha untuk membunuh ku Edward?" Anjani pun tampak geram dan langsung mengambil dan memukul Edward dengan tongkat baseball. Darah pun mengucur dari dahi Edward.
Anjani ingin sekali membunuh Edward namun Anjani ingin menghukum Edward lebih berat dari sekedar kematian.
Dia pun menghajar Edward berkali-kali. Rasa sakitnya di luapkannya saat itu.
Tidak ada rasa cinta dan kagum lagi pada Edward. Yang tertinggal hanyalah kebencian dan balas dendam. Dia sangat membenci Edward yang telah menyakitinya dan juga berimbas pada sahabat-sahabatnya.
Setelah puas memukul Edward Anjani pun mengambil sebuah pistol dan menodongkannya ke kepala Edward. Edward pun hanya tersenyum sinis pada Anjani.
"Bagus,itu baru perempuan ku. He..he..he.. Ayo Anjani? tembak aku! tembak sekarang!" ujar Edward seakan bangga pada Anjani.
******
__ADS_1
Handoko tampak melaju bersama beberapa anak buahnya. Dia berharap Edward masih selamat. Walau bagaimanapun Handoko adalah orang yang sangat setia pada bosnya itu. Walaupun selalu disalahkan Handoko tak pernah lupa pada kebaikan Edward yang telah menyelamatkannya dan keluarganya dari kehancuran. Saat Handoko terpuruk, Edward lah orang yang telah berjasa dalam hidupnya.
Handoko yang pernah membangun sebuah perusahaan namun bangkrut itu bertemu dengan Edward didepan jalan disebuah club malam. Edward yang sedang mabuk berat hampir saja mati tertabrak andai tak diselamatkan oleh Handoko yang berlari dan menyelamatkannya.
Sejak saat itu Handoko pun bekerja pada Edward hingga menjadi kaki tangannya Edward. Walaupun perusahaan itu milik Edward tapi bisa dibilang Handoko lah yang ber-andil besar dalam membesarkan perusahaan Edward tersebut. Hubungan mereka benar-benar hubungan yang saling menguntungkan. Oleh sebab itulah Handoko selalu menjaga bosnya tersebut.
Mobil mereka pun memasuki gerbang dermaga. Handoko tampak tak sabar untuk keluar dan menyelamatkan bosnya yang sedang ditahan oleh Anjani tersebut. Setelah mobil berhenti Handoko pun langsung keluar dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan bosnya tersebut.
******
"Ayo cepat Steve? Jangan sampai kita terlambat sampai disana." ujar Aditya pada Steve. Aditya tampak tak sabar untuk bertemu langsung dengan pembunuh adiknya itu. Dan dia pun berharap semoga Anjani baik-baik saja. Karena pasti anak buah Edward pun sedang mencari Anjani dan bosnya itu. Dia pun berharap mereka belum terlambat sampai di dermaga.
"Iya Dit,ini juga aku lagi berusaha." ujar Steve yang tampak sedikit panik. Namun Aditya yang tak sabaran pun meminta agar mereka berganti posisi.
"Ya udah sini? biar gua yang bawa?" Aditya pun ingin mengambil alih kemudi. Walaupun dengan perasaan bingung, Steve akhirnya mengalah dan mengikuti keinginan sahabatnya tersebut.
Walau dengan kondisi mobil masih melaju, mereka pun berusaha untuk berganti posisi. Dengan bersusah payah ditambah lagi suara jeritan Andini yang ngeri melihat mereka bertukar posisi, akhirnya Aditya pun berhasil membawa kemudi. Aditya pun langsung menekan gas dengan kuat dan mobil pun melaju dengan sangat kencang.
"Aaaaaaa." Andini,Ardi dan Steve pun menjerit-jerit kengerian karena mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka pun meraih sabuk pengaman dan melilitkannya ketubuh mereka. Aditya pun hanya tersenyum dan kembali konsentrasi melajukan mobilnya dengan kencang kearah dermaga.
******
Anjani masih menodongkan pistol kearah kepala Edward. Ingin sekali dia meletuskan kepala laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya ini. Namun dia pun mengurungkan niatnya karena dia mendengar ada suara keributan di luar.
"To.." Edward yang ingin berteriak tolong pun langsung disumpal lagi mulutnya pakai kain oleh Anjani. Dan kembali mulut Edward pun di lakbannya. Anjani pun menyeret tubuh Edward untuk bersembunyi.
Handoko dan anak buahnya tampak mencari-cari Edward dan Anjani. Mereka pun memasuki setiap lorong dan ruang yang ada. "Tuan Edward?" Handoko pun berteriak.
Anjani pun menekankan pistolnya ke kepala Edward. "Diam. Jangan coba-coba berisik." ujar Anjani mengancam. Edward pun hanya bisa pasrah dan menunggu sampai anak buahnya bisa menemukannya.
Anjani lalu menyeret tubuh Edward dan meninggalkannya disebuah ruangan. Dia pun menutup pintu ruangan itu. Dengan cara mengendap-endap Anjani pun naik ke atas penyangga asbes.
Dari atas dia bisa lebih leluasa melihat siapa saja yang telah masuk kedalam bangunan tersebut. Dia pun memasang peredam suara di pistol yang dibelinya secara ilegal tersebut. Walau dia hanya belajar menembak saat menemani Edward dulu,namun kemampuannya masih bisa diandalkan.
Dengan sembunyi-sembunyi,satu persatu anak buah Handoko pun dilumpuhkannya. Sekitar dua puluh orang yang masuk dan kini dia telah melumpuhkan delapan orang.
Namun ketika Anjani sedang menembak seorang anak buah Handoko,temannya pun memergoki Anjani dan berusaha menembaki Anjani. Suara tembakan pun terdengar di sana-sini.
Edward yang mendengar suara tembakan pun berusaha untuk membuat suara gaduh agar Handoko menemukannya. Dia pun menggoyang-goyangkan badannya hingga jatuh dan menyentuh lembaran seng yang tersandar didinding. Tubuhnya yang menyenggol seng pun membuat sengnya terjatuh dan menghasilkan suara gaduh.
Handoko yang menyadari suara itu pun berlari ke arah suara tersebut. Anjani yang juga menyadari suara yang berasal dari tempat Edward pun berusaha untuk mendekat. Namun anak buah Handoko masih terus menembakinya. Anjani pun terpaksa masih terus berusaha mengelak dan melumpuhkan mereka.
******
Mobil yang dikendarai Aditya pun memasuki dermaga tersebut. Mereka pun tampak kaget saat mendengar suara tembakan. Aditya pun menyuruh Ardi dan Andini agar tetap berada di mobil, sementara dia dan Steve pun masuk kedalam gudang tempat suara tembakan berasal. Steve pun memberikan senjata pada Aditya yang merupakan seorang polisi juga walaupun dia sedang di skors karena ingin menangkap Edward.
Kedua polisi beda negara itu pun memasuki gudang. mereka pun mendengar tembakan dan terlihat percikan-percikan api yang ditimbulkan peluru yang menghantam baja. Mereka pun tampak bersiap siaga dengan mengacungkan pistol kearah depan. Dengan perlahan mereka pun memasuki gudang tersebut.
__ADS_1
Ketika bertemu dengan anak buah handoko,Steve pun berteriak. "Police,put your hands up!(polisi,angkat tangan mu!)"
Tapi bukannya mereka berhenti malah mereka pun menembaki Steve dan Aditya. Hampir saja peluru mengenai Steve kalau saja Aditya terlambat menarik tubuhnya.
"Brengsek, mereka malah menembak ku?" Steve pun tampak kesal.
"He..he..he,, kita lomba yuk? siapa yang kalah dia harus mentraktir makan malam?" ujar Aditya dan langsung berdiri berusaha menembaki anak buah Handoko.
Steve pun tertawa kecil melihat Aditya,dan dia pun berdiri menyusul untuk menjatuhkan anak buah Handoko.
*****
Handoko pun menemukan Edward yang tertimpa reruntuhan seng. "Tuan? tuan Edward baik-baik saja?" Handoko pun langsung mengangkat tubuh Edward yang masih terikat kursi. Dia pun berusaha untuk melepaskan Edward. Edward sangat bahagia saat Handoko menemukannya. Dia pun menangis.
Handoko pun melepaskan lakban dan mengeluarkan sumpalan dimulut Edward. "Akhirnya kamu datang juga." ujar Edward senang melihat Handoko.
Setelah itu dia pun melepaskan ikatan di kaki dan tangan Edward. Setelah membebaskan Edward mereka pun berjalan tertatih-tatih karena kondisi Edward yang masih lemah.
Namun saat mereka berjalan keluar,Anjani telah berdiri dan menghadang mereka. Anjani tampak mengacungkan pistol ke arah mereka.
"Anjani? Tolong jangan gegabah. Kita bisa bicara baik-baik. Turunkan pistolnya!" ujar Handoko berusaha untuk meluluhkan Anjani.
"Bicara baik-baik? setelah apa yang telah kalian perbuat pada ku dan Cindy? Bukankah kau juga bertanggung jawab atas semua yang telah aku dan Cindy alami? Kau yang telah mengatur rencana untuk perjalanan luar kota. Kau juga yang telah membuat aku dan Cindy di bius sebelum kami di perkosa bos mu itu. Tapi dengan dalih bertanggung jawab,dia membuat kami mencintainya. Tapi setelah tahu kami hamil,kalian pun berusaha untuk menyingkirkan kami. Sungguh manusia-manusia berhati iblis." Anjani tampak tak terpengaruh dengan ucapan lembut Handoko.
"Anjani..Anjani..Ha..ha..ha. Memang benar,akulah yang telah menggantung Cindy di kamar apartemennya,dan aku juga yang telah melepaskan alat-alat ditubuh mu waktu kau koma,dan saat sahabat-sahabat konyol mu itu mencoba membantu mu pun aku yang berusaha menyingkirkan mereka,tapi kau punya bukti apa kalau aku dan tuan Edward yang bertanggung jawab? siapa yang akan percaya pada perempuan depresi dan baru sadar dari koma seperti kamu hah? Sudahlah Anjani, terima saja takdir mu. Aku akan memberikan uang yang banyak untuk mu dan anak mu,tapi jangan ganggu kami lagi." Handoko pun berkata sambil meremehkan Anjani.
Anjani yang mendengar itu pun hanya tersenyum. Dia telah merasa menang karena Edward dan Handoko telah mengakui kesalahannya. Karena tanpa sepengetahuan mereka,Anjani telah merekam pengakuan dosa mereka.
*****
Di luar ruangan tersebut tampak personil polisi telah sampai dan membantu Aditya dan Steve untuk melumpuhkan anak buah Handoko. Steve pun terkena tembakan dibagian pundak, namun mereka pun berhasil melumpuhkan anak buah Handoko.
Setelah itu mereka pun memasuki ruangan dimana Anjani,Handoko dan Edward berada.
Aditya dan Steve pun mendekati Anjani mereka pun terkejut saat melihat Anjani sedang mengacungkan pistol ke arah Edward dan Handoko.
"Anjani,tolong turunkan senjatanya? Biarkan mereka menerima hukuman mereka?" Aditya pun berusaha untuk membujuk Anjani.
Anjani pun tersenyum pada Aditya,Dia pun menurunkan pistolnya. Karena dia telah memiliki bukti untuk menjerat Edward dan handoko.
Namun saat Anjani telah menurunkan pistolnya, tiba-tiba Handoko melepaskan tembakan yang langsung menembus dada Anjani. Anjani pun roboh bersimbah darah.
Aditya yang melihat itupun langsung menjerit dan berlari ke arah Anjani. "Tidaaaak,Anjani!" Aditya pun langsung menangkap tubuh Anjani sebelum jatuh ke lantai.
Steve pun tak tinggal diam dia pun langsung menembaki Handoko dan mengenai tangan lalu melumpuhkan kakinya. Sehingga Handoko dan Edward pun terjatuh. Polisi pun datang dan langsung meringkus mereka berdua.
******
__ADS_1
Aditya langsung menggendong tubuh Anjani untuk dibawa ke dalam mobil ambulan. Ardi dan Andini yang melihat tubuh Anjani pun langsung berteriak dan berlari kearah Aditya. "Anjani...!" Mereka pun langsung membantu Aditya mengangkat tubuh Anjani kedalam mobil ambulan. Andini pun langsung ikut naik, sementara Ardi dan Aditya pun menaiki mobil yang telah dibawa oleh Steve. Walaupun Steve juga terkena tembakan,namun Steve masih merasa baik-baik saja. Mereka pun melaju menuju rumah sakit.
******