
Ardi berlarian di area rumah sakit,dia berharap menemukan sosok Anjani disana. Dia terus mencari kesana kemari seperti orang yang kehilangan akal, seakan-akan dia kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya. Tapi Ardi tak kunjung menemukan apa yang dia cari. Ardi sampai berlari kejalan raya,menunjukkan foto Anjani kepada orang-orang yang dijumpainya,tapi semua orang menggeleng.
Ardi sudah berjalan jauh dari area rumah sakit tempat Anjani dirawat tapi tetap saja seakan menemui jalan buntu. Dia pun terduduk lesu dipinggiran trotoar, dia tampak bingung dan seakan putus asa karena tak tau mau mencari Anjani dimana lagi di kota yang sangat asing baginya ini.
Handphone Ardi pun bergetar panggilan dari Andini. "Halo Din?" Ardi menyahut dengan nada lesu.
"Lu dimana di? gua tungguin lu di lobby rumah sakit sekarang ya? please,lu jangan aneh-aneh,kita cari Anjani sama-sama ya?" Andini terdengar sangat cemas.
"Iya Din,,maaf udah bikin lu kuatir. Ni gua balik ke rumah sakit." Ardi pun menutup panggilan dengan wajah lesu dia pun berjalan gontai kembali ke rumah sakit.
******
Aditya tampak panik setelah mendapat panggilan dari Andini yang mengatakan bahwa Anjani menghilang setelah meninggalkan sepucuk surat untuk Ardi. Dan ternyata ingatan Anjani pun telah pulih. Dia pun bertanya-tanya dimana Anjani dan kenapa dia menghilang,apa dia juga tau kalau Edward berada di Singapura? apakah dia ingin balas dendam? Aditya tampak berpikir keras mencari jawaban dari perkiraannya.
Siska yang memperhatikannya pun tampak bingung dengan sikap Aditya yang tampak uring-uringan tersebut. "Sayang,kamu kenapa? kok tegang begitu? apa ada masalah dengan penerbangan mereka?" Siska pun bertanya dengan cemas.
Aditya pun duduk di sofa di ikuti oleh Siska yang duduk disampingnya. "Ini bukan masalah penerbangan sayang,tapi lebih parah lagi. Anjani menghilang lagi." ujar Aditya serius.
"Apa? Anjani menghilang? apa Edward menculiknya? sayang, kita harus gimana? jangan sampai Anjani celaka lagi. Sayang,hu..hu..hu." Siska pun tak sanggup menahan tangisnya. Baru saja dia bahagia mendengar sahabatnya akan kembali ke Jakarta, sekarang dapat kabar yang sangat mengejutkannya.
*****
Mila dan Naya duduk-duduk ditaman dekat rumah Aditya. Mereka tampak menikmati hangatnya matahari pagi ini. Namun tiba-tiba sikecil yang berada dipelukan Naya tampak gelisah, yang tadinya tampak tenang tiba-tiba jadi rewel dan menangis dengan keras.
"Lho..sayang,kamu kenapa sayang? kok tiba-tiba rewel? anak cantik,jangan nangis dong sayang?" Naya tampak berusaha mendiamkan tangisan sikecil yang masih terus menangis dengan kencang.
"Sikecil kenapa Nay? kok tiba-tiba rewel begitu ya? apa kepanasan ya Nay?" ujar Mila yang tampak bingung.
"Nggak tau teh, biasanya nggak begini. Biasanya dia senang kalau dibawa berjemur disini. Kenapa ya teh ya? Naya jadi bingung." Naya masih terus berusaha mengayun-ayun sikecil didalam pelukannya agar berhenti menangis. Tapi tetap saja belum bisa menghentikan tangisannya.
Selagi Naya berusaha mendiamkan sikecil, handphone Mila berbunyi dan nama Siska tertera di layar ponselnya. "Halo sis? ada apa?" Mila menjawab panggilan Siska.
Terdengar suara tangisan Siska diseberang panggilan. "Mila lu dimana sama Naya? pulang dulu sini, penting banget,hu..hu..hu." ujar Siska yang masih terdengar seperti orang yang sedang menangis.
"Lu kenapa sis? lu nangis? penting kenapa sih?" ujar Mila penasaran.
__ADS_1
"Pokoknya lu kesini dulu ih,cepetan.! hu..hu..hu." Siska terdengar semakin menangis.
"Iya deh iya,ni kita balik kerumah." ujar Mila mengiyakan walaupun dia penasaran dengan tangisan Siska.
"Ada apa teh?" ujar Naya bingung.
"Kita balik dulu yuk Nay? gua juga nggak tau,tapi kayanya ada yang penting kata Siska tadi. Lagian sikecil juga nangis terus, mendingan kita bawa pulang dulu yuk?" ujar Mila mengajak Naya untuk kembali kerumah Aditya.
******
Anjani tampak memasuki sebuah Mall dia tampak membeli beberapa pakaian dan perhiasan disana. Setelah itu dia pun masuk ke sebuah salon,lalu meminta agar penampilannya dirubah total agar orang tak mengenalinya. Dia pun memotong pendek dan mewarnai rambutnya. Wajahnya yang natural pun diminta untuk di make-up sehingga hasilnya benar-benar bukan Anjani yang lugu lagi.
Penampilan Anjani benar-benar berubah. Dengan rambut pendek yang diwarnai, rok span selutut melekat ketat ditubuhnya, dengan baju dan blazer serta sepatu high heels menopang tubuh indahnya.
Seperti layaknya seorang peragawati diapun berjalan melenggak-lenggok memasuki sebuah hotel yang mewah di kota itu.
Semua mata pun memandangnya dengan kagum karena melihat kecantikannya yang luar biasa. Dan banyak pula perempuan-perempuan yang nyinyir kepada pasangannya ketika mereka melihat kearah Anjani dengan terpesona.
Anjani hanya berjalan sambil tersenyum bangga. Dengan kacamata hitam yang menempel di atas hidungnya yang mancung,Anjani sesekali memperhatikan sekelilingnya seakan mencari-cari bayangan seseorang disana.
Setelah itu seorang room boy pun mengantarkan Anjani dengan menaiki sebuah lift ke kamarnya yang berada di lantai teratas dipuncak gedung tersebut yang memang hanya teruntuk bagi orang-orang kaya dan ekslusif.
Setelah sampai dia pun memasuki kamarnya tersebut lalu memberikan uang tips pada room boy yang mengantar nya. Setelah itu room boy pun pergi meninggalkannya. Anjani tampak lelah dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur springbed yang mewah seakan sepadan dengan kamarnya yang luas dan mewah tersebut.
Sejenak Anjani pun menutup matanya, seakan ada rencana besar yang akan di lakukannya nanti.
*****
Ardi dan Andini mendatangi kantor polisi setempat,mereka melaporkan Anjani yang menghilang. Tapi pihak kepolisian menolak untuk menyatakan Anjani sebagai orang hilang karena Anjani menghilang belum tiga kali dua puluh empat jam. Ardi dan Andini pun tampak kecewa karena berharap polisi dapat membantu mereka. Andini pun memohon agar polisi mau membantu mereka, karena Anjani bukan pribumi namun berasal dari Indonesia. Tapi pihak ke polisian tetap menolak dan menyuruh Andini untuk mendatangi gedung kedutaan Indonesia untuk melapor terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka mau membantu.
Ardi dan Andini pun tampak bingung dengan peraturan tersebut. Apakah mereka harus ke gedung kedutaan sekarang? sementara hari sudah mulai sore. Akhirnya Ardi dan Andini pun meninggalkan kantor polisi dengan perasaan kecewa.
"Apa yang mesti kita lakukan sekarang di? gua bingung. Dimana Anjani sekarang? apa dia baik-baik saja? apa kita harus tetap mencarinya atau kembali dulu ke Jakarta?" Andini tampak putus asa.
"Sabar ya Din? kita coba cari Anjani dulu. Bila memang peraturan disini seperti itu, besok pagi kita pergi ke kedutaan dulu untuk melapor." ujar Ardi menenangkan Andini.
__ADS_1
"Okelah kalo menurut lu itu yang terbaik. Sekarang kita balik ke apartemen gua aja dulu. Gua cape banget." ujar Andini terlihat lelah. Ardi mengiyakan lalu mengikuti Andini keparkiran dan masuk kedalam mobil milik Andini. Mobil pun melaju menuju kediaman Andini.
*****
"Waaah cerah sekali hari ini ya?" ujar Edward pada Handoko. Mereka menikmati sarapan pagi di sebuah resto di dalam area hotel tersebut. "Iya tuan,hari ini benar-benar cerah. Apa hari ini anda ingin jalan-jalan tuan?" ujar Handoko tersenyum pada bosnya tersebut.
"Hmmm, sepertinya aku ingin bermain-main di casino saja. Sudah lama aku tak mengunjungi tempat itu. Pokoknya hari ini aku ingin bersenang-senang." ujar Edward tersenyum bahagia.
"Baiklah tuan,jika itu yang tuan inginkan kita akan mengunjungi tempat itu." ujar Handoko.
Mereka tak menyadari seseorang sedang mengawasi mereka. Seorang perempuan cantik duduk membelakangi mereka. Dengan santainya dia dapat mendengar pembicaraan mereka sembari menyantap hidangan di mejanya.
******
Naya dan Mila pun tiba dirumah Aditya. Mereka pun disambut dengan tangisan dari Siska sahabat mereka yang merupakan seorang perempuan tomboi namun berhati lembut tersebut. Siska langsung memeluk Mila dan menangis di pelukannya.
"Ada apa sis? kenapa lu nangis? ada masalah apa?" ujar Mila penasaran.
"Anjani la,,Anjani,hu..hu..hu." ujar Siska sambil menangis.
Deg. Jantung Mila langsung berdetak tak beraturan. Mendengar nama Anjani dengan tangisannya Siska,Mila pun langsung berpikir sesuatu hal buruk terjadi pada Anjani.
"Anjani kenapa sis? ada apa dengan Anjani? bukankah Anjani baik-baik aja? bukannya mereka sedang dalam penerbangan untuk pulang kesini hari ini?" Ujar Mila masih penasaran dengan tangisan Siska.
"Anjani la,,Anjani hilang. Hu..hu..hu." Siska pun semakin menangis dengan kencang.
"Apa? Anjani menghilang? kok bisa? bukannya mereka mau balik kesini hari ini?" ujar Mila seakan tak percaya dengan ucapan Siska.
"Iya la, seharusnya mereka pulang hari ini. Tapi tiba-tiba Anjani menghilang la,Anjani hilang. Hu..hu..hu." Siska pun kembali menangis.
Mila pun langsung terduduk di samping Naya yang masih berusaha mendiamkan sikecil. Mila pun langsung melihat kearah sikecil. "Mungkin dia merasakan sesuatu hal yang buruk terjadi pada ibunya Nay, makanya sikecil menangis terus." ujar Mila yang menatap iba kearah bayi mungil yang masih menangis tersebut.
Naya pun menatap kearah mila ,lalu menatap si kecil seakan mencari pembenaran dari ucapan Mila padanya. Dia pun melihat wajah mungil yang terus menangis tersebut,rasa iba pun menyeruak didalam rongga dadanya. " Kita Doakan ibu mu baik-baik saja ya nak?" Naya berucap lalu mengecup kening sikecil yang langsung berhenti menangis seakan dia paham dengan apa yang diucapkan oleh Naya padanya.
******
__ADS_1