
Anjani tampak duduk santai dimeja yang sedikit tersudut sambil menikmati minuman di dalam sebuah club malam. Disana terdengar hingar bingar musik dari disc jockey dan tampak beberapa orang melantai mengikuti irama musik. Walaupun lampu terlihat remang-remang tapi dia masih bisa mengawasi sesosok makhluk yang dulu sangat dikaguminya.
Edward dan Handoko tampak sedang duduk ditemani beberapa perempuan cantik yang menuangkan minuman untuk mereka. Sesekali perempuan yang berada dipangkuan Edward pun tampak bermanja-manja dan merangkul Edward yang tampak tertawa-tawa. Handoko pun tampak menikmati malam ini bersama bosnya tersebut.
Beberapa waktu berlalu Edward tampak berdiri,dengan sedikit sempoyongan dia pun berjalan kearah toilet. Handoko yang ingin menemaninya justru dilarang oleh Edward. "Udah,kamu disini aja. Saya nggak apa-apa kok." ujar Edward pada Handoko yang tampak ingin memegangi tangannya. "Apa nggak sebaiknya saya temani tuan?" Handoko tetap memaksa namun Edward tetap menolaknya. "Saya nggak apa-apa,udah santai aja bro." ujar Edward lalu pergi meninggalkan Handoko yang tampak cemas. Namun akhirnya mengalah membiarkan bosnya untuk pergi sendiri ke toilet.
Melihat Edward yang berdiri dan berjalan sendirian,Anjani pun mengikutinya dari belakang. Edward memasuki toilet pria dengan tergopoh-gopoh. Hampir saja dia menabrak pengunjung lain yang berjalan keluar dari toilet tersebut.
Anjani pun memperhatikan satu persatu pengunjung yang keluar dari toilet tersebut. Sampai dia melihat hanya tinggal Edward sendiri didalam toilet itu,Anjani pun masuk lalu menutup dan mengunci pintu toilet tersebut agar tak ada yang masuk kedalam toilet. Sambil memegang pemukul baseball Anjani pun mengendap-endap mendekati tubuh Edward yang berdiri membelakanginya. Dengan sekuat tenaga dia pun mengayunkan tongkat tersebut kearah tengkuk Edward. Edward pun terhantam lalu jatuh pingsan ke lantai.
Pintu pun di gedor dari luar Anjani dengan cepat berusaha mengangkat tubuh Edward dan disandarkan di pelukannya. Dengan tergopoh-gopoh Anjani pun menyeret Edward yang pingsan. Pintu pun dibukanya, tampak beberapa orang protes dengan perbuatannya.
Namun Anjani tampak tersenyum lalu meminta maaf. Dia pun berpura-pura kalau Edward pacarnya sedang mabuk berat. Setelah orang itu masuk ke toilet, Anjani pun membawa Edward keluar dari club malam tersebut. Dia pun memasukkan Edward kedalam mobilnya yang terparkir di belakang club tersebut.
Dengan cepat mobil pun melaju menuju sebuah dermaga yang terbengkalai. Ternyata Anjani telah menyewa tempat tersebut. Setelah sampai Anjani pun membawa Edward kedalam sebuah bangunan seperti gudang yang tak terpakai. Dia lalu mendudukkan Edward dan mengikat tangan dan kakinya pada sebuah kursi, serta menyumpal mulutnya dengan kain lalu menutupnya dengan lakban yang telah disiapkannya. Edward tampak tak berdaya karena pengaruh alkohol dan juga hantaman dikepalanya.
******
Ardi dan Andini memasuki gedung kedutaan Indonesia di Singapura. Mereka melaporkan sahabatnya Anjani yang menghilang. Pejabat kedutaan pun berjanji akan membantu mereka dan segera bekerja sama dengan pihak imigrasi untuk mencari tahu keberadaan Anjani. Mereka juga meminta pihak kepolisian untuk menyebarkan foto Anjani. Ardi dan Andini pun disuruh untuk tetap tenang dan menyerahkan masalah Anjani pada mereka.
__ADS_1
Ardi dan Andini pun tampak sedikit lega karena akhirnya laporan mereka diterima oleh pihak kedutaan. Mereka pun kembali ke kediaman Andini.
Setelah sampai di apartemennya, Andini pun langsung beristirahat dikamarnya. Sementara Ardi yang duduk di sofa apartemen itu pun langsung menelpon Aditya yang berada di Jakarta.
" Halo,Dit? Ni gua sama Andini baru pulang dan syukur nya laporan Anjani udah diterima di kedutaan. Tapi gua masih belum bisa tenang kalau gua sendiri nggak bisa ngelakuin apa-apa. Gua mesti gimana Dit? gua nggak mungkin hanya berdiam diri disini. Kalo bisa lu kesini ya Dit? biar kita bisa cari Anjani sama-sama. Lu kan tau daerah sini? Kalau sama Andini gua nggak bisa leluasa Dit,dan gua juga nggak mau ngerepotin dan bikin Andini kecapean. Tolong lu bantuin gua ya Dit?" Ardi tampak memohon pada Aditya.
******
"Ya,halo Di. Ya udah,Lu tenang dulu ya? lu jangan ngelakuin hal-hal aneh disana. Ya udah,kalo gitu lu tungguin gua. Besok pagi gua berangkat kesana." ujar Aditya menyanggupi permintaan Ardi padanya. Lalu dia pun menutup panggilan dari Ardi.
Siska,Mila,dan Naya yang berada di ruangan itu pun menunggu penjelasan dari Aditya. "Ada apa kak? gimana mereka disana?" ujar Mila penasaran dan cemas.
"Ardi meminta gua kesana La,biar bisa bareng-bareng nyariin Anjani. Ardi nggak tega kalau harus ngerepotin Andini. Jadi gua besok pagi harus berangkat ke Singapura." ujar Aditya menjelaskan.
Naya yang menggendong sikecil pun ikut menangis karena dia juga kuatir terhadap Anjani. Walaupun dia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk sikecil, namun bayi mungil itu tetap membutuhkan ibunya. Dan sikecil pun sekarang sering gelisah serta rewel seakan-akan dia sedang merindukan sosok ibunya tersebut.
Mereka bertiga pun tampak mengelilinginya,dan menatap sikecil yang menangis dengan perasaan iba. "Kamu yang kuat ya sayang? aunty semua janji bakal nyayangi kamu ya cantik?" Mila lalu mencium kening sikecil. Siska pun memeluk Naya yang menggendong sikecil dipangkuannya. Mereka bertiga pun menangis sambil saling merangkul satu sama lainnya.
*******
__ADS_1
Edward tampak sadar dari pingsannya,dia pun mencoba mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat dan sakit. Dia pun berusaha membuka matanya, samar-samar dia pun dapat melihat sosok perempuan yang berada didepan nya tersebut.
"Hallo honey,tidur nyenyak semalam?" Ujar Anjani tersenyum sinis pada Edward yang tampak terkejut melihat sosok perempuan tersebut.
"Hmmm..hmmm." Edward ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya tersumpal dan tertutup lakban. Dia pun berusaha menggerakkan tubuhnya namun semua sia-sia karena dia sedang terikat dikursinya.
"Santai saja sayang, kita akan bersenang-senang, bukankah kamu merindukan ku? Kaget ya melihat aku disini? kamu pikir aku bisa segampang itu untuk mati? Sayang sekali,aku masih hidup." Anjani tampak berang lalu meninju wajah Edward. Edward pun meringis kesakitan,darah segar pun mengalir dari hidungnya.
Edward tampak meronta-ronta namun Anjani seakan kehilangan kelembutannya,dia pun menjambak rambut Edward. Menatap matanya dengan tajam. "Kamu tak menyangka bukan? kalau aku, Anjani orang yang telah mengandung dan melahirkan anak mu masih hidup." Anjani berkata sambil berteriak lalu menendang Edward hingga Edward pun terjatuh bersama kursi yang mengikat tubuh nya.
"Betapa kejamnya kamu Edward. Rasa cinta ku yang besar kamu balas dengan rencana pembunuhan. Berkali-kali kamu berusaha menyingkirkan ku. Bahkan sahabat-sahabat ku pun tak luput dari rencana jahat mu. *******.!" Anjani meluapkan emosinya dan menendang tubuh Edward berkali-kali.
Edward hanya bisa meringis dan merintih menahan rasa sakit. Dia tak menyangka kalau Anjani ternyata masih hidup. Karena orang suruhannya telah mengirimkan video saat Anjani koma dan dihabisi dirumah sakit. Kini tubuhnya tak berdaya saat Anjani berkali-kali meluapkan emosi dengan menendang dan memukulinya.
Anjani pun terhenti saat mendengar ponsel Edward yang berbunyi berkali-kali. Tadinya panggilan itu diabaikan oleh Anjani. Namun akhirnya dijawabnya karena nama Handoko tertera dilayarnya.
"Halo? halo..tuan? tuan ada dimana? apa tuan baik-baik saja?" Terdengar suaranya sangat kuatir pada bosnya itu. Dia mengira kalau panggilannya dijawab oleh bosnya,namun dia salah karena yang menjawab panggilannya adalah Anjani.
"Halo juga pak Handoko? masih ingat dengan suara saya?" ujar Anjani.
__ADS_1
Handoko tampak terbelalak dia seakan tak percaya dengan pendengarannya. "An.. Anjani? apa ini Anjani?" ujar Handoko meyakinkan pendengarannya. Dia seakan tak percaya kalau itu adalah suara Anjani.
******