Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Menyamar


__ADS_3

Anjani tampak duduk di kursi roda ditemani oleh Ardi disebuah taman di area rumah sakit. Di sana tampak banyak pasien dan keluarganya sedang menikmati mentari pagi. Ardi pun duduk di sebuah kursi panjang di samping kursi roda Anjani. "Bagaimana hari ini? kamu merasa lebih segar?" ujar Ardi tersenyum pada Anjani.


"Hmm,,segar sekali." ujar Anjani menarik nafas sambil memejamkan matanya lalu tersenyum pada Ardi. Ardi tampak sangat menikmati wajah Anjani yang terlihat lebih cantik pagi ini. Rambut panjang nya yang lurus terurai tampak sedikit melayang tertiup angin, kulit putih bersih dengan wajah campuran indo terlihat seperti seorang putri. Tawanya yang ceria benar-benar membuat Ardi terpana. Saat dia sedang menikmati keindahan tersebut,,diapun dikejutkan oleh getaran handphone di kantongnya, dan nama Naya pun tertera disana.


Ardi menjawab panggilan video tersebut. "Halo sayang,,kamu lagi ngapain?" ujar Naya yang menyapa dengan ceria. Tampak Naya sedang menggendong sikecil yang terlelap di pangkuannya. Ardi pun tersenyum membalas dengan melambaikan tangannya. "Halo sayang,,ini kita lagi di taman." ujar Ardi lalu mengarahkan video pada Anjani. Anjani pun melambaikan tangan pada Naya sambil tersenyum tapi langsung tampak termangu saat melihat si kecil yang sedang tertidur dipangkuan Naya. Naya yang menyadari perubahan wajah Anjani pun langsung berkata "Teteh yang sabar ya? Naya janji bakal menjaga si kecil dengan baik sampai teteh balik lagi kesini." Naya tersenyum dan memberi semangat pada Anjani,dan Anjani pun mengangguk dan tersenyum tipis lalu membuang mukanya yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.


Ardi yang melihat Anjani pun langsung mengarahkan video kembali padanya. "Sayang,, nanti aku telpon lagi ya? kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan ya?" ujar Ardi mengakhiri panggilan video dengan Naya.


Ardi pun lalu menggenggam tangan Anjani. "Kamu harus sabar ya? percayalah semua pasti baik-baik saja." ujar Ardi menguatkan Anjani. "Apa yang terjadi pada ku? kenapa aku bisa mengalami semua ini? Bisakah kamu menceritakan semua yang kamu tau pada ku Ardi? aku berharap itu semua bisa membantu ingatanku untuk kembali. Siapa aku? siapa yang menghamili ku? kenapa aku bisa melahirkan dalam keadaan koma? apa yang sebenarnya terjadi?" Anjani berkata dengan antusias,,air matanya pun berlinang seakan memohon pada Ardi.


Ardi tak kuasa melihat Anjani yang emosional dia pun langsung memeluk Anjani. Anjani pun menangis sesenggukan di dalam pelukan Ardi. Tiba-tiba dia pun merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Ardi yang melihat Anjani memegang kepalanya pun langsung panik.


"Anjani..? ada apa?" Ardi berusaha menyentuh kepala Anjani. Anjani tampak benar-benar kesakitan. Ardi pun langsung menggendong Anjani untuk dibawa kedalam kamarnya untuk diperiksa oleh tim dokter.


Andini pun tampak tergesa-gesa saat Ardi memanggilnya lewat panggilan seluler. Andini langsung memeriksa kondisi Anjani yang tampak kesakitan memegang kepalanya. Andini pun langsung menyuntikkan obat penenang pada Anjani, sehingga Anjani pun langsung melemah dan tertidur sehingga Andini pun bisa leluasa memeriksa kondisinya.


Ardi yang mendampingi Anjani pun tampak panik dan terus menggenggam tangan Anjani yang tampak lemah karena obat penenang yang disuntikkan Andini.


"Apa Anjani baik-baik aja Din?" Ujar Ardi kuatir.


"Lu nggak usah kuatir,,Anjani nggak apa-apa kok di. seperti nya Anjani memaksakan ingatannya terlalu kuat yang membuat syaraf di otaknya pun menegang." Ujar Andini pada Ardi setelah selesai memeriksa Anjani.


"Sebaiknya kita biarkan dulu Anjani istirahat." ujar Andini lagi lalu mengajak Ardi keluar dan membiarkan Anjani untuk istirahat.


******


Aditya yang telah berganti pakaian menyamar sebagai waria penjual jamu. Dia pun tampak sedikit canggung namun berusaha secentil mungkin mengikuti gaya si penjual lalu mendekati gerbang rumah Edward yang tampak di jaga oleh beberapa orang tersebut.


Siska yang memperhatikan dari dalam mobil pun tampak sedikit kuatir,karena takut kalau penyamaran Aditya sampai terbongkar.


"Siang mas-mas ganteng?" Ujar Aditya menirukan suara waria penjual jamu. Para penjaga yang memang biasa menjadi langganannya pun mendekati Aditya. "Lhoo..kok mbak nya beda? yang biasa kesini lagi kemana?" Ujar si botak mencolek pinggangnya. Ardi tampak risih tapi berusaha santai agar penyamarannya tak terbongkar.

__ADS_1


"Iish,,mas botak genit deh. Iya hari ini saya yang gantiin kesini. karena sodara saya itu lagi sakit." ujar Aditya berbohong.


"Sakit? sakit apa memangnya?" ujar sibotak lagi.


"Hehehe,,itu lho mas..." Aditya pun menarik tubuh sibotak dan membisikkan sesuatu ditelinganya.


Sibotak pun tertawa terbahak-bahak mendengar bisikan Aditya. "Saya belum ngomong apa-apa lho mas? masnya udah ketawa aja." ujar Aditya centil..


"Hahaha,,Iya,,gua tau,tapi lu bisik-bisik bikin kuping gua jadi geli tau?" Ujar sibotak masih tertawa menahan geli.


Teman-temannya pun ikut tertawa mendengar ucapan sibotak. "Aah..elu,kirain si mbaknya ngomong apaan sampe lu ketawa ngakak gitu? nggak taunya malah lu nya yang kegelian. pea..pea.." ujar di Jenggot lalu kembali tertawa bersama teman-temannya yang lain.


Aditya pun ikut tertawa tapi berusaha untuk tidak terlalu mencolok,takut kebablasan dan penyamarannya terbongkar.


"Ya udah mbak bikinin aku jamu tolak linu dong?" Ujar sibotak. Aditya pun tampak sedikit bingung dengan permintaan sibotak tapi berusaha untuk tetap mencampur-campurkan jamu yang ada sembari mendengarkan ocehan mereka.


"Si bos enak banget ke Singapura,,lha kita disini disuruh ngawasin rumah polisi itu. Padahal tu cewek juga nggak ada di situ." Ujar laki-laki kurus yang kita sebut saja dengan sijangkung.


"Ah.. yang bener? lu tau dari mana?" Ujar si jangkung lagi.


"Gampil itu mah. Pembantu-pembantu yang kerja di perumahan itu kan pada suka ngegosip. Jadi ya udah gua pura-pura jadi penjual sayuran aja." Ujar sibotak mengingat penyamarannya dan menceritakan bagaimana caranya saat dia ikut menggosip dengan para pembantu disitu. Mendengar ceritanya semua teman-temannya pun lalu ikut tertawa terbahak-bahak.


Aditya pun ikut tertawa walaupun dalam hatinya ada rasa kesal karena tau bahwa pembantunya tidak bisa menjaga rahasia.


"Jamunya mana mbak? malah bengong." Ujar sibotak pada Aditya yang menyamar.


"Eeh iya mas,,ini jamunya mas." ujar Aditya berusaha segenit mungkin lalu memberikan jamunya pada sibotak.


Aditya sudah siap-siap untuk menerima semburan dari sibotak,, karena dia tidak tau campuran apa saja yang sudah dibuatnya.


Sibotak pun mulai meminum nya,, Aditya tampak cemas,namun kemudian mulai tampak sedikit lega karena sibotak menghabiskan jamu di gelasnya.

__ADS_1


"Aaaah,,mantap banget,seger coy." Ujar sibotak yang langsung membuat Aditya tampak tercengang namun hatinya ikut lega kalau penyamarannya berhasil.


Sijenggot dan sijangkung pun akhirnya ikut memesan jamu buatan Aditya. Mereka pun tampak menikmati ramuan dari Aditya.


Setelah selesai Aditya pun kembali ke mobil dimana Siska sedang menunggu nya dengan cemas.


Aditya pun langsung masuk kedalam mobil dan langsung melepas sanggul buatan dikepalanya. "Bagaimana? kamu dapat informasinya?" Ujar Siska yang terlihat cemas.


"Iya,, Edward dan Handoko sedang di luar negeri,, bahkan mereka sekarang juga ada disingapura." Ujar Aditya yang tampak kelelahan.


"Singapore? bagaimana mungkin mereka juga disana? disaat Anjani juga disana?" ujar Siska tampak sedikit panik dan berpikir.


"Entahlah,, kita tidak tau apa rencana Tuhan untuk mereka." ujar Aditya bersandar di belakang kemudi. Siska pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju pada ucapan Aditya.


"Btw,,tadi saat mereka minta jamu apa mereka tidak merasa aneh?" ujar Siska.


Mendengar kata-kata Siska, Aditya pun kembali mengambil bakulnya lalu meracik jamu buatannya dan langsung memberikannya pada Siska.


Siska pun tampak bingung tapi tetap menerima pemberian Aditya,Aditya pun membuat segelas untuk dirinya sendiri.


"Sekarang coba kamu minum jamu buatan ku." Ujar Aditya lalu mendentingkan gelasnya pada gelas Siska seperti orang yang sedang bersulang.


Siska pun coba meminum jamu buatan Aditya. Saat dia meminum sedikit demi sedikit matanya pun terbelalak.


"Sumpah yaaang,,andai aku nggak liat kamu racik sendiri pasti aku juga nggak bakalan percaya. Ini seger banget Yaang.?!" ujar Siska memuji Aditya yang tampak bangga pada dirinya sendiri.


"Ya udah,,selagi kamu cuti kita jualan jamu aja ya?" ujar Siska yang langsung disambut cubitan Aditya di pinggangnya.


"Sembarangan,,memangnya kamu ikhlas aku jadi waria penjual jamu?" ujar Aditya tetap mencubit dan menggelitik pinggang Siska yang kegelian dan mereka pun tertawa terbahak-bahak..


******

__ADS_1


__ADS_2