Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Teka teki Cindy


__ADS_3

Naya dan Ardi melangkah masuk kedalam area rumah sakit sambil bergandengan tangan. Ardi bersyukur ada Naya disisinya. Saat Ardi ingin melangkah masuk kedalam rumah sakit,handphonenya pun berdering,dan nama Aditya muncul di layarnya. "Halo,,ya Dit?" ujar Ardi. "Halo,,Di..sekarang juga lu harus bawa Anjani dan Mila keluar dari sana,apapun caranya lu harus bawa mereka pergi sekarang juga!." Aditya tampak panik dari suaranya. Ardi yang mendengarnya pun masih bingung dengan maksud ucapan Aditya.


"Tenang bro,,lu santai dulu bicaranya. Gua belum paham maksud lu apa?" ujar Ardi bingung.


"Keluar dari sana bawa Anjani dan Mila,,sekarang juga! Udah nggak banyak waktu untuk kita ngomong sekarang. nanti gua telpon lu lagi. Dan pesan gua lu mesti hati-hati." ujar Aditya semakin tegas agar Ardi membawa sahabat-sahabatnya untuk pergi dari sana.


Ardi merasa ada sesuatu yang aneh,tapi sepertinya Aditya tak main-main. Setelah menutup telepon genggamnya,Ardi pun berkata pada Naya agar mencari cara dan ide untuk bisa membawa Anjani dan Mila keluar dari rumah sakit tanpa ketahuan,dan menyamar sebagai perawat dan Dokter pun muncul agar mereka bisa membawa Anjani dan Mila keluar dari sana.


Dengan tergesa-gesa Ardi dan Naya pun masuk keruangan ganti Dokter dan perawat setelah itu mereka pun menutup wajahnya dengan masker dan Ardi menambahkan kacamata agar terlihat lebih meyakinkan sebagai seorang Dokter.


Dengan santai mereka pun berjalan menuju kamar Anjani,tampak ada keributan kecil disana antara polisi yang satu dengan yang lainnya,namun mereka abaikan agar cepat-cepat menyelamatkan sahabat-sahabatnya.


"Kasus ini sudah kami ambil alih,sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini." ujar seorang polisi berkumis tebal.


"Bagaimana mungkin? tidak ada pemberitahuan dari kantor tentang ini." ujar polisi yang satu lagi.


Saat mereka sedang berdebat Ardi dan Naya pun masuk kedalam kamar. "Mila,,kita harus pergi dari sini." ujar Ardi pada Mila. "Ada apa Di?" Mila pun terlihat panik. "Nanti aja kita bicara,kita nggak punya waktu lagi sekarang." ujar Ardi terburu-buru. "Apa lu bisa jalan?" ujar Ardi lagi. "Iya,,gua bisa." ujar Mila. Lalu Naya pun menyerahkan baju perawat pada Mila. Mila pun berganti pakaian dan memakai masker untuk menutupi wajahnya.


Mereka pun mulai sibuk memindahkan Anjani beserta alat bantu ditubuhnya. "Sayang,,kamu harus kuat. Kita harus keluar dari sini." Ardi berbisik pada Anjani yang masih dalam keadaan koma.


Diluar, tampak polisi yang di tugaskan Aditya mencari-cari alasan untuk mengalihkan perhatian polisi yang berkumis tebal. Saat polisi itu tampak dibuat sibuk,Ardi, Naya dan Mila pun membawa Anjani keluar dengan mendorong tempat tidurnya. Ketika melewati polisi tersebut Ardi pun menutup wajah Anjani. Polisi yang diperintahkan Aditya tampak mengawasi sampai Ardi dan sahabatnya keluar dari sana.


Handphone Ardi pun berdering kembali,dan ternyata itu adalah panggilan dari Aditya yang sudah menunggu mereka dengan sebuah mobil ambulan dipintu belakang rumah sakit.


"Ayo cepaaat!." Aditya tampak melambaikan tangannya pada Ardi.


Merekapun tampak berlari mendorong tempat tidur Anjani mendekati Aditya. Secara cepat mereka pun memasukkan Anjani ke dalam mobil ambulan. Mila dan Naya pun menjaga Anjani di belakang,sedangkan Ardi di depan bersama Aditya. Mobil pun melaju dengan kencang keluar dari rumah sakit tersebut.


******


Polisi masih tampak berdebat di depan kamar Anjani. Tiba-tiba Handoko dan rombongannya pun datang. Mereka pun langsung masuk menuju kamar Anjani. Ketika pintu dibuka kamar itu telah kosong. Handoko pun murka pada polisi berkumis tersebut. Dia lalu menarik kerah baju polisi itu dan berkata "Dimana perempuan itu? kenapa bisa lolos? Bodooh!." Handoko langsung memukul wajah polisi tersebut hingga terjatuh. Lalu Handoko pun memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Anjani dan Ardi.

__ADS_1


Semua kamar pun sudah disisir, lorong-lorong sampai tingkat paling atas sudah di periksa, tapi mereka tak menemukan keberadaan Anjani dan Ardi. Handoko pun semakin murka dan menyuruh mereka untuk terus mencari dimana saja.


*******


Aditya tampak serius mengendarai mobil ambulan dengan kecepatan tinggi. Ardi disampingnya pun ikut tegang,karena dia melihat darah yang masih mengalir di wajah Aditya. "Lu baik-baik aja kan?" ujar Ardi. Aditya hanya mengangguk dan tetap fokus menatap ke jalan raya. Mobil pun melaju lalu memasuki sebuah rumah mewah tanpa harus di klakson pagar rumah itupun terbuka dan tertutup secara otomatis. Mobil pun masuk dan berhenti di depan rumah mewah berpagar tinggi tersebut.


Pintu pun terbuka,tampak Siska berdiri dipintu dengan kepala yang dibalut dengan perban. Ardi dan Aditya pun tampak sibuk membukakan pintu ambulan untuk mengeluarkan Anjani dari sana. Seorang perempuan dan laki-laki pun tampak menyambut mereka dan membawa Anjani masuk kedalam rumah tersebut. Mereka dengan sigap langsung memasang alat bantu pada tubuh Anjani. Setelah semua selesai perempuan cantik itu pun langsung menarik tangan Aditya.


"Sini lu?beresin dulu tu muka. Berantakan banget." ujar perempuan cantik itu yang disambut cengengesan Aditya. Tampak perempuan itu dengan cekatan membersihkan darah yang mengalir diwajah Aditya lalu membalutnya dengan perban seperti Siska. Siska pun tampak sedikit cemburu saat melihat keakraban mereka, karena dia belum tau siapa perempuan itu.


Mila langsung memeluk Siska bergantian dengan Naya dan merekapun saling berpelukan. "Lu kenapa Sis?" ujar Mila melihat balutan perban di kepala dan tangan Siska. Siska pun tampak bersedih mengingat kejadian yang tadi dialaminya. "Nanti aja biar kak Adit yang cerita." ujar Siska berkaca-kaca. Mereka pun berkumpul lalu duduk diruang tamu rumah mewah tersebut.


Setelah selesai Aditya pun ikut bergabung bersama mereka. " Teman-teman, Kenalkan,ini Andini kembaran ku." ujar Aditya pada teman-temannya. Andini pun tersenyum dan bersalaman saling mengenalkan diri satu persatu dengan mereka. Siska yang tadinya cemburu tiba-tiba merasa malu karena ternyata perempuan itu adalah kakak kembarnya Aditya.


"Jangan sungkan ya? anggap saja rumah sendiri." ujar Andini yang di sambut senyuman oleh mereka semua.


"Andini kembaran gua ini adalah seorang Dokter ahli. Hanya saja dia tidak bekerja disini melainkan di luar negeri. Kebetulan dia disini sedang liburan." ujar Aditya lagi.


"Terimakasih untuk kalian berdua yang sudah menolong kami semua." ujar Ardi yang di sambut anggukan dari sahabat-sahabatnya itu.


"Apa yang terjadi sampai kalian bisa luka-luka begini?" tanya Ardi lagi pada Aditya dan Siska.


Tampak Aditya menghela nafas panjangnya dan menggenggam tangan Siska yang duduk di sampingnya. "Hhhmm,tadi saat gua dan Siska dalam perjalanan pulang, tiba-tiba mobil kami di tabrak, sepertinya mereka sengaja menabrak kami,karena tabrakan itu terjadi dua kali sampai mobil gua hancur terbakar. Untung saja gua dan Siska masih bisa selamat. Lalu gua pun menelepon Andini untuk menjemput gua dan Siska. Saat itulah gua nelpon lu tadi, karena gua yakin pasti mereka juga bakal ngincar lu semua." ujar Aditya.


"Astaga,,mereka jahat banget ya? memangnya kalian ada masalah apa dengan orang itu?" ujar Andini bingung.


Ardi pun lalu menceritakan awal permasalahannya. Tentang Anjani dan Edward yang merembet panjang sampai kejadian-kejadian penyerangan yang mereka terima. Andini tampak shock mendengarnya.


"Tapi kalau boleh tau kenapa kak Adit mau membantu kami? sementara banyak polisi yang sudah menerima suap dari Edward dan menjadi kaki tangannya?" ujar Mila yang ikut penasaran pada Aditya.


Aditya tak langsung menjawab tapi menunjuk foto yang terpampang diruang tamu tersebut. Semua mata pun tertuju pada foto yang di tunjuk oleh Aditya. "Kalian kenal gadis itu bukan?" ujarnya.

__ADS_1


Sontak Mila,Siska dan Ardi pun terkejut. Karena difoto itu tampak Aditya,Andini dan seorang perempuan lagi yang sangat mereka kenal.


"Cindy?" Mila dan Siska pun serentak menyebutkan nama Cindy lalu menutup mulut mereka yang ternganga karena kaget.


"Iya. Dia Cindy,adik bungsu gua." ujar Aditya sedih. Andini pun tampak mengusap air matanya yang jatuh. Aditya pun lalu memeluk Andini yang duduk disampingnya.


"Jadi ini semua ada kaitannya dengan Cindy?" ujar Ardi lagi.


"Iya,,karena gua nggak percaya kalau adik gua yang keras kepala itu akan melakukan bunuh diri. Walaupun dia selalu seenaknya tapi dia nggak mungkin melakukan hal yang bodoh seperti itu." ujar Aditya meyakinkan.


"Saat kematian Cindy gua sedang melakukan ujian kenaikan pangkat,tapi begitu mendengar adik gua meninggal karena bunuh diri gua langsung pergi dan batal ikut ujian. Andini pun langsung terbang untuk memastikan penyebab kematian adik gua. Saat otopsi Cindy diketahui sedang hamil. Dan Andini pun melakukan tes DNA pada janin Cindy. dan hasilnya positif milik Edward." sejenak Aditya menarik nafas dalam-dalam.


"Saat Edward di interogasi di kantor polisi dia pun mengakui kalau dia memiliki hubungan khusus dengan Cindy. Tapi dia tak mengakui kalau dia tau bahwa Cindy sedang hamil. Alibinya pun menguatkan bahwa saat Cindy meninggal dia sedang bekerja diluar kota. Sehingga kematian Cindy dianggap murni bunuh diri." Aditya pun tampak bersedih mengingat kematian tragis adiknya Cindy.


"Memang benar-benar jahat." Siska tampak geram mendengar cerita Aditya tentang kematian Cindy.


"Oyaa Di? apa lu masih nyimpan rekaman percakapan lu sama Edward?" ujar Aditya lagi. Ardi pun mengangguk dan mengeluarkan sebuah memori card dari dalam dompetnya. Andini pun mengambil sebuah laptop dan mulai membuka isi file rekaman tersebut.


Terdengar didalam rekaman tersebut suara Ardi yang lemah karena dipukuli. "Kenapa lu tega menyakiti Anjani? Anjani sedang hamil anak lu!."


"Hahaha,,Anjani yang terlalu naif,merasa kalau dia bisa memiliki ku seutuhnya. Padahal aku hanya ingin bersenang-senang." ujar Edward pada Ardi saat itu.


"Apa lu melakukan semua ini sama seperti sekretaris lu yang lain? apa lu juga yang membunuh Cindy?" ujar Ardi lagi.


"Cindy? aaah,,ya. Sekretaris ku yang cantik itu. Masih terasa indah saat aku menyentuh tubuh moleknya, bibirnya yang terasa manis saat dikecup,tapi terlalu bodoh karena berharap menjadi seorang Nyonya Collin. Sayang sekali aku harus menghabisi mainan cantik ku itu." ujar Edward tentang Cindy.


"Dan sekarang perempuan cantik tapi naif seperti Anjani pun melakukan kesalahan yang sama seperti Cindy. Kenapa mereka terlalu naif dan berharap untuk dinikahi? kenapa mereka tidak ingin bersenang-senang saja. Kenapa semua perempuan seperti itu? apa kamu tau kenapa Ardi? karena mereka adalah mahkluk yang lemah,,bodoh,,dan naif. Hahahaha.." Terdengar suara Edward yang tertawa bangga. Membuat tangan Aditya mengepal menahan amarah saat mendengar rekaman suara Edward tersebut.


"Brengsek! benar-benar laki-laki tak bermoral." ujar Aditya geram. Siska pun mengusap-usap bahu Aditya agar lebih tenang. Aditya pun tertunduk menahan air matanya,Andini pun langsung menangis dipelukannya.


"Cindy...hu..hu..." tangis Andini pun pecah.

__ADS_1


*******


__ADS_2