
"Tok..tok..tok.." kamar Anjani di ketuk dari luar. "Ya, sebentar." Anjani membukakan pintu dan ternyata Edward telah berdiri disana dan langsung masuk ke kamar Anjani.
"Morning tukang tidur? dari tadi saya telpon kamu tapi nggak di jawab-jawab? Ayo sekarang saya tunggu di restoran,abis sarapan kita shopping keperluan kamu, saya nggak mau nanti malu di depan kolega saya gara-gara pakaian kamu yang hmm, sedikit udik sih. Hehehe." Edward berkata sambil bercanda.
Anjani yang gugup dan sedikit takut karena bosnya langsung masuk kedalam kamarnya jadi mundur dan tetap berdiri di samping pintu. "Hmm, i.iya pak maaf? hpnya saya silent,jadi nggak dengar kalo ada panggilan."
Edward yang dengan mata liarnya melihat sekeliling kamar Anjani,setelah itu dia pun berkata sambil berjalan keluar. "Baiklah,kalau begitu saya tunggu di bawah lima menit, jangan lama-lama karena saya tidak suka menunggu."
"I..iya pak. Saya segera menyusul." Anjani dengan gugup dan langsung dengan cepat menutup pintu kamarnya begitu Edward keluar, deg,deg,deg,jantungnya benar-benar berpacu dengan nafas yang tersengal karena kaget kalau bosnya bisa langsung masuk tanpa ijin. Dia pun takut kalau-kalau bosnya itu melakukan sesuatu yang di takuti nya selama ini.
"Jangan sampai pak Edward macam-macam pada ku." Anjani bergumam dan langsung bersiap-siap agar bosnya tak lama menunggu,walau bagaimanapun dia harus tetap profesional dalam bekerja. Dan ini tugas pertamanya keluar kota sebagai sekretaris pribadi.
Setelah sarapan mereka pun berangkat menuju pusat kota dan memasuki mall yang lumayan besar tapi tak sebesar di Jakarta. Edward berjalan di depan Anjani dan memilihkan baju-baju yang mewah dan sedikit seksi untuknya. Setelah itu mereka ke toko perhiasan. Anjani sampai gugup karena begitu banyak pakaian dan barang mewah yang di belikan oleh bosnya itu.
Setelah puas berkeliling mereka pun kembali ke hotel dan istirahat di kamar masing-masing. Sebelum berpisah pak Edward berpesan "Jangan sampai ketiduran lagi dan hpnya jangan di silent!" ujarnya yang di sahut dengan anggukan kepala Anjani.
Di kamarnya,Anjani mencoba pakaian dan perhiasan yang baru saja di belikan oleh bosnya. Dia pun bergaya,berputar di depan cermin. Seakan tak percaya kalau bosnya bisa seroyal itu untuk membelikan keperluannya." pantas saja Cindy melakukan segala cara untuk menghalangi siapa saja yang berusaha dekat dengan pak Edward,rupanya karena pak Edward yang sempurna dan royal." Anjani pun menerka-nerka.
Malam ini Anjani sudah terlihat cantik dan anggun dengan gaun ungu dan perhiasan yang di belikan bosnya tadi siang. Anjani berjalan keluar dan mengetuk pintu kamar bosnya. "tok..tok..tok.." pak Edward yang baru saja selesai mandi membukakan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Hey,tumben sudah rapi? hahaha,wah,kamu pantas sekali dengan gaun itu anggun dan sangat cantik." Edward memuji Anjani sambil terus menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil,sementara tubuhnya yang lain hanya di tutupi handuk dari pinggang kebawah,memperlihatkan tubuh atletis dan dada bidangnya.
Anjani benar-benar terpaku dan saat dia menyadari perbuatannya yang mengagumi tubuh bosnya,dia pun langsung menunduk karena malu. "Maaf pak,sa..saya nggak tau kalau bapak belum siap. Saya pikir bapak sudah selesai,saya kembali ke kamar saya dulu ya pak?" Anjani langsung berlari dan masuk ke kamarnya dengan wajah merona karena malu.
"Aduh,ngapain di buka pintunya kalo masih pake handuk? bikin orang jadi salah tingkah aja." Anjani duduk di kasurnya sambil ngedumel karena apa yang di lihatnya barusan. Andai dia tak pernah melihat adegan itu mungkin dia akan benar-benar jatuh cinta pada sosok menawan itu.
Setengah jam menunggu akhirnya Edward mengajaknya untuk turun bersama,kolega-koleganya sudah menunggu di perjamuan makan malam. Mereka saling berjabat tangan,berbincang dan tertawa bersama. Masing-masing bos di dampingi oleh sekretaris-sekretaris cantik bak super model. Semua saling memuji,dan Anjani pun mendapat pujian dari kolega-kolega Edward.
"Wah,,cantik sekali sekretaris anda Pak Edward. Barang baru nih?!." ujar Pak Priyo, dia adalah tuan rumah untuk acara ini. "Hehehe,,iya dong,biar nggak bosen dengan yang itu-itu aja." jawab Pak Edward bercanda sambil melirik Anjani. Entah itu sebuah pujian atau pelecehan Anjani tak ambil pusing. Yang penting dia hanya bekerja disini.
Setelah makan malam dan berbincang-bincang mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Dan besok agenda meetingnya sudah mulai padat,jadi Anjani harus prepare dan tidak boleh melakukan kesalahan lagi.
Pakaian anjani pun di atur. Memakai gaun berwarna biru langit yang gemerlap dengan perhiasan yang mewah,Anjani terlihat sangat cantik seperti seorang putri dari sebuah kerajaan. Dia begitu bahagia mengenakan gaun itu, karena memang dia belum pernah seumur hidupnya memakai pakaian seindah itu.
Dan Edward juga terlihat tampan dengan toxedonya. Semuanya terlihat mewah selayaknya perjamuan orang-orang kaya.
Di iringi musik jazz semua berdansa. Dan Edward pun mengajak Anjani untuk berdansa. Dia pun mengulurkan tangannya,Anjani pun menyambutnya tapi tak tau harus berbuat apa-apa. Dengan isyarat Anjani berkata "Saya tak bisa dansa pak?"
Edward hanya tersenyum dan menarik tubuh Anjani lebih rapat ke badannya,tangannya melingkar di pinggang Anjani,dan tangan Anjani di lingkarkannya di pundaknya. mereka berdiri dekat sekali,hingga hampir tak ada pembatas lagi kecuali pakaian yang mereka pakai.
__ADS_1
Wajah mereka pun sangat dekat sampai nafasnya pun sangat terasa di wajah Anjani. Deg..deg,jantung Anjani semakin berdebar. Wajahnya semakin dekat sekali dengan wajah Anjani, Rangkulan Edward pun semakin erat di pinggang Anjani.
"Maaf pak,,saya nggak bisa dansa." ucap Anjani gugup menahan gejolak hatinya yang mulai kacau.
"Sudah,,santai saja. Nikmati saja alunan musik dan ikuti saja gerak tubuh ku,tak usah di lawan." Ujarnya pada Anjani.
Sebisa mungkin Anjani mengikuti langkah kaki Edward untuk berdansa dan mengikuti irama musik. Semakin lama semakin hanyut dan, Ya Tuhan perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdetak kencang sekali?,gumam Anjani dalam hati. Jantung Anjani berdebar keras seakan mengalahkan alunan musik.
Mereka tetap berdansa dan menikmati perasaan dalam pikirannya masing-masing. Anjani tak mau gegabah larut dalam suasana,,saat bibir pak Edward mulai mendekat ke bibirnya,Anjani pun langsung menunduk dan melepaskan rangkulannya. "Maaf pak saya mau ke toilet dulu?" Edward pun melepaskan rangkulan di pinggang Anjani,dan memberinya waktu untuk pergi ke toilet.
Padahal anjani hanya ingin menenangkan jantungnya yang berdegup kencang tak karuan. "Astaga,,kenapa ini? kenapa aku bisa larut dan hanyut dalam dekapannya? Aku nggak mau seperti Cindy sekretarisnya yang aaakh.! aku tak mau lagi membayangkan kejadian itu. Pokoknya aku tak mau kalo itu sampai terjadi pada ku. Aku harus profesional Bekerja,hanya Bekerja,titik." Anjani bicara pada dirinya sendiri,dan setelah tenang dia pun kembali ke dalam ruangan.
Kembali Anjani terkejut,karena lampu sudah remang-remang dan suara riuh musik dan orang yang bersorak sorai sudah memenuhi ruangan dan sudah seperti berada didalam sebuah diskotik. Anjani mencari-cari dimana pak Edward duduk menunggunya. Walaupun lampu tak terlalu terang dia pun masih bisa melihat dimana pak Edward menunggunya.
Anjani kembali duduk di sampingnya. Dan woooow,,,matanya terbelalak. Karena banyak wanita-wanita seksi dengan pakaian yang sangat minim berjalan seperti peragawati meliuk-liuk untuk menggoda dan mempertontonkan bentuk tubuh indah mereka. Semua bersorak,,tak terkecuali dengan pak Edward yang tampak tertawa dengan bahagia.
Wanita-wanita seksi itu menyebar ke meja-meja di ruangan itu dengan membawa gelas dan minuman di dalam botol. Wanita cantik dan seksi seperti model-model catwalk datang menghampiri meja Edward dan Anjani. Dia pun melirik sinis pada Anjani tapi tersenyum manis pada Edward,,dan langsung duduk di pangkuan Edward sambil menyodorkan minuman yang sudah di tuangnya ke dalam gelas. Anjani hanya diam memperhatikan mereka. Edward paham dan menyodorkan jus orange pada Anjani.
"Anjani,kamu minum jus ini saja,enak kok." Anjani pun meminum jus yang di sodorkan pak Edward. Sementara Edward tertawa-tawa bersama kolega dan wanita yang berada di pangkuannya. Anjani tak lagi memperhatikan mereka karena kepalanya mulai terasa berputar,tiba-tiba dia merasa mual dan pusing lalu "Bruuk.." dia pun terjatuh dengan posisi badannya seperti tertidur di atas meja. Dia pun tak ingat apa-apa lagi setelah itu.
__ADS_1
******